
Malam itu, langit penuh bintang dan seorang wanita terlihat duduk termenung dengan mata menatap jauh ke angkasa.
Dia menarik napas dalam-dalam dan berdiri menutup jendela. Berjalan dengan tenang ke tempat tidurnya.
"Saya sudah memberitahumu sebelumnya. Saya tidak memiliki waktu untuk mengurus banyak istri. Selain itu saya sudah cukup dengan adanya kamu."
Perkataan itu sederhana, tetapi tatapan pria itu sangat jujur ketika mengucapkannya. Itu memberi dia rasa aman dan dipercaya.
Yuan menarik selimut dan mulai terlelap.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Tidak ada berubahan yang signifikan, hanya hubungan sepasang suami dan istri itu yang kian membaik.
Yuan baru saja membuka pintu dan seseorang langsung berlari memasuki kamarnya.
"Eh? Hua'er, kamu—"
"Ssttt." Youhua memotong pembicaraan Yuan dengan meletakkan jari telunjukkan di bibir. Matanya menyisir ruangan seperti mencari sesuatu.
Yuan hanya memperhatikan adik iparnya dengan bingung.
Selang beberapa menit, gadis itu berlari ke belakang sekat dan tidak muncul lagi.
Yuan baru saja akan memanggilnya lagi, tetapi sebuah suara membuatnya berbalik ke arah pintu.
"Xiao Li, apakah kamu melihat adikmu?"
Yuan menunduk hormat ketika melihat wanita yang baru saja masuk ke kamarnya itu.
"Apakah kamu melihatnya?" ulang Ibu Suri sambil menatapi sekitar kamar.
Yuan terlihat tertekan. "Apakah ada masalah, Ibu?"
Lian Chun membuang napas kasar dan menjawab, "Ya, apa lagi yang bisa anak itu lakukan?" Wanita itu menatap Yuan tajam. "Kamu tau dia di mana kan?"
Yuan tertawa canggung dan menggeleng pelan. "Tidak melihat," katanya pelan.
Lian Chun menyipitkan matanya. "Benarkah?" Dia menatap kesetiap sudut kamar dan berhenti di satu titik. Wanita itu berjalan melewati Yuan dan dengan sekali gerakkan menarik sebuah tangan keluar dari sana.
"Ah, Ibu, Ibu. Jangan seperti ini. Saya tidak ingin!" seru Youhua sambil berusaha melepaskan tangan ibunya.
"Kakak! Kakak! Tolong aku!" Dia menarik tangan Yuan saat melewatinya membuat wanita itu hampir terjatuh.
"Apa yang kamu lakukan! Kakak iparmu hampir terjatuh karenamu!"
Melihat ada kesempatan, Youhua melepaskan cekalan tangan ibunya dan berlindung di balik punggung Yuan.
"Kamu ke sini!"
"Tidak mau!"
Yuan mengingis pelan dan menginterupsi, "Ini sebenarnya ada apa?"
"Kakak, saya tidak ingin menikah!"
Yuan menaikkan alisnya bingung dan menatap ibu mertuanya.
Lian Chun hanya mengangguk pasrah sambil berkata, "Sebagai seorang ibu, saya tentu menginginkan yang terbaik untuk anak saya terlebih untuk anak perempuan. Xiao Li, apakah kamu tahu pangeran dari Kerajaan Yong? Pangeran Xian Le? Wilayahnya dekat dengan wilayah Kerajaan Zhou."
Yuan menggeleng dengan polos. "Saya tidak ingat."
"Pokoknya dia sangat cocok dengan Youhua kami. Pemuda yang berbakat dan rendah hati. Setidaknya temui dia dulu!"
Youhua menggeleng dengan tegas. "Tidak mau!"
"Kamu!" Lian Chun bergerak maju dan Youhua memegang bahu Yuan sebagai tameng.
Yuan hanya bisa pasrah berdiri di tengah-tengah ibu dan anak itu.
"Ibu, tenang dulu. Hua'er, tidak apa-apa untuk bertemu dulu."
"Siapa yang akan percaya? Begitu aku menuruti untuk bertemu, mereka pasti akan menentukan tanggal pernikahan! Kakak, kamu harus berhati-hati pada ibu!"
Lian Chun melotot mendengarnya. "Apa? Apa yang baru saja kamu katakan? Di mana etikamu ketika berbicara denganku! Kemari!" katanya marah.
"Ibu! Ibu! Saya salah." Mungkin karena tidak sengaja, Youhua mendorong Yuan membuat wanita itu jatuh tersungkur.
"Xiao Li! Xiao Li, kamu baik-baik saja? Bagaimana keadaanmu?" tanya Lian Chun berlutut dan membantunya untuk bangun perlahan.
