My Devil Emperor

My Devil Emperor
Masalah



"Kamu tau apa kesalahanmu?" tanya ZiXuan tanpa menatap Yuan yang berdiri di belakangnya.


"Xiao Li mengetahuinya."


"Mengapa kamu melakukannya?"


Yuan memilin bajunya. Tanpa menatapnya saja, dia bisa merasakan aura gelap dari ZiXuan yang ditujukan untuknya.


"Jika aku tidak membohongimu, maka kamu tidak akan mau memberikan cap dengan suka rela," jawab Yuan pelan.


"Tentu saja aku akan menolaknya. Karena aku memikirkan perasaanmu, bagaimana denganmu?"


"Aku—tentu saja memikirkan perasaan Tuanku. Saya tidak ingin Yang Mulia dikenal masyarakat dengan kaisar yang selalu memikirkan dirinya sendiri. Permaisuri ini tidak ingin Yang Mulia terlalu banyak berpikir," ujar Yuan dengan pelan.


"Bodoh. Apa aku terlihat tidak bisa mengurus masalahku sendiri?" ZiXuan mengetuk pelan dahi Yuan yang wanita itu mengaduh seraya mengusap dahinya.


"Bukan begitu, aku hanya merasa tuanku sudah terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini."


"Tapi kamu juga tidak perlu melakukan hal ini."


"Tidak perduli apapun yang terjadi, aku akan terus mendukungmu. Selama suamiku mencintaiku dan selama aku bisa terus berada di samping suami, itu sudah lebih dari cukup. Aku tidak menginginkan apapun lagi," ucap Yuan penuh keyakinan.


ZiXuan menghela napas panjang sebelum akhirnya kembali berkata, "Benar-benar wanita yang bodoh." Dia menarik Yuan ke dalam pelukannya.


"Bukankah sudah kubilang, kamu tidak perlu memikirkannya?"


"Aku tau."


"Aku tidak akan menikahinya."


"Hmm. Baiklah, Xiao Li tidak akan memaksa suami. Xiao Li menuruti suami."


ZiXuan tertawa pelan. "Benarkah? Terakhir kali kamu sudah melanggarnya, aku sudah mengatakan padamu untuk tidak perlu memikirkannya tapi siapa sangka kamu malah melakukan hal yang lebih jauh?" sindir ZiXuan.


Yuan mendorong ZiXuan, membuat pelukan Pria itu terlepas. "Huh, aku tahu aku salah. Bisakah suami tidak menjadi seorang yang pendendam?" ujarnya kesal.


"Baiklah. Tidak lagi. Jadi sekarang kamu tidak boleh melakukan apapun tanpa seizinku. Mengerti?"


"Mengerti. Aku akan selalu mendukung semua keputusan Yang Mulia. Juga percaya bahwa Yang Mulia pasti bisa melakukannya. Permaisuri ini selalu berdoa dan menunggu keberhasilan Yang Mulia Kaisar. Dengan begitu tuanku tidak perlu menikahi Putri Rong."


"Mn. Pintar." ZiXuan kembali membawa Yuan ke dalam pelukannya.


Di tempat lain, Putri Rong sudah berada di kamarnya dengan wajah semringah.


"Akhirnya Tuan Putri kembali lagi ke sini," ujar Xiao Ling yang seakan tau apa yang sedang dipikirkan tuannya itu.


"Aku dan ZiXuan memang pasangan ditakdirkan langit."


"Yang Putri katakan memang benar. Hamba bahagia melihat Tuan Putri bahagia."


Putri Rong melihat Lan Ling dan berkata, "Kamu semakin pandai berbicara."


Xiao Ling tersenyum malu. "Hamba belajar banyak dari Tuan Putri."


"Ayo, temani aku melihat-lihat istana."


"Tuan Putri tidak akan istirahat dulu?"


"Sebagai calon permaisuri masa depan, aku harus lebih mengenal seluruh harem ini."


"Yang Mulia Putri benar."


***


Keesokan harinya, saat Yuan sedang membaca beberapa buku di kamar, Jingli datang dengan raut wajah yang tidak terbaca.


"Permaisuri, ada masalah."


Yuan menatapnya sebentar sebelum menutup buku dan berdiri. "Ada apa?"


"Putri Rong meminta bertemu denganmu. Dia terlihat sangat marah."


Yuan tersenyum tipis. "Apa yang sudah aku lakukan sampai membuat selir baru itu merasa marah? Dia marah padaku? Permaisuri dinasti Qin? Nampaknya dia sudah tidak memandangku lagi, bukan?"


Jingli mengatupkan bibirnya. Bingung harus menjawab apa. "Ini... "


"Ayo kita lihat."


"Baik."


Yuan melangkah dengan anggun menuju pintu kamarnya.


Di sana, sudah ada putri Rong dan pelayan pribadinya yang terlihat sedikit kacau.


Liang Rong menatap Yuan dengan sengit. "Permaisuri yang terhormat, aku meminta keadilanmu!"


"Oh ada masalah apa yang membuat Putri semarah ini?"


"Salah satu pelayan dari istanamu berani menampar pelayanku. Apakah Anda tidak menghormati kami?"


"Masalah seperti ini, bagaimana bisa terjadi di istanaku. Jingli, kumpulkan semua pelayan yang ada di sini!"


"Baik, Yang Mulia." Jingli segera pergi dari sana untuk menjalankan tugasnya.


