My Devil Emperor

My Devil Emperor
Jangan Tinggalkan Aku



"Xiao Li, kamu bangun!" Suara itu terdengar sangat familiar di telinganya.


"Xiao Li!" Panggilan itu masih terdengar disusul dengan guncangan pada tubuhnya.


Yuan merasa kepalanya semakin terasa sakit, dan sesuatu seperti menariknya keluar secara paksa. Yuan membuka matanya dan dia melihat langit-langit kamar yang sangat familiar, keringat bercucuran di dahinya dan napas yang terdengar memburu.


"Xiao Li?" Panggilan itu terdengar lagi, kali ini sangat nyata.


Yuan segera menolehkan kepalanya dan melihat seorang pria tampan yang duduk di sampingnya dengan pandangan cemas.


"Suamiku!" Yuan segera mengenali orang itu dan memeluknya erat. Air matanya kembali turun. Dia menangis terisak-isak. Setelah melihat ZiXuan di depannya masih dengan tatapan penuh kasih sayang itu, Yuan menarik kesimpulan bahwa yang baru saja dia alami adalah mimpi!


"Su—suami, ini—ini benar-benar kamu?" tanyanya terputus-putus.


ZiXuan membalas pelukan wanitanya itu dan mengusap lembut punggungnya. "Tidak apa-apa, ada aku," ucapnya menenangkan.


Setelah agak tenang, Yuan melepaskan pelukannya dan menatap wajah tampan itu. Sebelah tangannya terangkat memegang wajah tampan ZiXuan. "Suamiku, maafkan aku. Jangan tinggalkan aku," ucapnya lirih.


"Tidak, aku yang seharusnya minta maaf. Perkataanku padamu terlalu keras. Aku tidak memahamimu, Maafkan aku. Aku—" ucapannya terhenti saat sebuah bibir yang lembut menempel di bibirnya.


Yuan melepaskan ciumannya dan membingkai wajah tampan ZiXuan. "Suami, ini aku yang salah. Suamiku adalah suami yang baik, tetapi aku tidak menjalani tugas sebagai istri yang baik. Suamiku, saya tidak ingin kamu menikah dengan Putri Rong, jangan menikahinya. Dalam kehidupan ini dan selanjutnya, kamu hanya boleh menjadi milikku," ujar Yuan sesenggukan.


Seulas senyum muncul di bibir ZiXuan. Dia menatap wanitanya dengan puas. Entah mimpi apa yang dialami Yuan itu sehingga membuat dia berubah pikiran dalam semalam. Akhirnya wanita itu mengatakan apa yang sebenarnya dia inginkan.


"Sepakat! Xiao Li akan menjadi satu-satunya dalam hidupku, dan aku akan menjadi satu-satunya dalam hidupmu! Kali ini kamu tidak bisa menarik ucapanmu kembali, kamu tau?"


Yuan mengangguk patuh. "Tidak akan." Ia kembali menenggelamkan wajahnya pada dada bidang ZiXuan. Memeluk pria itu dengan erat seakan jika dia melepaskannya, ZiXuan akan menghilang dalam sekali kedipan mata.


"Ayo makan malam dulu, kamu belum makan." ZiXuan hendak melepaskan pelukannya, tetapi wanita itu tidak bergerak seincipun.


"Xiao Li—."


"Tidak mau!" katanya menolak.


"Tidak mau?" tanya ZiXuan memastikan.


Yuan bergumam dan mengangguk yakin.


"Baiklah."


Sedetik setelahnya, ZiXuan dengan mudah mengangkat tubuh mungil Yuan ke dalam pelukannya.


"Kakak Xuan!" pekik Yuan terkejut. Refleks dia melingkarkan tangannya di leher ZiXuan. Dia menatap wajah tampan itu dari samping dan secepat kilat memberinya ciuman di pipi kemudian menguburkan wajahnya di ceruk leher ZiXuan. Tetapi diam-diam dia tetap memperhatikan ekspresi wajah suaminya itu.


ZiXuan tertawa kecil dan berkata, "Aku menyukai keberanianmu. Sangat manis. Lain kali jika kamu ingin menciumku, mengapa tidak di sini saja?" ujarnya sambil menjilat bibir bagian bawah.


"Mesum!" ujar Yuan seraya memukul dada ZiXuan.


ZiXuan hanya tertawa dan dia pun meletakkan Yuan di pangkuannya. Mereka sudah berada di meja kayu yang berada di kamar Yuan.


