
Suara lembut itu bergema dalam gua yang kosong, membuat pria yang berada di sampingnya menoleh.
Dia melihat wanitanya yang sedang menengadahkan kepala, menatap langit-langit gua.
"Kamu menyukainya?" tanya ZiXuan sambil mengikuti arah pandang gadis itu.
Tanpa sadar, Yuan mengangguk semangat. Sedetik setelahnya dia meringis karena gerakan yang terlalu berlebihan membuat lukanya kembali terasa menyakitkan.
"Pelan-pelan."
Yuan menghela napas panjang dan menggeleng pelan. "Saudara, apakah lukaku sangat parah?"
"Tidak, jika kamu tidak terlalu banyak bergerak. Menurutlah."
Gadis itu mencebikkan bibirnya dan kembali menatap langit-langit gua. "Bagaimana bisa ada tempat seindah ini? Bukankah ini terlihat seperti surga yang tersembunyi?" ujarnya.
"Jika kamu mau, aku bisa menjadikan setiap tempat seindah surga untukmu," kata ZiXuan dengan santai.
Yuan menoleh menatapnya. Dia tersenyum lebar dan berkata, "Saudara Xuan, kamu yang terbaik!"
ZiXuan tersenyum tipis. Matanya yang tajam memandang api yang menyala di depan. "Sebelum kamu pingsan, bukankah ingin mengatakan sebuah rahasia padaku?" tanyanya membuka topik pembicaraan.
Yuan mengernyit bingung selama beberapa saat sebelum dia berkata, "Ah, itu. Yang Mulia, menurutmu apakah Putri Liang itu cantik?"
Pria itu menoleh dan menatap aneh gadis di sampingnya. "Kamu sangat mempedulikannya ya? Apa kamu menyukainya?"
"Tentu saja tidak! Aku menyukai—" Yuan menghentikan ucapannya saat ZiXuan tiba-tiba berbalik mengurung dirinya.
Kedua lengan kekarnya mengunci pergerakkan Yuan, sedangkan kedua kakinya mengapit kaki jenjang gadis cantik itu yang sedang duduk dengan posisi berselonjor.
"Kamu—kamu sedang apa?" tanyanya terbata-bata. Jarak yang begitu dekat membuat Yuan bahkan sulit untuk bernapas.
"Permaisuriku terlalu banyak berpikir. Sepertinya kamu sudah membaik, bagaimana jika—"
Yuan buru-buru mengangkat tangan dan meletakkan jari-jarinya pada bibir merah pria itu. "Aku menyukaimu," katanya dengan cepat.
Tentu saja itu berhasil membuat ZiXuan berhenti. "Apa?"
"Aku menyukaimu. Saudara, kubilang aku menyukaimu."
ZiXuan mengernyit, bingung. Dia meletakkan punggung tangannya pada dahi gadis itu dan berkata, "Kamu demam."
Yuan menepis pelan tangan itu dan menjawab, "Aku baik-baik saja."
Pria itu menyingkir dari atas wanitanya dan kembali berkata, "Kamu tidurlah."
"Baik!" tanpa banyak bicara lagi, Yuan segera memejamkan matanya. Diam-diam dia menghembuskan napas pelan dan mulai terlelap.
ZiXuan duduk bersandar dengan pandangan menerawang. Dia kembali memandang wanita di sampingnya dan mendesah pelan.
"Gadis ini..."
***
Suara kicauan burung yang bergema membuat seseorang yang sedang tertidur itu mengerjapkan matanya.
Dia mengernyitkan kening dan memijat pelan dahinya.
Tubuhnya tersentak kaget saat melihat seseorang yang berada di sebelahnya tanpak sangat pucat. "Xiao Li, kamu mendengarku?" tanyanya sambil mengguncang pelan bahu gadis itu.
ZiXuan mengambil tangan seindah porselin itu sambil meraba pergelangan tangannya.
Terlalu dingin. Tangan yang berada dalam genggamannya itu terlalu dingin.
"Apakah racunnya sangat kuat?" gumamnya.
"Xiao Li, dapatkah kamu mendengarku?" Dia mengulang pertanyaannya pada gadis yang tampak terlelap dengan damai itu.
ZiXuan mengepalkan tangannya, sedetik kemudian pria itu menarik tubuh mungil Yuan dan mengangkatnya dengan mudah.
Dia bukan tabib, bagaimana bisa menyembuhkan gadis dalam pelukkannya itu? Sekalipun bisa, dia tetap membutuhkan peralatan bantuan yang tidak dapat ditemukan saat ini.
"Air." Gumaman pelan itu membuat ZiXuan menunduk. Dia mengangkat Yuan lebih tinggi, sehingga kepala gadis itu benar-benar bersandar pada lehernya.
"Air." Ucapan itu terulang dengan jelas kali ini.
"Kamu ingin minum?" ZiXuan turun setelah sebelumnya dia memang menggunakan teknik peringan (qinggong) tubuh untuk membawa Yuan.
Dengan hati-hati, dia meletakkan tubuh Yuan bersandar pada pohon. Beruntungnya saat pergi, jalan yang dilalui pria itu melewati sebuah sungai.
ZiXuan mengangkat tangan kanannya dan menggumamkan sesuatu.
Sebuah kilatan biru tiba-tiba saja melintas dan berhenti di tangannya.
Itu sebuah pedang yang sangat indah tetapi memiliki dominasi saat orang melihatnya.
ZiXuan mengayunkan pedang itu ke arah pohon bambu dengan sekali tebasan. Seotong bambu pendek jatuh ke tangannya yang lain, membentuk sebuah gelas yang sederhana. Bersamaan dengan itu, pedang yang semula berada di tangan kanan ZiXuan pun menghilang secepat saat dia datang.
