
Sudah terhitung tujuh hari sejak dijatuhkannya hukuman pada kediaman Qiu. Suasana istana kekaisaran kembali stabil dengan para pekerja yang lebih berhati-hati.
Apa yang terjadi pada kediaman Qiu memang yang terburuk yang pernah ada dalam sejarah. Tidak ada yang tersisa dari keluarga itu. Kabar baiknya walaupun mereka telah merencanakan pemberontakan, tetapi tetap saja leluhurnya memiliki catatat yang baik, maka dari itu, pemakamannya masih dilakukan secara layak.
Selain itu, sejak apa yang dilakukan ZiXuan dan diketahui Yuan, keduanya terlihat menjauh. Lebih tepatnya Yuan yang menghindari ZiXuan.
Gadis itu hanya berdiam diri di kamar, membaca buku, berjalan-jalan di sekitar kediamannya, atau menghadiri undangan minum teh dari Ibu Suri, Janda permaisuri dan Ibu Selir Zhu.
Jika ZiXuan datang menemuinya, ia selalu memiliki alasan untuk menghindar. Entah berpura-pura tertidur, atau mengatakan pada Jingli dan Yunniang bahwa dia sedang sibuk.
Yuan tidak membencinya karena memanfaatkan dia atau takut dengan apa yang ada di pikiran pria itu, tetapi hanya merasa kecewa. Apakah kamu mengerti bagaimana perasaan ketika orang yang kamu sukai ternyata hanya menganggapmu sebagai pion dalam permainannya? ZiXuan mungkin tidak pernah menyukainya. Apa yang selama ini dia lakukan padanya hanya bersenang-senang. Hanya mengganggunya saja karena sedang bosan. Apa lagi yang dia harapkan?
Saat ini, gadis itu sedang duduk dengan menangkupkan wajah dan mata yang memandang bunga kecil berwarna merah muda. Sebenarnya bunga itu belum mekar, tetapi dia sudah mau mati.
Siang tadi, Yuan berjalan sendirian di sekitar kediamannya. Dia hanya merasa sedikit bosan jika berdiam diri di kamar saja, juga terlalu ramai kalau Jingli dan Yunniang menemaninya.
Kemudian, dia tidak sengaja melihat bunga kecil liar yang hampir layu itu tumbuh di belakang kediamannya. Mungkin karena bunga itu tidak mendapatkan air, dan selalu berjemur di bawah sinar matahari menjadikannya hampir mati.
Yuan pun segera membawa bunga kecil itu untuk pulang bersamanya. Menanamnya pada pot kecil dan memberinya air.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Suara itu menarik Yuan dari lamunan. Dia sontak menoleh dan mendapati seseorang yang terlihat familiar sudah berdiri di sampingnya.
Yuan mengernyitkan bingung, dia menapa orang itu dari atas hingga bawah dan berseru, "Siapa anda!"
Bagaimana tidak panik saat melihat seorang pria tiba-tiba berada di kamarmu? Dan bagaimana pria itu bisa masuk ke harem milik Yang Mulia?
Yuan berdiri. Bibirnya sudah terbuka bersiap meneriakkan sesuatu, tetapi pria itu dengan cepat menarik lengan atasnya dan menutup mulutnya.
Gadis itu memberontak. Dia bahkan menggigit telapak tangan yang menutup mulutnya, tetapi pria di depannya itu sama sekali tidak terpengaruh.
Pikiran Yuan berkelana. Bagaimana jika seseorang masuk dan memergokinya bersama dengan pria asing dengan jarak sedekat ini? Bukahnya Kaisar Xuan akan langsung membunuhnya? Bagaimana jika keluarganya juga akan terseret?
"Apa yang sedang kamu pikirkan? Suaraku, bahkan kamu tidak mengenalinya?" Orang itu berkata lagi.
Kali ini Yuan mendengarnya dengan jelas. Jika dipikir-pikir, suara pria itu memang terdengar tidak asing.
Mata seindah bunga persik itu mengamati wajah pria yang berada di depannya. Sedetik kemudian dia terbelalak. Sepertinya terkejut.
"Aku akan melepaskanmu jika kamu tidak berteriak."
Yuan mengangguk cepat. Dia juga agak merasa sesak napas karena bungkaman pria itu.
"Kamu—Yang Mulia, mengapa kamu berpakaian seperti—ini?" tanya Yuan terengah-engah setelah pria yang ternyata Kaisar Xuan itu melepaskan tangannya.
"Apa yang salah?" tanya ZiXuan balik sambil menatap dirinya sendiri.
