My Devil Emperor

My Devil Emperor
Zhou YanLi



Ruangan itu sunyi. Barang-barang tertata rapi dengan sedikit asap dupa yang menutupi. Wangi yang membuat orang yang menciumnya merasa tenang.


Di atas tempat tidur, seorang wanita muda tertidur lelap perlahan membuka matanya. Tangannya tanpa sadar terangkat mengusap dahinya.


Mata seindah bunga persik itu akhirnya benar-benar terbuka. Dia mengangkat badannya perlahan sambil menatap ruangan yang tampak asing itu.


Tubuhnya menegang. "Di mana aku?" ujarnya membatin. Tanpa sadar sepasang mata bunga persik itu menatap dirinya sendiri.


Apa ini!!! Apa yang terjadi padanya?


Bagai tersambar petir, gadis itu tiba-tiba turun dari ranjangnya. Tetapi belum satu menit dia berdiri, dia jatuh terduduk. Kakinya terasa lemas. Dengan tangan menggapai pinggiran tempat tidur yang terbuat dari kayu dengan pola yang indah, gadis itu mencoba berdiri lagi.


"Tuan Putri! Apakah Anda baik-baik saja?" Sebuah suara terdengar dari arah belakang gadis itu bersamaan dengan langkah kaki yang terdengar cepat.


"Apakah Anda baik-baik saja?" Suaranya lembut tetapi penuh kekhawatiran.


Dia membantu gadis itu berdiri tetapi gadis itu menolaknya.


"Tuan Putri."


"Jangan—jangan mendekat," ujarnya dengan suara serak.


"Tuan Putri, kamu..."


Gadis itu mencoba berdiri lagi dan usahanya kali ini membuahkan hasil. Dengan perpegangan tiang tempat tidur yang terbuat dari kayu itu, dia kini menatap orang yang baru saja ingin membantunya.


Ada dua orang wanita di depannya, hanya saja pakaian mereka terlihat sederhana. "Kalian—siapa kalian?" tanyanya pada kedua orang itu.


"Putri tidak mengenal hamba?" Salah satu dari mereka bertanya dengan raut wajah yang masih terlihat khawatir. "Saya adalah pelayan pribadi Tuan Putri, Jingli. Sedangkan dia adalah pelayan istana luar yang membantu hamba untuk membawakan obat untukmu," jawabnya sambil memperkenalkan wanita yang berdiri di belakangnya.


"Pelayan pribadi?" Dia menggelengkan kepalanya yang terasa nyeri.


"Tuan Putri, Anda baik-baik saja?" Jingli mengambil langkah mendekat, tetapi wanita itu kembali mencegahnya.


"Tidak apa-apa, saya baik-baik saja. Sebelumnya terima kasih sudah menyelamatkanku. Saudari, bisakah saya meminta tolong untuk mengantarkanku keluar dari hutan ini? Atau tempat yang memiliki sinyal?"


Jingli menatap bingung pada wanita di depannya ini. Jelas dia tidak mengerti apa yang dikatakannya.


"Tuan Putri, Anda beristirahatlah dulu."


Setelah berkata, Jingli menatap rekan kerjanya, memberikan dia kode. Tak butuh waktu lama, pelayan itupun pergi meninggalkan mereka.


"Tuan Putri, izinkan hamba membantu, oke?" Jingli perlahan mendekat dan membantu gadis itu untuk duduk kembali di atas ranjang.


"Saudari, tidak perlu memanggilku seperti itu. Namaku adalah Han Yuan. Kamu bisa memanggilku Yuan," katanya memperkenalkan diri. Merasa bahwa Jingli tidak memiliki niat yang burung, maka dia membiarkan saja wanita itu membantunya.


Sedangkan Jingli bingung untuk menjawabnya bagaimana. Dia tidak boleh melakukan sesuatu yang salah saat ini.


"Saudari, di mana kamu menyimpan barang-barangku? Ini, aku tidak terlalu nyaman menggunakan baju ini. Omong-omong di mana ini? Tradisinya masig sangat kental, alangkah baiknya jika aku bisa mengambil beberapa gambar di sini," ujar Yuan dengan hati-hati agar dermawannya ini tidak tersinggung. Walaupun masih banyak kebingungan dan kekawatiran yang dia rasakan, tetapi Yuan sangat ahli dalam menyembunyikan perasaannya.


"Tuan Putri, hamba—tidak mengerti apa yang dikatakanya Tuan Putri."


"Ah?"


Tidak lama seorang wanita paruh baya yang terlihat cantik memasuki kamar itu bersama dengan beberapa pelayan dan seorang wanita tua berbaju putih.


"Putriku," ucap wanita cantik itu seraya membuka tangannya di depan Yuan. Dia hendak memeluknya.


Melihat kedatangan orang banyak yang tiba-tiba ini membuat Yuan terkejut. Tubuhnya yang tadi rileks kembali menegang.


"Tunggu, jangan—jangan ke sini! Saudari, ini ada apa? Saya—kamu bisakah mengantarku keluar dari sini saja? Setelah saya kembali nanti, saya akan menganti semua biaya yang sudah saya habiskan padamu." Yuan menarik lengan Jingli, menatapnya memelas. Perasaanya tidak enak sekarang.


"Anakku, ada apa denganmu? Kamu—kamu tidak mengenali ibumu?" Wanita itu menangis saat mengatakannya.


Melihat wanita di depannya menangis, tidak tahu mengapa hatinya terasa sakit.


