
"Permaisuri, izinkan hamba melayani Anda." Liang Rong berdiri dan mengambil alih poci porselin dari tangan seorang pelayan.
Jingli yang berdiri di samping Yuan hendak mengatakan sesuatu, tetapi Yuan memegang tangannya dan menggeleng.
Yuan tersenyum tipis. "Kalau begitu, merepotkan Putri Rong," katanya memberi izin.
Putri Rong tersenyum dan menuangkan teh hitam itu ke dalam cangkir di depan Yuan. "Permaisuri rendah hati. Sebuah kehormatan bisa melayanimu."
Kembali tersenyum, Yuan mengangkat cangkir di depannya dan menyesap pelan teh itu.
Liang Rong juga melakukan hal yang sama kemudian dia melirik Xiao Ling. Mengerti apa yang di maksud, pelayan Xiao Ling menunduk patuh dan berkata, "Putri, hamba lupa mengerjakan sesuatu yang penting."
Liang Rong tersenyum dan berkata, "Pergilah."
Xiao Ling menatap Putri Rong dan beralih ke Yuan kemudian menunduk sopan. "Pelayan Xiao Ling memohon izin menarik diri dari Putri dan Yang Mulia Permaisuri."
"Pergilah." Kali ini Yuan yang berujar.
Mendengar persetujuan tuannya dan Permaisuri Kekaisaran, Xiao Ling segera bergegas pergi dari sana.
"Jingli, bawa ini pergi." Yuan memberikan keranjang makanan yang belum sempat ia rapikan kepada Jingli.
Jingli segera menerimanya dan menjawab, "Baik, Permaisuri." Dia pun berbalik pergi dari sana.
Setelah itu hanya ada mereka berdua.
Putri Rong kembali tersenyum dan berkata, "Terima kasih atas pengertian Permaisuriku."
"Tidak perlu sungkan. Jadi, ada apa?"
Putri Rong terdiam sebentar sebelum kembali berkata, "Karena hanya ada kita berdua, maka seperti permintaan Yang Mulia, aku tidak akan sungkan."
"Permaisuri, anda benar-benar mengizinkanku menikah dengan Kaisar, kan?"
Yuan terdiam. Dia tentu saja tidak menyangka dengan apa yang akan ditanyakan Liang Rong padanya.
Setelah beberapa detik jeda, dia menjawab, "Itu tergantung keputusan Yang Mulia Kaisar. Apapun yang dia pilih, maka aku pasti akan menerimanya."
"Permaisuri, aku mencintai suamimu. Aku akan membuatnya jatuh cinta padaku, bagaimana menurutmu?"
Yuan tersenyum tipis. "Kamu boleh mencoba. Siapa yang akan melarang istri yang ingin mendapatkan cinta suaminya?"
Liang Rong menatap iba Yuan. "Jujur saja, saya mendengar apa yang anda bicarakan dengan kaisar beberapa hari yang lalu. Permaisuri, tidakkah anda berpikir bahwa dirimu sangat naif? Tidak menyangka anda bisa tega melukai perasaan orang yang paling mencintaimu. Tapi tenang saja, jika saya menjadi istrinya, saya tidak akan senaif dirimu. Saya akan menjadi istri yang lebih baik dari dirimu sehingga dia beruntung memiliki aku. Zhou YanLi, anda tidak pantas untuknya!"
Yuan menatap tenang orang di depannya. Mata indahnya berkedip kemudian senyuman tipis muncul di bibir merahnya. "Anda benar. Saya memang naif. Dia terlalu sempurna untukku. Saya tidak akan membela diri. Tapi untuknya aku bisa melakukan apapun. Selama dia bahagia dan aman, itu sudah cukup untukku."
"Bagaimana jika aku berhasil membuatnya mencintaiku?"
"Itu juga baik."
"Aku akan membuatnya menjauhimu. Aku akan membuatnya mengusirmu dari kekaisaran ini! Kamu akan dilupakan," ujar Liang Rong sarkas.
Yuan tersenyum masam padanya. "Itu juga tidak apa. Selama kamu tidak menyakitinya dan benar-benar mencintainya, itu akan membuatku tenang. Setidaknya Yang Mulia tetap memiliki seseorang yang akan menemaninya dalam suka dan duka, tidak akan mengkhianati."
Liang Rong terdiam, tetapi dengan cepat dia menormalkan ekspresinya kembali. "Benar-benar istri yang rela memberikan apapun untuk suaminya. Harus kuakui anda adalah pesaing cinta terberat, jadi tentu saja aku tidak akan menyukainya. Selama ada kamu, posisiku akan sulit. Tenang saja, aku akan menjaga Yang Mulia dengan baik. Aku akan mencintainya dan memberikan anak untuknya."
