My Devil Emperor

My Devil Emperor
Kunjungan



"Yang Mulia, terima kasih sudah mengantarku ke kamar," ujar Yuan saat Zi Xuan sudah mendaratkan tubuhnya di ranjang dengan hati-hati.


"Tidak masalah. Lain kali jangan seperti itu lagi. Badanmu kecil tapi ternyata cukup berat."


Yuan mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu?"


ZiXuan tersenyum tipis dan berbalik. Dia menatap sekilas pada Jingli dan berkata, "Segera obati dia."


"Baik, Yang Mulia," jawab Jingli patuh.


"Ke mana kamu pergi! Aku belum selesai bertanya dan kamu belum menjawabnya!" ujar Yuan dengan suara melengking.


Pria itu hanya melambaikan tangannya tanpa membalikkan badan ataupun menghentikan langkahnya.


"ZiXuan!"


Mendengar Yuan berteriak seperti itu, Jingli buru-buru menutup pintu dan berjalan cepat ke arah gadis yang sedang mengumpat itu.


"Permaisuri, kendalikan dirimu."


"Saudari, tahukah kamu bahwa berat badan itu hal yang paling sensitif bagi wanita? Dia baru saja mengatakan aku gemuk! Siapa yang memintanya menggedongku? Dasar pria lemah!"


Jingli meringis pelan. Dia menggaruk leher belakangnya, bingung ingin mengatakan apa. "Itu—mungkin Yang Mulia tidak bermaksud seperti itu. Anda sangat cantik dan langsing, darimana bisa dibilang gemuk?"


"Benar, kan? Matanya memang bermasalah. Dia terlalu pendendam!"


Jingli mengulum senyumnya dan berkata, "Permaisuri, jangan terlalu membencinya, nanti kamu bisa sangat mencintainya."


Yuan menatap Jingli dengan serius. "Aku tidak membencinya. Siapa yang bisa membenci wajah tampan itu? Jika aku mencintainya, maka dia juga harus mencintaiku!"


Jingli mengerjapkan matanya. Dia tak menyangka gadis di depannya itu akan meresponnya seperti ini. Jingli menyebutnya cantik dan pemberani! Dia berpikir, ada untungnya juga YanLi mengalami kecelakaan. Hasilnya adalah perubahan karakter yang lebih kuat. Itu memudahkannya untuk bertahan di manapun dia berada. Tidak akan mudah ditindas ataupun dimanfaatkan orang lain. Benar-benar karakter seorang Permaisuri.


Jingli menggelengkan kepalanya tanpa sadar.  Mengapa dia bisa mengatakan hal seperti itu? Keselamatan tuannya adalah hal yang utama.


Yuan menatap aneh wanita di depannya. "Ada apa denganmu?" tanyanya sedikit menjaga jarak.


"Ah? Tidak ada. Yang Mulia, semoga misimu berhasil!"


Di tempat lain, Raja kerajaan Wei, Wei Yinluo bersiap untuk melakukan perjalannya ke istana kekaisaran.


Setelah putrinya menghilang selama seminggu, akhirnya dia kembali juga.


Raja Yinluo sangat marah dengan apa yang sudah dilakukan putri kesayangannya itu, dia bahkan malu untuk menghadapi Kaisar Qin tanpa penjelasan sampai tiba hari ini, dia akan segera meluruskan semua masalah yang sudah putrinya lakukan.


"Berhentilah membuat masalah lagi! Ayah benar-benar kecewa padamu!" ujarnya tanpa melihat wajah sang putri.


"Ayah, Bingyan benar-benar tidak menginginkan pernikahan ini! Mengapa Ayah selalu memaksaku melakukan semua yang anda inginkan? Anda selalu mengatakan jika anda mencintaiku, tapi mengapa aku tidak bisa memilih jalanku sendiri? Mengapa?" tanya Bingyan dengan air mata yang mulai menetes.


"Aku melakukan semua ini untukmu dan untuk rakyat kita! Mengapa kamu tidak mengerti?" Raja Yinluo menatap Bingyan dengan tajam.


Bingyan tersenyum getir dan berkata, "Demi kebaikanku? Atau demi kedudukanmu? Aku akan mengadukannya pada ibu!"


"Beraninya kamu mengancamku!?" kata Raja Yinluo marah.


"Kamu pikir ibumu akan membelamu? Dia akan sama kecewanya denganku."


Wei Bingyan tertawa getir. "Begitukah? Sejak kapan ibuku sekejam dirimu? Dia tidak akan pernah menikahkan aku kepada laki-laki yang dikenal berdarah dingin itu. Aku pikir ayah juga sudah tau bagaimana reputasi Kaisar Qin, kan? Bukankan ini seperti anda sedang menjebakku?"


