My Devil Emperor

My Devil Emperor
Suffering



Yuan terdiam. Sebenarnya dia bingung sekarang, ada di mana ini?


Kosong dan sunyi. Semuanya berwarna putih dengan sedikit berkabut. Dia tidak merasa tempat ini berbahaya hanya saja merasa sedikit takut karena tidak ada ZiXuan di sampingnya.


"Han Yuan."


Suara yang familiar itu membuatnya seketika berbalik. Dan, yaa... itu dirinya?


"Kamu—siapa kamu?"


Wanita yang berdiri di belakangnya itu sangat cantik. Dia tersenyum dan berkata, "Aku? Adalah kamu."


Yuan mengernyit, kemudian dia sepertinya baru menyadari wanita itu sedang membawa sesuatu di pelukannya.


Sesuatu yang sangat kecil. Pipinya tembam dan merah seperti kue, wajah manusia mungil itu bersinar dan mata yang tertutup. Bulu mata anak itu bahkan panjang dan lebat, dia sangat cantik.


Wanita itu menaikkan alisnya kemudian menunduk menatap bayi di pelukannya dan tersenyum lembut. "Dia sangat tampan, kan?" tanyanya. Sebelah tangannya menoel pipi anak itu dengan pelan.


"Dia—"


"Umm, anak kita?" Wanita itu mengernyit, kalimat ini sangat ambigu. Dia menggeleng cepat dan meralat, "Sejak kita adalah satu, maka ini adalah anakku dan Yang Mulia, kan?"


"Anakku?" ulang Yuan berbisik. Dia melangkah maju tanpa sadar, tetapi entah mengapa dia tidak pernah sampai. Seakan-akan mereka sangat jauh.


"Mengapa? Mengapa saya tidak bisa mendekatimu?"


Wanita itu bernapas pelan dan menatap wanita di depannya dengan sedih, "Bagaimana kamu bisa mendekati dirimu sendiri?"


"Aku—aku ingin melihatnya."


"Jangan khawatir, dia tetap bersamamu. Bangunlah, Tuanku sudah menunggumu."


Yuan menggeleng cepat. "Anakku! Anakku! Jangan, jangan bawa pergi anakku."


Dengan wanita itu yang semakin memudar dan menghilang, Yuan merasa sesak napas dan membuatnya benar-benar membuka mata kali ini.


"Suami," ucapnya lemah.


Mendengar suara itu, ZiXuan yang sedari tadi menunduk, mengangkat wajahnya.


"Kamu sudah bangun?"


Yuan mengangkat badannya hendak duduk, tetapi ZiXuan mencegah.


"Tetap berbaring."


Yuan menurut. Dia kembali meletakkan kepalanya di bantal dan menatap wajah ZiXuan yang juga tampak pucat.


"Mengapa tuanku tampak lebih kurus."


"Begitukah?"


Yuan tidak menanggapinya melainkan mengangkat sebelah tangan dan mengusap lembut pipi ZiXuan.


"Sudah berapa lama aku tertidur?" tanyanya.


"Empat belas hari."


Mendengar itu, Yuan termenung mengingat kembali apa yang terakhir kali terjadi. Tadinya dia pikir dia baru saja terbangun dari tidur seperti biasa, tetapi dia merasakan badannya sangat lemah, juga suaminya itu terlihat berbeda dari biasa.


"Aku... " Perkataan Yuan berhenti saat ia tidak sengaja menyentuh sesuatu. Keningnya berkerut sedetik setelahnya wanita itu menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya.


"Anakku--"


Kepalanya terasa pening dan hatinya terasa sakit. "Yang Mulia, di—di mana anakku?"


ZiXuan tidak menjawab. Pria itu memejamkan matanya sebentar.


"Suamiku... Di mana anak kita?"


Bulu mata ZiXuan bergerak gelisah sebelum akhirnya kembali terangkat. Dia menggenggam tangan mungil Yuan yang terasa sedikit basah.


"Anak kita-"


"Di mana dia?" tanya Yuan tidak sabar.


"Dia sudah tiada."


Tiga kata itu bagaikan sambaran petir yang tepat mengenai hati Yuan. Dia memiringkan kepalanya masih dengan pandangan bingung.


