My Devil Emperor

My Devil Emperor
Memulai



"Apa yang terjadi padamu? Kamu baik-baik saja?" Kedatangan seorang wanita ditemani dua orang pelayan di belakangnya membuat semua orang yang ada di sana menunduk hormat seraya berucap, "Kami memberi salam kepada Yang Mulia Ibu Suri."


"Tidak berguna! Semuanya tidak berguna! Bagaimana hal ini bisa terjadi?" ujar Ibu Suri Xiao Chun marah.


Dia segera berjalan mendekat pada Yuan dan memapahnya. "Cepat pergi beritahu Yang Mulia!" perintah Ibu Suri Xiao Chun pada pelayan pribadinya.


"Nak, kamu bisa berjalan?"


Yuan mengangguk lemah. "Tidak apa, Bu. Xiao Li masih dapat menahannya."


"Mari, pelan-pelan." Lian Chun menuntun Yuan dengan penuh kehati-hatian. Membawanya kembali ke dalam harem.


"Yang Mulia Permaisuri, Apa—apa yang terjadi dengan anda?"


Melihat pemilik Istana Teratai Putih itu datang dengan luka, tentu saja membuat para pelayan di sana terkejut.


"Apa saja yang kalian kerjakan sampai orang asing dapat masuk ke istana ini?!"


Yuan menggenggam tangan Lian Chun dan menggeleng pelan. "Ibu Suri, ini bukan kesalahan mereka."


"Sudahlah. Yunniang, kamu ambilkan handuk dan air hangat!" Lian Chun membawa Yuan untuk duduk di ranjangnya.


"Baik."


Ketika Yunniang pergi, kasim yang tadi bertemu Yuan datang bersama seorang tabib istana dan Kaisar Xuan.


"Ibunda," sapa ZiXuan sambil menunduk.


Lian Chun menatap putranya itu dengan curiga. Tetapi dia segera mengubah ekspresinya.


"Apakah tertangkap?"


ZiXuan mengangguk. Dia berjalan ke sisi lain Yuan yang kosong dan duduk di sana.


"Kamu keluar dulu! Ada yang ingin ibu bicarakan." Lian Chun berdiri dan langsung pergi keluar dari sana.


Pria itu mengerjapkan matanya dan tertawa pelan. Dia kembali menatap Yuan dan mengusap puncak kepalanya. "Kamu tunggu sebentar," katanya. ZiXuan menoleh pada tabib yang masih berdiri di depannya. "Mengapa anda masih diam saja? Cepat obati!" lanjutnya seraya berdiri dan pergi menyusul Ibu Suri yang sudah menunggunya di luar.


Lian Chun melipat tangannya di depan dada dan menatap tajam ZiXuan yang memasang wajah polos di depannya.


"Siapa pembunuh itu?" tanyanya langsung.


"Pelayan Qiu Ying. Tapi ibu tidak perlu khawatir, anak sudah mengurusnya," jawab ZiXuan tersenyum semringah.


"Tidak ada yang ingin anda jelaskan padaku?" tanyanya penuh penekanan.


ZiXuan tertawa kecil dan berkata, "Apa yang Ibunda maksud? Apa yang anak lakukan?"


"Berhentilah berpura-pura seakan kamu tidak tahu apapun! Inikah yang kamu sebut sudah di atasi?"


"Bukankah ini jalan terbaik? Jika ingin menyelesaikan masalah, harus sampai ke akarnya. Sekalian saja singkirkan keluarganya."


"Kamu gila! Aku tidak mempermasalahkan apapun cara yang kamu gunakan, tetapi jangan melibatkan apalagi menyakiti Xiao Li, kamu tidak paham?!"


ZiXuan menghembuskan napas pelan. "Aku hanya sedikit memanfaatkannya. Lagipula dia baik-baik saja, mengapa ibu semarah itu?"


"Xuan'er!"


"Baiklah, baiklah. Ibunda, anakmu bersalah. Saya memastikan ini adalah yang pertama dan terakhir. Tidak akan ada kejadian seperti ini lagi."


"Tidak akan ya, tidak akan! Jika terjadi lagi, kamu temani dia ke alam baka bersama!" sarkasnya dan melenggang pergi.


ZiXuan mencibir dan bergumam, "Pemarah sekali! Bagaimana ayah bisa begitu menyukainya?" Dia kembali memasuki kamar dan menunduk saat Lian Chun melemparkan tatapan tajamnya.


Tabib istana berdiri, membungkuk hormat dan berkata, "Tidak ada masalah yang serius, Yang Mulia. Tetapi alangkah lebih baik jika kejadian seperti ini tidak terulang. Akan butuh waktu beberapa bulan untuk lukanya sembuh."


