My Devil Emperor

My Devil Emperor
Attempted Assassination



Suasana di dalam kereta kuda itu hening. Terlihat seorang wanita mendongak menatap pria di sampingnya.


"Mengapa tiba-tiba bertanya begitu? Aku rasa kamu benar-benar menganggap Putri Rong sebagai saingan cintamu."


"Omong kosong! Aku hanya bertanya. Jika saudara tidak mau menjawab, lupakan saja!"


ZiXuan tertawa dan bergumam, "Permaisuriku sangat pemarah. Siapa wanita yang bisa menandingimu? Dia juga tidak bisa."


Yuan menyipitkan matanya. "Benarkah?"


ZiXuan hanya mengangguk tanpa menatap gadis di sampingnya.


"Saudara, tapi Putri Liang itu sepertinya sangat menyukaimu. Kamu tidak tertarik padanya?"


ZiXuan mengerutkan keningnya dan menoleh. "Xiao Li, kamu terlalu banyak bertanya."


Yuan mencebikkan bibirnya dan mendengus kesal. "Saudara kamu sangat aneh. Terkadang baik, terkadang kejam. Aku tidak berbicara padamu lagi!"


***


"Kenapa? Kamu bosan?"


Yuan menghela napas panjang. Dia tidak menjawab dan tetap mengikuti langkah kaki ZiXuan di depannya.


Sudah setengah jam dia hanya memperhatikan pria itu yang tampak fokus membidik hewan buruan.


"Yang Mulia, teknik memanahmu sangat hebat. Bisakah kamu mengajariku?"


ZiXuan menoleh dan mendapati Liang Rong yang sudah berada di sampingnya dengan mata berbinar.


"Kamu ingin belajar?"


Liang Rong mengangguk antusias.


"Baiklah."


Yuan mendengus kesal. Dia menghentakkan kaki dan berjalan cepat di antara ZiXuan dan Liang Rong, membuat jarak di antara keduanya.


"Kamu ingin ke mana?" tanya ZiXuan sambil menahan pergelangan tangan istrinya.


"Seperti tebakanmu, aku bosan. Ingin mencoba belajar memanah secara otodidak daripada meminta suami orang untuk mengajariku. Bagaimanapun seorang wanita harus memiliki harga diri."


Sindiran itu jelas sekali ditunjukkan untuk Putri Liang.


"Kamu sudah memiliki suami. Lalu minta saja suamimu untuk mengajarimu," ujar ZiXuan dengan senyum yang tertahan di bibirnya.


"Lupakan saja. Dia lebih tertarik dengan bunga lain. Semua pria memang seperti itu."


ZiXuan benar-benar tidak bisa menahan tawanya. Itu membuat semua orang yang berada di sana terpana, terkecuali Yuan.


"Suamimu tidak seperti itu. Mari aku ajari."


Yuan menggeleng. "Tidak perlu. Aku terbiasa untuk berusaha terlebih dahulu sebelum meminta seseorang mengajariku. Aku bukan perempuan yang manja. Tidak merepotkan Yang Mulia," katanya penuh penekanan. Dia melepaskan tangan ZiXuan dan segera pergi diikuti Jingli dan Yunniang di belakangnya.


ZiXuan tersenyum samar sambil menggelengkan kepalanya pelan. Dia beralih menatap kembali Liang Rong. "Masih ingin belajar?"


Walaupun ragu dan dengan wajah yang sedikit memerah, Liang Rong menjawab, "Jika Yang Mulia tidak keberatan."


"Sepertinya saya keberatan. Juga, saya tidak menyukai bunga lain. Pergi saja jika kamu hanya mengganggu konsentrasiku." Setelah berkata demikian, tanpa perasaan ZiXuan kembali berjalan mencari hewan yang bisa dia bidik.


Ditolak secara terang-terangan jelas membuat Liang Rong sakit hati. Tetapi entah karena dia terlalu mencintai pria di depannya ini atau dia sangat terobsesi dengan ZiXuan, membuatnya hanya bisa terdiam dan kembali mengikuti langkah kaki pria itu tanpa suara.


"Tuan Putri, anda baik-baik saja?" bisik An Hui.


Liang Rong menoleh dan menggeleng. "Aku baik-baik saja."


"Yang Mulia ini terlalu kejam. Padahal dia sudah menyetujuinya di awal."


"Jangan dibahas lagi. Omong-omong aku baru menyadarinya, di mana Ying'er?"


"Ah, saya juga tidak melihatnya."


***


Yuan memicingkan matanya dengan anak panah yang siap dilepaskan.


"Ah, itu hampir kena," katanya mendesah kecewa saat panah yang dia lepaskan meleset.


"Saya berpikir, itu sudah cukup bagus untuk seorang pemula," ujar Yunniang memuji.


"Yunniang, semua orang tau kamu pandai memuji orang! Tembakkanku jelas sangat buruk."


"Saya juga setuju dengan apa yang dikatakan Saudari Niang. Permaisuri, anda sudah melakukannya dengan baik."


Yuan tertawa pelan dan berkata, "Baiklah. Aku sudah melakukannya dengan baik. Saudari, tolong ambilkan anak panahnya."