"A—apa maksudnya?"


"Dia sudah meninggal."


Yuan menarik tangannya dengan kasar. "Kamu—kamu membohongiku kan?"


ZiXuan menunduk, dia menghela napas berat. Bagaimana menjelaskannya pada Yuan sedangkan dia sendiri saja merasa hancur berkeping-keping.


Setelah cukup lama tidak mendapatkan pergerakan Yuan lagi, ZiXuan kembali mengangkat wajahnya. Hatinya teriris melihat perempuan itu.


"Xiao Li... "


"Tinggalkan aku sendiri."


"Xiao Li, ini salahku. Aku tidak bisa melindungimu." ZiXuan hendak menyentuh pipi Yuan, tetapi perempuan itu sudah lebih dulu memiringkan badan menghadap ke arah lain.


"Yang Mulia, bisakah anda meninggalkanku sendiri?" ulangnya lebih formal.


ZiXuan tidak lagi berkata, dia berdiri dan berjalan keluar meninggalkan Yuan sendiri.


Air mata Yuan jatuh bertepatan dengan suara pintu yang ditutup. Jadi, mimpi itu juga benar. Tanpa ekspresi yang tergambar di wajahnya, air mata terus saja turun. Pemandangan yang sangat memilukan. Perempuan itu tak lebih seperti raga yang kehilangan nyawanya.


Entah sudah berapa lama dia menangis sampai matanya kembali berat dan tertidur. Yuan sudah sangat lelah.


Kabar keguguran Permaisuri Xuan sudah sampai ke telinga ibu suri dan janda permaisuri, juga keluarga kerajaan Zhou.


Mereka semua juga sudah menemui dan memberikan dukungan kepada perempuan itu, tetapi tidak ada satupun di antara mereka yang mendapatkan respon.


Yuan terus saja menatap kosong saat bangun tidur. Dia juga menolak keluar dari istananya. Hanya mengurung diri sendiri di dalam kamar.


Sampai tidak terasa, keadaan ini sudah berlangsung selama kurang dari tiga bulan.


"Permaisuri, lihatlah. Yang Mulia membuatkanmu makanan lagi. Anda masih tidak ingin memakannya?" Jingli berlutut di bawah tempat tidur sambil mengeluarkan beberapa makanan yang terlihat masih mengepul dan mengeluarkan aroma yang memikat.


"Permaisuri, makanlah setidaknya sedikit. Yang Mulia akan merasa sedih lagi jika anda tidak mau memakannya."


Yuan hanya meliriknya sekilas sebelum kembali menatap kosong ke depan.


Jingli menghembuskan napas pelan. Setelah Yuan tau dia telah kehilangan anaknya yang bahkan belum dilahirkan itu, sangat sulit membuatnya makan atau berbicara. Yuan sudah tidak makan selama dua hari. Dia terakhir kali mau makan ketika ibu suri memaksanya, tapi kini mereka semua sudah kembali.


Suara langkah kaki di belakangnya membuat Jingli menoleh.


"Permaisuri tidak ingin makan lagi?"


Jingli mengangguk lemah.


Orang itu berjalan mendekati keduanya dan mengambil posisi di sebelah Jingli.


"Permaisuri, walaupun hamba dan Jingli tidak tau apa yang anda rasakan, tapi kami sama sedihnya melihatmu seperti ini. Juga, Yang Mulia selalu mengkhawatirkan anda. Setiap malam, Yang Mulia selalu mengunjungi Permaisuri saat sudah tertidur."


Yuan menoleh mendengar pernyataan Yunniang. "Mengapa Yang Mulia menemuiku saat aku sudah tertidur?" tanyanya yang membuat kedua pelayan itu terkesiap.


"Itu... Hamba tidak tau, mungkin Permaisuri harus menanyainya sendiri."


Yuan kembali terdiam. Dia mulai merasa bersalah pada ZiXuan karena sudah mengabaikannya. Tidak seharusnya dia bertingkah seperti itu pada suaminya. Pria itu pasti juga sama menderita seperti dirinya.


"Tinggalkan itu di sana. Aku akan memakannya. Kalian berdua boleh pergi."


"Baik," jawab Jingli dan Yunniang bersamaan. Yuan sudah ingin makan saja, mereka sudah merasa lega. Jadi sebelum mood Yuan berubah, mereka lebih baik mengalah.


