My Devil Emperor

My Devil Emperor
Keputusan Pengadilan



Situasi di ruang persidangan itu terlihat gempar. Siapa yang menyangka Perdana Menteri Qiu memiliki ambisi yang sebesar itu.


ZiXuan tertawa. "Perdana Menteri Qiu, persiapanmu boleh juga."


"Yang Mulia, Yang Mulia, ini fitnah. Ini tidak benar. Hanya sebuah perkataan dari pelayan rendahan, bagaimana itu dapat dipercaya? Semua orang yang tidak menyukai keluarga kami dapat melakukannya."


"Tapi—saya memiliki satu buah bukti. Tidak tahu apakah itu bisa menjadi pertimbangan kasus ini," ujarnya sedikit ragu.


ZiXuan menaikkan alisnya. Dia melirik Li Wei, memberinya kode agar mendekati pelayan itu.


"Berikan padaku," kata Li Wei yang sudah berada di depan Xiao Tao.


"Kamu berani!" seru Qiu Ying menatapnya tajam.


Xiao Tao hanya meliriknya sekilas kemudian mengambil sesuatu dari lengan bajunya. Dengan tangan gemetar, dia memberikan sebuah gulungan kertas pada Li Wei.


Pria itu menerimanya. Dia berbalik dan berjalan mendekati Kaisar Xuan. "Yang Mulia," katanya sambil menyodorkan kertas tersebut.


ZiXuan mengambilnya dan membuka gulungan itu. Tidak ada perubahan ekspresi yang signifikan di wajahnya, tetapi dia tersenyum miring.


Kaisar Xuan memberikan gulungan itu pada seorang kasim yang berdiri tak jauh darinya dan berkata, "Bacakan dengan jelas."


"Xiao Tao, aku berharap kamu dapat menyelesaikan tugas ini. Tidak perlu membahayakan diri sendiri, kamu hanya perlu membuat Jenderal kerajaan Wei dan penjaga yang berada di tandu Putri kerajaan Wei menjauh beberapa saat. Setelah itu, biarkan saja. Kamu cepat kembali," katanya membacakan.


"Gadis ini berani juga ya!"


"Memperdaya Kaisar, ini pasti akhir dari keluarga Qiu!"


"Ayah dan anak sama saja!"


Suara bisikan itu terdengar dari beberapa orang.


ZiXuan membuang napas panjang dan mengangkat wajahnya. "Tuan Qiu Lang, kami tidak bisa membantu lagi. Leluhur keluarga Qin akan tetap berjasa pada kekaisaran tetapi keturunannya berencana melakukan pemberontakan! Perdana Menteri Qiu Lang diturunkan dari jabatan. Putrinya, Qiu Ying telah melakukan percobaan pembunuhan pada Permaisuri Kekaisaran, Menggagalkan pernikahan perdamaian antara Kekaisaran Qin dan Kerajaan Wei, Merugikan beberapa pihak. Karena ini semua keluarga Qiu harus dihapus! Eksekusi semua orang yang terlibat! Tulis dekritnya," ujar ZiXuan melirik kasim yang tadi membacakan surat.


Qiu Lang jatuh terduduk. Dia menatap kosong ke depan.


Nyonya Qiu memeluk suaminya dan mulai menangis. Mendengar suara tangisan itu membuatnya sedikit tersadar. Dia kembali mendongak menatap ZiXuan dan menangkupkan kedua tangannya. "Yang Mulia, tolong berbelas kasihlah. Hamba menerima semua hukuman ini, tetapi bisakah anda melepaskan anak dan istri saya?"


"Jika aku hanya melepaskan anak dan istrimu, bukankah ini tidak adil untuk keluargamu yang lain? Karena kesalahan satu orang, semuanya mendapatkan lumpur. Seseorang yang bersalah harus tetap dihukum, terlebih kesalahan yang dibuatnya adalah sebuah kesalahan fatal. Kekaisaran tidak bisa memaafkannya. Sidang selesai!" ZiXuan berdiri dan berjalan keluar.


"Yang Mulia! Yang Mulia! Berikan keringanan pada kami!"


ZiXuan terus berjalan tanpa menghiraukan teriakan itu. Sebelum benar-benar menghilang dari sana, dia berhenti di samping Li Wei dan membisikkan sesuatu.