Sebenarnya tidak aneh. Tetapi pakaian yang digunakan pria itu telalu sederhana. Hanya sebuah setelan baju berwarna putih dan biru dengan pola air di bagian bawahnya. Tanpa mahkota, tanpa baju dan jubah kebesarannya.
Rambut bagian atasnya dikuncir dengan sebuah pita berwarna putih, sedangkan bagian bawahnya dibiarkan tergerai.
Apapun gaya berpakaiannya, ZiXuan tetap terlihat sangat tampan! Hanya saja penampilan sederhananya ini membuat dia terlihat saleh. Tidak ada arogansi dan kesombongan. Itulah mengapa Yuan sempat tidak menyadari orang di depannya.
"Tidak ada. Tetapi mengapa kamu berpakaian seperti ini?"
ZiXuan tersenyum tipis dan menyodorkan sebuah setelan baju yang lain ke arahan gadis itu.
Yuan memandangnya tidak mengerti.
"Kamu ingin aku membantumu mengganti pakaianmu?" tanya ZiXuan saat gadis itu hanya memandang baju di tangannya.
"Ah? Tidak! Tidak perlu. Aku bisa sendiri." Yuan dengan cepat mengambilnya. Dia berjalan cepat ke arah sekat yang ada di kamarnya.
"Saudara, kamu berbaliklah dulu," katanya dengan wajah memerah.
ZiXuan tersenyum dan menuruti perkataannya.
"Jangan berbalik sampai aku mengatakan bahwa aku sudah selesai."
"Mn."
Walaupun tidak tahu mengapa ZiXuan menyuruhnya untuk mengganti pakaian, ia tetap memilih untuk segera melakukannya daripada pria itu berubah pikiran dan membantunya untuk mengganti baju.
Yuan keluar dari sana dan berjalan kembali pada ZiXuan yang masih berdiri membelakanginya.
"Sudah selesai," katanya yang membuat ZiXuan segera memutar tubuhnya.
"Tapi—mengapa Saudara menyuruhku untuk mengganti pakaian ini?" Yuan mengamati dirinya sendiri. Setelan itu berwarna senada dengan yang dipakai ZiXuan. Hanya saja ini versi perempuanya. Dia juga mengerai rambutnya. Bukahkah akan aneh jika pakaian sederhana ini dipadukan dengan perhiasan mewah di kepalanya?
ZiXuan berjalan mendekat, dia mengeluarkan sepotong pita panjang berwarna putih, menggenggam rambut hitam panjang Yuan, dan mengikatnya dengan rapi.
"Saudara, sebenarnya mengapa kita berpakaian seperti ini?" tanya Yuan lagi.
ZiXuan masih tidak memberikan jawaban. Sebagai gantinya, dia malah menggenggam tangan Yuan dan menariknya untuk ikut berjalan di belakang pria itu.
***
Hiruk pikuk pasar rakyat itu terdengar menyenangkan bagi seseorang yang mungkin baru keluar dari rumahnya setelah sekian lama.
Semakin sore hari, semakin ramai orang-orang yang berada di sana. Ada yang sedang melakukan transaksi jual beli, ada yang sekedar berjalan-jalan dan juga makan di kedai-kedai pinggir jalan.
Harum aroma kue, makanan ringan hingga yang berat tercium di sepanjang jalan.
"Saudara, mengapa kita di sini?" tanya Yuan semakin bingung. Apakah pria itu sedang melakukan misi rahasia dan membutuhkan bantuannya lagi? Jangan lupakan bahwa tangan besar dan hangat ZiXuan masih menggenggam erat tangannya. Tidak pernah dilepaskan sedetikpun selama perjalanan.
"Menemanimu bermain. Sebagai permintaan maaf," jawabnya singkat. ZiXuan menoleh, menatap gadis di sampingnya. "Kamu boleh melakukan apapun yang kamu suka. Membeli apapun yang kamu mau. Aku menemanimu," lanjutnya.
Yuan mengerjapkan matanya tak percaya. "Saudara, kamu sedang sakit, ya?"
Pria itu hanya terdiam dan tetap menatap mata wanitanya.
"Apakah kamu bersungguh-sungguh?" tanyanya lagi dengan menyipitkan matanya.
ZiXuan mengangguk dan berkata, "Iya."
Gadis itu terdiam sesaat, sebelum akhirnya dia tersenyum lebar. "Kalau begitu, kamu jangan menyesalinya. Jangan mengajakku pulang sebelum aku memintanya! Ayo!"
Jika sedari tadi ZiXuan yang menarik Yuan untuk mengikutinya, kini Yuan yang gantian menarik tangan besar itu untuk mengikuti dirinya.
ZiXuan pasrah mengikutinya. Dia menuduk dan melihat tangan mereka yang saling menggengam. Diam-diam, pria itu tersenyum samar.
