My Devil Emperor

My Devil Emperor
Save



"Tuan, kamu ingin membawaku, apakah itu keputusan yang tepat?"


Pria paruh baya itu menatap bingung wanita di depannya. "Apa maksudmu? Hanya wanita, apa yang bisa mereka lakukan?"


Wanita itu tertawa pelan sambil menolehkan kepalanya, menghindari sentuhan jari pria itu. "Benar juga, apa yang bisa kami lakukan?"


"Permaisuriku tidak perlu melakukan apapun."


Suara itu seperti sebuah sinar di tengah kegelapan yang panjang.


"Lama tidak bertemu, Tuan ShenYue," lanjutnya menyapa.


Pria paruh baya itu sedikit terkejut, tetapi dia dengan cepat menyesuaikan kembali raut wajahnya dan membalikkan badan. "Ah, Kaisar sudah tumbuh sangat tinggi."


ZiXuan tersenyum tipis dan melompat turun dari dahan pohon tinggi. Dia menatap mata persik yang terlihat sayu itu, kemudian beralih menatap orang yang dipanggilnya ShenYue tadi.


"Melihat hubungan lama kami, bisakah anda melepaskannya dulu?"


Pria paruh baya itu tertawa sangat keras setelah ZiXuan menyelesaikan kalimatnya. "Apa saya tidak salah dengar? Apa kamu sedang memohon saat ini?" tanyanya setelah mengejek.


ZiXuan menaikkan alisnya. "Memohon? Tidak. Aku sedang mencoba bernegosiasi. Jika kamu melepaskannya dan pergi dari sini sekarang, saya akan menganggap hal ini tidak pernah terjadi. Tapi jika tidak...." ZiXuan sengaja tidak melanjutkan kalimatnya.


"Hanya satu orang wanita, kamu berbaik hatilah padaku. Bukankah katamu, kita adalah kenalan?"


"Benar-benar mengulur waktu," gumam ZiXuan. "Karena anda memaksa, jadi jangan salahkan saya karena kurang sopan pada senior."


Hanya dalam waktu tiga detik, suara teriakan kesakitan terdengar.


"Bocah sialan! Kalian—kalian bunuh dia! Siapapun yang membunuhnya, aku akan memberikan hadiah yang besar. Bunuh sekarang sebelum orang-orang dari istana datang! Bunuh!" perintah ShenYue marah.


Orang-orang dari pihaknya mulai memblokir ZiXuan, termasuk dua orang yang tadi memapah Yuan.


Gadis itu jatuh terduduk setelah dilepaskan. Keningnya berkerut menahan sakit yang dirasakan. Yuan mengangkat sebelah tangannya dan berusaha menahan darah yang mulai mengalir dari lengannya lagi.


"Lihat apa yang sudah suamimu lakukan? Bukankah sebagai istrinya, kamu juga bertanggungjawab untuk memberikanku kompensasi?"


Suara itu membuat Yuan tersadar. Bola matanya bergerak, menatap tetesan cairan berwarna merah yang jatuh menyerap ke dalam tanah. Kemudian, gadis itu mengangkat wajahnya menatap pria paruh baya yang tampak marah dan tersenyum miring. "Mengapa saya harus memberikan kompensasi? Itu bahkan kurang dari pada yang telah anda lakukan pada saya. Seharusnya Kaisar Xuan langsung saja membunuhmu daripada hanya membuat setengah lenganmu menghilang."


"Kamu! Kurang ajar!"


Wajahnya yang sudah memerah, kian memerah karena ucapan Yuan. Dia berjalan mendekat dan berlutut di depan gadis itu.


"Apa yang kamu katakan tadi? Coba ulangi lagi!" katanya marah. Dengan tangan yang lain, ShenYue menarik rambut Yuan membuat gadis itu semakin mendongakkan wajahnya.


Yuan meringis tetapi tidak bisa melawan. Rasanya dia akan segera mati sekarang. Dia menatap pria yang seumuran ayahnya itu dengan tatapan kosong.


