My Devil Emperor

My Devil Emperor
My Lil Wife



"Yang—Yang Mulia."


"Apa yang kamu lakukan malam-malam di kamarku? Ingin menggodaku?"


Mendengar itu, Yuan yang semula merasa tertekan menatapnya sinis. "Aku? Ingin menggodamu? Yang Mulia, anda terlalu percaya diri!"


"Lalu? Mengapa masuk ke kamarku seperti pencuri?"


"Siapa yang seperti pencuri? Aku sudah memanggilmu, tetapi begitu melihatmu tertidur itu, aku yang berhati lembut ini tega membuat keributan."


"Dan menatap wajahku dengan serius seperti tadi?"


"Aku—" Yuan berhenti bicara dan mendengus. Dia membuang mukanya sambil berkata, "Minggir!"


Merasa tidak ada pergerakan dari orang di atasnya, Yuan menoleh dan menatap kesal wajah ZiXuan.


Ternyata begitu dekat. Hidung mereka bahkan saling bersentuhan. Tetapi karena gadis itu sedang marah, dia sepertinya tidak memperhatikan.


Tangannya terulur dan mendorong ZiXuan menjauh, tetapi tidak membuahkan hasil.


Melihat kekesalan di wajah cantik itu, ZiXuan tertawa pelan dan menjentikkan jarinya di dahi Yuan. "Katakan, mengapa kamu ke sini?" tanyanya seraya bangun.


"Saya istrimu, apakah saya tidak dapat ke sini?"


"Tidak, tidak perlu. Istriku, kamu bisa datang kapanmu kamu mau."


Yuan bergidik ngeri mendengar panggilan itu. Dia merasa tidak terbiasa. "Jangan memanggilku begitu!"


"Kami adalah pasangan suami dan istri, memang harus ada panggilan khusus, bukan? Kamu ingat, saya bukan saudaramu."


"Perjanjian!" ucap Yuan mengingatkan.


"Saya berubah pikiran. Bukankah kamu menyukaiku? Aku juga menyukaimu, mari menjadi pasangan suami dan istri yang sesungguhnya," ujar ZiXuan dengan wajah tampan yang terlihat sangat polos.


Yuan segera berdiri dan melangkah mundur. "Saudara, kamu demam!"


"Oh? Lalu, bagaimana jika kamu memeriksaku dulu?"


Yuan tidak sempat mengelak ketika tangan ZiXuan menarik tangannya.


Dia berputar sebelum jatuh ke pangkuan pria itu.


Gadis itu ingin segera berdiri, tetapi gerakannya tertahan karena sepasang lengan yang kuat itu melingkari pinggangnya.


"Ayo, lihat! Apakah aku demam?"


Merasa perlawanannya akan sia-sia, Yuan menyerah. "Tidak, tidak. Kamu sehat."


"Jadi, istri kecilku, mari bicara serius. Berhenti bergerak."


Yuan merasa sedikit gugup, selain karena wajah pria itu, juga sesuatu yang lain. "Kalau begitu, biarkan saya duduk di sampingmu saja," katanya pelan.


ZiXuan tersenyum miring. "Mengapa kamu sangat gugup?"


Baiklah, daripada berdebat dengan pria ini, lebih baik mengatakan tujuannya saja! "Tidak. Itu, apakah kamu melarangku untuk memasak di dapur istana?"


"Tidak tuh. Siapa yang melarangmu?"


"Bibi kepala istana."


"Jangan khawatir, kedepannya kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau. Istriku bebas melakukan apapun."


Mereka terdiam sesaat sebelum ZiXuan kembali berkata, "Kamu datang ke sini hanya untuk itu?"


"Iya."


"Sungguh tidak ada lagi?"


Yuan berpikir sejenak. Sambil menatap wajah tampan didepannya dengan berani, dia tiba-tiba saya berkata, "Ada!"


ZiXuan tersenyum. "Katakan."


"Hari sudah malam. Suami, semoga kamu bermimpi indah." Yuan mengatakannya dengan cepat. Kesempatan itu juga ia gunakan untuk melarikan diri. Tetapi ada yang dia mungkin lebih berani kali ini.


Sebelum pergi dari sana, dia memberikan ciuman tepat dibawah bibir ZiXuan. Itu juga alasan mengapa gadis itu lolos dengan mudah.


Di sisi lain, pria itu membeku sesaat. Ketika dia menoleh ke arah pintu, gadis kecilnya sudah menghilang.


Sebuah bayangan dari sudur kamar muncul bersamaan dengan seseorang yang menggunakan baju hitam.


