My Devil Emperor

My Devil Emperor
Berita



"Kamu sudah sadar?" Suara itu menyambut ketika Yuan baru saja membuka mata.


"Bagaimana? apakah ada yang sakit?"


Yuan menoleh perlahan dan melihat Lian Chun yang duduk di sampingnya.


Melihat menantu perempuannya yang berusaha untuk bangun, Lian Chun dengan sigap membantunya untuk bersandar.


Dia memberikan mangkuk berisi cairan berwarna coklat kepada Yuan.


Karena masih setengah sadar, Yuan meminumnya tanpa melihat dan sedetik setelah cairan itu menyentuh lidahnya dia mengernyit dan menjauhkan mangkuk itu darinya.


Yuan menatap Lian Chun dengan bingung dan mata yang berkaca-kaca. "Apa itu, Ibu?"


Lian Chun tertawa pelan dan menjawab, "Ini obat yang diberikan tabib. Kamu harus menghabiskannya."


Yuan menatapnya dengan enggan, tetapi Lian Chun membujuknya sampai ia tidak bisa menolak.


Dengan sekali tegukkan, Yuan meminumnya.


"Makan ini," ujar Lian Chun menyodorkan sebuah manisan di tangannya.


Tanpa menunggu perintah dua kali, Yuan segera mengambil manisan itu dan memakannya.


"Ibu, itu sangat pahit. Obat apakah itu?"


Lian Chun baru saja akan menjawab, tetapi terinterupsi dengan suara pintu yang dibuka.


ZiXuan melangkah masuk bersama adiknya, tuan putri Youhua.


Gadis itu berjalan mendahului ZiXuan dan mengambil tempat duduk di sebelah ibunya. "Kakak, apakah kamu baik-baik saja? Maafkan aku, aku tidak sengaja menyenggolmu," katanya dengan wajah penyesalan.


Yuan tersenyum dan menggeleng pelan. "Tidak apa-apa. Jangan khawatir." Dia mengangkat wajahnya dan menatap ZiXuan yang sedari tadi berdiri diam.


"Yang Mulia, mengapa menatapku seperti itu?" tanya Yuan gugup.


"Aiyaa, Kakak kaisar pasti sedang memastikan apakah istri dan anaknya baik-baik saja!" ujar Youhua setengah menggoda.


Yuan ber'oh' ria sebelum membelalakkan matanya, terkejut.


"Apa?"


"Ibu, bisakah saya bicara dengan Xiao Li?" tanya ZiXuan.


Lian Chun tersenyum dan mengangguk. "Nak, kami pergi dulu," ujar Lian Chun seraya menarik tangan Youhua.


"Ibu, saya baru saja datang!" Tanpa mendengarkan protes dari anak perempuannya, Lian Chun tetap berhasil membawa Youhua untuk pergi dari sana.


ZiXuan mendekat dan duduk di samping Yuan. Tatapan matanya melembut dan dia berkata, "Apakah ada yang sakit?"


Yuan mengedipkan matanya bingung dan menggeleng pelan. "Tidak ada. Aku baik-baik saja."


Pria itu mengangguk, dia mengangkat tangannya menyentuh perut rata wanita itu.


Yuan menaikkan alisnya bingung. "Apa yang kamu lakukan?"


"Menyapa anak kami."


"Kami? Aku—aku benar-benar hamil?" tanyanya terbata.


ZiXuan menatap mata wanita itu dan tertawa pelan. "Jika tidak?"


Wanita itu menatap tangan ZiXuan di perut dan merasakan kehangatan mengalir dalam tubuhnya.


"Suami," panggilnya membuat ZiXuan mendongak.


"Tiba-tiba, aku lapar," katanya malu.


ZiXuan tersenyum. Dia menarik tangannya dan menyentuh puncak kepala Yuan dengan lembut. "Apa yang ingin kamu makan?"


"Kue Osmanthus!" seru Yuan bersemangat.


"Baiklah. Tunggu sebentar."


***


Berita tentang kehamilan Permaisuri Xuan menyebar dengan cepat. Semua orang mulai membicarakannya dari yang muda hingga yang tua. Membayangkan bagaimana rupa anak yang akan dilahirkan. Akankah secantik Ibunya atau setampan ayahnya.


Semua orang tau wajah rupawan ZiXuan yang terkenal sampai ke negeri orang. Kaisar muda yang disegani, dingin, dan tampan. Wajah pria itu sangat amat tampan bagaikan potongan batu giok yang tertimbun salju, indah tetapi juga dingin dan tersembunyi. Matanya tajam dan dalam membuat setiap orang yang menatapnya akan tenggelam jauh tetapi tidak pernah sampai hingga ke dasar. Kulitnya putih sedikit kecoklatan menandakan ia bukan orang yang hanya berdiam diri di dalam rumahnya menambahkan kesan lelaki kuat dan perkasa.


