
Tidak mendengar apapun di pojok ruangan membuat Tuan Putri Luo Li yang sedari tadi menunggu menjadi sedikit takut.
Dia berjalan pelan dengan sambil menutup hidungnya tetapi terkejut saat melihat dua orang di sudut ruangan yang sedang berpelukan.
Menyadari ada orang lain di ruangan itu, ZiXuan menoleh tanpa melepaskan Yuan yang sudah sejak tadi memeluknya dengan erat.
"Tidak apa-apa, anda sudah bisa bernapas seperti biasa," katanya sambil kembali menatap lurus.
Luo Li bernapas lega. Dia menatap sekitar tempat itu dan berhenti pada dua buah batang dupa yang telah padam.
"Dupa Sepasang Malam." Tiga kata yang disebutkan ZiXuan sudah cukup membuat Luo Li melangkah mundur.
"I...Ini—"
"Suami," ujar Yuan pelan. Suaranya terdengar parau.
ZiXuan kembali menatap Yuan. "Aku di sini."
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Luo Li pelan.
"Tidak ada. Biarkan mereka ke sini. Anda jaga saja pintu masuknya," jawab ZiXuan tanpa menatap Luo Li. Ia fokus memperhatikan Yuan yang semakin melemah.
Luo Li menatap Yuan dan ZiXuan bergantian. Kemudian ia pun tersadar. Efek dupa itu mulai bekerja. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia melangkah cepat ke arah pintu bertepatan dengan beberapa suara langkah kaki dari kejauhan di susul beberapa orang yang berbicara.
"Apakah kamu mendengarnya?"
"Iya, aku mendengarnya dari beberapa pelayan. Apakah Yang Mulia benar-benar masih memiliki hubungan dengan PutriLuo Li?"
"Kamu pikir apa lagi? Mereka bertemu di tempat seperti ini, untuk apa? Bergosip?"
"Berhenti berbicara tanpa bukti!"
Luo Li memejamkan mata. Ia mengenal suara terakhir itu. Tidak salah lagi adalah calon suaminya, BaiSan.
Suara-suara itu berjalan semakin mendekati Ruang Penyimpanan.
Di sudut lain, Yuan merasa suhu di sekitarnya berubah drastis. Tangannya memegang erat lengan ZiXuan yang sedari tadi menahannya agar tidak jatuh.
"Suami, di sini panas. A—aku tidak bisa menahannya." Entah mendapat dorongan dan kekuatan dari mana, setelah mengucapkan kalimat tersebut, dia mengangkat wajahnya dan memeluk leher ZiXuan.
Pelukan yang disertai tarikan itu membuat ZiXuan yang lebih tinggi dari Yuan merendahkan badannya. Membiarkan Yuan menenggelamkan wajah cantik yang terlihat memerah itu di ceruk lehernya.
ZiXuan mengatupkan bibir, menahan napas saat merasakan bibir lembut Yuan menyentuh kulit lehernya. Ia tertawa kecil melihat permaisurinya itu mulai hilang kendali.
"Merasa lebih baik?" tanyanya lembut seraya mengusap rambut panjang Yuan dengan jari-jari rampingnya.
"Tidak cukup. Ini masih kurang. A—aku ingin lebih," jawab Yuan dengan napas memburu. Ia menarik wajahnya dari leher ZiXuan, beralih menarik wajah tampan di depannya itu.
Bibir tipis Yuan menempel bibir ZiXuan, menciumnya dengan sedikit paksaan. Dia bahkan membalikkan posisi mereka, mendorong ZiXuan bersandar pada pilar bangunan tanpa melepaskan bibirnya dari bibir ZiXuan. Tangannya bahkan mulai merambat memasuki baju ZiXuan dari bagian atas.
ZiXuan menahan lengan selembut batu giok itu, melepaskan pangutan bibir mereka dan berkata, "Xiao Li, berhenti!" Ia mencoba menyadarkan Yuan dari reaksi dupa.
Tetapi karena sudah menghirup terlalu banyak asapnya, Yuan sudah kehilangan kontrol. Ia kembali membungkam bibir ZiXuan dengan bibirnya. Menggoda lelaki itu untuk membalasnya.
ZiXuan bisa saja melakukannya sekarang. Siapa yang akan melarangnya? Tidak apa jika Yuan menghirup dupa itu sedikit, tetapi masalahnya adalah terlalu banyak yang Yuan hirup dan itu tidak akan bagus untuk tubuhnya. Sesuatu yang berlebihan itu tidak akan baik. Jadi penting untuk menahan Yuan sekarang. "Sayang, kamu harus menunggu satu minggu lagi. Bukankah itu yang kamu minta dariku? Mengapa sekarang kamu menggodaku?" ujar ZiXuan menjauhkan tubuh Yuan yang menekannya.