Yuan beralih menatap pelayan yang berdiri menunduk di samping Liang Rong. "Angkat, wajahmu."


Xiao Ling mengangkat wajahnya perlahan. Salah satu pipinya terlihat sedikit memerah dengan bekas jari-jari yang tercetak.


"Sebelumnya, hal seperti ini tidak pernah terjadi di kediamanku. Tidak mungkin pelayan dari istanaku menamparmu tanpa sebab bukan?"


Sebelum Xiao Ling menjawab terinterupsi dengan Jingli dan Yunniang yang datang bersama semua pelayan istana.


Yuan berbalik dan menatap mereka satu persatu. "Katakan, siapa diantara kalian yang menampar pelayan pribadi putri Rong?"


Keadaan hening sejenak, tapi selang beberapa detik salah satu di antara mereka maju perlahan dan berlulut di depan Yuan. "Itu adalah hamba, Yang Mulia."


Yuan memperhatikan pelayan itu, kemudian bertanya, "Apakah dia?"


Xiao Ling yang menyadari pertanyaan itu ditujukan untuknya segera menjawab. "Benar, itu dia yang menampar hamba. Mohon Yang Mulia memberikan keadilan!"


Yuan tidak menanggapi Lan Ling, tetapi menanyai pelayan dari istananya itu. "Siapa namamu?"


"Hamba adalah Sang Qi."


"Mengapa kamu menamparnya?"


"Apakah itu perlu ditanyakan? Jelas karena dia merasa dirinya lebih tinggi karena berasal dari istana Permaisuri. Membuat tindakan yang semena-mena pada pelayan asing sepertikan. Putri, mereka sungguh tidak menghargai kerajaan kita."


"Lancang! Perhatikan dengan siapa kamu berbicara saat ini?! Dan apa aku sedang berbicara padamu?"


Melihat Yuan yang menatapnya tajam, Xiao Ling segera menundukkan kepalanya lagi.


"Permaisuri, tenanglah. Maaf atas kelancangan Xiao Ling, aku akan mendisiplinkannya nanti, tetapi bisakah kamu juga mendisiplinkan pelayanmu terlebih dahulu. Hal ini tidak akan terjadi jika dia tidak menampar Xiao Ling."


"Apa sebenarnya yang sudah kamu lakukan Sang Qi?"


"Yang Mulia, pelayan ini memetik bunga peony dari taman Yang Mulia Permaisuri, hamba hanya menjalankan tugas untuk menjaga tanaman Yang Mulia, tetapi dia tidak mau berkompromi dan mengatakan bahwa hamba yang lancang karena sudah mencegahnya memetik beberapa bunga untuk Putri Rong yang dia sebut sebagai Selir Rong . Hamba gagal mengontrol diri dan menamparnya."


"Mohon ampun, Yang Mulia, hamba hanya memetik beberapa tangkai untuk Putri Rong. Yang Mulia Permaisuri berhati lembut dan bijaksana hamba rasa tidak akan keberatan dengan memberikan bunga itu pada putri Rong kan? Untuk panggilan Selir Rong, bukankah tidak salah juga?"


"Xiao Ling!"


"Yang dikatakan Xiao Ling ada benarnya. Jadi, apa yang Putri inginkan sebagai kompensasi untuk pelayanmu?"


Liang Rong terdiam sebentar dan berkata dengan hati-hati. "Izin menjawab Yang Mulia Permaisuri, jika permaisuri tidak keberatan, karena dia menampar Xiao Ling, maka tamparan dibalas dengan tamparan, bukankah ini adil?"


"Yang Mulia Permaisuri, ini memang kelalaian hamba. Jika seperti itu yang diinginkan Putri Rong, maka hamba akan menerimanya. Hamba tidak ingin menyulitkan Permaisuri Agung." ucap Sang Qi dengan bisikan di akhir kalimatnya.


Yuan memejamkan matanya sebentar dan berkata, "Baiklah. Silakan lakukan."


Liang Rong memberi kode lewat tatapannya. Xiao Ling mengangguk pelan dan berjalan menghampiri Sang Qi yang sudah berdiri. Dia melayangkan tangannya dengan keras ke wajah sang Qi. Bibirnya tersenyum puas setelah membalasnya.


"Sudah selesai?"


"Belum cukup. Yang Mulia, tadi hanya tamparan atas apa yang dia lakukan pada Xiao Ling, bagaimana dengan harga diri kami yang merasa direndahkan oleh seorang pelayan dan bagaimana dengan sikapnya yang kasar terhadap tamu? Kamu jelas mengetahuinya kan, Yang Mulia?"


"Mohon izin berbicara Yang Mulia, ini sepertinya sudah keterlaluan. Bagaimanapun Sang Qi juga menjalankan tugasnya," bisik Yunniang.


"Jangan khawatir," balas Yuan yang juga berbisik.


"Kalau begitu lakukanlah."


Xiao Ling kembali menampar keras Sang Qi dua kali sehingga membuat sudut bibirnya sedikit berdarah.


"Sudah selesai?"


"Terima kasih Yang Mulia sudah memberikan keadilan pada hamba."


"Terima kasih, Yang Mulia. Karena ini sudah selesai, hamba dan Xiao Ling akan kembali sekarang. Panjang umur untuk Yang Mulia Permaisuri Xuan," ujar Putri Rong tersenyum puas.


"Urusan kalian sudah selesai, bagaimana dengan urusanku?"


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...