Rupanya gadis itu tidak main-main dengan ucapannya. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, tangannya sudah penuh dengan berbagai macam kantong. Dari kantong makanan hingga perhiasan dan aksesori yang dibelinya di pinggir jalan.
"Kamu—apakah kamu akan memakan semuanya?" tanya ZiXuan sedikit syok. Pasalnya, kantong yang dibawa oleh gadis itu didominasi oleh kantong yang berisi makanan.
Yuan menatapnya polos dan mengangguk. "Saudara mau?" tanyanya sambil menyodorkan kantong kertas berisi kue kacang.
ZiXuan tersenyum masam. "Tidak. Kamu makan saja."
Gadis itu hanya mengendikkan bahunya dan kembali memakan kue kacang itu.
Tak terasa matahari kian tenggelam, tetapi tidak membuat surut semangat gadis cantik itu. Dia masih aktif membawa ZiXuan berjalan kesana-kemari sejak makanannya sudah habis.
"Xiao Li, kamu tidak lelah?" Pertanyaan itu membuat Yuan menghentikan langkahnya.
"Apakah saudara lelah?"
"Sedikit, tapi—" Belum selesai ZiXuan berbicara, gadis itu kembali menarik tangannya.
"Ayo!"
Mereka berdua masuk bersama dan berjalan ke arah meja pelayanan.
"Bos, kami memesan satu kamar—"
"Tunggu!" ZiXuan memotongnya dan menarik Yuan untuk sedikit menjauh dari sana.
"Ada apa?"
"Mengapa kita di sini?"
Yuan menatap pria itu aneh. "Apa lagi? Kamu bilang kamu lelah, jadi kami istirahat saja di sini."
"Menginap?" tanyanya lagi.
"Iya. Apa aku sudah boleh memesan kamarnya sekarang?" ujar Yuan sedikit kesal.
ZiXuan sepertinya masih mencerna kata-kata Yuan. Tadinya dia pikir, gadis itu ingin makan di restorannya. Paviliun Yueliang terkenal dengan menu makanannya yang enak. Dia juga tidak berencana untuk bermalam di luar istana. Hanya membawa Yuan untuk bermain di luar saja.
"Saudara? Saudara?"
Suara lembut yang memanggilnya itu membuat ZiXuan tersadar. Dia menatap Yuan ragu. "Mengapa kita tidak kembali saja?"
Yuan menaikkan alisnya. "Mengapa?"
Pria itu membuang napas panjang. "Itu, aku masih memiliki beberapa urusan yang belum selesai," katanya pelan.
Wajah cantik yang sedari tadi sudah tampak ceria itu kembali muram. "Jika saudara memiliki urusan yang belum selesai, mengapa mengajakku keluar? Kamu kembalilah." Yuan berbalik, hendak kembali ke meja pelayanan itu, tetapi ZiXuan menghentikannya.
"Kamu—kamu marah?"
Yuan tersenyum dan menggeleng. "Mana mungkin? Saudara memiliki urusan yang lebih penting, bagaimana aku bisa marah padamu? Saudara kembali saja."
"Bagaimana denganmu? Kamu tidak kembali bersamaku?"
"Aku?" tanya Yuan seraya menunjuk dirinya sendiri. "Tidak apa. Aku masih ingin berada di sini. Saudara bisa menyuruh Jingli atau Yunniang untuk menemaniku."
ZiXuan berpikir sejenak sebelum tiba-tiba menarik tangan gadis itu kembali ke meja pelayanan.
Bos yang sedari tadi menunggu itu kembali tersenyum ramah. "Apakah Tuan dan Nona muda jadi memesan kamar?"
"Mn. Berikan kami satu kamar yang paling bagus."
"Baik!"
Yuan menoleh cepat dan menatap pria itu, bingung. "Saudara?"
ZiXuan juga menoleh dan tesenyum tipis. "Tidak apa. Aku menemanimu. Urusannya juga bukan urusan yang penting."
"Tuan, ini dia. Kamarnya di lantai dua paling ujung kanan."
ZiXuan kembali melihat ke depan. Dia menerima uluran kunci dari pria paruh baya itu.
"Terima kasih. Ayo!" ZiXuan menarik lembut tangan gadis itu. Tetapi baru di undakan tangga pertama, dia berhenti dan menoleh ke belakang.
"Ada apa, saudara?" tanya Yuan, bingung.
ZiXuan tidak menjawab pertanyaan gadis itu, tetapi dia langsung menatap pemilik paviliun yang kebetulan masih melihat ke arah mereka. "Bos, tolong bawakan makanan ringan ke kamar kami," ujar ZiXuan. "Juga arak terbaik di sini," tambahnya.
