My Devil Emperor

My Devil Emperor
Extra Chapter : Final Battle



Sebuah cahaya hitam tiba-tiba jatuh di tengah aula kekaisaran yang sudah rusak parah.


ZiXuan mengusap sudut bibirnya yang berdarah dan memandang sengit seseorang yang baru saja muncul setelah cahaya hitam itu menghilang, tak lama setelah kemunculannya, orang-orang berbaju hitam masuk, mengepungnya. Itu dengan jumlah yang lebih banyak daripada serangan pertama.


Wanita cantik itu berdiri tegak di barisan depan. Wajahnya terlihat tenang dan menatap wajah tampan ZiXuan.


"Sayang sekali aku sudah memiliki suami. Jika tidak, mungkin aku akan jatuh cinta padamu, Yang Mulia." Suaranya terdengar mendayu-dayu. Sangat lembut tetapi berbahaya.


"Siapa Anda?" tanya ZiXuan yang juga terlihat tenang. Memangnya kapan laki-laki itu terlihat lepas kontrol?


"Aku? Apakah itu penting di saat-saat seperti ini?"


ZiXuan terdiam, tidak menanggapinya.


"Yang Mulia, tidakkah kamu memikirkan bagaimana nasib istri tercintamu di luar sana? Bagaimana kamu membiarkannya keluar seorang diri?"


"Bagaimana dia, Anda tidak perlu memikirkannya. Tidak di sangka, dalang di balik ini semua hanyalah seorang wanita? Siapa pencundang yang mengirimmu?"


Yunniang mendengus kasar. "Yang Mulia, kamu terlalu sombong. Wanita yang kamu remehkan itu, saat ini bahkan bisa berdiri tegak di depanmu."


Sedetik kemudian wanita itu tiba-tiba tersenyum dan melanjutkan, "Tapi tidak apa-apa. Saat ini perasaanku sedang bahagia. Hari ini adalah perayaan ulang tahun permaisurimu, tentu saja aku tidak datang dengan tangan kosong." Saat dia berkata, sesuatu muncul di tangannya.


Itu sebuah kotak dan anting-anting.


"Lihat." Dia mengangkatnya di depan semua orang yang membuat beberapa orang langsung menyadarinya.


"Bu—bukankah itu milik permaisuri?" ujar Jingli terbata. Dia jelas mengingatnya karena dia yang membantu Yuan untuk bersiap. Termasuk menyiapkan pakaian dan aksesorisnya.


ZiXuan masih terlihat tenang dan berkata, "Lalu mengapa?"


"Kaisar, kamu terlalu naif. Apakah masih tidak mengerti?"


Yunning menjatuhkan anting-anting itu dengan raut kesal kemudian beralih kepada kotak kecil yang dia bawa. "Nah, kalau begitu coba lihat yang ini," katanya bersemangat lagi.


Dia membuka kotak itu dan membuat Jingli yang sedari tadi fokus memperhatikannya terjatuh.


Li Wei menahan gadis itu dan membawanya ke dalam pelukan.


"Kamu! Kamu apakan kakakku?!" Lengkingan suara itu memecahkan keadaan yang sunyi.


Melihat siapa yang berteriak itu dan apa benda yang di bawa wanita cantik misterius membuat situasinya semakin mencekam.


Yunniang menatap Feng Ji yang sudah melihatnya dengan kobaran api di mata.


Dia tersenyum. "Apakah ini saudarinya? Ah, memang cantik. Semua keluarga kerajaan Zhou memang tampan dan cantik, bahkan kudengar gadis-gadis di sana juga cantik. Tuan Putri, maukah kamu menjamuku di sana? Kudengar, kerajaan Zhou adalah tempat yang indah dan damai," katanya dengan wajah polos.


"Omong kosong apa yang kamu ucapkan! Di mana kakakku?!" tanya Feng Ji. Dia hampir saja ingin langsung menerkam Yunniang jika saja Pangeran Liu tidak menahannya.


"Ah, kamu terlalu buru-buru. Aku kan hanya ingin mengobrol saja denganmu. Tapi tidak apa, aku akan menjawabnya. Kakakmu tentu saja aman tergantung apakah suaminya mau bekerjasama denganku," ujar Yunniang kembali menatap ZiXuan.


"Oh? Apa yang kamu ingin aku lakukan?" ZiXuan menaikkan alisnya. Dia sama sekali tidak terganggu dengan apa yang ditunjukkan Yunniang itu.


Yunniang berdecih kesal. Dia berpikir apakah kaisar ini tidak mempercayainya? Seharusnya dia benar-benar mencari Yuan dan meminjam satu jarinya!


"Lepaskan semua kekuatanmu! Aku tidak peduli kamu percaya atau tidak tetapi kamu tidak punya pilihan lain sekarang! Menyerahlah dan aku tidak akan melepaskan semua sampah ini dan permaisurimu."