"Baik."


"Ah? Itu, saya pikir saya mendengar sesuatu," jawabnya pelan.


Mendengar itu, Yuan juga terdiam sesaat dan menajamkan indera pendengarannya.


"Ah, itu mungkin suara beberapa hewan yang melarikan diri."


"Tidak. Ini— Yang Mulia, hati-hati!"


Belum mengerti apa yang terjadi, sesuatu yang terasa dingin seperti mengiris lengan atasnya bersamaan dengan tarikan yang kuat membuat tubuhnya terjatuh.


Jingli yang mendengar keributan itu segera menoleh untuk memastikan situasi di belakangnya. Dia terbelalak dan segera berlari menghampiri Yuan dan Yunniang yang sudah terjatuh di tanah.


"Permaisuri, kamu baik-baik saja?" Pertanyaan itu keluar dari bibir Yunniang.


Yuan meringis melihat luka di lengannya kemudian beralih menatap Yunniang dan terkejut. "Yunniang, bagaimana kamu bisa menanyakan aku baik-baik saja? Coba lihat dirimu! Kamu juga terluka!" ujar Yuan khawatir.


Selain menyelamatkan Yuan dari anak panah yang entah dari mana itu, dia jua menahan kepala Yuan dari benturan batu yang cukup tajam. Alhasil batu itu menusuk tangannya. Ini terlihat lebih parah dari luka yang didapatkan Yuan.


"Permaisuri, anda baik-baik saja?" Jingli bersimpuh antara Yuan dan Yunniang.


"Jangan khawatirkan aku. Kamu cepat bantu aku menutup lukanya," ujar Yuan seraya memberikan saputangannya apda Jingli.


Gadis itu segera beralih menatap Yunniang. Dia dengan teliti membalut luka itu.


"Xiao Li!"


Yuan menoleh tatkala mendengar suara yang sudah tak asing di telinganya itu.


ZiXuan berjalan cepat menghampiri Yuan. "Ini, apa yang terjadi?"


"Seseorang ingin melukai Permaisuri, Yang Mulia," ucap Jingli menjawab.


Li Wei segera menelusuri tempat kejadian sedangkan ZiXuan menatap lengan kanan Yuan dalam diam.


"Jangan bergerak!" katanya saat melihat Yuan hendak berdiri.


Yuan menatap bingung pria itu. Lalu dia mengikuti arah pandangnya. "Ah, ini tidak apa-apa. Hanya luka kecil. Yang Mulia, bisakah kita kembali dulu? Luka Yunniang harus segera diobati, kan? Aku juga akan mengobati lukaku."


"Yang Mulia," panggil Li Wei sambil menyerahkan anak panah di tangannya.


ZiXuan hanya memandangnya, kemudian beralih menatap Li Wei.


"Tanpa terkecuali, semuanya berbalik!" ucap Li Wei yang langsung dipatuhi.


Yuan memgerjapkan matanya. "Ini— Yang Mulia, apa yang ingin kamu lakukan!" serunya terkejut saat tanpa aba-aba, pria itu menahannya dan menurunkan baju dari bahunya.


ZiXuan berdecak kesal dan menatap tajam gadis itu. "Sudah kubilang jangan bergerak," ujarnya. Dia menatap luka yang terbuka itu dan menyentuhnya.


Yuan meringis dan refleks menarik dirinya. "Saudara, jangan menyentuhnya. Itu sakit!"


"Apa yang kamu rasakan?" tanya ZiXuan tanpa mempedulikan keluhan gadis di depannya itu.


"Sakit! Itu juga terasa panas."


ZiXuan terdiam selama beberapa saat. Dia merapikan kembali baju Yuan dan menoleh pada Li Wei. "Siapkan kereta. Aku akan kembali duluan," ujarnya.


"Baik, Yang Mulia."


ZiXuan meletakkan satu tangannya di bawah lutut Yuan dan tangan lain di punggung gadis itu.


"Yang Mulia, ini tidak perlu. Aku— aku bisa berjalan sendiri. Yang luka hanya tanganku," tolak Yuan pelan.


"Kalau begitu kamu berdiri." ZiXuan kembali menarik tangannya dan menatap Yuan, menantang.


Tiba-tiba, mata indahnya terbuka sempurna. "Aku—aku tidak bisa bergerak?" katanya pelan.


"Permaisuri— Yang Mulia, apakah permaisuri baik-baik saja?" tanya Jingli khawatir.


ZiXuan kembali berjongkok di depan gadis itu. "Panahnya beracun. Itulah mengapa kamu tidak bisa bergerak."


"Aku—" Yuan memejamkan matanya. Dahinya berkerut dengan keringat yang mulai membasahi.


"Jangan tertidur!" ZiXuan segera mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya.


"Saudara, aku lelah. Bisakah aku tertidur sebentar?"


"Kamu tidak boleh!"


ZiXuan merasakan hembusan napas gadis itu semakin berat. Dia sesekali meliriknya tanpa memperlambat langkahnya.


"Xiao Li, jika kamu tertidur, aku akan menjatuhkanmu!" katanya mengancam.


"Saudara, kamu jahat sekali! Tapi aku menyukaimu."


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...