
Matahari sudah benar-benar tenggelam saat ZiXuan pergi bersama Yuan ke Ruang Penyimpanan.
Entah mengapa di sepanjang jalan, ZiXuan hanya sedikit bertemu dengan beberapa penjaga yang bertugas mengawasi keadaan di sekitar istana.
"Suami, apakah harus seperti ini?" mendengar pertanyaan itu, ZiXuan menunduk menatap wanita yang memeluknya erat dan tertutupi jubah yang ia kenakan.
"Orang yang menggunakan namamu hanya ada dua kemungkinan, ia menargetkanmu atau diriku. Tentu saja kita tidak bisa membiarkannya tau bahwa rencana mereka telah diketahui oleh kita. Apa jadinya jika sekarang dia sedang memperhatikan kita dari jauh dan tau bahwa kau ikut bersamaku ke Ruang Penyimpanan? Bukankah mereka akan kecewa?"
Yuan mengangguk tanpa sadar. Dalam hati, ia juga menyetujui ucapan ZiXuan. "Tapi tidak siapapun di sini. Biarkan aku turun. Kamu pasti sangat berat melangkah saat ini."
ZiXuan menatap Yuan gemas. "Tidak berat."
"Benar juga, kamu sudah terbiasa menahanku saat berada di atasmu," ujar Yuan berbisik di telinga ZiXuan.
"Bagus! Teruslah menggodaku. Jangan salahkan aku jika perjanjian satu minggu kita berakhir setelah ini!"
Mendengarnya, Yuan langsung mengatupkan bibir rapat-rapat. Satu lagi yang ia lupakan, ZiXuan tidak bisa digoda!
Wanita itu pun terdiam membeku, tidak lagi mengucapkan sepatah katapun. Ia mengeratkan pelukannya di pinggang ZiXuan. Membiarkan laki-laki itu menopang berat tubuhnya karena Yuan meletakkan kakinya di atas punggung kaki ZiXuan. Tubuhnya tidak benar-benar menempel sempurna pada tubuh tegap ZiXuan karena perut yang yang membesar itu menjadi batasan. Yuan sempat terheran dan berdecak kagum saat ZiXuan melangkah seperti tidak ada beban padahal sesungguhnya ia sedang menopang berat badan Yuan dan anaknya. Suaminya sangat luar biasa.
Yuan tersadar saat mendengar suara pintu di buka dari belakangnya. "Kita sudah sampai?" tanyanya sedikit bingung.
"Mn," jawabnya seraya melepaskan tangan dari pinggang Yuan.
Wanita itu pun menjejakkan kembali kakinya pada lantai kayu yang lembut. Ia memutar badannya dan melihat ke sekeliling ruangan.
"Tidak ada apapun di sini?" gumamnya pelan.
Yuan berjalan semakin jauh ke dalam Ruang Penyimpanan itu diikuti ZiXuan di belakangnya.
"Tuan putri Luo Li?" ujar Yuan saat ia melihat seorang gadis berdiri memunggunginya di sudut ruangan.
Perempuan itu berbalik. Raut wajahnya sedikit terkejut saat melihat kedua orang itu. Kemudian segera menetralkan kembali wajahnya.
Luo Li tersenyum dan berjalan mendekat. "Permaisuri sudah sampai?" tanyanya basa-basi.
Yuan mengernyitkan kening bingung. "Aku?"
Melihat raut kebingungan di wajah Yuan, Luo Li pun juga merasa aneh. Ia berkata, "Bukankah Yang Mulia Permaisuri memintaku untuk menemui di sini?"
"Aku memang berencana ingin mengobrol denganmu, tetapi tidak di sini. Juga bukan hari ini," ujar Yuan memiringkan kepalanya.
Mereka bertiga terdiam sesaat sampai Yuan bergumam, "Tidak mungkin!"
ZiXuan menatap Yuan yang berada di sampingnya sambil menaikan alis. "Apa yang tidak mungkin?"
"Itu bukan aku tapi kalian."
"Ah?"
"Seseorang dengan namaku, meminta kalian untuk bertemu. Yang Mulia adalah suamiku, jika aku memintanya untuk menemuiku kamu tidak akan menolak, kan? Juga, aku adalah tuan rumah sekaligus Permaisuri kekaisaran, dengan posisiku, jika aku memintamu untuk menemuiku meskipun itu di pagi buta, Tuan Putri Luo tidak akan bisa menolaknya, kan? Saya tidak tau apa motifnya, tetapi saya pernah mendengar—kalian memiliki hubungan khusus dulunya. Jadi, mungkin ini untuk merusak reputasi Yang Mulia dan Tuan Putri Luo," analisisnya dengan suara yang pelan di akhir kalimat.
