My Devil Emperor

My Devil Emperor
Accident



"Ini sangat membosankan," gumam Yuan sambil menatap langit-langit kamarnya.


"Apakah Tuan Putri ingin berjalan-jalan di sekitar istana?" tanya Jingli yang sangat peka itu.


Mendengarkan suara Jingli, Yuan segera mendudukan dirinya dan menatap wanita di depannya dengan mata berbinar. "Apakah boleh?"


Jingli tersenyum geli dan mengangguk. "Tentu saja. Siapa yang berani melarang Tuan Putri kami?"


"Kalau begitu, ayo!" Dia langsung berdiri dan menarik tangan Jingli untuk mengikuti langkahnya.


Yuan mengirup udara yang masih segar itu. Tanpa polusi dari asap kendaraan ataupun gedung industri. Lingkungan yang sangat sehat.


Tanpa sadar, bibir merah itu melengkung ke bawah. Matanya terpejam menerima paparan sinar matahari pagi ke wajah cantiknya.


Bulu mata lentiknya bergerak ke atas. Mata seindah bunga persik itu tiba-tiba terbuka. Dia menoleh ke arah kanan dan memicingkan matanya.


"Tuan Putri," panggil Jingli.


Yuan menoleh pada Jingli dan meletakkan telunjuk di bibir ranumnya.


Jingli mengangguk patuh dan hanya mengikuti langkah pelan Yuan.


"Putri pertama sangat bijaksana dan penyayang. Dia bahkan memberikan hadiah dari ayahnya yang sangat berharga untuk Putri ketiga padahal adiknya itu sangat jahat padanya." Suara itu mulai terdengar jelas di telinga Yuan.


Yuan menaikkan alisnya. Dia tau apa yang sedang para pelayan itu bicarakan. Menurutnya ini sedikit menarik.


"Benar sekali! Putri pertama sangat hebat kemarin. Aku semakin mengaguminya. Pantas saja dia menjadi kesayangan Raja dan Ratu."


"Putri pertama memang pantas mendapatkannya. Dia benar-benar putri seorang Raja dan Ratu, tidak seperti Putri ketiga yang kelakuannya sangat buruk. Tidak heran juga, dia anak seorang selir."


"Benar, dia sangat tidak tau diri. Sudah bagus dia anak dari Raja, masih ingin menyaingi Putri yang sesungguhnya!"


"Ini menarik. Boleh aku ikut mengobrol?" Kedatangan Putri Yanli yang tiba-tiba membuat mereka semua terkejut.


"Kami memberi salam kepada Putri Pertama," ucap mereka serempak.


"Apa yang sedang kalian bicarakan? Mengapa berhenti? Ayo lanjutkan. Aku ingin mendengarnya," kata Yuan sambil tersenyum.


Mereka semua terdiam, tidak berani menjawab. Walaupun kalimat yang diucapkan Yuan terdengar biasa, tetapi itu seperti pisau yang bersembunyi dibalik tumpukan jerami. Salah menginjak, tamanlah riwayat.


"Mengapa kalian diam saja? Apa aku semenakutkan itu?" Yuan menatap mereka dengan kepala yang dimiringkan. Terlihat polos tetapi membuat orang semakin waspada.


"Tidak, Tuan Putriku. Kami tidak berani. Kami bersalah. Mohon Tuan Putri memaafkan kami," kata salah seorang dari mereka mewakili.


Mengapa Yuan baru menyadarinya. Ini sedikit menyenangkan. Setidaknya Zhou YanLi ini benar-benar putri yang memiliki kedudukan dan nama yang baik. Dia disegani. Tidak buruk menjadi dirinya.


Yuan tersenyum tipis dan berkata, "Aku tahu. Tidak perlu merasa takut begitu. Manusia memang penilai yang baik bagi manusia lain tetapi tidak bisa menilai dirinya sendiri." Suaranya masih sangat lembut. Tidak ada kemarahan di dalamnya tetapi kalimat itu seperti pisau yang tak terlihat. Mereka semua merasa tersindir dengan pernyataan Yuan.


Dari kejauhan, mata Yuan menangkap siluet yang cukup familiar.


"Ji'er!" panggil Yuan sambil melambaikan tangannya.


Feng Ji melihat ke arah Yuan, dengan muka datar ia menghampiri kakak pertamanya itu.


"Ada yang bisa dibantu, Kakak Pertama?" tanyanya.


"Tidak, hanya ingin bertanya. Menurutmu di antara kami, siapa yang lebih baik?"


Pertanyaan itu membuat FengJi mengernyitkan dahinya.


"Apa maksudmu?" tanyanya dengan wajah kesal


Yuan memajukan bibirnya menatap FengJi dengan mata sedih. Tentu saja itu palsu.


