My Devil Emperor

My Devil Emperor
Jangan Katakan Apapun



Entah karena suara bising dari luar ruangan atau alasan lainnya, itu berhasil membuat seorang wanita yang sedang terlelap perlahan membuka mata.


Dia mengernyit dan segera memijat pelan pelipisnya yang terasa pening. Wanita itu bangun perlahan, membuat selimut yang menutupi tubuhnya terjatuh.


"Yoo? Kamu sudah bangun?" Suara yang terdengar berat itu membuat sang gadis menoleh.


Mata cemerlangnya menatap kosong selama beberapa saat. Fragmen-fragmen ingatan semalam seperti kaset rusak yang otomatis berputar di kepalanya.


Seperti tersengat arus listrik, tubuhnya tersentak. Tangan yang tadi memijat pelipis, diturunkannya untuk menutup mulut.


ZiXuan tertawa kecil. Walaupun tidak melihat langsung, ekor matanya tetap dapat melihat keterkejutan di wajah gadis mungil itu. Tangannya menggoyangkan cawan berisi arak dan menoleh. "Ada apa dengan ekspresimu?" tanyanya santai. Manik matanya kemudian mengamati gadis di atas ranjang itu.


"Apa yang kamu lihat!" katanya ketus. Yuan kembali menarik selimut yang berada di pahanya.


"Apa yang aku lihat, kamu tidak bisa membatasinya."


"Mesum!"


Pria itu berdiri. Dengan cawan yang berada di tangan kanannya, dia berjalan pelan mendekati Yuan.


Melihat ZiXuan yang semakin mendekatinya dengan tatapan tajam yang pria itu hujamkan padanya membuat Yuan tanpa sadar semakin mengeratkan tangannya pada selimut yang dia pegang.


"Itu—kamu tahu kan? Terkadang perkataan orang mabuk itu tidak dapat dipercaya."


Pria itu tetap diam tanpa mengatakan apapun sampai dia tepat berada di depan Yuan.


"Saudara, apa—apakah aku mengatakan sesuatu yang salah saat mabuk tadi?" tanya Yuan menatapnya takut.


"Tidak. Hanya saja kamu sangat jujur. Biar kutanya lagi, siapa kamu?"


Tanpa bisa dihindari, jantungnya seperti berdetak sangat cepat, perutnya terasa mulas dan keringat mulai membasahi pelipisnya. "Saudara, apa maksudmu?"


ZiXuan menaikkan alisnya dan berkata, "Mengapa kamu sangat gugup? Aku hanya memastikan apakah kamu masih mabuk atau sudah sadar. Reaksi seperti ini terlihat kamu menyembunyikan sesuatu yang besar tentang identitasmu."


"Ah? Mana mungkin! Tentu saja aku adalah aku. Saudara, apa yang kamu bicarakan?"


ZiXuan menghela napas panjang. "Xiao Li, aku sedikit kecewa sekarang. Kukira aku sudah cukup mengenalmu, ternyata aku sama sekali tidak mengenalmu," katanya sambil menurunkan mata membuat pria itu terlihat seperti dianiaya.


"Saudaraku, aku—"


"Apakah kamu masih mencintaiku?"


"Tentu saja!"


"Sebenarnya aku juga cukup menyukaimu."


Pernyatan yang tiba-tiba itu membuat Yuan membeku. Mata seindah bunga persiknya menatap mata sebiru samudera ZiXuan.


Pria itu tersenyum tipis dan menunduk. Tangannya terulur merapikan rambut hitam Yuan kemudian dia berbisik, "Sayangku, karena aku menyukaimu, aku sedikit kecewa ketika kamu menyembunyikan sesuatu dariku, terlebih lagi berbohong kepadaku. Kamu ingat, kan? Aku membenci kebohongan."


"Aku—"


"Ssttt!" ZiXuan meletakkan jarinya di atas bibir merah gadis itu. "Jangan katakan apapun. Jangan memaksakan diri. Kamu bisa menceritakannya ketika kamu siap. Tapi, ada satu hal yang harus kamu patuhi. Jangan mencoba untuk mengkhianatiku," ujarnya tepat di telinga Yuan.


Gadis itu mengangguk cepat. Dia mengangkat tiga jadinya dan berkata, "Xiao Li berjanji tidak akan mengkhianati Saudara. Dalam hidup ini, Xiao Li hanya akan mencintai Saudara Xuan."


ZiXuan tersenyum puas. Dia menepuk pelan puncak kepala gadis itu. "Gadis yang baik. Pilihan yang baik."


