
"Apa maksud Permaisuri?" tanya Liang Rong membalikkan badannya.
"Masalah pelayanmu sudah selesai, tapi masalah pelayanku belum selesai. Kenapa buru-buru pergi?"
Liang Rong mengernyitkan keningnya. "Hamba tidak mengerti."
"Putri Liang Rong, ini bukan hanya tentang bunga saja tapi juga etika. Itu benar, aku mungkin tidak akan mempermasalahkan bunganya, kamu bisa mengambil sebanyak yang kamu mau. Tapi, Xiao Ling ini tidak meminta izin terlebih dahulu. Apa kalian tidak memandangku?"
"Ini—hanya masalah kecil, mengapa Permaisuri sangat perhitungan?" Liang Rong berkata dengan sedikit tidak senang.
Yuan tertawa kecil. "Masalah kecil? Maksudmu mengambil bunga dari taman Permaisuri Xuan tanpa seizinnya adalah masalah kecil? Seorang pelayan rendah yang memotong pembicaraan Permaisuri adalah masalah kecil? Juga bagaimana sikap dan prilakumu ketika berbicara denganku itu, sudah baik?"
Liang Rong menyipitkan matanya menatap Yuan. Dalam hati bertanya-tanya apa yang akan wanita itu lakukan.
"Lihat, apa maksudmu menatapku begitu? Liang Rong, jangan melewati batasanmu!"
Mendengar itu, Liang Rong langsung menundukkan kepalanya dan berkata, "Maaf jika Yang Mulia tersinggung. Liang Rong tidak bermaksud demikian."
"Kamu belum menjadi selir, tetapi etikamu sudah buruk seperti ini, apakah kamu sangat percaya diri? Bagaimanapun pelayanmu tetap melanggar aturan, Xiao Ling, bungaku bahkan lebih berharga daripada nyawamu, apakah kamu tidak tahu?"
"Permaisuri, tolong jangan marah."
"Xiao Ling sudah merusak bungaku. Dia mengambilnya tanpa seizin dariku, JingLi beri dia satu tamparan!"
"Baik." Jingli berjalan mendekati Xiao Ling dan memberikannya tamparan keras.
"Xuao Ling berani berbicara memotong pembicaraanku, dia tidak menghormatiku sama sekali. Tampar dia!"
Jingli menamparnya dengan keras sampai membuat wanita muda itu terhuyung.
"Membuat kekacauan di Istanaku, beri dia satu tamparan lagi!"
Jingli kembali menamparnya. Kali ini membuat Xiao Ling jatuh terduduk.
Melihat pelayannya yang seperti itu, Putri Rong membuka suara. "Yang Mulia, tolong maafkan Xiao Ling. Tolong hentikan." Raut wajahnya terlihat pucat dan syok.
"Aku masih belum selesai."
"Yang Mulia mohon pengampunanmu."
"Putri, jangan memohon padanya!"
Liang Rong melotot menatap Xiao Ling. "Diam!" tukasnya kasar.
"Aiyaa~ disaat seperti ini, bahkan dia masih berani menentangku. Putri Rong, pelayanmu sungguh berbudi luhur."
"Yang Mulia, Xiao Ling terbiasa aku manjakan, dia memang suka berbicara terbuka seperti itu. Mohon Yang Mulia melepaskannya. Aku mohon pertimbangkan hubungan kita."
"Hubungan? Hubungan seperti apa maksud Putri Rong ini?" tanya Yuan menaikan alisnya.
"Ini— aku akan menjadi selir Yang Mulia Kaisar, itu berarti aku akan menjadi saudarimu, bisakah Permaisuri melepaskan Xiao Ling sekali ini saja? Aku memohon padamu sebagai saudarimu."
"Benar juga, Putri Rong adalah calon selir Kaisar. Apa aku harus memanggilmu Selir Rong sekarang?"
"Itu—"
"Jingli, sudah cukup. Jika aku menghukumnya lagi, pasti akan membuat Selir Rong sulit."
Yuan berjalan mendekati Liang Rong. Ia berhenti tepat di sebelahnya dan berbisik, "Selir Rong, oh maksudku calon selir Rong. Aku melepaskanmu kali ini, berharap ke depannya jangan bertindak terlalu impulsif. Ingat, kamu masih belum resmi diakui sebagai selir. Jangan bertindak yang akan membuatmu menyesalinya. Dan pelayanmu itu, kamu harus mendisiplinkannya dengan baik, pelayan seperti Xiao Ling ini takutnya menjadi penghambatmu. Ingat baik-baik di mana posisimu dan jangan meremehkan lawan. Kurasa kamu masih ingat apa yang terjadi pada adik Ying'ermu bukan?" Yuan menepuk pundak Liang Rong pelan, dan kemudian berbalik meninggalkannya.
"Masalah ini selesai kalian boleh pergi."
***
Liang Rong menatap sinis Xiao Ling yang tertunduk diam di depannya. "Kamu tidak berguna! Tidak bisakah kamu mengontrol emosimu itu?"
"Putri, hamba bersalah. Mohon maafkan hamba."
"Memang tidak berguna! Karenamu aku dipermalukan olehnya." Liang Rong memijat pelipisnya pelan.
"La—lain kali, hamba tidak akan melakukannya lagi, Tuan Putri."
"Apa maksudmu dengan lain kali? Apa kamu berniat mengulanginya?!"