Menyadari siapa orang itu, ZiXuan menahan napasnya. Segera sebuah sulur merah keluar dari tangannya dan membawa orang itu mendekat sebelum orang-orang jahat ini menangkapnya.


"Mengapa kamu di sini? Di mana kakak iparmu? Apa yang terjadi?" Pertahanannya runtuh saat melihat Youhua datang dengan mata sembab dan baju yang ternoda tanah dan darah. Pikirannya langsung tertuju pada wanita yang berdiri di depannya.


"Apakah—"


Youhua menggeleng lemah. Dia menangis dan berkata, "Mereka tidak menangkapnya, tetapi mereka membunuhnya!" Dengan tangan gemetar, Youhua memberikan sebuah pedang yang terlihat seperti cambuk itu pada kakaknya. Darah di pedang itu juga masih belum kering.


ZiXuan menatap pedang itu dengan kosong. Tangannya terulur mengambil pedang itu dari Youhua.


Yunniang berkedip bingung. Apa yang sedang terjadi? Mengapa jadi seperti ini?


Itu terjadi sangat cepat. Cahaya oranye keemasan jatuh membombardir pasukan berbaju hitam yang di ketuai Yunniang. Hanya dalam hitungan detik, setengah dari pasukannya sudah musnah. Menguap menjadi titik-titik debu dan menghilang ke atas.


Yunniang dan Tuan Muda Xu langsung siaga menatap Zi Xuan yang masih menunduk dengan tangan yang memegang pedang perak itu.


"Menjijikkan. Sungguh orang-orang yang menjijikan!" Ujaran kebencian itu terdengar bersamaan dengan ZiXuan yang mengangkat wajah tampannya.


Dia menoleh menatap orang-orangnya termasuk juga ketiga jenderal yang masih berdiri tegap. "Bunuh semuanya. Bunuh mereka!" Di bawah perintah ZiXuan, semuanya kembali menyerang.


ZiXuan mendorong pelan Youhua ke arah para wanita bangsawan yang berada dalam sebuah tabir oranye. Pelindung ini berbeda dari yang pertama kali di keluarkan ZiXuan. Ini adalah pelindung terkuatnya, yang dia sesali adalah pada awalnya dia terlalu meremehkan musuh jadi dia dengan ragu memilih tabir pelindung biasa.


Tapi siapa yang dalam hidupnya tidak pernah melakukan kesalahan?


ZiXuan mengangkat tangan kanannya ke kehampaan. Dan sebuah kilat cahaya biru muncul di sana. Sebelumnya, dia sudah menyimpan pedang Yuan, dan saat ini pedang berwarna perak dengan gagang putih menggantikannya.


Yunniang merasa sesak napas. Dia bisa merasakan tekanan pada darahnya saat pedang itu muncul. Tentu saja pedang itu bukan pedang biasa. Itu adalah artefak suci turun-temurun.


Dia baru saja akan mundur tetapi serangan dari pedang itu muncul secepat angin menebas ke arahnya.


Cairan berwarna merah pekat merembes membasahi bajunya. Untung saja baju itu berwarna gelap jadi darah yang baru saja keluar tidak terlalu nampak.


Yunniang terlempar mundur dan menyemburkan seteguk darah dari mulutnya.


"Kami tidak bisa mengalahkannya. Mundur dulu!" Teriakan itu terdengar dari Tuan Muda Xu. Pria itu mendatangi Yunniang dan membantunya menopang tubuh wanita itu.


Yunniang merasa pandangannya mulai kabur. Ah apakah dia akan gagal? Bagaimana mereka akan keluar sekarang? Sekarang, dia bahkan tidak bisa melarikan diri lagi.


ZiXuan menatap kedua orang itu dengan penuh kebencian. Niat membunuh terlihat jelas di matanya yang dalam. Dia tersenyum sinis, menarik kembali FengJian dan mengeluarkan sulur berwarna biru terang dari tangannya.


"Ingin pergi ke mana? Kalian sudah membunuhnya, maka kalian antarkan dia ke surga kemudian kembalilah ke neraka!"


Sulur itu mengarah dengan cepat pada Yunniang dan Tuan Muda Xu, hendak mengikat dan menemukan tulang-tulangnya tetapi cahaya hitam lainnya muncul bersamaan dan membawa kedua orang itu menghilang.


"Sial!"


Dia tadinya berniat mengejar orang itu, tetapi ada hal yang lebih penting dari itu. Dia harus menemukan istrinya dulu, kemudian baru berurusan dengan para pemberontak itu.


Li Wei berlari mendekatinya. "Semuanya hancur. Yang Mulia, penjara kita juga terbakar habis. Sebagian tahanan berhasil melarikan diri dan sebagian yang lain mati terbakar," ujarnya melaporkan.


Zi Xuan menekan dadanya. Menggeleng pelan dan berjalan mendekati Youhua.


"Di mana dia?"