My Devil Emperor

My Devil Emperor
Bercerita



"Xiao Li menghadap kepada Ibu Suri dan Ibu Selir Zhu." Yuan membungkuk hormat di depan Lian Chun dan Zhu Yue yang sedang duduk bersama.


Lian Chun mengangkat wajahnya dan tersenyum hangat. "Ah, Xiao Li sudah datang. Kemari, sayang."


Yuan mengangguk dan berjalan pelan. Dia duduk di depan Lian Chun dan Zhu Yue.


"Apa semuanya baik-baik saja?" tanya selir Zhu. Suaranya terdengar sangat lembut du telinga Yuan.


"Semuanya sangat baik, Ibu. Hanya saja saya membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan tugas-tugasku."


Zhu Yue mengernyit dan menoleh pada Lian Chun. "Apakah Kakak sudah tidak membantu lagi?"


"Aku hanya akan memantaunya saja. Sebelumnya aku juga sudah menjelaskan tentang semua yang harus dilakukan. Dengan begitu Xiao Li akan lebih cepat mandiri," ujar Lian Chun menjelaskan. "Baiklah, jangan membahas hal serius sekarang. Mari kami berbicara hal yang lain. Xiao Li, apakah kamu merasa nyaman di sini?"


Yuan tersenyum dan mengangguk. "Semuanya baik, Ibu."


"Syukurlah. Aku khawatir kamu tidak menyukainya. Terlebih lagi suamimu itu orang yang cukup sulit dihadapi, kan?" tanya Lian Chun sedikit khawatir.


"Umm, dia memang sulit dihadapi, tapi Kaisar Xuan memperlakukanku cukup baik. Ibu tidak perlu khawatir."


Selir Zhu mengernyitkan keningnya. "Anak itu memperlakukanmu cukup baik? Aku tidak percaya! Xiao Li, kamu orang pertama yang mendeskripsikan Xuan'er seperti itu. Apa dia mengancammu atau kamu terlalu mencintainya sehingga semua yang dia lakukan tampak baik di matamu?"


Lian Chun tertawa kecil dan menepuk pelan bahu Zhu Yue. "Apa yang kamu katakan? Bukankah itu baik bahwa ada yang dapat melihatnya dari sudut pandang yang berbeda."


"Kakak, kami sangat tahu bagaimana sifat anak itu. Hari ini istri cantiknya memuji dia, apa yang Xuan'er lakukan sampai Xiao Li kami bisa mengatakan dia cukup baik? Xiao Li, jangan takut untuk memberitahu kami, oke? Aku tidak berada di pihaknya."


"Tapi—Kaisar Xuan memang cukup baik Ibu. Apakah saya salah mengatakannya?" tanya Yuan ragu.


"Tidak. Tidak. Kami hanya merasa aneh. Xiao Li, kamu harus tau, walaupun anak itu memiliki pesona, tapi karakternya sangat keras. Dia orang yang terlalu serius dan berambisi sampai terkadang melupakan lingkungan sekitarnya. Gadis-gadis dari berbagai kalangan yang menyukainya pun juga tidak akan mengatakan dia pria yang baik."


"Benarkah? Apakah Saudara Xuan memang seperti itu?


"Kakak, sepertinya anak itu memandang berbeda pada Xiao Li. Kami harus berterima kasih padanya."


Lian Chun tertawa kecil mendengarnya, sedangkan Yuan menggaruk belakang lehernya karena bingung.


"Baiklah. Xiao Li, tidak ingin bertanya atau menceritakan sesuatu pada kami?"


"Apakah saya boleh bertanya apa saja, Ibu?"


"Tentu, tanyakan apa saja yang ingin kamu ketahui."


"Itu, apakah kaisar Xuan memiliki saudara yang lain selain Youhua?"


