My Devil Emperor

My Devil Emperor
Hati yang Lembut



"Tidak menyangka nona yang membantuku kemarin adalah permaisuri sendiri. Maaf untuk ketidaksopananku, Yang Mulia Permaisuri." Suara itu membuat Yuan menolehkan kepalanya. Dia sedang duduk ditemani Jingli di halaman istana.


"Oh, itu Anda. Apa lagi sekarang? Tidak mungkin kan, anda tersesat lagi?" sindir Yuan membuang muka.


Putra Mahkota Ling terkekeh pelan dan berjalan mendekat. Ia berdiri di samping Yuan dan menatapnya.


"Tapi sepertinya, saya benar tersesat. Aku tersesat di hatimu," jawabnya dengan wajah yang dibuat polos.


Yuan menutup bibirnya dengan kipas lipat dan tertawa pelan. "Apakan anda kebiasaan merayu seorang wanita yang sudah menikah?"


"Tidak, tapi kecantikan Permaisuri membuatku jatuh hati. Aku menyukaimu ketika pertama kali melihatmu."


"Apa yang anda katakan!" Jingli yang sedari tadi menahan diri kini mengambil langkah maju, tetapi Yuan menahannya.


"Saudari, tidak perlu marah. Beberapa orang kadang memiliki selera aneh yang terkadang bertentangan dengan nilai dan hukum."


Putra Mahkota Ling tertawa keras. "Permaisuri, anda terlalu jujur. Tapi tidak masalah, saya menyukai wanita yang seperti ini."


"Saudari, mari kita kembali ke istana. Di sini sangat tidak nyaman." Yuan berdiri, ingin meninggalkan halaman istana tapi Putra Mahkota kembali menghentikannya. Dia bahkan mengambil langkah yang lebih jauh. Tangan pria itu hampir menyentuh tangan Yuan tetapi seseorang sudah lebih dulu menarik Yuan menjauh darinya.


"Putra mahkota, kurasa anda sudah terlalu jauh."


Yuan mendongakkan wajahnya menatap ZiXuan yang sudah berdiri di sampingnya.


"Yang Mulia, anda salah paham. Saya hanya ingin mengobrol sebentar dengan Permaisuri Xuan," ujar Putra Mahkota Ling tertaw pelan.


"Tapi anda juga sudah melihatnya sendiri, dia menolak. Putra Mahkota, saya harap kamu mengetahui batasanmu."


Pria itu terlihat tidak mempedulikan ZiXuan, mungkin karena dari aspek usia Putra Mahkota Ling lebih tua beberapa tahun dari ZiXuan. Dia malah memiringkan kepalanya menatap Yuan. "Suamimu sangat posesif, ya?"


Yuan tersenyum tipis. "Itu lebih baik daripada tidak sama sekali."


"Ini tidak adil. Yang Mulia, hidupmu sangat beruntung. Bisa mendapatkan satu wanita yang seperti Permaisuri Xuan ini pasti sangat menyenangkan. Anda tenang saja, saya tidak akan merebutnya tapi bisakah saya memiliki kesempatan untuk sekedar makan malam bersama Permaisuri?"


"Apa maksudmu?"


"Ayo kita bertaruh. Jika aku bisa mengalahkanmu, biarkan permaisurimu menemaniku makan malam padaku."


"Omong kosong macam apa itu?! Beraninya kamu menjadikanku sebagai barang taruhan! Jika kamu ingin dilayani, minta saja pelayan untuk melayanimu! Bahkan di rumahku saja, aku tidak pernah diperlakukan seperti pembantu! Aku sarjana—" Yuan  berhenti. Dia mengerjapkan matanya dan menoleh menatap ZiXuan.


"Mengapa tidak diteruskan?" tanya ZiXuan sambil menaikkan alisnya.


"Saudara, pokoknya kamu tidak bisa menjadikanku taruhan! Walaupun kamu adalah suamiku, aku tetap milik diriku sendiri!"


"Memangnya siapa yang ingin menjadikanmu taruhan? Putra Mahkota, saya menyesal harus menolaknya tapi jika kamu menantangku untuk bisa mengukur sejauh mana kemampuanmu, maka boleh saja."


"Sebuah kehormatan bisa berlatih bersama Yang Mulia, mohon bimbingannya."


ZiXuan hendak berjalan memasuki area yang lebih lapang, tetapi sebuah tangan yang lembut dan terasa dingin menghentikannya. Dia menoleh untuk melihat gadis di sampingnya.


"Kamu—"


Mengerti apa yang akan dikatakan gadis itu, ZiXuan segera memotongnya. "Tidak apa-apa. Jangan khawatir."


"Kalau begitu, berhati-hatilah."