"Baik, Yang Mulia."


***


"Jenderal Li, bagaimana dengan keluargaku? Yang Mulia—Yang Mulia akan menepati janjinya, kan? Ke mana anda akan membawa saya?" Xiao Tao bertanya sambil terus mengikuti langkah Li Wei di belakang pria itu.


"Nanti anda juga akan tahu," jawab Li Wei singkat.


Xiao Tao meremas tangannya yang sudah berkeringat.


Li Wei melirik pelayan itu dan tersenyum miring. "Ada apa? Mengapa anda terlihat begitu tertekan? Jika tidak melakukan sebuah kesalahan, maka tenang saja. Yang Mulia orang yang dapat memegang janjinya," ujarnya.


Xiao Tao mengangkat wajahnya agak terkejut. "Jadi—jadi kita akan menghadap Yang Mulia?" tanyanya terbata.


Li Wei tidak menjawab. Sebaliknya, dia berjalan semakin cepat.


Xiao Tao tidak memiliki pilihan apapun selain mengikutinya. Ingin melarikan diri juga bukan hal yang mudah.


Li Wei membawa Xiao Tao ke wilayah paling belakang istana. Bagian yang sangat jarang di kunjungi, terletak dekat dengan istana dingin.


"Yang Mulia, hamba sudah membawanya."


Di tempat lain, Yuan baru saja selesai membersihkan dirinya.


"Saudari, apa berita itu benar?"


"Benar! Ketika aku melewati dapur istana, para pelayan membicarakannya."


"Aku sudah merasakan bahwa Nona Ying itu memang tidak menyukai Permaisuri Xuan, tetapi tidak pernah menduga dia akan melakukan hal seperti ini! Untunglah dia sudah mendapatkan hukuman yang tepat!"


Yuan mengernyit bingung saat mendengar percakapan antara Jingli dan Yunniang yang membelakanginya itu. "Apa yang benar? Siapa yang dihukum? Apa hubungannya dengan Nona Ying?" tanyanya bertubi-tubi yang membuat kedua pelayan terkejut.


Jingli dan Yunniang berbalik bersamaan dan menunduk. "Ah itu. Tidak ada apa-apa, Permaisuri. Apakah Anda ingin sarapan sekarang? Hamba akan mempersiapkannya," jawab Yunniang bereaksi cepat.


Yuan menatap kedua perempuan itu dengan curiga. "Kalian katakan!" ujarnya mendesak.


Keduanya masih tampak ragu untuk membuka suara.


Jingli menelan salivanya dan melirik Yunniang. Wanita itu mengangguk pelan padanya.


"Permaisuri, insiden kemarin malam, seseorang yang mencoba menyerangmu adalah pelayan Nona Ying, Xiao Tao," jawab Jingli berhati-hati.


Yuan terlihat semakin bingung. "Yang kamu ucapkan ini, apakah benar?"


Jingli mengangguk cepat. "Kakak Yunniang yang mendengarnya langsung dari beberapa pelayan dapur istana pagi ini."


"Itu bisa saja hanya rumor."


"Itu tidak mungkin, Permaisuri. Hamba juga mendengar bahwa semua keluarga Qin akan dieksekusi siang ini. Bagaimanapun, mencoba membunuh Permaisuri Kekaisaran adalah kesalahan yang sangat besar. Tidak heran juga keluarganya akan terkena imbas." Kali ini, Yunnianglah yang berbicara.


Yuan terdiam sebentar sebelun tiba-tiba berjalan keluar pintu.


"Yang Mulia, ke mana anda akan pergi?"


"Mencari Kaisar Xuan. Kalian tidak perlu menemaniku," jawab Yuan tanpa menoleh.


Langkah kakinya cepat dan seimbang. Gadis itu kini sudah berada di depan Istana Qin. Dia langsung masuk tanpa mempedulikan penjaga pintu yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu.


Kosong. Tidak ada siapapun di ruangan itu. "Ke mana dia pergi?" pikirnya.


Yuan kembali keluar dan langsung bertanya pada kedua penjaga itu. "Ke mana Yang Mulia pergi?"