Yuan menatap beberapa hidangan makanan yang terlihat masih hangat itu dan mulai memakannya. Ini adalah pertama kali dia memakan masakan ZiXuan. Sebelumnya pria itu juga sudah beberapa kali memasak untuk Yuan tetapi dia selalu tidak memakan masakan buatan ZiXuan itu, dan ketika ZiXuan menemuinya, dia akan mengusirnya pergi. Sekarang Yuan menyadari mengapa ZiXuan hanya menemuinya saat dia sudah tertidur atau mengapa pria itu tidak mengantar langsung makanan yang dibuatnya.


Yuan sama sekali bukan istri yang baik. Bagaimana bisa ia mengabaikan kasih sayang ZiXuan dan menolaknya dengan kejam?


Makanan itu terasa sangat lezat di dalam mulutnya dan sudah berapa kali dia menyia-nyiakannya?


Tiba-tiba Yuan membanting sumpit di tangannya dan berlari keluar. Yang dia pikirkan hanya 'Aku harus menemui suamiku'.


Para pelayan atau penjaga yang berpapasan dengannya menunduk dan memberikan salam. Setelah Yuan sudah jauh, mereka baru membicarakan keterkejutannya. Ini pertama kali dalam hampir tiga bulan mereka tidak melihat Permaisuri Xuan.


Yuan sudah berhenti di ruang kerja suaminya. Dia mengangkat sebelah tangannya saat melihat pengawal yang berada di luar ruang kerja itu hendak memberitahu kedatangannya. Keduanya menunduk mengerti.


Yuan baru saja akan langsung membuka pintu, tapi dia tangannya berhenti di udara saat mendengar suara dari dalam.


"Anda belum memakannya?"


Yuan mengernyitkan keningnya. Itu seperti suara Li Wei.


Sementara di dalam ruangan, Li Wei baru saja masuk dan melihat makanan di meja masih belum tersentuh.


"Aku akan memakannya nanti."


"Yanh Mulia, anda tau? Anda sudah menggunakan alasan itu terlalu sering. Setidaknya katakan saja jika anda tidak ingin makan, biarkan anda mati kelaparan," ujarnya sarkas.


ZiXuan tertawa sinis dan berkata, "Bukankah itu bagus?"


"Apa anda sudah gila? Bagaimana bisa seorang pemimpin memiliki pikiran seperti itu?"


"Apa aku masih pantas menjadi pemimpi saat aku sendiri tidak bisa melindungi istri dan anakku?"


Li Wei tertegun. Ini pertama kalinya dia melihat ZiXuan dalam keadaan jatuh sedalam itu.


"Anda berbeda," gumamnya yang masih didengar ZiXuan.


"Setiap orang pasti mengalami perubahan. Itu hal yang wajar. Aku tidak memiliki tujuan dan keinginan yang pasti sebelum akhirnya bertemu dengan Xiao Li. Apa kamu pikir itu keinginanku?"


"Dia mengalami hal yang sangat berat. Jika dulu aku membiarkan pergi, dia mungkin tidak akan mengalami kesialan ini. Dia tidak perlu menderita. Dalam hal itu sangat wajar jika dia membenci dan menyalahkanku."


"Itu juga bukan kesalahanmu. Itu juga di luar dari kehendakmu. Mengapa anda perlu menerima kesalahan yang bukan milikmu? Permaisuri Xuan sedih, tapi bukankah anda sama? Bahkan-"


"Cukup. Jika kamu datang hanya untuk itu, lebih baik pergi saja," sela ZiXuan.


Li Wei berhenti berbicara. Ruangan kembali hening.


Di depan pintu, Yuan mendengar semuanya. Dia menangkap nada kesedihan dan keputusasaan dalam setiap kalimat yang ZiXuan ucapkan, itu sangat menyakiti hatinya. Dia sudah benar-benar kejam pada pria itu.


Yuan menutup mata dan mengepalkan tangannya. Dia memilih untuk tidak mendengarkan lagi dan berbalik pergi.


"Jangan katakan aku datang ke sini padanya," ujarnya sebelum pergi.


"Baik. Permaisuri."


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...