Lian Chun tidak langsung menjawab, tetapi melirik Zhu Yue dan wanita itu tersenyum padanya. Dia membuang napas pelan sebelum mulai bercerita. "Kamu tahu? Sebenarnya menjadi bagian seorang bangsawan itu tidak menyenangkan. Kadang kamu harus melihat saudara yang saling bersaing untuk tahta, saling menjatuhkan dan bahkan saling membunuh. Itu benar-benar menakutkan tapi itu juga hal yang lumrah terjadi di istana, termasuk juga aku ataupun adik Zhu Yue. Mendiang ayah mertuamu, kaisar sebelumnya adalah pria yang sangat hebat dan bijaksana. Dia memiliki satu permaisuri dan banyak selir di harem. Sebagian wanita itu adalah budak yang dia bawa dari medan perang atau diberikan padanya sebagai perrnikahan perdamaian. Awalnya aku bukanlah Ibu Suri kekaisaran ini. Posisiku dulu adalah Selir Resmi Kekaisaran, satu tingkat dibawah Permaisuri."


"Aku sakit hati jika mengingat penyihir itu, Kak!" ujar Selir Zhu menggertakkan giginya.


"Sudahlah. Sudah berakhir."


Walaupun sedikit terkejut, tapi Yuan tetap bertanya, "Ada apa, Ibu?"


"Seorang Permaisuri adalah pemimpin harem. Dia dijadikan sebagai contoh untuk semua wanita di harem. Tapi bagaimana jika pemimpin itu tidak berlaku baik?" Lian Chun menatap Yuan dengan serius.


Yuan sontak saja menundukkan kepalanya. Kharisma Lian Chun membuatnya selalu gugup saat ditatap oleh wanita itu. "Umm, terjadi kekacauan."


"Tepat! Untuk mempertahankan posisinya, dia tidak ragu melakukan segala cara. Bahkan membunuh seorang anak yang tidak berdosa. Dia melakukannya. Kamu tau? Sangat sulit untuk kami bertahan saat itu. Permaisuri sangat pencemburu, dia mencegah selir-selir resmi untuk melahirkan keturunan. Adik Zhu juga memiliki tiga orang putra, tetapi ketiganya meninggal secara tidak wajar."


"Apakah Kaisar atau Janda Permaisuri tidak tahu?"


"Dia melakukannya saat kaisar tidak ada di istana, sedangkan Janda Permaisuri juga tidak bisa melindungi para selir 24 jam, kan? Ditambah tidak ada bukti. Tapi itu mulai berhenti saat Permaisuri mengandung anak kembar. Dia melahirkan seorang pewaris dan seorang putri. Beberapa istri kaisar juga dikaruniai anak beberapa tahun setelahnya, termasuk aku. Xuan'er sedari kecil sudah sangat pendiam. Dia tidak suka bermain dan hanya membaca buku. Jika bermain pun hanya bersama Li Wei atau putra keempat adik Zhu dan beberapa pangeran saja. Kukira masa itu sudah berakhir. Tapi tahun itu, Putra Mahkota muda ikut turun ke medan peran untuk pertama kalinya mengalami kecelakaan yang membuatnya tidak bisa lagi menjadi pewaris itu juga menjadi hari terakhir Yang Mulia Kaisar terdahulu hidup. Setelah itu, dalam status kami, sudah seharusnya putraku menjadi kandidat terkuat menggantikan Putra Mahkota.Tapi aku tidak ingin putraku menjadi pewaris. Aku hanya ingin kehidupan yang damai untuk anak-anakku, jadi posisi itu sementara kosong. Lalu aku tidak tau kapan itu terjadi, tetapi putra keempat adik Zhu menjadi sangat dekat dengan Permaisuri. Dan benar saja, satu tahun setelahnya mendiang Pangeran Ye diangkat menjadi Putra Mahkota." Lian Chun berhenti sejenak. Dia tampak ragu untuk meneruskan dan sesekali melirik Selir Zhu di sebelahnya.


"Baiklah, jangan diteruskan," ujar Lian Chun menenangkan seraya mengusap punggung wanita di sebelahnya.


"Benar Ibu. Tidak perlu diteruskan."


"Pelayan, bantu Selir Agung Zhu kembali beristirahat."


Pelayan yang berada di belakang segera mendekat dan memapah Selir Zhu.


"Sebenarnya aku masih ingin bercerita, tapi sepertinya aku sangat lelah," katanya menatap Yuan penuh penyesalan.


Yuan menggeleng dan tersenyum. "Tidak apa. Ibu selir Zhu beristirahat saja."