"Kamu sudah lebih baik? Jika sudah, kita akan kembali ke istana sekarang."


"Umm, tidak masalah. Xiao Li sudah merasa lebih baik."


"Ayo!"


Yuan menatap pria itu dengan pandangan rumit. Sedangkan ZiXuan yang di tatap hanya menaikkan alisnya, bingung. "Apa lagi?"


"Itu, Saudaraku—bisakah kamu keluar lebih dulu? Aku—aku perlu merapikan penampilanku," kata Yuan pelan sembali menundukkan kepalanya menyembunyikan rona merah yang perlahan muncul di pipinya.


ZiXuan tersenyum tipis dan menjawab, "Lalu kamu rapikan saja!"


Gadis itu sontak saja kembali mendongakkan kepalanya. "Ah?"


"Kamu rapikan saja."


Yuan menelan salivanya. Dia kembali menundukkan kepala, tidak berani bertatapan langsung dengan pria di depannya itu.


Diam-diam, sepertinya dia menyadari sesuatu yang salah.


Situasi macam apa ini?! Bukankah awalnya dia yang sedang marah? Mengapa sekarang dia bahkan tidak berani untuk menolak perintah pria itu? Mengapa juga dia mengakui perasaannya tadi? Ini apakah dia yang terlalu bodoh, atau ZiXuan yang terlalu licik?!


Dengan satu tangan menahan selimut untuk menutupi tubuhnya, tangan lain yang berada di dalam selimut itu meraih bajunya. Untung saja, pria itu tidak benar-benar melucuti bajunya, hanya menurunkan sampai pinggangnya saja.


"Sudah selesai?" tanyanya saat gadis itu sudah berdiri.


Yuan mengangguk sebagai jawaban.


ZiXuan pun mendekatinya, menarik pinggang ramping gadis itu dan dengan lembut berkata, "Mari kita pulang, istriku."


Seperti sebelumnya. Tidak ada lagi penolakan dari Yuan. Dia menjadi lebih penurut. Sangat manis.


Keduanya berjalan keluar dari kamar itu.


Sesampainya di lantai bawah, bos pemilik paviliun menyambutnya dengan senyuman ramah.


"Terima kasih Tuan dan Nyonya sudah datang ke paviliun kami."


ZiXuan tersenyum dan mengangguk ke arah pria paruh baya itu. "Pelayanan yang bagus. Kami akan pergi sekarang."


Bos paviliun itu mengantar ZiXuan dan Yuan sampai ke depan.


Di depan sana sudah ada sebuah kereta kuda.


ZiXuan mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu naik terlebih dahulu, setelah itu dia juga segera masuk.


Kereta kuda itu berjalan cepat tetapi hati-hati menuju istana kekaisaran.


Tidak membutuhkan waktu lebih dari dua puluh menit untuk sampai di sana.


ZiXuan turun lebih dulu dan kembali membantu gadis itu untuk turun dari kereta.


Dari kejauhan, Li Wei terlihat berjalan cepat mendekati mereka berdua.


Pria yang juga termasuk tampan dalam istana itu menunduk hormat pada Kaisar Xuan dan permaisurinya.


"Ada masalah?"


Li Wei menggeleng pelan dan berkata, "Tidak ada. Tetapi Yang Mulia memiliki tamu."


ZiXuan mengernyitkan keningnya. "Tamu? Siapa?"


"Adalah Raja dan Ratu kerajaan Liang yang datang bersama putri mereka juga."


Yuan menatap bergantian kedua lelaki itu dan berdeham pelan. "Kalau begitu, aku akan pergi," katanya sambil melangkah.


Tetapi dia berhenti saat tangan besar itu menahan pundaknya. "Aku belum menyuruhmu pergi."


"Ah?"


***


"Sudah menunggu lama?" Suara itu membuat Raja dan Ratu serta Putri Kerajaan Liang yang sedang mengobrol ringan menoleh.


Ketiganya berdiri serentak dan menunduk sopan sebagai tanda penghormatan kepada Kaisar Xuan yang datang bersama pengawal pribadinya, Li Wei.


"Sudah lama tidak melihatmu, ternyata sudah sedewasa ini. Apa kabar, Yang Mulia Kaisar?"


ZiXuan tersenyum tipis dan menjawab, "Baik. Bagaimana dengan anda?"


"Kami semua juga baik."


"Jadi, apa yang membuat Raja Liang datang jauh-jauh ke sini?" tanya ZiXuan to the point.