"Saya tidak peduli!" tukasnya tidak sabar. Yuan sudah akan kembali menyerang ZiXuan, tetapi jari lelaki itu seperti menyentuh sebuah titik pada punggungnya yang membuat ia tidak bisa bergerak.
"Terlalu terburu-buru," ujar ZiXuan tersenyum manis.
Yuan menatap nanar ZiXuan. Matanya mulai berkaca-kaca. "Suamu, Aku benar-benar tidak bisa menahannya. Tolong aku. Aku menginginkanmu." Yuan berkata dengan suara yang semakin parau dan tersenggal-senggal. Terdengar lembut dan indah tetapi berbahaya.
ZiXuan menarik napas panjang. Ia mengusap ringan wajah Yuan yang terasa sedingin es. Yuan saat ini benar-benar menguji pertahanannya.
"Tentu saja aku akan membantumu." Tepat setelah perkataan itu meluncur, terdengar suara pintu yang dibuka dengan kasar.
ZiXuan tidak dapat melihat apa yang terjadi, tetapi ia bisa mendengan suara beberapa orang di depan sana.
"Kamu benar-benar di sini?" Suara terkejut BaiSan yang pertama kali keluar kemudian diikuti bisik-bisik orang di belakangnya.
Luo Li menatap BaiSan. Tatapan gadis itu selalu lembut dan penuh kasih sayang. "Seorang pelayan datang ke kamarku tadi, kemudian dia mengatakan bahwa Yang Mulia Permaisuri ingin menemuiku di Ruang Penyimpanan," jelasnya terdengar lemah.
BaiSan melembutkan tatapannya. Ia meraih tangan Luo Li yang gemetar. "Jadi kamu di sini untuk bertemu Permaisuri?" tanyanya dengan suara dikeraskan. Dia sengaja mengatakannya dengan keras untuk menyindir beberapa orang yang tadi menyebarkan rumor. "Tapi beberapa orang mengatakan kamu bertemu dengan Yang Mulia Kaisar. Apa yang sebenarnya terjadi?" lanjutnya.
Luo Li menggeleng lemah. "Aku tidak tau. Sepertinya seseorang sedang menjebakku."
"Lalu, di mana permaisuri sekarang?" tanya salah satu orang yang berada di sana. Dilihat dari pakaiannya, dia salah satu keluarga bangsawan yang hadir di acara kemarin.
"Ada di dalam, bersama dengan Yang Mulia."
"Apa? Jadi Yang Mulia juga berada di sini?"
"Mengapa kalian bertiga di sini?"
"Aku di sini karena permaisuri mulia memintaku untuk menemuinya, di saat yang sama seseorang juga menemui Yang Mulia dan mengatakan hal yang serupa. Siapa yang tahu bahwa Permaisuri saat itu ada bersama Yang Mulia."
Mereka mulai kembali berbisik. Ada yang percaya dan ada yang berasumsi bahwa Luo Li berbohong bahwa sebenarnya Luo Li dan ZiXuan benar-benar bertemu tetapi hal tersebut diketahui permaisuri.
"Tidak apa jika kamu meragukannya, tapi apa maksudmu aku juga berbohong?" Suara berat dan parau itu terdengar memecah keributan. Suasana tiba-tiba menjadi hening.
ZiXuan muncul dari ujung ruangan dengan seseorang di gendongannya.
Seketika semua orang di sana membungkuk hormat. "Salam kepada Yang Mulia Kaisar," ucap mereka serempak.
Tatapan mata semua orang kini beralih melihat orang yang digendong ZiXuan. Tubuh itu diselimuti bagian luar jubah panjang ZiXuan. Sebagian wajahnya tertutupi rambut.
"Apakah permaisuri baik-baik saja?" tanya Luo Li.
ZiXuan meliriknya sekilas sebelum menunduk menatap wajah cantik nan damai di dalam pelukannya itu dan berkata, "Tidak masalah."
"Yang Mulia, maaf saya datang terlambat."
ZiXuan kini beralih menatap Li Wei yang baru saja datang terburu-buru. Ia mengangguk samar pada jenderalnya itu dan berkata, "Tutup semua pintu di istana, siapkan persidangan besok siang dan kumpulkan semua pelayan istana!" titahnya.
Tanpa banyak bertanya, Li Wei mengangguk dan menjawab, "Baik."
"Juga bereskan barang-barang di dalam. Tidak ada siapapun yang boleh masuk ke ruangan ini sebelum semuanya selesai," tambahnya sebelum berjalan meninggalkan kerumunan itu.
Semua orang bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Mengapa harus diadakan sidang? Dan apa yang terjadi apa Permaisuri?
Bersama dengan semilir angin malam yang sejuk dengan hamparan bintang di langit, mereka kembali ke kamar masing-masing.