My Devil Emperor

My Devil Emperor
Konspirasi



"Yang Mulia, apakah anda membutuhkan sesuatu?" Seorang pelayan datang dan membungkukkan badan dengan sopan di depan Kaisar Xuan.


ZiXuan meliriknya sekilas, kemudian kembali fokus pada papan catur di depannya.


"Anda bisa bermain catur?"


Pelayan itu menggeleng pelan. Kepalanya tetap menunduk, tidak berani menatap orang di depannya.


"Benar juga, orang seperti anda biasanya hanya bisa dijadikan sebagai pion oleh tuannya saja."


Walaupun masih tidak mengerti dengan tujuan Kaisar Xuan yang memanggilnya ke sini, pelayan itu dapat merasakan bahwa mungkin ini tidak akan baik.


"Saudara Li, kamu saja yang bermain denganku."


"Baik." Li Wei segera duduk di hadapan ZiXuan dan menemaninya bermain catur.


"Saudara, menurutmu apakah pelayan pribadi permaisuri dapat memainkan catur?"


Li Wei mengangkat wajahnya, mengernyitkan kening, bingung. "Yang anda maksud..."


"Mn, siapa itu? Yunlang? Yue Nian?"


"Maksudnya Yunniang?" tanya Li Wei mengoreksi.


"Ah, itu dia."


"Hamba tidak yakin. Tetapi mengapa Yang Mulia menyebutnya hari ini?"


"Kemarin saya menemui Permaisuri Xuan, dia tidak bisa tidur. Saya baru saja akan memberinya beberapa saran, tetapi pelayannya sudah lebih dulu menemukan solusinya. Apa anda juga tahu sesuatu yang dapat membuat seseorang tidur dengan nyenyak?" ZiXuan menolehkan kepalanya, menatap pelayan yang sedari tadi berdiri di depannya itu.


"Ini, hamba tidak tahu, Yang Mulia," jawabnya setenang mungkin.


"Bagaimana denganmu, Saudara?"


"Itu bukan bidang saya. Tetapi terkadang wanita memang lebih mengetahui tentang hal-hal seperti itu. Tetapi—" Li Wei menatap ZiXuan tidak yakin.


"Sudahlah. Mari membahas yang lain. Saudara, menurutmu seberapa dekat hubungan antara Permaisuri Xuan dan pelayan pribadinya?"


"Perempuan bisa menceritakan apapun kepada teman perempuannya, terlebih jika mereka sudah saling mengenal sejak kecil. Kupikir Permaisuri pasti juga berbagi rahasia dengan pelayan pribadinya. Lebih tepatnya, Nona Jingli mungkin mengetahui beberapa rahasia Permaisuri Xuan. Tetapi Nona Yunniang itu, dia adalah pelayan baru di Istana Teratai Putih. Jadi, Permaisuri Xuan mungkin belum terlalu terbuka padanya," jawab Li Wei menganalisa. "Itu mungkin tidak berbeda jauh seperti hubungan antara hamba dan Yang Mulia juga," lanjutnya.


ZiXuan mengangguk-angguk pelan. "Bagaimana denganmu? Bukankah anda sudah bersama dengan tuanmu sejak kecil? Apakah dia memperlakukanmu dengan baik?" tanyanya kembali menatap pelayan itu.


"Itu benar. Nona muda memperlakukanku dengan baik."


"Semua yang dia lakukan, anda pasti mengetahuinya juga kan? Mungkin juga, anda membantunya."


Pelayan itu semakin menundukkan kepalanya. Dia bahkan mulai meremas jari-jemarinya yang berkeringat.


"Bagaimana? Apa tebakanku benar?"


"Hamba tidak mengerti, Yang Mulia."


ZiXuan tertawa kecil. "Jika tidak mengerti juga tak apa. Jawab saja yang anda tahu. Hari itu, seseorang yang mencoba melukai permaisuriku adalah dia kan? Nonamu, Qiu Ying?"


Mendengar ucapan ZiXuan, raut wajah pelayan itu menegang. "Hamba tidak tahu, Yang Mulia."


"Anda tahu hukuman untuk seseorang yang berani berbohong pada kaisar? Dapatkah anda menanggungnya?" tanya ZiXuan pelan. Matanya terfokus memindahkan pion pada bidak catur di depannya. "Mencoba menutupi kesalahannya, apakah itu sepadan?" lanjutnya.


ZiXuan membuang napas kasar. "Bodoh. Mari kita ganti cara bermainnya. Karena dia sangat menginginkan kematian Permaisuri Xuan, mengapa anda tidak membantunya?"


***


Pelayan itu menunduk dengan wajah yang terlihat pucat pasi. "Hamba, mengerti," ucapnya. Dia melangkah mundur sebelum akhirnya berbalik dan pergi dari sana.