"Kenapa tidak bicara lagi? Wanita sombong sepertimu, tidak boleh dilepaskan dengan mudah. Kaisar Xuan, berhenti!" Seruannya itu membuat orang-orang


ZiXuan menatap tajam ShenYue yang berada di sebelah wanitanya.


"Jika tidak bisa membawanya bersamaku, kalau begitu biarkan kami melihat tubuhnya saja!" Diakhiri dengan suara tertawa terbahak-bahak, ShenYue mengulurkan tangannya ke arah baju Yuan.


"Kamu berani?!" ujar Yuan beringsut mundur. Keringat yang sudah sebesar biji jagung itu jatuh membasahi bajunya.


Karena terlalu fokus pada objek di depannya, seseorang terkadang tidak mengetahui ancaman yang berada di sekitar.


Sebuah belati perak terbang membelah udara dan menembus dadanya.


Tubuh Yuan melemas. Dia benar-benar tidak bisa bergerak lagi.


"Ketua!" Orang berbaju hitam yang berada tak jauh dari sana segera berlari dan menahan tubuh ShenYue yang hampir ambruk.


"Mundur!" Teriaknya. Dia segera merangkul tubuh pria paruh baya itu dan dengan teknik Qinggong, segera membawa ShenYue pergi.


ZiXuan berlari cepat ke arah Yuan, duduk bersimpuh dan membawa tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.


"Xiao Li, kamu bisa mendengarku?" tanyanya pelan. Dia menatap wajah cantik yang terlihat pucat itu, menyentuh lembut pipinya dan menyeka darah di sudut bibir gadis itu.


Yuan membuka matanya perlahan. Dia tersenyum tipis melihat pria di depannya. Menghela napas panjang dan berkata, "Ini bagus. Saudara, Xiao Li sangat lelah. Boleh aku tidur?"


ZiXuan menatap lembut mata seindah bunga persik itu dan mengedipkan matanya.


Mata sayu itu tiba-tiba menjadi tajam. Dengan sisa kekuatan yang dia punya, membalikkan posisisnya.


"Xiao Li!"


Benda tajam itu menembus dadanya. Yuan memuntahkan seteguk darah dari mulutnya dan menunduk menatap bilah pedang yang berlumuran darah itu.


Matanya terpejam dengan kening berkerut.


Orang yang menyerangnya itu terkejut. Dia segera menarik kembali pedangnya dan hendak melarikan diri.


Tetapi dia terkejut saat menyadari dirinya tidak bisa bergerak. Bukan hanya dia, tetapi juga beberapa rekannya yang belum sempat pergi membeku di atas tanah.


Tidak tau apa yang terjadi, tiba-tiba saja dalam kedipan mata berikutnya, orang-orang itu berjatuhan dari tempatnya setelah sebuah cahayah biru menembus seperti kilat.


"Tidak ada yang tersisa. Tidak boleh ada yang mengingatnya," gumam ZiXuan. "Mengapa kamu melakukannya?" lanjutnya bertanya pada Yuan yang sudah berada dalam pelukannya lagi.


Dengan napas yang tersenggal-senggal dan air mata yang kembali jatuh, gadis itu menjawab. "Bagaimana saya bisa tenang jika saudara terluka? Bagaimana kami bisa pulang jika saudara terluka?"


"Bodoh," ucap ZiXuan pelan. Dia mengangkat tubuh mungil Yuan dan lanjut berkata, "Tidurlah. Aku akan membawamu pulang."


Bibir tipis yang sudah berwarna biru itu tersenyum. "Aku ingin menemanimu lebih lama, tapi aku tidak bisa. Saudara Xuan, aku memiliki satu rahasia. Maukah kamu mendengarnya?"


"Tidakkah kamu lelah berbicara?"


Yuan membuang napas pelan. "Aku tidak tau apakah aku bisa memberitahumu nanti. Jadi biarkan aku memberitahumu, oke?"