"Apakah baik-baik saja?" tanyanya lagi dengan ke khawatiran.
Yuan menggeleng pelan. "Tidak apa-apa." Sedetik setelah mengatakannya, dia tiba-tiba membeku.
"Kakak?"
"Xiao Li? Ada apa? Apakah ada yang sakit?"
Yang ditanya hanya terdiam sambil menggigit bibir bawahnya. Keringat dingin mulai muncul di dahinya.
"Ibu—perut saya sakit," katanya lemah.
Lian Chun mengangkat wajahnya menatap Youhua dan segera berbicara, "Cepat panggil tabin istana!"
Youhua mengangguk cepat dan berlari keluar sedangkan Lian Chun membantu Yuan untuk duduk di ranjangnya.
"Sangat sakit?" tanyanya lembut.
Yuan mengangguk pelan dengan mata berkaca-kaca.
"Tunggu sebentar!" Lian Chun berdiri dan menghilang dari balik pintu. Tak lama, dia kembali dengan sebuah baskom kecil dengan kain di tangannya.
Terlihat Yunniang dan Jingli juga mengikutinya di belakang.
"Kalian berdua keluar saja. Saya akan mengurusnya sendiri. Juga, beritahu Yang Mulia."
Keduanya menunduk dan menjalankan perintah yang diberikan Ibu Suri.
Lian Chun mencelupkan kain yang telah dilipat itu ke dalam air hangat, membiarkannya terendam, dia membantu Yuan untuk melepaskan ikatan bajunya.
"Letakkan di bagian yang sakit," ucapnya memberikan kain hangat itu pada Yuan.
Yuan tidak banyak bicara, hanya menuruti perkataan Lian Chun. Tenaganya sudah sangat terkuras untuk menahan sakit yang dia rasakan.
"Apakah kamu sedang datang bulan?"
Yuan hanya menggeleng lemah.
"Saya akan menghukumnya ketika anak itu kembali!" ucap Lian Chun geram.
"Tidak—tidak perlu, Ibu. Hua'er tidak sengaja. Jangan—terlalu keras padanya."
"Baiklah, Baiklah. Jangan memaksa untuk bicara jika itu sulit."
Derap langkah kaki terdengan dari luar dan pintu kamar terbuka.
ZiXuan memasuki kamar Yuan dengan langkah cepat. "Apa yang terjadi, Ibu Suri?"
"Ini salahku. Saya berniat membawa Hua'er pergi dari sini dan dia menolak. Dia bersembunyi pada kakak iparnya tetapi tidak sengaja mendorong Xiao Li hingga terjatuh," jelas Lian Chun menyesal.
ZiXuan duduk di sisi lain Yuan dan menatap wajah pucat pasi wanita itu. Tangannya terangkat menutupi punggung tangan Yuan yang sedang mengompres perutnya.
Tidak tau mengapa, seperti ada perasaan hangat yang menyelimuti tubuhnya, bahkan rasa sakit di perut Yuan mulai menghilang perlahan.
Yuan merasa matanya sangat berat untuk terbuka, dia menyandarkan kepalanya pada dada bidang ZiXuan dengan nyaman.
"Xiao Li?"
"Tidak apa-apa. Saya membuatnya tertidur. Ibu tidak perlu khawatir."
Tak lama kemudian, tabib istana datang bersama dengan Youhua.
Setelah diperintahkan oleh Lian Chun untuk segera memeriksa Yuan, tabib itu segera berjalan mendekat, dan menyentuh pergelangan tangan permaisuri.
Wajahnya yang sudah tua itu terlihat serius selama beberapa saat. Dia melepaskan tangan Yuan dengan lembut dan mundur kemudian berlutut sambil mengatakan, "Selamat, Yang Mulia Kaisar. Permaisuri Qin sedang mengandung calon penerus kerajaan."
Lian Chun berdiri dengan mata berbinar, "Apakah ini benar?"
"Benar, Yang Mulia Ibu Suri. Selamat untuk keluarga kekaisaran."
Lian Chun tertawa bahagia, dia melepaskan gelamg yang dipakainya dan memberikan kepada tabib istana itu. "Ambilah ini sebagai hadiah dariku."
Tabib wanita itu menerimanya dengan tangan gemetar dan kembali berlutut.
"Yang Mulia, karena usia kandungannya masih muda, jadi kandungan permaisuri harus di kuatkan. Hamba akan membuatkan resep pemguat kandungan. Hamba izin pamit." Tabib itupun pergi dari sana.
"Bagus! Ini berita bagus! Nak, selamat!"
...■■■■■...