"Ini, siapa yang membuatnya?" tanya Yuan menatap hidangan itu, sepertinya masih hangat karena ada sedikit asap yang mengepul di atasnya.


"Itu suamimu."


Yuan kembali memandang wajah ZiXuan yang sangat dekat dengannya. "Kamu?"


"Xiao Li sudah mengatakannya, ini bukan kesalahanmu, jangan meminta maaf," ujar Yuan seraya mengangkat wajah yang menunduk itu.


"Tuanku, kamu adalah tujuan hidupku. Sejak bertemu denganmu, aku memiliki keinginan untuk terus berada di sini, tidak peduli hidup atau mati aku akan selalu ada di hatimu. Nyawaku adalah milikmu dan Tuhanku."


Kata-kata itu bagaikan es yang mencair. ZiXuan dapat melihat kejujuran dari matanya. Wanita itu, dia benar-benar mencintainya.


"Mari kita bicarakan hal yang lain. Perkataan Permaisuri hari ini cukup membuatku merinding," ujar ZiXuan tersenyum tipis.


Yuan menatapnya kesal. "Tidak bisakan kamu serius? Aku sudah sangat serius mengatakannya!"


ZiXuan tidak bisa menahan kegemasannya dan menarik belakang leher Yuan untuk mendekat. "Apapun yang kamu katakan, aku selalu menganggapnya serius." Dia beralih menatap bibir merah plum itu, mengusapnya lembut dengan ibu jari.


"Aku bertanya-tanya, apa yang kamu mimpikan sampai membuatmu menjadi seperti ini," kata ZiXuan yang tidak bisa menahan rasa penasarannya sedari tadi.


Mendengar itu, Yuan kembali mengingat mimpi buruknya. Walaupun hanya mimpi, tapi di masih merasakan sakit dan takut di hatinya.


Wajahnya kembali terlihat sedih, bahkan ZiXuan dapat merasakan kemarahan di mata Yuan.


"Jangan mengingatkan Xiao Li tentang mimpi itu lagi! Daripada memimpikannya apalagi sampai mengalaminya, aku lebih rela mati ribuan kali!"


ZiXuan kembali menarik Yuan ke dalam pelukannya. Mencoba menenangkan wanita itu dan berkata, "Baiklah, mari kita lupakan saja. Apa yang ingin Xiao Li-ku makan?" Dia mengubah topik pembicaraannya.


"Semua yang suamiku buatkan, aku akan memakannya," jawab Yuan ketika dia sudah kembali menenangkan dirinya sendiri.


Daripada mengingat hal yang menyakitkan, akan lebih baik jika menghadapi apa yang di depannya terlebih dahulu.


Keduanya makan malam dengan suasana yang hangat diselingi obrolan ringan.


Menghabiskan malam bersama hingga malam menyingsing digantikan matahari terbit.


"Suami, bisakah kamu membantuku menyisir rambutku?" tanya Yuan sambil menatap ZiXuan yang berdiri tak jauh darinya dari cermin.


ZiXuan tidak menjawab, tapi dia melangkah maju mendekati Yuan. Melihat wanita itu mulai mengandalkan dirinya untuk hal yang kecil, membuat dia merasa senang.


Tangannya terulur mengambil sisir dan mulai merapikan rambut panjang Yuan. Ia mengambil sedikit rambut di kedua sisinya dan membuat kepangan kecil. Memasang beberapa aksesori kepala di beberapa tempat dan terakhir menempatkan hairpinnya.


Yuan menatap pantulan dirinya sendiri. "Tidak buruk. Suami, darimana kamu belajar menata rambut?" tanyanya penasaran.


"Apakah itu penting?"


"Tidak. Hanya saja kamu terlihat berpengalaman. Seperti kamu sering melakukannya di masa lalu."


"Tidak ada. Ini yang pertama kalinya untukku. Aku melakukannya secara naluriah," ucap ZiXuan dengan wajah yang sedikit memerah.


Yuan tersenyum tipis dan kembali menormalkan wajahnya. "Ah, jadi aku yang pertama," gumamnya.


ZiXuan menyipitkan matanya dan berkata dengan perasaan tidak terima, "Apakah kamu pikir aku laki-laki yang dengan mudah menyisir rambut wanita asing?"


Yuan tertawa dan berbalik. Memeluk pinggang ZiXuan yang berdiri di depannya. "Suamiku, aku sangat mencintaimu!"


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...