"Adik, mengapa kamu galak sekali? Aku kan hanya bertanya. Kamu harus lebih mengontrol dirimu di masa depan."


FengJi menatap aneh wanita yang lebih tua dua tahun darinya itu. "Jingli, mengapa kamu membawanya keluar? Kurasa dia masih sakit," katanya pada Jingli yang berada di belakang Yuan.


"Ji'erku paling perhatian. Jangan khawatir, kakakmu ini sudah sangat sehat."


"Sepertinya kamu benar-benar butuh istirahat," ucap Feng Ji sambil dengan pelan menggelengkan kepalanya


"Lihat, adikku sangat perhatian. Dia tidak seburuk apa yang kalian pikirkan. Lain kali jangan membicarakannya lagi, oke?"


Walaupun sedikit linglung, para pelayan itu mengangguk patuh pada apa yang dikatakan Yuan.


"Ini bagus. Setiap orang pasti melakukan kesalahan. Tidak masalah memberikan orang lain kritik, tetapi kamu juga harus menyampaikannya langsung, jangan berbicara di belakangnya. Itu tidak baik."


"Tuan Putri benar. Kami bersalah, mohon Putri memberikan kami hukuman."


"Kamu ingin menghukumnya?" tanya Yuan pada FengJi.


"Karena Kakak pertama yang memergokinya, mengapa tidak Kakak saja yang menghukumnya?" kata FengJi acuh tak acuh.


"Sebenarnya aku sangat tidak enak pada kalian, tetapi yang bersalah harus dihukum. Ini adalah sebab akibat. Jadi, berlulutlah di sini sampai matahari terbenam. Tidak boleh ada yang memberikannya makan atau minum."


Mereka terkejut mendengar apa yang dikatakan Yuan. Bukan karena hukumannya, tetapi siapa yang menghukumnya. Itu tidak akan aneh jika FengJi atau para bangsawan wanita lainnya yang menghukum. Tetapi ini adalah yang mereka kenali, Zhou YanLi.


Selama ini, Zhou YanLi dikenal yang paling penyayang. Jika seseorang melakukan kesalahan, dia tidak pernah menghukumnya. Bahkan ada satu kasus saat seorang pelayan tidak sengaja memecahkan vas bunga kesayangan Selir Agung dan menerima hukuman berlutut selama tiga hari, Putri Pertamalah yang membebaskannya. Tentu saja bukan hal yang mudah karena sifat Selir Agung yang sangat kejam, tetapi Zhou YanLi adalah putri dari Raja dan Ratu.


Faktor lain, membicarakan keburukan Putri ketiga bukanlah yang pertama kali dilakukan. Tetapi biasanya Putri pertama hanya akan memberikan mereka teguran, bukan hukuman. Mungkinkah karena ingatan putri pertama yang hilang menjadikannya seseorang yang sekarang berdiri di depan mereka ini?


"Ada apa? Mengapa kalian semua menatapku seperti itu? Apa hukumanku terlalu ringan? Atau terlalu berat?" Suara lembut itu membuat mereka semua tersadar.


"Kami mematuhi perintah Yang Mulia Putri pertama," ujar para pelayan tanpa menolak.


Yuan tersenyum puas. "Kalau begitu, sudah selesai. Semangat!" Dia pun pergi meninggalkan tempat itu tanpa memperdulikan tatapan bingung orang-orang di sana.


FengJi kini beralih menatap para pelayan yang sudah berlutut itu. Dia berdeham pelan dan berkata, "Tidak perlu melakukannya. Kakak mungkin hanya bercanda."


Para pelayan itu menatap FengJi dengan wajah penyesalan. "Yang Mulia Putri ketiga, kami memang bersalah. Maafkan atas ketidaksopanan kami terhadap Tuan Putri."


"Ah?" Sihir apa yang digunakan kakaknya sampai membuat para pelayan ini sangat menghormatinya.


***


"Tuan Putri, Anda sangat berbeda. Tetapi kamu keren!" puji Jingli saat mereka sudah kembali ke kamar.


Yuan tertawa pelan dan berkata, "Aku juga merasa, aku sangat keren. Tapi mengapa aku merasa ada yang salah? Wajah mereka tampak seperti kalah taruhan tadi."


"Semua orang yang mengenalmu pasti akan seperti itu. Anda benar-benar seperti orang yang berbeda. Dulu Anda tidak pernah menghukum pelayan. Sangat baik tapi juga sangat cerdas."


Yuan mengangguk-angguk paham. Sepertinya Putri YanLi ini memang pribadi yang anggun dan lembut tetapi juga tidak bodoh.


"Saudari, apakah ada makanan? Aku merasa lapar."


Mendengar apa yang diucapkan Yuan, Jingli segera berlari keluar kamar menuju dapur istana. Dia hampir lupa waktu makan siang.