"Ini, Rong'er yang memaksa untuk datang ke sini terkait dengan teman baiknya, putri dari perdana menteri Qiu. Kudengar ada kesalahpahaman di sini, jadi menuruti gadis ini untuk memohon juga ada beberapa hal yang saya ingin bicarakan pada Yang Mulia," ujar Raja Liang menjelaskan tujuannya datang ke sini.


"Ah begitu. Sepertinya anda datang terlambat."


Mendengar perkataan ZiXuan yang janggal, Putri Liang Rong yang sedari tadi hanya mendengarkan, maju ke depan dan berkata, "Apa maksud Yang Mulia? Apakah Adik Ying'er baik-baik saja? Sejak saya datang ke mari, saya belum bertemu dengannya."


"Ini, ada beberapa masalah yang terjadi dalam seminggu terakhir."


"Masalah? Apa masalahnya?"


"Ini bisakah dibicarakan nanti?" Suara lembut yang menginterupsi itu membuat semua orang kecuali ZiXuan menoleh.


Wanita yang terlihat anggun, berwibawa dan sangat cantik itu berjalan pelan memasuki ruangan.


"Yang Mulia Permaisuri Xuan," ucap Li Wei sambil membungkukkan badan.


Ucapannya itu membuat kebingungan di wajah Raja dan Ratu Liang menghilang.


"Ah, saya telah melihat Yang Mulia Permaisuri Xuan," ujar Raja Liang menunduk diikuti istri dan anaknya.


Yuan hanya mengangguk pelan dan kembali menatap suaminya. "Yang Mulia, anda baru saja tiba. Saya pikir anda sedang beristirahat, tapi siapa yang tahu anda segera menemui tamu anda sekarang. Bukankah dia seharusnya beristirahat dulu?" tanya Yuan sambil menoleh menatap tamu dari kerajaan Liang itu.


"Ah? Yang Mulia baru saja sampai istana? Kalau begitu Yang Mulia bisa beristirahat dulu. Tidak perlu khawatirkan kami, kami bisa menunggu untuk lebih lama berbincang pada Yang Mulia."


"Benar, kan? Saya juga berpikir begitu."


ZiXuan tertawa pelan dan menatap lembut gadis cantik di depannya. "Saya tidak bisa menolak jika permaisuri yang mengatakannya." Kemudian dia menoleh menatap Raja Liang dan lanjut berkata, "Kalau begitu, mari bicarakan hal yang lainnya nanti."


"Baik, Yang Mulia. Semoga harimu menyenangkan."


ZiXuan berbalik dan pergi. Yang membuat mereka aneh, dia hanya pergi sendirian tanpa membawa serta Permaisuri Xuan yang masih berdiri tenang.


Tidak tahu saja bahwa Yuan diam-diam gelisah dan menggigit bibir bawahnya. Tetapi gadis itu dengan cepat mengubah ekspresinya kembali.


"Di mana adik Ying'er?" tanya Putri Liang entah kepada siapa. Tetapi matanya jelas menatap Yuan.


"Takutnya kamu tidak bisa bertemu dengan dia lagi. Li Wei, saya juga cukup lelah. Pertanyaan dari Putri Liang, tolong bantu saya dan Yang Mulia menjelaskannya." Yuan beralih menatap Raja dan Ratu kerajaan Liang dan tersenyum ramah. "Untuk hari ini, atas nama Yang Mulia Kaisar saya mohon maaf karena tidak bisa menyambut tamu dengan baik. Festival lentera akan segera datang, karena sudah tiba di ibukota, saya mengundang Raja dan Ratu untuk merayakan festival lentera di istana kekaisaran. Buatlah diri sendiri nyaman berada di sini."


Raja Liang hanya menatap Yuan datar. Ekspresinya ketika ada dan tidak ada Kaisar Xuan sangat berbeda. Pria paruh baya itu sepertinya tidak terlalu menyukai Permaisuri Xuan.


Ratu Liang menatap suaminya yang tidak memberikan respons apapun, wanita itu menyentuh pelan lengan Raja Liang. "Yang Mulia," panggilnya menyadarkan. Tetapi suaminya itu seperti sengaja bertindak begitu.


Dengan tak enak hati, Ratu kerajaan Liang kembali menatap Permaisuri Xuan. Dia membungkukkan badannya dan berkata, "Terima kasih atas sambutan dan undangan Yang Mulia Permaisuri."


Yuan beralih menatap wanita itu dan tersenyum. "Tidak masalah. Kalau begitu saya permisi." Setelah selesai, gadis itu melirik Li Wei dan tersenyum canggung.


"Selamat bekerja!"


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...