"Yang Mulia pagi ini sudah pergi ke ruang persidangan dan belum kembali sampai saat ini, Permaisuri."


Yuan menghela napas pelan. "Jika sudah kembali, tolong beritahu Yang Mulia bahwa aku mencarinya."


"Baik."


Yuan pergi dari sana, tetapi tidak berniat langsung kembali ke istananya. Dia masih berusaha mencari dan menanyai beberapa pelayan atau penjaga yang dilewatinya.


"Apa kamu melihat Yang Mulia hari ini?" tanyanya yang kesekian kali pada pelayan ke 13 yang dia lewati.


Pelayan itu menunduk dan berkata, "Hamba melihatnya. Sepertinya Yang Mulia Kaisar pergi ke bagian istana paling belakang."


Mendengar itu, mata seindah bunga persiknya berbinar. "Terima kasih!" kata Yuan dan melenggang pergi.


Dia kembali berjalan cepat menuju tempat yang dikatakan pelayan tadi dengan senyuman puas di bibirnya.


Langkah kakinya melambat ketika telinganya menangkap sebuah percakapan.


"Yang Mulia, Hamba sudah membawanya," ujar suara yang terdengar familiar itu.


Matanya perlahan menangkap sebuah figur yang sangat dia kenali.


Sosok tinggi dengan mahkota di kepalanya itu perlahan berbalik. Pria menatap datar pada gadis di depannya.


"Hamba memberikan salam kepada Yang Mulia Kaisar," ucap pelayan itu pelan. "Yang Mulia, hamba sudah melakukan apa yang diperintahkan Yang Mulia. Dapatkan anda membiarkan saya dan keluarga saya pergi dari ibukota? Yang Mulia jangan khawatir, hal ini tidak akan ada yang mengetahuinya. Hamba akan menyimpannya sampai akhir hayat," lanjutnya menjelaskan.


ZiXuan menaikkan alisnya. "Ucapanmu ini, mengapa saya mendengarnya seperti sebuah ancaman?"


Xiao Tao menggeleng cepat. "Hamba tidak berani," katanya.


"Tidak berani? Lalu apa yang anda lakukan kemarin? Bukankah itu termasuk berani?" tanyanya menyindir.


"Yang Mulia, Yang Mulia, tolong dengarkan penjelasan hamba."


"Anda katakan."


"Malam itu, hamba—hamba memang sengaja melakukannya, tetapi hamba tidak berniat menyakiti Permaisuri Xuan. Hamba melakukannya untuk membuat sandiwara ini terlihat nyata. Yang Mulia, hamba berkata jujur," ujarnya menjelaskan.


ZiXuan mendengus kesal. "Tetap saja anda melukainya. Selain itu, apakah anda pikir saya tidak tau apa yang anda rencanakan? Jika anda meragukanku, lalu mengapa tetap bertanya tentang kesepakatan kita? Apakah anda layak?"


"Yang Mulia, Yang Mulia, anda sudah berjanji padaku!" Xiao Tao menatapnya penuh harap.


"Saya memang berjanji, tetapi anda juga tidak melakukannya dengan benar. Mengapa saya harus menepati janji saya sekarang? Selain itu, seperti keluarga Qin, apakah melepaskanmu sekarang, tidak akan menjadi masalah di masa depan pada kekaisaran ini?"


"Yang Mulia, anda—" Ucapannya terhenti ketika Xiao Tao merasakan sesuatu yang dingin menusuknya. Dia menunduk dan melihat sebuah pedang yang sudah menembus perutnya itu berlumuran darah.


ZiXuan menatap datar pengawal kerajaan yang berdiri di belakang Xiao Tao dengan pedang di tangannya. "Apakah kamu akan terus bersembunyi di sana?" tanyanya menoleh ke belakang.


Gadis itu keluar dari tempat persembunyiannya. "Aku hanya lewat saja. Tidak melihat apapun. Yang Mulia, aku akan pergi," tanpa menunggu jawaban dari pria yang berdiri jauh darinya itu, dia segera berbalik dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu.


"Yang Mulia."


ZiXuan tersenyum tipis dan menggeleng. "Tidak masalah. Wanitaku, aku bisa mengurusnya sendiri. Cepat bersihkan tempat ini!"


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...