My Devil Emperor

My Devil Emperor
Saksi



Pria lain yang mengenakan baju hitam itu segera bertindak sambil berkata, "Hamba akan memeriksanya."


Laki-laki berada di pinggir kolam itu diam. Memperhatikan kerja bawahannya yang sedang memercikkan air ke wajah laki-laki yang terikat itu.


Tak lama, pergerakan muncul. Laki-laki terikat itu mengerjapkan matanya saat merasakan air yang menetes di wajah. Kepalanya mulai terangkat dan kemudian terkejut saat melihat seseorang berdiri di depannya.


"Di-- Di mana aku? Siapa kalian?" tanyanya dengan suara bergetar.


Namun pria berbaju hitam itu malah menyingkir dari depannya sehingga ia melihat seorang pria lainnya di belakang.


Dengan hanya melihat pakaian Indah dan mahkota yang berada di atas kepala pria itu, ia langsung menggigil ketakutan.


"Anda-"


"Yang Mulia Kaisar, dia adalah orang yang menjual dupa itu."


Wajah lelaki itu terlihat pias saat mendengar panggilan pria berbaju hitam itu pada orang yang berdiri di pinggir kolam.


"Yang—Yang Mulia?"


"Tidak perlu basa-basi. Saudara Li, mulailah."


Li Wei mengangguk dan kembali menatap wajah pria paruh baya itu.


"Pada bulan ke sembilan, atau sebelumnya siapa yang datang ke tokomu untuk membeli dupa ini?" tanya Li Wei sambil memperlihatkan sebatang dupa yang sudah terbakar.


Badan pria itu bergetar. Wajahnya terlihat takut tapi kemudian sebuah kalimat muncul dari bibir berwarna kehitamannya. "Tu—tuan, anda bercanda. Bagaimana mungkin hamba mengingat semua pelanggan hamba yang datang pada saat itu?"


"Kamu tau? Itu bukan sebuah jawaban. Aku menginginkan jawaban, atau-" Li Wei berhenti sejenak. Wajahnya sedikit menoleh menatap ZiXuan yang bersandar pada salah satu pilar bangunan dengan wajah dinginnya.


"Atau kamu mau melihat kemarahan Yang Mulia? Dia mungkin tidak akan berbaik hati padamu," lanjutnya pelan.


Pria paruh baya itu menelan salivanya susah payah. Tenggorokannya seperti dipaku. Dengan suara gemetar, ia menjawab, "Tuan, ha—hamba memang tidak mengingatnya. Ta—tapi mungkin catatan jual beli bisa membantu anda."


Li Wei menoleh lagi menatap ZiXuan. Mereka berdua seperti sedang berbicara lewat tatapan matanya.


"Baiklah, kamu kirimkan saja beberapa orang untuk mencari catatan itu di tokonya. Orang ini, jangan biarkan dia keluar sampai Yang Mulia ini menemukan jawaban yang aku inginkan!"


"Yang Mulia! Yang Mulia! Tolong ampuni hamba. Hamba benar-benar tidak tau. Tolong ampuni nyawa hamba dan keluarga hamba," mohon pria itu sambil mencoba menarik kedua tangannya yang diikat rantai.


Li Wei menatapnya malas. "Eh, memangnya dia bilang, dia akan membunuhmu? Mengapa setakut itu. Jika kamu memang takut kehilangan nyawamu, maka bersikap jujurlah. Dan pikirkan mungkin ada orang yang terlihat aneh dari salah satu pelangganmu. Pikirkan baik-baik." Setelah selesai berkata, Li Wei menepuk pelan bahunya dan pergi meninggalkan pria paruh baya itu sendirian.


***


Setelah mengurus masalah yang masih dalam tahap penyelidikan itu, ZiXuan kembali ke kediamannya. Di sana sudah ada Yuan yang bersandar pada kepala tempat tidur. Dia memegang sebuah jarum dan kain sulaman di tangannya.


Mendengar suara pintu yang di buka, Yuan mengangkat wajahnya. Dia tersenyum pada ZiXuan yang baru saja masuk.


"Tuanku sudah kembali," ujarnya sambil menegakkan tubuhnya.


ZiXuan hanya berdeham pelan menjawabnya. Dia mendekati Yuan dan duduk di pinggir ranjang. "Apa yang sedang kamu buat?"