ZiXuan melirik wajah cantik dengan mata terpejam itu dan mengangguk pelan.


"Akhirnya kamu mau mendengarkanku," ucap Yuan senang. Suaranya masih terdengar sangat lembut, tetapi semakin melemah. ZiXuan dapat mendengarnya karena gadis itu berada dekat dengannya.


ZiXuan yang penasaran, meliriknya untuk memastikan apa yang sedang terjadi.


"Kenapa?" tanyanya pada Yuan yang entah sejak kapan mata gadis itu sudah terbuka.


"Kamu—kamu yang membunuhnya?"


ZiXuan kembali melihat ke depan. Pemandangan di sana benar-benar menyeramkan. Genangan darah dan tubuh-tubuh yang berserakan. Yang lebih sadis lagi, penampilan mayat itu sangat menyedihkan, dengan anggota tubuh yang tidak lengkap bahkan wajah yang sulit dikenali.


"Jika tidak membunuhnya, mereka akan membunuh kami."


Yuan kembali memejamkan matanya, enggan melihat pemandangan berdarah itu. "Aku tahu, tapi tidak mengira caranya sekejam itu."


ZiXuan tersenyum tipis dan berkata, "Saat di medan perang, kamu tidak boleh berbelas kasihan."


ZiXuan berjalan cepat, entah karena cuaca yang mendung atau matahari yang sudah tenggelam, suasana dalam hutan itu menjadi gelap dengan angin yang berhembus kencang.


Dia melirik Yuan yang sudah terlelap dengan hembusan napas yang tenang dalam dekapannya.


Matanya menyipit saat melihat sebuah gua yang tidak jauh dari mereka. Sepertinya untuk saat ini harus mencari tempat untuk mengobati luka wanitanya dulu.


ZiXuan menurunkan Yuan dan berdiri menatapnya. Gadis itu terlihat sangat menyedihkan, walaupun warna baju yang dipakai dapat menutupinya, tetap saja tidak dapat menutupi luka terbuka pada dada dan lengannya.


Dia melepaskan baju luarnya dan mennyelimuti tubuh mungil itu.


Pria itu kini memperhatikan lingkungannya. Gua yang dia tempati terasa dingin dan terlalu gelap. ZiXuan mengangkat sebelah tangannya dan seberkar sinar biru melayang ke langit-langit gua kemudian terpecah menjadi ribuan cahaya. Seperti langit malam yang sangat indah.


ZiXuan terdiam beberapa saat. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu dan tampak ragu. Dengan helaan napas panjang, pria itu membuka telapak tangan dan membaliknya mengarah pada Yuan yang masih terlelap. Sebuah sinar oranye jatuh menutupi wilayah itu, melindunginya.


Setelah diyakini sudah aman, ZiXuan berjalan meninggalkan gadis itu di sana.


Pria itu tidak meninggalkan wanitanya terlalu lama, dia sudah kembali sepuluh menit kemudian dengan beberapa batang kayu di tangannya.


ZiXuan menyusun kayu-kayu itu, berniat membuat penghangat tubuh dengan api unggun.


Setelah selesai menghidupkan api, dia kembali mendekati Yuan. Tangannya dengan terampil membuka baju yang dikenakan gadis itu.


"Apa yang ingin kamu lakukan?" Suara yang terdengar seperti bisikan itu membuat tangan ZiXuan berhenti. Dia menatap wajah pucat Yuan yang matanya sudah sedikit terbuka.


ZiXuan memberikan senyuman menyeringainya. Perlahan dia mendekatkan wajahnya pada gadis itu.


Yuan yang baru saja tersadar tentu saja langsung berdebar. Setidaknya berikan dia napas dulu!


Dengan mata yang terbelalak, Yuan berkata, "Saudara, apa yang ingin kamu lakukan?" Dia memejamkan matanya rapat-rapat. Menyesali mengapa harus bangun di saat seperti ini.