Putra Mahkota Ling sudah berdiri siap di depan. Dia memegang sebuah pedang dengan gagang dan sarung berwarna hitam di tangannya. "Sebelumnya, saya minta maaf karena bersikap seperti merendahkan Permaisuri, mohon Yang Mulia tidak terlalu kejam padaku."


ZiXuan tertawa kecil. Dia menambil pedang yang diberikan Li Wei dan berjalan pelan. "Itu tergantung apakah anda bisa menahannya atau tidak. Jika bukan karena hubungan lama leluhur kami, saya juga tidak akan sungkan. Tunggu sampai saya mendapatkan beberapa jejak, kamu mungkin tidak akan sesombong ini."


"Aku sudah mendengarnya. Kaisar Dinasti Qin termuda memang memiliki ambisi yang besar dengan segudang prestasi yang dimilikinya. Berdarah dingin dan kejam saat di medan perang. Benar-benar generasi emas. Sekarang saya dapat melihatnya langsung, bahkan menunduk hormat padahal dalam usia, saya yang lebih senior hanya saja garis keturunan kami berbeda. Tapi jika bukan karena kesetiaan dan pengorbanan dari leluhur saya, anda juga tidak bisa mencapai titik ini."


ZiXuan mengangguk-angguk. "Itu benar. Kalian memiliki leluhur yang baik. Akan lebih baik jika keturunannya juga dapat mengikuti jejaknya."


Di seberang, Yuan menatap heran kedua pria yang sepertinya sedang berbincang itu. "Dia adalah Putra Mahkota? Jingli, pernahkan kamu mendengarnya?"


"Tidak ada banyak catatan tentang Kerajaan Ling, tetapi leluhurnya punya hubungan baik dengan kaisar pertama sekaligus pendiri Dinasti Qin. Hubungan tuan dan pengikutnya. Tetapi mulai merenggang saat Ling Ji, leluhur kerajaan Ling meninggal untuk berkorban. Di dalam sejarah disebutkan bahwa pada masa pemerintahan kaisar pertama, praktik kultivasi yang merupakan konsep dari Taoisme masih banyak, bahkan dominan, tentu saja tantangan untuk bertahan hidup juga lebih besar. Kaisar pertama merupakan penguasa sekaligus kultivator terkemuka pada saat itu. Karena  terlalu kuat, masyarakat menganggapkan sebagai ancaman. Pemberontakan terjadi, tapi pada saat kritis itu kaisar pertama mengalami hal yang tidak terduga yaitu penyimpangan Qi. Karena terlalu berambisi, kaisar pertama berlatih terlalu keras sehingan aliran Qi menjadi tidak seimbang. Untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa terlebih orang-orang yang dilahirkan tanpa memiliki inti spiritual dan menghentikan peperangan, Ling Ji dikatakan melakukan mantra terlarang, menghancurkan dirinya sendiri untuk memperbaiki kerusakan aliran pada kaisar pertama," jelas Jingli yang sangat detail.


"Oh." Yuan mengangguk-angguk padahal dia tidak mengerti. Tetapi dia bisa menangkap intinya, dendam ini disebabkan karena kematian Ling Ji. Tapi karena berbedaan kasta, keturunannya juga tidak bisa melakukan lebih banyak hal daripada menarik diri perlahan. Padahal melakukan pegorbanan adalah keputusan dan pilihan Ling Ji sendiri.


"Saudari, apakah kamu juga ada hubungannya dengan kerajaan Ling?"


"Mengapa Permaisuri bisa berpikir seperti itu? Tanah airku adalah kerajaan Zhou!"


Yuan tertawa kecil. "Baiklah, baiklah. Habisnya kupikir namamu dan leluhur kerajaan Ling hampir sama."


Jingli menyipitkan mata dan mencebikkan bibirnya. "Apanya yang sama? Nama keluargaku adalah Su. Semuaaa keluargaku lahir di tanah kerajaan Zhou."


"Baiklah. Baiklah. Jangan marah. Kan aku hanya asal saja," ujar Yuan membujuknya.


Yuan hanya tersenyum dan kembali memfokuskan matanya saat pertarungan di mulai.


Putra Mahkota Ling bergerak mengambil serangan pertama. Matanya seperti memiliki pandangan yang lain. Sebuah arogansi dan kebencian. Niat membunuhnya sangat terlihat sehingga membuat Yuan sedikit khawatir.


Yuan berjalan mendekati Li Wei meninggalkan Jingli yang sedang serius menonton.


"Kamu adalah Jenderal Li Wei, kan?" tanya Yuan memastikan. Walaupun dia sudah yakin karena sudah beberapa kali bertemu dan juga hasil dari bertanya pada Jingli, tetap saja akan memalukan jika dia salah.


Li Wei menunduk hormat. "Itu benar saya."


"Ini—apakah baik-baik saja jika Yang Mulia bertarung? Anda pasti tau kondisinya, kan?"