"Ini semua salah ibu yang tidak bisa menjagamu. Kamu bahkan tidak mau memanggilku ibu?"


"Yang Mulia, izinkan Jingli bicara. Sebenarnya Tuan Putri juga tidak mengenali hamba. Sejak Tuan Putri bangun sudah seperti ini. Tuan Putri sangat menyayangi Yang Mulia Ratu, kejadiaan ini bukan Ratu yang salah, ini salah hamba yang telah lalai menjaga Tuan Putri." Pernyataan Jingli membuat wanita paruh baya itu menatapnya.


Yuan menatap orang-orang itu dalam kebingungan yang besar. Kepalanya kembali sakit. Apa yang sedang mereka bicarakan? Siapa Tuan Putri? Siapa Yang Mulia Ratu? Di mana dia? Apa yang terjadi? Dan banyak lagi pertanyaan yang berputar di otaknya.


Mata sayu itu terlihat berkaca-kaca. Yuan menekan belakang kepalanya. Antara rasa sakit dan ketakutan bercampur menjadi satu. Dia hanya ingin pulang sekarang, tetapi dia bahkan tidak tau di mana dia sekarang berada.


Entah karena terlalu banyak cairan yang menumpuk di matanya, Yuan merasa pandangannya buram.


"Xiao Li!"


"Tuan Putri!" Teriakan samar itu masih terdengar sebelum akhirnya Yuan merasa tenang kembali.


***


Dalam tidurnya, Yuan bergumam pelan. Sepasang mata indahnya yang tertutup bulu mata lentik perlahan terbuka.


"Tuan Putri, Anda sudah bangun?" Suara lembut itu membuat Yuan menoleh.


Yuan menatap Jingli. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu tetapi terlihat ragu.


Melihat Yuan yang hanya menatapnya tanpa mengatakan sepatah katapun, wanita itu menjadi cemas.


"Tuan Putri, Anda baik-baik saja? Hamba—hamba akan memanggil tabib istana."


"Di mana aku?" Mendengar pertanyaan yaang dilontarkan Yuan, Jingli pun mengentikan langkah dan memutar kembali badannya.


"Saudari, di mana kita?"


Meskipun dilanda cemas, Jingli tetap menjawab, "Kami tentu saja berada di rumah."


Yuan menggeleng pelan. "Tidak. Bukan itu. Maksudku, dinasti apa ini?"


"Ah, ini Dinasti Qin," jawab Jingli.


"Aku tidak berharap ini akan terjadi, tetapi melihat semuanya sekarang, terlalu tidak mungkin bahwa ini semua prank, kan?" gumamnya pelan. Sudah terlalu lelah untuk menangis dan juga menangis tidak akan membuatnya kembali juga kan? Lalu apa lagi sekarang? Bunuh diri untuk mencoba apakah dia akan bisa kembali atau tidak? Jangan bercanda! Dia bahkan masih merasakan sakit di tubuhnya yang terlalu mustahil untuk dibilang ini hanya sebuah mimpi. Dan juga, bagaimana jika dia bunuh diri, apakah itu akan menjamin dia akan kembali ke dunianya atau langsung masuk neraka jalur express? Lihat? Memikirkannya saja sudah membuat dia pusing lagi. Jadi lupakan saja itu!


Tiba-tiba, Yuan teringat sesuatu dan bertanya, "Siapa aku?"


Mengerti akan kondisi tuannya yang sudah di jelaskan tabib istana, Jingli segera menjawab, "Anda adalah Tuan Putri Pertama sekaligus anak pertama Raja Huang dan Ratu Yin kerajaan Zhou bernama Zhou YanLi."


"Aku sakit apa? Sudah berapa lama aku tertidur?"


"Ini bukan karena sakit. Tuan Putri mengalami kecelakaan tiga bulan yang lalu. Anda tenggelam di dermaga halaman belakang. Untungnya Putri Feng Ji menemukanmu dan segera meminta pertolongan."


"Tenggelam?" ulang Yuan yang diangguki Jingli.


'Apakah aku benar-benar melakukan perjalanan waktu?' batin Yuan bertanya.


"Aku mengerti. Saudari, siapa namamu?" Yuan memilih untuk mengganti topik pembicaraan daripada harus memikirnya nasibnya yang sudah seperti di drama-drama yang ia tonton seperti Splash-splash love, The Romance of Tiger and Rose, The Eternal Love, Love Better Than Immortality, Oh My Emperor dan lain-lain.


"Nama hamba, Jingli. Hamba adalah pelayan pribadi Tuan Putri sejak kecil."


Yuan mengangguk paham. Dia pun memikirkan hal yang lain. "Saudari, Bisakah aku keluar dari kamar ini? Aku ingin tau bagaimana di luar sana," katanya. Di balik rasa takut dan cemasnya, Yuan juga merasa penasaran bagaimana keadaan di luar kamar ini dan di luar istana. Sepertinya jika dia benar-benar bisa kembali ke dunianya, bukannya dia sombong tapi dengan otaknya yang cerdas sepertinya Yuan akan menjadi ahli sejarah pada masa dinasti Qin.


"Yang Mulia Ratu melarang Anda pergi sebelum Anda pulih. Tuan Putri, Anda harus beristirahat lagi. Hamba akan mengambil obat untukmu atau Tuan Putri ingin ditemani?" 


Yuan menggeleng. "Tidak apa. Saudari Jingli bisa melakukan tugasmu.


"Kalau begitu, hamba pergi dulu."


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