Pria itu segera berjalan cepat ke aliran sungai, mengambil airnya. Dia kembali ke sisi Yuan dan membantu gadis itu untuk minum, tetapi karena kondisinya yang setengah sadar membuat Yuan tidak dapat meneguknya. Air itu malah tumpah dan membasahi pakaian Yuan.
Yuan terbatuk pelan, kelopak matanya perlahan terangkat dan dia berkata, "Tentu."
Melihat wanitanya yang sudah sedikit lebih baik, ZiXuan meletakkan punggung tangannya pada dahi Yuan.
Dia kembali menurunkan tangannya sambil menghembuskan napas, lega.
Seulas senyuman terbingkai indah di bibir Yuan. "Terima kasih," katanya pelan.
ZiXuan hanya mengangguk. Dia tiba-tiba berdiri sambil mengambil sesuatu dari dalam bajunya dan mengarahkan benda itu ke langit.
Entah mengapa, walaupun hari sudah siang, kembang api itu tetap terlihat ketika dilepaskan.
Kaisar Xuan kembali menunduk menatap Yuan yang masih bersandar lemah.
Tak lama, suara langkah kaki terdengar dari arah timur membuat ZiXuan memicingkan matanya.
"Salam, Yang Mulia. Maaf karena datang terlambat." Li Wei muncul dari arah yang ditunggu dengan beberapa pengawal dan kereta kuda yang mengikutinya di belakang.
"Tidak apa. Kami segera kembali. Ketika sampai di istana, segera panggil tabib kekaisaran."
"Mengerti."
ZiXuan berbalik, dia kembali meletakkan tangannuya di bawah lutut dan di belakang punggung Yuan, kemudian dengan mudah mengangkatnya.
Di atas pangkuan pria itu, Yuan hanya bisa pasrah. Dia menyandarkan kepalanya pada dada bidang ZiXuan dengan nyaman. Tiba-tiba menyadari, betapa harumnya tubuh itu padahal mereka sudah tidak mandi ataupun berganti pakaian seharian penuh. Ingatkan dia untuk bertanya jika dia selamat kali ini!
Menghirup aroma tubuh ZiXuan membuatnya merasa damai dan mulai mengatuk.
"Saudara, apa yang aku katakan ketika di dalam gua itu adalah benar." Kalimat itu tiba-tiba saja meluncur dari bibirnya.
"Aku tahu."
Yuan tersenyum tipis dan kembali berkata, "Bagaimana denganmu?"
"Jika ingin tahu jawabannya, maka tunggu kita sampai dan kamu pulih."
Yuan mendengus pelan. "Menyebalkan!"
***
Sesampainya di depan gerbang istana, ZiXuan segera turun dengan Yuan dalam dekapannya.
Dia berjalan cepat ke arah Istana Qin, sedangkan Li Wei segera pergi mencari tabib istana.
"Yang Mulia, anda sudah kembali? Ya Tuhan, apa yang terjadi pada Permaisuri Xuan?"
ZiXuan menghentikan langkah dan menatap tajam dua gadis yang berdiri di depannya.
"Saudara Xuan, apakah kamu baik-baik saja?" Kali inj Qiu Ying yang berdiri di belakang Liang Ronglah, yang bertanya.
"Menyingkir," ujar ZiXuan singkat. Mata tajam itu kini menatap lurus ke arah pintu kediamannya.
"Saudara, apa—apakah kamu terluka? Ying'er akan segera memanggil—"
"Kubilang menyingkir dari hadapanku!" ZiXuan berkata penuh penekanan.
"Tapi—kamu—"
"Adik Ying'er, jangan menghalangi Yang Mulia," ujar Liang Rong seraya menarik tangan Qiu Ying, menyingkir dari hadapan ZiXuan.
ZiXuan mendengus kesal dan kembali berjalan cepat. Tepat ketika pintu kediamannya dibuka, dia berhenti. "Pengawal, seret putri perdana mentri Qiu ke ruang tahanan! Tanpa izinku, siapapun tidak boleh menemuinya!"
Mendengar setiap kata yang diucapkan Kaisar Xuan, tubuh Qiu Ying menegang. Bukan hanya Qiu Ying, tetapi juga Liang Rong dan pelayan pribadi kedua gadis itu.
"Saudara! Aku salah. Aku—aku tidak bermaksud membuatmu marah. Aku hanya merasa khawatir padamu," ujar Qiu Ying menjelaskan.
"Yang Mulia—"
"Putri Liang, anda sudah terlalu lama di sini. Kurasa ayahmu pasti sedang menunggu kepulanganmu. Anda kembalilah hari ini. Saya akan memastikan keamananmu. Maaf tidak mengantar."
Setelah itu, pintu Istana Qin tertutup rapat.
Dua pengawal mengapit Qiu Ying dan memaksanya untuk pergi dari sana.
"Saudari! Saudari Rong'er tolong aku," ujarnya dengan air mata yang sudah mengalir karena takut.
Liang Rong menatapnya iba. "Maaf, aku tidak bisa membantumu. Tapi—" Dia menghentikan kalimatnya dan beralih menatap Xiao Tao. "Xiao Tao, kamu pergi mencari Paman Lang. Ceritakan padanya apa yang terjadi. Mungkin paman dapat meluruskan kesalahpahaman ini. Aku tidak bisa menemuinya karena Yang Mulia sudah menyuruhku kembali. Dapatkah kamu melakukannya?"
Xiao Tao mengangguk keras. "Baik Tuan Putri, maaf hamba juga tidak dapat mengantarmu."
"Tidak masalah. Cepat pergi."
Xiao Tao beralih menatap tuannya dan berkata, "Nona, jangan khawatir. Aku akan segera mencari Tuan Besar."
...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...