"Lancang! Bagaimana kamu bisa berbicara seperti itu padaku!" Raja Yinluo hampir saja kehilangan kontrolnya. "Kamu harus tetap ikut denganku ke istana kaisar! Kalian semua dengarkanlah perintahku! Jika putri Bingyan berhasil melarikan diri lagi, aku akan memenggal semua kepala kalian yang bertugas menjaganya! Dan untukmu, Yuwen. Aku memberimu satu kesempatan lagi untuk mengawalnya dalam perjalanan ini!" lanjutnya kepada semua pengawal dan Jenderal wanita kerajaannya.


***


Pagi ini Yuan merasa sudah lebih baik. Setelah mengurung diri satu hari di kamarnya untuk pemulihan dan menolak siapapun untuk mengunjunginya termasuk Jingli, sekarang gadis itu memutuskan untuk berjalan ke taman bersama dengan Jingli di belakangnya.


"Yang Mulia, anda sudah merasa baikkan?"


Yuan mengangguk dan berkata, "Sudah lebih baik. Hanya saja masih sedikit nyeri, tapi itu tidak masalah. Terlebih lagi aku benar-benar puas beristirahan tanpa gangguan dari kalian. Tidak perlu bangun pagi, mengurus beberapa urusan istana, dan sebagainya!" 


Kedua gadis itu berhenti di tanaman Bunga Peony yang mekar dan terlihat indah.


"Saudari, ambilkan alat pemotong untukku! Sepertinya aku akan membawa beberapa tangkai bunga indah ini ke kamarku," katanya yang segera dilaksanakan Jingli.


Sambil menunggu Jingli, Yuan mendengar beberapa pelayan yang lewat sedang berbincang. Para pelayan itu tidak menyadari keberadaan Yuan yang berada di balik Bunga Peony.


"Aku dengar Raja Yinluo beserta Putri Bingyan akan datang kemari," ucap salah satu pelayan pada temannya yang lain.


"Iya benar, mungkin mereka sudah dalam perjalanan sekarang."


"Apakah menurutmu Kaisar dan Putri Bingyan akan benar-benar menikah kali ini?"


"Aku tidak yakin, tetapi itu mungkin terjadi."


"Jadi menurutmu siapa yang akan menduduki posisi Permaisuri?"


"Apa maksudmu? Tentu saja Putri dari kerajaan Zhou. Bukankah dekrit pengangkatannya sudah diberikan?"


"Tapi pengantin awal Kaisar adalah Putri Bingyan---" lama-kelamaan suara itu kian menghilang seiring menjauhnya ketiga pelayan itu.


"Permaisuri." Panggilan itu membuat Yuan kembali tersadar ke dunianya.


Yuan menoleh menatap Jingli. "Kamu sudah membawanya?"


Jingli mengangguk sambil menyodorkan barang yang diminta Yuan.


"Oh iya, Permaisuri. Aku tadi mendengar beberapa pelayan membicarakan tentang kedatangan Raja Wei."


"Aku mendengarnya."


"Kamu tidak akan melakukan apapun?"


Yuan memiringkan kepalanya, menatap bingung pada wanita itu. "Apa yang sedang Saudari coba sampaikan?"


Jingli menghembuskan napas pelan dan berkata, "Kamu akan memiliki saingan jika benar Putri kerajaan Wei menikah dengan Yang Mulia Kaisar."


"Lalu kenapa? Aku tidak berniat untuk bersaing dengannya. Saudari, katakan. Menurutmu jika Kaisar dan Putri negara Wei menikah, bisakah aku menggunakan pernikahan mereka sebagai alasan untuk keluar dari sini dan kembali ke kerajaan kami?"


"Permaisuri, apakah anda benar-benar tertekan dengan pernikahan ini? Jika kamu memang ingin pergi dari sini, saya pasti akan membantumu. Saya tau walaupun anda melupakan segalanya, tetapi perasaan cinta yang dalam antara kamu dan Pangeran Liu tidak mudah untuk dilupakan."


Yuan mengetuk pelan dahi Jingli dengan kipas lipatnya. "Saudari, mengapa anda sangat serius? aku hanya bercanda. Lagipula dibanding dengan Pangeran Liu, Kaisar Xuan jauh lebih tampan, lebih kaya dan lebih banyak prestasi. Dia juga tidak terlalu buruk. Kamu tenang saja, dia tidak akan menikahinya."


Jingli mengusap dahinya pelan dan bertanya, "Mengapa kamu begitu yakin? Bagaimana jika dia menyukai Putri kerajaan Wei pada pandangan pertama?"


Yuan mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Kupikir, Kaisar Xuan bukanlah tipe laki-laki yang mudah terjerat kecantikan. Mengapa aku begitu yakin? Ini rahasia."


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...