Lan Ling tergugup dan menjawab, "Ti—tidak seperti itu."
"Diamlah! Aku tidak ingin mendengar suaramu. Kamu pergi saja, urus wajahmu dulu."
"Baik, Tuan Putri." Lan Ling segera pergi meninggalkan Liang Rong dengan wajah sedihnya.
"Zhou Yan Li!"
***
"Yang Mulia, Anda sangat luar biasa. Rasanya sangat menyenangkan ketika hamba menamparnya tadi," ujar Jingli berapi-api.
Jingli menggeleng cepat. "Tidak, tidak. Permaisuri, hamba asal bicara tadi."
"Sudahlah. Melihat karakter Putri Rong, kurasa dia akan melakukan hal yang lain."
Tok.. Tok..
Suara ketukan pintu itu membuat Yuan menoleh.
Jingli dengan sigap pergi untuk melihatnya.
"Yunniang, mengapa kamu diam saja? Ada masalah?"
"Tidak ada Permaisuri, hamba hanya sedikit lelah," jawab Yunniang.
"Istirahatlah."
"Salam pada Yang Mulia Permaisuri."
Yuan menoleh dan melihat Jingli datang bersama seorang kasim.
"Kasim Gui? Apa yang membawamu ke sini?"
"Kaisar memiliki urusan dengan pelayan Yunniang, memerintahkan hamba untuk membawanya ke persidangan."
"Yunniang?" Yuan melirik Yunniang yang menunduk.
"Apa ada masalah?" Tidak tau mengapa, Yuan merasa sedikit cemas dan berdebar. Sepertinya akan ada masalah lain yang lebih sulit dihadapi.
"Pelayan Yunniang diduga menjadi tersangka atas peristiwa yang menimpa Permaisuri tiga bulan yang lalu."
"Apa!" Yuan terhuyung ke belakang tetapi Yunniang menahannya. "Ini—ini tidak mungkin."
Yuan menarik dirinya menjauh. Dia menatap tak percaya pada Yunniang. "Ini— tidak benar, kan?" tanyanya lirih.
Yunniang berlutut dan berkata, "Yang Mulia, hamba melayanimu dengan tulus. Tidak mungkin hamba melakukan itu. Ini— ini pasti ada kesalahpahaman. Yang Mulia, hamba tidak akan menyulitkanmu, jika Yang Mulia Kaisar ingin menghukum hamba, itu tidak masalah. Dalam hidup ini, hamba hanya tidak ingin Yang Mulia Permaisuri salah paham terhadap hamba. Semua yang hamba lakukan terhadapmu itu tulus."
"Pelayan Yunniang, mari jelaskan di pengadilan."
Yunniang ditarik oleh beberapa pelayan untuk segera keluar dari kediaman. Sedangkan, Yuan masih menatap bingung kepergian Yunniang. Semuanya terjadi tiba-tiba.
"Yang Mulia Permaisuri," panggil Jingli menyadari. Dia memegang lengan Yuan yang hampir terjatuh.
"Ini tidak mungkin," gumam Yuan.
"Yang Mulia, tenanglah dulu." Jingli membawa Yuan untuk duduk.
"Jingli, antar aku ke ruang persidangan."
"Tapi—"
"Jika kamu tidak mau mengantarku, maka aku akan pergi sendiri." Yuan berdiri dan berjalan dengan lemah.
"Permaisuri, tunggu." Jingli segera mengikuti Yuan dan memapahnya.
Di tempat lain, Yunniang berlutut di hadapan Kaisar.
"Yunniang, mengapa kamu melakukannya? Kamu tau, kamu sudah mengkhianati Permaisuri Xuan. Dia akan sangat kecewa mengetahuinya."
"Yang Mulia, hamba tidak melakukannya."
"Pembohong. Apa aku harus menggunakan Linghun Ge untuk membuatmu mengakuinya? Semua bukti sudah mengarah padamu. Bagaimana kamu akan menjelaskannya?" tanya ZiXuan menatapnya malas.
"Yang Mulia, ini tidak mungkin. Yunniang, dia tidak mungkin melakukannya. Tidak ada yang mengenalnya sebaik diriku. Ini—ini pasti ada kesalahan."
"Ah, Permaisuriku sudah datang." Zi Xuan menatap Yuan yang baru saja datang bersama dengan Jingli di sampingnya.
"Yang Mulia, ini tidak mungkin."
"Xiao Li, aku tidak akan menangkapnya jika tidak ada bukti. Kamu lihatlah baik-baik! Dupa sepasang malam dan Rumput hitam ini aku menemukannya terkubur tak jauh dari tempat dia tinggal. Di dalam kediamanmu."
Yuan menatap kedua benda asing itu dan bergumam, "Rumput hitam?"
"Rumput yang bisa dijadikan racun untuk menghancurkan meridian. Racun yang tidak sengaja kamu minum tiga bulan yang lalu."
Yuan merasa tubuhnya semakin lemah. Jika saja Jingli tidak menahannya, mungkin dia sudah terjatuh sekarang.
"Tidak mungkin!" ucapnya sambil menggelengkan kepala. Matanya mulai memanas.
"Coba kamu tanyakan, darimana dia berasal," ujar ZiXuan dengan wajah datar.
"Yunnan, daerah bagian barat. Dan kedua benda ini berasal dari bagian barat."
...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...