Li Wei tersenyum ramah dan berkata, "Yang Mulia tidak akan mengambil tantangan jika beliau sendiri meragukan keberhasilannya. Permaisuri jangan khawatir, Yang Mulia pasti bisa mengalahkannya."


Yuan menghembuskan napas lega. Tetapi beberapa detik setelahnya dia seperti memikirkan sesuatu dan kembali menatap Li Wei.


"Jenderal Li, bisakah anda membantu saya?"


Di depan saja, pertarungan itu semakin sengit. Jika diperhatikan memang penguasaan medan Kaisar Xuan lebih luas daripada Putra Mahkota Ling. Dia tidak menghindar dari serangan yang dilancarkan lawan tetapi memblokirnya dengan baik.


Putra Mahkota Ling menebaskan pedangnya dengan cepat, seperti bumerang yang menyapu ke arah Kaisar Xuan.


Kaisar Xuan memicingkan matanya. Dia melangkah mundur karena serangan bertubi-tubi itu, tetapi ekspresi wajahnya terlihat sangat tenang, hanya bagian mata yang sedikit berubah.


Melihat lawannya seperti menunjukkan kelemahan, Putra Mahkota Ling tersenyum miring. Dia bahkan mempercepat serangannya secepat yang dia bisa.


Tetapi karena terlalu meremehkan lawan, dia bahkan tidak menyadari Kaisar Xuan mengambil satu langkah lebih di depannya.


Suara dentingan yang sangat kuat terdengar. Sebuah pedang terpental setelah terbelah menjadi dua bagian. Keduanya menancap di dalam di tanah.


"Ah maaf, saya akan menggantinya."


Itu terjadi sangat cepat. Putra Mahkota Ling berdiri mematung dengan pedang perak di lehernya. Jika bergerak sedikit saja, mungkin dia akan berada di alam lain sekarang.


Putra Mahkota Ling tersenyum. "Memang pantas menjadi Kaisar Dinasti Qin. Yang Mulia, anda luar biasa," ujarnya sambil melirik ke arah ZiXuan.


ZiXuan menurunkan pedangnya. "Anda juga luar biasa."


"Kalau begitu, Li Wei, antarkan Putra Mahkota kembali untuk beristirahat," lanjutnya.


"Tidak perlu, Yang Mulia. Saya berencana untuk kembali hari ini."


"Kalau begitu—"


"Permaisuri!" Suara pekikan itu membuat baik ZiXuan ataupun Putra Mahkota Ling menoleh.


ZiXuan berlari mendekati Yuan yang sudah terjatuh duduk dengan Jingli yang menahan kepalanya di pangkuan gadis itu.


"Nona Jingli, cepat panggilkan tabib istana. Yang Mulia Kaisar, saya akan mengantar tamu untuk ke luar. Putra Mahkota, mari," ujar Li Wei.


Jingli segera menyerahkan Yuan pada ZiXuan dan berlari untuk memanggil tabib, sedangkan Li Wei pergi mengantar Putra Mahkota Ling yang akan meninggalkan kekaisaran.


"Bangunlah. Berhenti pura-pura," ujar ZiXuan seraya meniup bulu mata gadis itu.


Mendengarkannya, Yuan segera membuka matanya. Dia buru-buru menarik diri dari pelukan ZiXuan dan berdiri diikuti pria itu.


"Yang Mulia, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Yuan sambil menatap ZiXuan dari atas ke bawah.


"Tidak apa-apa. Ayo kembali."


Yuan menahan lengannya. Dia menyingkap layer baju terluar ZiXuan dan melihat noda basah di sana. Tetapi karena warna baju itu hitam, tidak jelas terlihat bahwa itu bekas darah. "Kamu berbohong."


ZiXuan mendengus kesal. "Itu tidak apa-apa. Kamu bisa kembali ke istanamu." Dia menarik bajunya dari tangan Yuan. "Eh? Mengapa kamu menangis? Jangan menangis," lanjutnya panik saat melihat gadis itu menitikkan air mata.


"Saudara, kamu memarahiku. Aku kan hanya khawatir padamu."


"Heh? Kapan aku memarahimu?"


"Matamu menatapku begitu. Kamu pasti marah!"


"Mataku? Baiklah, baiklah. Jangan menangis. Apa yang kamu inginkan?" ZiXuan mencoba membujuk gadis di depannya itu. Ini bukan tanpa sebab, dia hanya tidak suka mendengar tangisan orang.


ZiXuan merasa sangat tidak nyaman. Dia bisa saja meninggalkan gadis itu sekarang, tetapi hati nuraninya mencegah. Dia sedikit tidak tega saat melihat Yuan menangis. Apakah ini pesona gadis cantik? Tapi dia tidak begini biasanya.


"Biarkan aku membantu mengobati lukamu."


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...