"Saya mendapatkannya. Ini adalah yang anda minta, Yang Mulia," ujarnya sambil memberikan sebuah catatan gulung.


ZiXuan mengambilnya dan membukanya.


"Apakah ada yang mencurigakan dari Permaisuri?"


ZiXuan mendongak menatap orang itu dengan pandangan yang sulit diartikan. "Ya, jika kamu bersamanya. Tetapi apakah saya akan mengizinkan anda tinggal di sisi istri saya?"


Li Wei tertawa pelan. "Saya juga tidak akan berani. Yang Mulia terlihat sangat menghargai Permaisurinya tercinta. Lalu, untuk apa anda meminta hal ini untuk diselidiki? Apalah anda merasa dia orang yang berbahaya?"


ZiXuan menggeleng. "Tidak. Jika dia memang penghalang, saya sudah pasti akan menyingkirkannya. Saya hanya memiliki pemikiran lain pada Xiao Li. Saudara Li, terima kasih. Anda boleh beristirahat sekarang."


Li Wei menunduk dan berkata, "Baik." Setelah itu, hanya ada ZiXuan di kamarnya.


Dia membuka telapak tangannya dan beberapa cahaya oranye menyebar ke berbagai sudut secara ajaib menghidupkan beberapa lilin yang sudah padam. ZiXuan pun membaca dengan teliti semua informasi yang dicari oleh Li Wei.


Ada satu deret kalimat yang sangat menarik di matanya.


Sebuah senyum tipis muncul di bibirnya. "Zhou YanLi-ku memang menarik."


***


Yuan menutup pintu kamarnya dan bersandar.


"Permaisuri, apakah anda baik-baik saja?" Suara Jingli terdengar dari luar.


"Ah, tidak ada masalah. Kalian beristirahatlah lebih awal, aku lelah."


"Permaisuri, anda belum sempat makan malam, kami sudah meletakkan beberapa makanan yang anda sukai." Kali ini suara Yunniang yang terdengar.


"Iya, saya tahu."


"Kalau begitu, kami izin menarik diri."


Dan benar saja, suara kedua pelayan pribadinya itu sudah menghilang. Sepertinya ini karena Yunniang yang sangat memahaminya. Berbeda dengan Jingli yang sangat aktif, Yunniang cenderung penuh kontrol dan cerdas.


Yuan memegang dadanya dengan dahi berkerut. Perasaan apa ini? Dia seperti akan pingsan dengan kesenangan yang berlebih.


Dari awal, dia memang sudah memiliki ketertarikan dengan ZiXuan. Hei, bagaimanapun dia adalah seorang gadis pada umumnya, di hadapkan dengan pria setampan ZiXuan, siapa yang tidak akan jatuh cinta pada pandangan pertama? Tetapi kali ini, rasanya sungguh berbeda yang bahkan dia sendiri tidak bisa menjelaskannya.


"Ini, ada apa denganku? mengapa seperti ini? apakah ada yang salah?" katanya bermonolog. Dia bahkan memukul pelan dadanya.


"Apakah aku terlalu menyukainya?" Yuan menggeleng cepat, berusaha menghilangkan bayangan pria itu dipikirannya.


"Lupakan saja, pikirkan nanti!"


***


"Permaisuri, apakah kamu merasa kurang enak badan, kemarin?"


Yuan menatap orang itu dicermin dan menggeleng ringan. "Tidak apa-apa. Hanya sedikit lelah."


"Apakah kamu akan datang ke perjamuan keluarga? Jika tidak, hamba akan meminta izin pada orang di kediaman Yang Mulia untuk memberi kabar tentangmu yang kurang enak badan," ujar Yunniang khawatir.


Yuan menggelen dan tersenyum. "Tidak perlu. Ini adalah acara keluarga, bagaimana bisa saya tidak datang? kalian jangan khawatir, saya baik-baik saja. Lagi pula, saya sudah cukup beristirahat seharian ini."


"Baik, Permaisuri."


Jingli dan Yunniang kembali fokus membantu Yuan untuk berdandan di acara perjamuan keluarga sore ini.


Setelah selesai dengan aksesoris yang sudah terpasang, Jingli berjalan ke depan dan membantunya menggunakan perias wajah.


Yuan hanya memejamkan mata, ketika tangan terampil Jingli memoleskan pemerah bedak, penghitam alis, pemerah pipi dan pemerah bibir.


"Sudah Selesai." Jingli bangun dan kembali berdiri di samping Yunniang.


Yuan membuka matanya dan menatap pantulan dirinya sendiri di cermin.


Siapa itu?


......■■■......