Yuan tidak langsung menjawabnya. Ia malah meminta ZiXuan mengambilkan gunting di meja yang berada tepat di samping ranjang.


ZiXuan menurutinya. Dia memberikan gunting itu pada Yuan sambil berkata, "Hati-hati."


Yuan tertawa pelan. Sebelum mengambil gunting di tangan ZiXuan, ia menyempatkan untuk mencubit pipi sebelah kiri pria itu dengan gemas.


"Yang Mulia Kaisar, kamu sangat manis saat sedang khawatir!" Setelah itu, Yuan mengambil guntingnya dan memotong seutas benang. Memisahkannya dari jarum yang berkaitan.


Yuan memberikan kain bersulam bunga peony itu pada ZiXuan. "Untukmu," ucapnya sambil tersenyum.


ZiXuan mengambilnya. Bibirnya ikut tersenyum membalas Yuan. "Terima kasih," ujarnya seraya mengusap lembut perut Yuan dari luar bajunya.


"lebih dari baik-baik saja. Kamu jangan khawatir."


Keduanya kembali terdiam selama beberapa saat. Tak lama Yuan kembali berbicara. "Oh iya, ada hal yang ingin saya tanyakan."


"Katakan."


"Apakah Tuanku sudah menyiapkan nama untuk anak kita?"


"Belum. Lagipula bukankah ini masih awal?"


Yuan memutar bola matanya kesal. "Apanya yang masih awal? Apakah kamu akan memberinya nama satu hari sebelum Aku melahirkan?!"


ZiXuan sedikit bingung, tapi kembali menjawab dengan wajah polosnya. "Kita bahkan bisa memberinya nama setelah dia lahir."


Yuan memukul kencang bahu ZiXuan, tapi laki-laki itu bahkan tidak menunjukkan wajah kesakitan.


"Apa aku mengatakan hal yang salah?"


Dengan hembusan napas kasar, Yuan berkata, "Salah! Semuanya salah!"


ZiXuan terdiam sebentar, dia berusaha menebak kesalahannya. Kemudian pikirannya pun kembali cerah.


"Ah! Xiao Li ingin aku memberinya nama sekarang?"


"Menurutmu?" jawab Yuan acuh.


"Baiklah. Baiklah. Kita bisa memikirkannya sekarang. Bagaimana denganmu? Apakah sudah menyiapkan sebuah nama?"


Yuan kembali menatap ZiXuan dengan binaran di matanya. "Tentu!"


"Siapa namanya?"


"Beritahu Aku dulu. Apa nama yang akan kamu berikan padanya?"


"Aku akan memikirkannya setelah dirimu memberi tahu."


Yuan mengangguk setuju dan berkata, "Baiklah. Menurutku, jika anaknya perempuan maka namanya adalah Shi Yan. Qin Shi Yan. Jika laki-laki, berikan saja namanya ZiChen. Qin Zi Chen. Bagaimana?"


"Nama yang bagus," kata ZiXuan mengangguk setuju.


"Bagaimana denganmu?"


"Nama yang nyonyaku berikan sudah bagus. Suamimu ini mengikuti saran Xiao Li saja."


"Licik!" sarkasnya sambil mendorong badan ZiXuan.


"Keluar! Aku tidak ingin melihat ataupun berbicara padamu!" lanjutnya kesal.


"Baiklah, baiklah. Aku tidak akan bermain-main lagi." ZiXuan kembali duduk di pinggir ranjang sambil menahan senyumnya.


ZiXuan berpikir sebentar sebelum menyebutkannya pada Yuan. "Jika anaknya laki-laki, beri dia nama Zi Xian. Jika perempuan, beri dia nama Shi Lian."


"Itu sangat bagus! Qin Zi Xian, Qin Shi Lian. Aku akan memanggilnya A-Xian atau A-Lian!"


ZiXuan tersenyum. Hatinya terasa menghangat bagaikan selimut di musim dingin.


Tangannya kembali mengusap perut Yuan. Ia mendekatkan wajahnya dan berkata lembut, "Semoga sehat selalu, anakku. Ayah dan Ibu menunggumu."


"A-Xian, A-Lian, semoga kalian sehat selalu. Ibu dan Ayah menantimu."


*****