"Yang Mulia, apakah ini akan berhasil?" tanya Li Wei sangsi. Dia paham betul apa yang dipikirkan pria itu.


"Kenapa? Kamu meragukanku?"


Li Wei menggeleng dan berkata, "Tidak, tetapi ini terlalu beresiko. Kita tidak tau apakah pelayan itu benar-benar melakukannya sesuai perintahmu. Terlebih lagi, kamu menjadikan per—"


Li Wei terlihat gusar. Dia tentu saja tahu tidak dapat mengubah pendirian ZiXuan. "Tidakkah kamu terlalu kejam?"


"Memangnya kapan aku tidak kejam?"


"Yang Mulia, tetapi dia adalah—"


"Saudara, mari kita ganti pembicaraan ini. Menurutmu, bagaimana tentang YuNian itu?" tanya ZiXuan kembali memotong pembicaraan pria itu.


Li Wei mendengus kesal. "Dia akan marah padamu. Mengenai Yunniang ini juga tidak pasti. Bukankah dia pernah bekerja di istana Selir Agung Zhu? Bisa jadi mempelajarinya dari sana."


"Sebelumnya, aku sudah bertanya pada Ibu Selir Zhu dan dia berkata selama pelayan itu berkerja di istananya, pelayan itu benar-benar tidak bisa melakukan apapun. Selalu membuat kesalahan. Tetapi karena Ibu Selir merasa kasihan padanya, dia tetap mempertahankannya. Juga tidak mungkin memindahkan si Yun itu di tempat lain," katanya bercerita.


Li Wei mengangguk pelan. "Memang agak mencurigakan."


"Kedepannya, kamu lebih perhatikan dia."


Pria itu tersenyum menggoda dan berkata, "Yang Mulia jangan khawatir, saya pasti akan mengawasinya dan memastikan keselamatan Yang Mulia Permaisuri Xuan."


"Omong kosong!"


***


Matahari sudah terbenam di ufuk barat. Lentera terpasang pada beberapa tempat. Meskipun sudah larut malam, tidak membuat aktivitas di istana serta merta berhenti. Pergantian penjaga pun dilakukan setiap jamnya.


"Yang Mulia, hamba lupa bertanya. Bagaimana tidurmu kemarin malam? Apakah tanamannya efektif?"


Yuan tersenyum dan mengangguk. "Sangat baik. Kamu melakukannya dengan sangat baik."


"Syukurlah. Hamba berharap Yang Mulia Permaisuri dapat istirahat dengan baik dan segera pulih."


"Aku mengingatnya. Yunniang, buatlah dirimu nyaman di sini."


"Saudari Yunniang, kamu hebat! Aku harus lebih banyak belajar darimu juga!"


"Baiklah. Kalian berdua bisa pergi sekarang. Beristirahatlah."


"Baik."


Setelah kepergian kedua pelayan pribadinya itu, Yuan menarik napas panjang. Walaupun tidak melakukan pekerjaan yang berat seminggu terakhir ini, dia tetap merasa sangat lelah.


Perlahan, Yuan membaringkan badan. Dia menarik selimut menutupi seluruh tubuh terkecuali kepalanya dan mulai memejamkan mata.


Ketika sudah akan benar-benar terlelap, Yuan merasa sesuatu menutupi pandangannya. Dia lantas kembali membuka mata dan terkejut.


Itu terjadi sangat cepat, tetapi Yuan memiliki refleks yang lebih cepat.


Dia merintih kesakitan, dan satu tetesan jatuh di wajahnya. Yuan menepis tangan di depannya itu dan berteriak, "Siapa anda!"


Orang itu memakai penutup wajah. Merasa rencananya gagal, orang itu langsung melarikan diri.


Yuan menarik jubah panjang dan segera memakainya untuk menutupi baju tidur yang dia pakai. Gadis itu dengan cepat berlari menyusul pembunuh itu. Dia mengejarnya sampai keluar dari wilayah harem.


"Yang Mulia, apa yang terjadi?"


Yuan menoleh dan mendapati seorang kasim bersama dengan beberapa prajurit yang bertugas dan beberapa pelayan berjalan tergesa-gesa ke arahnya.


Gadis itu segera menunjuk bayangan yang hampir hilang dan berkata, "Tangkap pembunuh itu sekarang!"


Mendengar apa yang diucapkan Permaisuri Xuan, prajurit itu segera mengejar ke arah yang ditunjuk.


Yuan menekan dadanya. Napas gadis itu terdengar memburu.


"Permaisuri, anda terluka! Cepat panggil tabib istana!" perintah kasim itu panik saat menyadari ada cairan merah pekat yang mengalir dari kedua telapak tangan Yuan.


"Xiao Li, apa yang terjadi padamu?"


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...