"Tidak. Saya tidak memiliki hubungan dengannya. Darimana kamu mendengar gosip itu?" bantah ZiXuan setelah Yuan menyelesaikan kalimatnya.
"Kan saya mengatakan 'dulunya' bukan sekarang."
"Kamu— lupakan. Ayo bicara di luar," ucap Yuan kembali berjalan ke arah pintu. Dia mendorong pintu dan mengernyit.
"Kenapa?"
"Pintunya... tidak bisa dibuka," kata Yuan pelan.
ZiXuan menaikkan alisnya dan berjalan mendekati Yuan. Wanita itu mundur selangkah.
Dia mengulurkan tangannya dan mendorong pintu, tetapi pintu itu tidak bergerak terbuka.
"Yaa, sepertinya itu terkunci," ujar ZiXuab yang terdengar pasrah.
Luo Li yang sedari tadi diam membelalakan mata. "Lalu bagaimana?" tanyanya khawatir.
"Tunggu saja mereka—kamu mau ke mana?" ZiXuan tadinya ingin menjawab pertanyaan Luo Li, tetapi tidak jadi saat melihat istrinya pergi ke arah lain ruang penyimpanan.
"Yang Mulia, tidakkah kamu mencium sesuatu?" tanya Yuan balik.
"Saya menciumnya, saya pikir ini adalah wangi pengharum ruangan ini." Bukan ZiXuan, tetapi Luo Li yang menjawab.
"Ruang penyimpanan tidak memiliki pengharum ruangan. Ini—" ZiXuan berhenti berkata dan matanya seperti terkejut, dia segera lanjut berkata, "Jangan dihirup! Lebih baik menutup hidungmu!" perintahnya.
Meskipun bingung, melihat keseriusan di mata pria itu, Luo Li segera menurutinya.
"Saya menemukannya!" Suara itu membuat ZiXuan tersadar bahwa Yuan sudah menghilang dari pandangan matanya.
Dia berjalan cepat mencari keberadaan istrinya. Di sudut ruangan, ZiXuan melihat bayangan yang dikenalinya sedang berusaha untuk jongkok dengan perut yang besar. Dia bergegas menghampirinya dan menarik lembut lengan wanita itu. "Apa yang kamu lakukan!" Suaranya sedikit meninggi membuat wanita di lengannya terkejut.
"Aku—aku hanya penasaran. Aku menyukai wanginya, tidak bermaksud membuatmu marah," kata Yuan pelan dengan suara yang sedikit gemetar. Dia menunduk tidak berani menatap pria itu.
"Saya tidak marah, saya khawatir padamu. Biar saya yang akan mengambilnya. Kamu tunggu di sini dan tutup hidungmu."
Yuan mengangguk. Dia mundur dan bersandar pada sebuah pilar bangunan. Entah mengapa tubuhnya terasa agak panas, mungkin karena ruangan ini tertutup rapat sehingga tidak ada angin yang masuk.
Dia menurunkan tangannya yang menutup hidung dan mulut karena lelah. Menghirup aroma samar yang lembut dan sangat wangi itu membuatnya sedikit rileks.
ZiXuan berbalik setelah memadamkan dupa itu. "Ayo segera keluar," katanya seraya menarik pelan tangan istrinya.
"Bagaimana bisa keluar? Bukankah pintunya terkunci?"
ZiXuan mengeryit dan memandang wanita itu lambat-lambat. Sepertinya ada yang salah dengan suara Yuan. "Kamu baik-baik saja?" tanyanya memastikan.
Yuan mengangkat wajah cantiknya dan menggeleng pelan. "Aku? Tidak apa-apa, hanya sedikit panas," jawabnya pelan. Tangan lain yang tidak dipegang oleh ZiXuan terangkat dan menyetuh wajah tampan di depannya.
"Suamiku, apakah kamu tau? Kamu sangat tampan. Kamu memiliki gen yang sangat bagus!"
ZiXuan berkedip dan tertawa pelan. "Sudah kuduga. Xiao Li, apakah kamu tidak tahu bahwa kamu yang seperti ini terlihat sangat menggoda?" Dia melepaskan genggaman tangan pada wanita itu, sebagai ganti meletakkan tangannya memeluk pinggang ramping Yuan.
Tangannya yang lain terangkat dan sebuah sinar redup memancar keluar seperti menetralisir ruangan dari asap dupa yang tadi menyebar.
"Iyakah? Lalu, apakah suami ingin melakukan sesuatu padaku sekarang?"
...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...