Setelah Jingli menghilang. Yuan melihat ke sekeliling kamarnya. "Alangkah baiknya jika aku bisa bermain luar istana. Pasti di luar sana akan sama bagusnya."


"Jadi putriku ingin bermain ke luar istana?"


Suara itu membuat Yuan terkejut dan menoleh ke arah pintu, di sana sudah ada Ratu Yin yang membawa sebuah toples kaca kecil berisi manisan buah.


"Yanli memberikan salam kepada Ibunda," ucap Yuan seraya berdiri. 


Ratu Yin mengusap dengan lembut rambut putrinya.


Yuan tersenyum dan menyambutnya dengan senang hati. "Terima kasih, Ibu."


Yuan membuka toples itu dengan hati-hati. Ratu Yin mengambil satu manisan buah dan mengarahkannya ke bibir Yuan.


"Bagaimana?" tanya Ratu Yin.


"Sangat manis seperti Ibundaku," jawab Yuan setelah selesai menelan satu buah manisan yang Ratu Yin berikan.


"Gadis baik, kamu memang pandai memuji seseorang dengan kata-kata manismu!"


Yuan tersenyum dan memeluk Ratu Yin. Padahal belum genap sebulan ia berada di dunia asing ini, tetapi kasih sayang yang di berikan Ratu Yin padanya benar-benar berhasil menyentuhnya. Yuan merasakan kasih sayang ibunya dari Ratu Yin. Oke, ia akan meralatnya, menjadi seorang Putri Kerajaan tidaklah seburuk yang dipikirkan sebelumnya.


"Ibu, bolehkah saya keluar istana?" tanya Yuan manja.


"Apakah di dalam istana benar-benar membuat Xiao Li-ku bosan?"


Yuan mengangguk menjawab pertanyaan Ratu Yin.


"Tapi ibu mengkhawatirkanmu," ujar Ratu Yin lembut.


"Ibu, Xiao Li bisa menjaga diri sendiri. Lagipula ada Jingli yang menemaniku," rayu Yuan sambil menarik-narik lengan baju Ratu Yin.


"Aku memang tidak bisa menolak permintaan putri tersayangku. Kapan kamu akan keluar?" tanya Ratu Yin melemah.


Yuan merasa sangat bahagia mendapatkan izin Ratu Yin. "Jika Ibu mengizinkan, Xiao Li akan pergi sekarang."


"Baik, tapi berjanjilah padaku jangan pulang dalam keadaan terluka lagi. Kamu harus bisa melindungi dirimu sendiri. Dan pulanglah sebelum mata hari terbenam, oke?"


"Baik, Ibu. Terima kasih, Xiao Li menyayangimu." Setelah memberikan pelukan hangat, Yuan meminta izin untuk mencari Jingli di dapur istana. Ia benar-benar tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Ratu Yin.


***


Melihat aktivitas di luar istana memang sangat menyenangkan. Ini seperti ia sedang berada di pasar tradisional.


Yuan yang menyamar sebagai rakyat biasa berbaur dengan semua orang.


Akhirnya gadis yang genap berusia dua puluh tahun itu merasakan kebebasannya kembali.


Jingli menghampiri Yuan yang sedang melihat-lihat gelang di sebuah gerai dengan membawa camilan.


"Saudariku, bayarlah ini untukku. Kamh pilihlah apa yang kamu mau. Aku mentraktirmu," kata Yuan dengan gelang yang sudah berada di genggamannya.


Jingli memgangguk dan dengan sigap mengeluarkan beberapa koin berwarna perak kemudian memberikannya kepada si penjual.


"Nona, Anda ingin pergi ke mana lagi?" tanya Jingli sambil memakan camilan pedasnya.


Yuan tidak langsung menjawab, tetapi matanya mencari-cari tempat yang menarik untuk di kunjungi. Kemudian dia melihat sebuah toko kain, jari telunjuknya menunjuk toko itu dan berkata, "Kita ke sana!"


Mereka berdua memasuki toko kain itu sambil melihat-lihat.


"Bahannya cukup bagus," ujar Yuan sambil menyentuh salah satu kain berwarna marun dengan corak emas.


"Toko ini salah satu toko kain terbaik, Nona," balas Jingli tanpa menatap Yuan. Gadis itu sedang sibuk melihat apakah camilannya masih banyak. Dia berpikir untuk membeli beberapa bungkus lagi dan membawanya pulang.


Yuan mengangguk tanda mengerti, tiba-tiba matanya menangkap sebuah baju berwarna merah dengan sulaman burung phoenix yang sangat cantik.


"Nona," panggil Jingli.


Karena tidak mendapat jawaban, Jingli mengangkat wajahnya.


Jantungnya berdetak saat tidak menemukan Yuan di sisinya. "Nona kamu—" Dia tiba-tiba berhenti bicara saat matanya menemukan orang yang dicari.