Zhu Yue mengangguk lemah dan berjalan meninggalkan kediaman Lian Chun. Setelahnya Yuan kembali menatap Lian Chun dan berkata, "Lalu bagaimana sekarang Ibu menjadi Ibu Suri? Kemana saudari perempuan Kaisar Xuan?"


"Sepandai-pandai tupai melompat, dia akan jatuh juga. Janda Permaisuri akhirnya menemukan bukti nyata tentang kejahatannya selama ini, dia dihukum mati. Dan dari semua selir kaisar, aku memiliki latar belakang yang kuat untuk menjadi permaisuri berikutnya. Jika sudah begini, aku juga tidak bisa melakukan apapun. Xuan'er juga adalah satu-satunya keturunan laki-laki Kaisar terdahulu. Untuk putri, Youhua adalah yang termuda, sisanya sudah menikah."


"Selir kaisar yang lain?"


"Ada yang sudah meninggal karena sakit, ada juga yang dibebaskan, dan ada juga yang masih di sini, di wilayahku."


Yuan mengangguk paham. "Persaingan di dalam istana, apakah semuanya semenakutkan itu, Bu?"


"Aku tidak tau, tapi kebanyakan seperti itu. Tapi bukankah Raja Huang juga memiliki beberapa selir?"


Yuan menggeleng. "Tapi sepertinya tidak semenyeramkan itu," jawabnya polos.


Lian Chun tertawa pelan. "Itu bagus. Cerita ini mungkin bisa menjadi pelajaran untukmu. Pastikan bocah itu tidak mengambil selir. Atau jika terpaksa, kamu jangan terlalu lemah tapi juga jangan kejam."


Yuan meringis. "Tapi, Ibu. Bukahkah seorang Kaisar harus memiliki banyak selir di haremnya?"


"Kata siapa? Memiliki satu atau lebih istri adalah pilihan dari Kaisarnya. Jadi saran ibu, kamu harus benar-benar menaklukannya," ujar Lian Chun sambil mengedipkan sebelah matanya.


Yuan menoleh ke arah lain. Wajahnya sedikit memerah akibat ucapan ibu mertuanya. Tapi matanya tiba-tiba menyipit. "Ibu, itu ada apa?"


Lian Chun ikut menoleh dan melihat seorang pelayan sedang duduk berlutut di tengah-tengah halaman dari jendela. "Ah, itu Yunniang. Pelayan dari istana selir Zhu. Sebenarnya dia cukup baik, tapi ceroboh dan tidak cakap. Membuat Selir Zhu selalu naik darah, tapi Ibu Selirmu terlalu kasihan padanya jadi dia menghukum hanya untuk mendisiplinkan saja."


"Mengapa tidak di bebaskan saja?"


"Kudengar Yunniang seorang yatim piatu. Dia bisa masuk ke sini karena bantuan ibu kepala pelayan yang merasa kasihan, kemudian bertemu Selir Zhu dan membawanya bekerja di kediaman. Karena itulah Selir Zhu selalu mentolerirnya. Kenapa? Kamu juga merasa iba?"


"Hari ini cukup panas, dia terlihat sangat pucat."


Lian Chun tersenyum hangat. "Kalian berdua sama-sama berhati lembut. Itu bagus, tetapi jangan menjadikannya sebagai kelemahanmu, terlebih lagi kamu adalah seorang Permaisuri Kekaisaran. Antara rendah hati dan ketegasan harus seimbang."


"Xiao Li mengerti, Ibu."


"Kamu bisa membawanya bersamamu jika kamu ingin. Kamu bisa melatihnya."


"Tapi dia orang dari istana ibu selir Zhu."


"Sebenarnya Zhu Yue sering mengeluh kepadaku tentang Yunniang, tapi kamu istanaku sudah penuh dengan para pelayan. Jika kamu bersedia, kamu bisa membawanya dan aku yang akan menyampaikan hal ini pada Zhu Yue," jelas Lian Chun lembut.


"Kalau begitu, aku akan membawanya ke istanaku."


"Baik. Xiao Li, sering-seringlah kemari menemaniku mengobrol."


"Baik, Ibu. Xiao Li izin kembali."


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...