Lian Chun mengusap lembut puncak kepala Yuan, menatapnya penuh kasih sayang.


Yuan tersenyum dan berkata, "Ibu Suri tidak perlu khawatir. Xiao Li sudah merasa lebih baik. Ibu, beristirahatlah."


"Benar. Ibunda beristirahatlah. Ini sudah sangat larut. Kalian juga boleh pergi," ujar ZiXuan mengusirnya secara tidak langsung.


Karena kata-kata itu keluar dari bibir sang pemimpin, tentu saja mereka segera keluar dari sana. Sekarang hanya tinggal mereka bertiga.


"Ibunda tidak kembali?"


Lian Chun melirik putranya dan berkata, "Tidak. Siapa yang tahu akan terjadi apa lagi di sini?"


Yuan meringis pelan dan menggenggam lembut tangan Lian Chun. "Ibunda, tidak akan ada masalah lagi. Ibunda juga harus beristirahat. Xiao Li akan merasa tidak nyaman jika merepotkan Ibu Suri," bujuknya.


ZiXuan menarik napas panjang. "Ibunda, aku akan merawatnya. Sekarang, Ibunda bisa tenang?"


Lian Chun menatapnya penuh semangat. "Baiklah. Aku pergi. Ingat untuk menjaganya dengan baik!" Tanpa menunggu respons dari anak dan menantunya, dia segera bangkit dan melipir dari sana.


"Apakah orang itu tertangkap? Dan apa yang Ibu Suri katakan pada Saudara?"


ZiXuan tersenyum manis pada gadis di depannya dan berjalan mendekat. Dia menyejajarkan wajahnya, meletakkan satu tangan di punggung dan bawah lutut Yuan.


"Saudara, kamu—"


"Sudah malam. Beristirahat dulu. Kita akan membicarakannya besok," ujar ZiXuan berbisik. Dia mengangkat Yuan dengan mudah dan membaringkannya di pojok tempat tidur.


Entah mengapa kali ini Yuan tidak dapat melepaskan pandangannya dari pria tampan di hadapannya itu.


Sudahnya Yuan mengatakan bahwa ZiXuan sangat amat tampan?


Tidak tau darimana datangnya keberanian itu, sebelum ZiXuan menjauh, Yuan mengalungkan lengannya dan menarik leher pria itu mendekat.


Tentu saja apa yang gadis itu lakukan membuat ZiXuan terkejut. Matanya terbelalak, tetapi sedetik kemudian bibirnya menyunggingkan sebuah seringaian.


Singkatnya, itu hanya sebuah kecupan ringan tetapi mulai berubah dalam detik berikutnya.


Karena ZiXuan menciumnya terlalu dalam, gadis itu merasa napasnya hampir habis jadi dia refleks menggigit bibir bawah ZiXuan yang membuat pria itu langsung melepaskannya.


Yuan mengatur napas yang sedikit memburu karena pria yang masih berada di atas tubuhnya itu. Ketika membuka mata, dia melihat ZiXuan sedang tersenyum kepadanya, kali ini senyuman itu benar-benar terlihat tulus. Pupil matanya tak sengaja jatuh pada bibir ZiXuan yang terlihat sangat lembab dan ada sedikit darah di sana, dengan cepat dia kembali memejamkan mata dan berkata, "Sau—Saudara, maaf. Aku tidak sengaja."


ZiXuan tertawa kecil dan berkata, "Sangat bodoh. Apakah kamu benar-benar tidak pernah berciuman?"


Yuan membuka sebelah matanya. Raut wajahnya tampak kesal. "Aku rasa Yang Mulia sangat berpengalaman, apakah kamu sering melakukannya?" tanyanya yang terdengar ketus.


"Tidak juga, tetapi aku memiliki intuisi yang bagus. Ingin mencobanya lagi?" Matanya kembali menatap bibir semerah kelopak mawar itu tanpa berkedip.


Yuan mengerjapkan matanya berusaha mencerna apa maksud 'mencoba' yang dikatakan ZiXuan. Kemudian dia menggeleng cepat. Gadis itu bahkan merapatkan bibirnya.


ZiXuan menurunkan pandangannya dan mendesah kecewa. "Apakah aku tidak membuatmu bahagia?"


Apa-apaan ini! Apa yang sedang dilakukan tokoh utama pria? Apakah ini adalah bakat lainnya? Membuat perasaan seseorang menjadi luluh dan tak tega?


Sekarang, pria di depannya itu terlihat seperti kelinci imut nan menggemaskan yang sedang terluka. Benar-benar membuat orang yang melihatnya menjadi melembut.


"Bukan—bukan seperti itu."


"Lalu kamu biarkan aku mencobanya lagi, oke?"


Yuan terdiam sesaat.


"Lalu kamu selesaikan dengan cepat."


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...