Jingli berjalan cepat ke arah Yuan. "Nona, kamu tidak boleh sembarangan pergi," ujarnya saat sudah berada di samping Yuan.


"Ini cantik sekali," gumam Yuan yang masih terdengar oleh Jingli. Dia mengikuti arah pandang Yuan dan melihat sebuah gaun pernikahan berwarna merah dengan benang emas yang sangat indah.


"Gaun pernikahan Anda lebih bagus dari ini."


Tentu saja gaun pernikahan seorang putri harus lebib bagus. Tunggu, sepertinya ada yang salah.


Yuan refleks menoleh cepat. "Pernikahanku? Aku sudah menikah? Apa maksudmu Saudari?"


"Ah? Hamba belum menceritakannya ya? Nona, Anda sudah bertunangan dengan Pangeran Liu. Tetapi karena kecelakaanmu, pernikahan ditunda," kata Jingli memberitahu. Dia berbisik pelan saat menyebutkan 'Pangeran Liu'.


Yuan menghela napas lega. Hei bagaimana dia tidak terkejut. Di dunia asal saja dia baru putus dengan pacarnya. Umurnya baru masuk kepala dua, dan dia masih seorang mahasiswa. Bagaimana bisa di sini sudah menikah? Pengalamannya masih sangat jauh dari percintaan.


"Bolehkah aku mencobanya?" tanya Yuan. Memakai gaun pengantin bukan berarti menikah kan? Dia sudah benar-benar terpesona oleh baju itu. Sepertinya akan pas di badannya.


"Hamba akan menanyakannya." Setelah berkata demikian, Jingli menghampiri pemilik toko dan berbincang-bincang sebentar.


Kemudian ia kembali menghampiri Yuan dan berkata, "Anda boleh mencobanya, Nona. Kebetulan baju itu akan dijual karena orang yang memesannya tiba-tiba membatalkan pernikahan mereka. Sayang sekali ya!"


"Jika anda menyukainya, kami bisa membelinya," lanjut Jingli.


"Tidak. Tidak. Aku hanya akan mencobanya, lagipula siapa yang ingin menikah? Usiaku masih terlalu muda, aku akan meminta ibu dan ayah untuk membatalkannya setelah ini." Tanpa menunggu respon Jingli, Yuan meninggalkan wanita itu dengan membawa baju pengantin bersamanya.


Sambil menunggu Yuan mencoba bajunya, Jingli kembali menikmati camilan yang sepertinya tidak habis-habis itu.


"Jingli," panggil Yuan yang membuat Jingli mengangkat wajahnya.


Dengan bibir yang setengah terbuka, Jingli menghampiri Yuan. "Tuan Putri, Anda terlihat sangat cantik. Sepertinya baju ini diciptakan untuk Anda kenakan," pujinya.


"Kamu membuatku tersanjung."


Setelah kembali menormalkan ekspresinya, Jingli melihat sekeliling toko dan berkata, "Sepertinya bukan hamba saja yang terpesona di sini," ujarnya saat melihat orang-orang menatap kagum ke arah Yuan.


"Jika Pangeran Liu melihatmu berpenampilan seperti ini, dia pasti akan langsung menikahimu."


Yuan mendengus kesal mendengarnya. "Bisakah berhenti menyebut namanya? Bahkan aku tidak tau dia siapa. Lagipula laki-laki selain ayahku itu tidak dapat dipercaya!"


"Tapi Pangeran Liu—" Jingli tiba-tiba berhenti berbicara.


"Ada apa denganmu?"


"Tuan Putri, sepertinya hamba terlalu banyak makan pedas, perut hamba terasa sakit. Hamba akan kembali lagi. Tunggulah sebentar," ucap Jingli sambil berlari keluar toko dengan terburu-buru.


"Hmm," gumam Yuan sambil menggelengkan kepalanya.


Tiba-tiba terdengar keributan dari luar toko. Karena merasa penasaran, Yuan pun pergi keluar untuk melihat yang membawanya ke bagian belakang toko.


"Apa yang terjadi?" tanya Yuan pada salah seorang yang berlari ke kerumunan.


"Ada pencuri. Nona muda, aku harus pergi membantu sekarang," jawabnya terburu-buru.


Yuan hanya mengangkat bahu dan ingin kembali masuk untuk mengganti bajunya. Tapi tiba-tiba seseorang menabrak tubuhnya dengan kencang sampai membuatnya terjatuh.


"Kamu!" ucap Yuan kesal sambil melihat ke arah orang itu.


Wanita yang ternyata menabrak itu tiba-tiba melemparkan cadar merahnya kepada Yuan sambil mengucapkan permintaan maaf dan pergi berlari.


"Tangkap dia!"


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...