"Baik, Tuan. Kami akan segera mengantarnya."
Kemudian keduanya kembali melanjutkan langkah.
Yuan dengan semangat membuka pintu kayu itu dan masuk mendahului ZiXuan.
Interior ruangan itu memang tidak sebagus dan seluas kediamannya di istana, tetapi cukup nyaman.
ZiXuan mengikutinya di belakang dia menutup pintu dengan pelan, bahkan tidak menimbulkan suara.
"Kamu menyukainya?"
Yuan berbalik dan menatapnya sambil tersenyum. "Suka. Saudara, terima kasih."
ZiXuan membalas senyum itu dan berkata, "Tidak masalah."
Tak lama, suara ketukan pintu terdengar. ZiXuan yang posisinya lebih dekat, segera membuka pintu itu dan melihat seorang pelayan laki-laki mengantarkan beberapa camilan dan arak dalam satu nampan.
"Tuan, pesananmu," katanya.
Setelah nampan itu beralih ke tangan ZiXuan, sang pelayan membungkukkan badan dan pergi dari sana.
Pria itu kembali menutup pintu dan menguncinya. Dia berjalan ke arah meja untuk meletakkan nampan di tangannya.
"Kemarilah." ZiXuan menatap Yuan yang berdiri tak jauh dari meja dan memberinya kode supaya mendekat.
Dengan langkah pelan, Yuan menghampiri pria itu dan duduk di depannya.
"Paviliun Yueliang paling terkenal dengan kulinernya yang enak. Cobalah." ZiXuan mendorong beberapa makanan itu kepada gadis di depannya.
Mendengar kata 'kuliner yang enak' mata seindah bunga persik itu seperti bersinar. Tanpa menunggu disuruh lagi, tangannya mulai mengambil beberapa makanan dari piring di depannya.
ZiXuan tersenyum. Dia sendiri hanya mengambil satu potong kue beras dan mengisi penuh dua buah cawan kecil dengan arak yang dipesannya.
"Bagaimana rasanya?"
Yuan mengangkat wajahnya. Dia menelan semua makan yang ada di mulutnya sebelum menjawab, "Yang pasti lebih enak dari buatanku. Saudara, mengapa kamu hanya memakan satu?"
ZiXuan tertawa pelan. "Aku sudah kenyang hanya dengan melihatmu makan."
Yuan ikut tertawa dan berkata, "Kuanggap itu sebagai pujian."
ZiXua kemudian menyodorkan cawan berisi arak itu pada Yuan. "Minum dulu."
Gadis itu menunduk untuk melihat cawan di depannya. Dia terlibat ragu dan akhirnya menggeleng pelan. "Maaf, Saudara. Toleransiku pada alkohol benar-benar buruk. Aku tidak pernah berani meminumnya," ujar Yuan menolak. Dia berkata jujur. Sebagai Han Yuan, dia tidak dapat minum sama sekali. Walaupun Han Yuan dan Zhou YanLi adalah dua orang yang berbeda, tetapi untuk mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan lebih baik ditolak saja.
ZiXuan menatap gadis di depannya itu dengan mata tertarik. "Seberapa buruk itu? Tenang saja, aku akan menjagamu. Minumlah," katanya merayu.
Yuan meringis. "Saudara, aku—"
"Minumlah. Satu kali saja. Kamu tahu? Selain makanan, arak di Paviliun Yueliang paling terkenal di ibukota ini. Setidaknya kamu harus mencoba sekali dalam seumur hidup."
Yuan membuang napas panjang. Dia pun akhirnya menerima cawan itu dan berkata, "Satu kali saja?"
Pria di depannya itu mengangguk antusias.
Yuan mendekatkan bibirnya pada pinggir cawan dan mulai menyesap sedikit cairan bening itu. Keningnya mengernyit. Dia segera menjauhkan cawan itu dari bibirnya sambil menggeleng cepat.
"Saudara, ini sangat pedas. Aku—aku tidak bisa meminumnya."
Yang di maksud pedas itu bukan pedas cabai. Yuan sendiri tidak tidak tahu bagaimana mendeskripsikannya. Seperti pedas daun mint dan terasa hangat di tenggorokkan.
ZiXuan tertawa pelan dan berdiri. "Kamu harus menghabiskannya, Sayang." Dia memegang tangan Yuan yang memegang cawan, mendorongnya kembali pada bibir merah gadis itu.
Karena paksaan itu, mau tidak mau Yuan menghabiskannya. Ia merasa kepalanya sedikit pusing sekarang.
"Ayo, minum lagi."
"Saudara—cukup. Aku—aku tidak bisa lagi."
...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...