Satu ketukan pelan mendarat di hidung mancungnya. "Apa yang sedang dipikirkan pahlawan wanita ini? Apa saat bersamaku, pikiranmu selalu kotor?"


Pertanyaan itu membuat Yuan dalam sekejap kembali membuka matanya. Dia menatap tak setuju pada pria yang sudah menarik kembali wajahnya itu.


"Saudara, jangan salahkan aku! Kamu harus bercemin saat ini. Bagaimana matamu melihatku itu seperti serigala yang menemukan mangsanya!"


ZiXuan tidak mempedulikan ucapan gadis itu dan kembali membuka bajunya. "Diamlah, aku ingin mengobati lukamu," katanya.


Yuan tidak memiliki pilihan lain selain membiarkan ZiXuan mengobati lukanya. Memangnya dia bisa sendiri? Bergerak saja terasa sakit. Dia hanya bisa mengangkat sebelah tangannya dan menutupi bagian atas tubuhnya yang terbuka.


"Mengapa kita di sini?" tanya Yuan pelan.


"Sudah terlalu gelap. Keadaanmu juga tidak memungkinkan untuk kembali, tunggu saja mereka mencari. Tahan sebentar, ini akan sakit."


Saat Yuan hendak bertanya lagi, dia terkejut ZiXuan malah menunduk dan menghisap darah dari lengannya yang terkena panah saat di perburuan.


Dia refleks mencengkeram pundak pria itu dan mendorongnya, tetapi tidak bisa. Gadis itu mengaduh dan mulai menangis. "Sau—Saudaraku, jangan lagi."


ZiXuan menarik wajahnya kembali dan membuang darah dalam mulutnya. Dia menyeka sudut bibirnya, kembali menatap Yuan. "Baik. Baik. Sudah selesai."


Yuan kembali mengatur napasnya dan memejamkan matanya. Tetapi tiba-tiba dia menyadari sesuatu, matanya kembali terbuka dan melihat ZiXuan yang sedang memandangnya. "Apa yang kamu lihat!" tukasnya seraya kembali mengangkat lengan menutupi bagian atas tubuhnya.


"Permaisuri, sudah seperti ini, apakah harus malu-malu lagi?"


"Omong kosong! Balikkan badanmu!" katanya galak.


"Turunkan tanganmu," suruh ZiXuan santai.


Yuan menatap tak percaya pria tampan di depannya itu. "Saudara, kamu—"


"Turunkan sedikit tanganmu, itu menutupi lukanya. Aku belum selesai mengobati lukamu yang lain," katanya menjelaskan.


ZiXuan membuang napas pelan dan berkata, "Xiao Li, jika aku ingin menidurimu, aku tidak akan memilih saat ini."


Yuan semakin tercengang. Pria di depannya ini, apakah harus mengatakan hal seperti itu dengan jelas dan terang-terangan?


"Saudara, kamu juga jangan terlalu jujur seperti itu," ucap Yuan lemah. Dengan wajah memerah, dia menurunkan sedikit lengannya. "Tunggu dulu, kamu—kamu tidak akan menghisapnya seperti tadi kan?" lanjutnya ragu.


ZiXuan berdecak kesal. "Tidak. Itu berbeda. Luka di lenganmu itu ada racunnya. Harus segera dikeluarkan. Jadi, jangan bicara lagi, oke?"


Yuan mencebikkan bibirnya dan dengan enggan menuruti kata-kata pria itu. Dia membuang mukanya yang memerah ke arah lain.


ZiXuan yang memperhatikannya mengulum senyum. Tangannya terulur menempelkan sesuatu pada luka itu.


Yuan mengernyitkan keningnya dan meringis pelan.


"Baiklah. Sudah selesai." ZiXuan kembali merapikan baju Yuan dan kembali menyelimutinya. "Beristirahatlah," lanjutnya.


ZiXuan duduk di sebelah gadis itu sambil menatap pada kobaran api yang tadi di nyalakan.


"Indah sekali!"


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...