Sedangkan YanLi, tidak banyak orang yang tau seperti apa rupanya. Mereka hanya mendengar bahwa YanLi adalah putri tercantik kerajaan Zhou. Kulitnya selembut sutra, seputih salju. Matanya indah seperti bunga begonia malam yang selalu memancarkan cahaya ketulusan dan kelembutan hatinya. Suaranya indah dan menenagkan seperti suara musik yang paling indah di dunia karena itu YanLi mendapatkan julukan Keindahan Musim Semi di tempat asalnya. Mendengar tentang Musim Semi, semua orang bisa membayangkan keindahan kuncup bunga yang bermekaran di hari pertamanya. Wangi semerbak bunga dan buah yang manis. Sangat menggoda. Dan dari beberapa orang yang pernah bertemu dengan YanLi atau dari pelayan istana, argumen mereka semakin kuat tak terbantahkan. Permaisuri Xuan yang kecantikannya bahkan tidak bisa dibayangkan.


"Permaisuri, ayo diminum." Yunniang menyerahkan mangkuk di atas nampan kepada Yuan.


"Apakah tidak ada obat yang lebih baik dari itu?" Yuan menatap mangkuk berisi cairan berwarna gelap itu tanpa minat.


"Permaisuri, anda harus meminumnya. Ini untuk kebaikan calon penerus dinasti," bujuk Jingli yang berdiri di belakang Yunniang.


"Aku akan mati jika terus meminumnya! Itu terlalu pahit." Yuan tetap menolak untuk mengambil mangkuk kecil itu dari atas nampan. Ia sudah muak meminumnya selama tiga bulan ini.


Jingli dan Yunniang saling berpandangan. Kedua pelayan itu nampaknya mulai frustrasi membujuk permaisuri mereka.


"Bagaimana jika aku membawakan beberapa manisan?" tawar Jingli.


Yuan ragu tetapi tidak langsung mengiyakan.


"Permaisuri, ramuan ini dibuat khusus untukmu atas permintaan Ibu Suri. Beliau akan kecewa jika anda tidak meminumnya," ujar Yunniang mulai mengeluarkan kartu AS kedua.


"Tapi---"


"Tidak akan pahit. Begitu anda meminumnya, segera makan manisan ini." Jingli memberikan sekotak manisan buah ke tangan Yuan.


Yuan menghela napas pasrah. Tangannya mulai mengambil mangkuk obat itu perlahan. Menguatkan hati sebelum akhirnya langsung meminum obat itu dengan sekali tegukan. Dahinya mengernyit saat rasa pahit itu menyelimuti seluruh rongga mulutnya.


Yuan segera membuka kotak manisan dan memakannya.


Yunniang dengan sigap mengambil kembali mangkuk kecil itu dari tangan Yuan.


"Baiklah, sudah selesai," ujar Yunniang berpuas hati.


"Permaisuri, beristirahatlah. Hamba akan memasak beberapa makanan sehat untukmu." Yunniang beralih menatap Jingli dan mengangguk padanya.


Setelah Yunniang keluar, Jingli duduk di bawah ranjang memberikan pijatan ringan pada kaki Yuan. Ini sudah menjadi kebiasaannya sejak satu bulan kehamilan Yuan.


"Cukup. Kalian semua sudah bekerja keras belakangan ini." Yuan menarik tangan Jingli agar berdiri.


"Tidak apa, ini adalah kewajibanku untuk melayani Permaisuri."


"Aku tau, aku tahu. Kalau begitu lakukan hal lain saja."


"Permaisuri membutuhkan sesuatu?"


"Aku ingin makan buah biwa."


"Baik, akan kuambilkan. Tunggu sebentar." Jingli segera berlari kecil keluar kamar Yuan.


Yuan memandang bosan kamarnya. Di luar istana, para pelayan, kasim dan lain-lain sedang sibuk mempersiapkan perjamuan yang ditunjukkan untuknya. Acara itu juga mengundang seluruh masyarakat untuk memberikan doa kepada Yuan dan bayinya.


Sebuah kesempatan emas bagi semua masyarakat yang dari dulu bertanya-tanya bagaimana rupa permaisuri mereka. Pada kesempatan ini mereka dapat melihat wajah Keindahan Musim Semi itu secara langsung.


Yuan menatap perutnya yang sudah mulai membuncit itu, mengusapnya pelan sambil tersenyum.


Suara langkah kaki terdengar masuk ke telinganya, Yuan mengangkat wajahnya dan tersenyum pada orang yang baru saja masuk.


"Hua'er sudah datang."


Gadis yang disapa itu tersenyum juga. Dengan langkah gembira mendekati kakak iparnya.


"Bagaimana keadaan Kakak?"


"Cukup baik. Bagaimana denganmu?"


Youhua menghela napas pelan dan menjawab, "Tidak lebih baik dari terakhir kali kita bertemu. Ibu tidak mengizinkanku pergi ke manapun. Jika saja tidak ada acara ini, aku pikir Ibu benar-benar akan memenjarakan aku di istana sampai kami menikah," adunya sedikit bermanja.


"Kamu sudah mengenal calon suamimu?"


"Membosankan!"


Yuan tertawa kecil seraya mengusap lembut puncak kepala Youhua. "Jadi apa kriteria suami Hua'er kami?"


Youhua berpikir sebentar sebelum menjawab, "Tidak tau. Aku bahkan belum berpikir untuk menikah."


Yuan baru akan saja akan mengatakan sesuatu saat seseorang yang lain masuk ke kamarnya.


"Siapa kamu? Mengapa masuk tanpa izin?" tanya Youhua menatap tajam orang itu.


"Xiao Li, siapa orang aneh ini?"


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...