Mata wanita itu terlihat sedikit memerah, tetapi dia tidak menangis malah tersenyum bahagia. "Itu jauh lebih baik. Yang Mulia pasti akan senang. Aku hanya berharap dia—" Napasnya tercekat, kalimat ini sangat sulit untuk diucapkan.
"Dia akan menerimamu. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain menjadi orang tua. Aku tau selama ini Yang Mulia selalu menginginkan seorang anak walaupun dia tidak pernah mengatakannya padaku." Akhirnya dia berhasil mengatakannya.
Liang Rong membeku. Wajah itu...
Entah mengapa hatinya merasa sangat bersalah. Dia baru saja menyadari kesalahannya.
"Permaisuri, maaf—"
Yuan menggeleng. "Tidak apa-apa. Liang Rong, pada hakikatnya hati wanita mana yang tidak sakit ketika mengizinkan suaminya untuk menikahi wanita lain? Tapi saya tidak berdaya. Saya ingin Yang Mulia hanya menjadi milikku seorang, tapi apa yang sudah saya berikan padanya? Saya belum memberikan apapun. Saya hanya terus menyakitinya. Di samping dari seorang istri dan ibu, saya juga seorang ibu kekaisaran. Keadaan yang memaksaku. Saya tidak peduli dengan tekanan, tapi saya tidak bisa melihatnya kesulitan. Suami, dia sudah bekerja terlalu keras. Saya hanya ingin membantunya sedikit, tapi ternyata saya malah menyakitinya. Coba katakan padaku! Jika kamu menjadi aku, apa yang akan kamu lakukan?"
Liang Rong tertegun. Benar juga, jika dia berada di posisi Yuan, apa yang akan dia lakukan?
Yuan mendongakkan kepalanya menahan air mata yang akan jatuh. Dia berdiri yang membuat Liang Rong kembali fokus padanya.
"Putri Rong, anda bisa meyakinkan Yang Mulia Kaisar jika anda mau. Saya tidak akan menghalangimu dan saya juga tidak akan memaksa suamiku lagi. Saya lelah, jika tidak ada yang ingin anda bicarakan lagi, maka saya akan pergi." Setelahnya, Yuan berbalik dan berjalan pergi.
Liang Rong memandang punggung Yuan yang semakin menjauh. Pandangannya sedikit buram tetapi dia tetap dapat melihat langkah kaki Yuan yang terlihat tidak pasti dengan kepala yang menunduk.
"Demi dia, kamu bisa melakukan apapun. Pantas saja dia menolakku. Ternyata di hatinya, dia sudah memiliki kekasih yang sempurna."
***
"Permaisuri, Anda baik-baik saja?" tanya Jingli hati-hati.
Yuan menggeleng lemah. "Jingli, aku ingin beristirahat. Jangan biarkan seorangpun menggangguku!" ucapnya sebelum menutup pintu kamar.
"Baik, Permaisuri." Tanpa bertanya lagi, Jingli segera pergi dari sana.
Di tempat lain, Liang Rong berjalan pelan ditemani Xiao Ling yang berada di sampingnya.
"Putri, apakah anda yakin akan melepaskan kesempatan ini?" tanya Xiao Ling pelan.
"Kenapa tidak?"
"Anda—bukankah anda sangat menyukai kaisar?"
Liang Rong menarik napas panjang dan berkata, "Aku memang menyukainya, tetapi dibanding rasa cinta permaisuri pada kaisar, perasaanku tidak berarti apa-apa."
"Tapi anda bisa membuatnya perlahan-lahan menyukaimu. Anda cantik, tidak kalah dari Permaisuri Xuan. Mungkin anda juga bisa mengambil posisinya di kekaisaran."
"Xiao Ling, kamu terlalu memujiku. Dalam hal apapun, aku ditakdirkan kalah olehnya. Aku bahkan tidak yakin apakah aku bisa membuat Yang Mulia menyukaiku setelah semua yang terjadi. Untuk posisi permaisuri? Aku tidak menginginkannya. Itu tugas yang terlalu berat," ujarnya sambil menggeleng pelan.
"Jadi Anda benar-benar menyerah?"
"Aku menyerah! Ying'er itu, sepertinya dia juga salah menilai. Aku bahkan tidak melihat celah kekurangan dari Permaisuri Xuan, darimana dia dapat kepercayaan diri untuk bersaing dengan permaisuri? Lihat kan, bukan hanya gagal, sekarang dia dan keluarganya malah diasingkan. Untung saja aku tidak sebodoh dia. Entah bagaimana kabarnya sekarang."
"Putri benar! Putri, apapun yang terjadi, hamba akan selalu mendukungmu!"
"Xiao Ling memang yang paling pintar!"
...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...