My Devil Emperor

My Devil Emperor
Pengadilan



Atmosfer ketegangan terasa di ruang pengadilan. ZiXuan menatap tajam para pelayan istana yang berdiri di depannya sambil menunduk.


Dia beralih menatap Luo Li yang berdiri di sisi kiri bersama dengan BaiSan yang menemaninya.


"Aku tidak percaya ada orang yang begitu berani melakukan ini padaku, apakah kamu tidak ingin hidup?" ujarnya membuka suara.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Yang Mulia?" tanya BaiSan.


"Kakak Bai, apakah kamu meragukanku?" Bisikan itu terdengar memasuki telinganya. BaiSan menoleh menatap Luo Li. Tentu saja dia percaya bahwa wanitanya tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan ZiXuan, tetapi namanya juga harus dibersihkan.


BaiSan tersenyum. Tanganya terulur menggenggam tangan Luo Li yang terasa hangat. "Bagaimana mungkin? Saya hanya mengkhawatirkanmu," jelasnya.


Mereka berdua kembali fokus pada pengadilan saat seseorang kembali berbicara, kali ini bukan ZiXuan tetapi Yuan yang memulainya.


"Yang sebenarnya terjadi? Saya yakin semua orang di sini juga penasaran, kan?. Jadi saya akan memulainya dari calon istrimu. Putri Luo Li, saat kita bertemu di ruang penyimpanan kamu mengatakan bahwa kamu di sana untuk menemui permaisuriku. Bagaimana bisa seperti itu?"


Luo Li terlihat ragu dan menatap ke sisi kiri Yuan, ada dua pelayan pribadinya di sana. "Seorang pelayan istana datang menemuimu dan mengatakan bahwa anda ingin bertemu denganku di ruang penyimpanan untuk suatu hal yang penting," ujar Luo Li pelan.


ZiXuan menoleh ke arah istrinya dengan pandangan bertanya, sedangkan wanita itu mengedikkan bahunya tanda tak tahu apapun.


Yuan berdeham pelan dan berkata, "Kamu bilang, dia seorang pelayan. Apakah— " Yuan menggantung kalimatnya dan melirik ke samping kirinya sekilas.


Dia menarik napas pelan dan menghembuskannya. Tirai matanya bergerak turun menutupi bola mata seindah begonia malam. "Katakan saja. Tidak masalah," ujarnya pelan tapi masih terdengar di ruangan yang senyap itu.


"Itu benar. Pelayan itu salah satu dari pelayan pribadimu, Yang Mulia Permaisuri."


Ini adalah yang dia cemaskan. Ini pasti hanya kesalahan.


Yuan kembali membuka matanya, memiringkan sedikit badannya dan menoleh pada kedua pelayan itu.


Salah satu dari mereka melangkah maju. Ia bersimpuh di samping Yuan dengan kepala tertunduk.


"Yang Mulia Permaisuri, itu adalah saya. Semalam saya yang menyampaikan bahwa Permaisuri ingin menemui Tuan Putri Luo Li di ruang penyimpanan. Tetapi untuk masalah ini, saya tidak mengetahuinya. Saya berkata benar. Dan untuk pesan itu, saya tidak menerimanya langsung dari Permaisuri. Itu dari seseorang yang menemuiku di dekat kamar permaisuri."


Yuan masih menatap perempuan itu dengan perasaan yang tidak dapat dijelaskan. Bukan hanya dia yang terkejut, tetapi juga semua orang termasuk Li Wei.


"Lanjutkan," ucap Yuan mengalihkan pandangan lurus ke depan.


"Semalam hamba ingin menemui Permaisuri di kamar. Seperti biasa, melayanimu atau menanyakan apakah anda membutuhkan sesuatu sebelum tidur. Tetapi saya tidak menemukanmu di sana. Jadi hamba memutuskan mencarimu." Jingli menghela napas sebentar sebelum kembali melanjutkan, "Lalu, saya bertemu seorang pelayan tak jauh dari istana Permaisuri Xuan. Dia terlihat sedang buru-buru dan berjalan menghampiriku. Kemudian ia bilang Permaisuri Xuan baru saja pergi ke ruang penyimpanan untuk menunggu Putri Luo Li. Permaisuri Xuan memintanya untuk menyampaikan pesan itu pada putri Luo Li tapi pelayan itu bilang dia sedang terburu-buru menyelesaikan tugas yang diberikan kaisar dan takut tidak bisa menyelesaikannya tepat waktu, jadi ia meminta tolong padaku untuk menemui Putri Luo Li dan menyampaikan pesan Yang Mulia Permaisuri." Jingli menyelesaikan penjelasannya dengan posisi berlutut dan menundukkan kepala.


"Bagaimana kamu akan membuktikannya? Kamu bisa saja berbohong, kan?" tanya ZiXuan dingin.


Tiba-tiba Yunniang ikut maju dan berlutut di samping Jingli. "Yang Mulia bolehkan saya berbicara?" tanyanya dengan sopan. Yuan menoleh dan menatap pelayannya itu dengan arti 'Apa yang sedang kamu lakukan?' Tetapi Yunniang hanya tersenyum dan menunduk.


Tanpa menoleh, ZiXuan berkata, "Dipersilakan."


Yunniang melanjutkan, "Selama aku bekerja untuk melayani Permaisuri bersama Jingli, dia adalah perempuan yang jujur. Tidak pernah sekalipun melakukan kesalahan besar apalagi berani mencelakai Kaisar dan Permaisuri. Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri tolong selidiki lagi hingga tuntas."


Yuan kini menoleh menatap ZiXuan. "Yang Mulia, yang dikatakan Yunniang masuk akal. Permaisuri ini tidak bermaksud membelanya karena dia adalah pelayan pribadiku, tetapi tidak ada alasan untuknya melakukan hal tersebut padamu. Dia bukan hanya pelayanku, tetapi juga teman masa kecilku. Aku mengenalnya lebih dari siapapun. Dia adalah orang yang kupercaya. Tidak mungkin dia akan menyakiti orang-orang yang aku cintai. Yang Mulia, tolong selidiki lagi," ujar Yuan penuh harap.


"Yang Mulia, tolong selidiki lagi." Kali ini Li Wei yang berbicara.


ZiXuan menghela napas pelan. Dia kembali berkata, "Kalau begitu kamu bisa menunjuk pelayan yang memintamu untuk menyampaikan pesan pada Putri Luo Li."


Jingli menoleh sambil mengangkat kepala. Matanya memindai satu persatu wajah pelayan yang berdiri di bawah undakan anak tangga itu dengan teliti kemudian matanya berhenti pada seorang pelayan yang tidak begitu mencolok berdiri di paling pojok.


"Itu dia," ujarnya sambil menunjuk pelayan itu tanpa keraguan.


Semua orang menatap ke arah yang ditunjuk Jingli, termasuk Yuan.


Yuan menyipitkan matanya dan berkata tanpa sadar, "Bukankah itu orang yang sama yang menemuimu semalam, Yang Mulia?"


"Ya, itu dia. Bawa dia ke depan!" perintah ZiXuan yang segera dilaksanakan pengawal yang berdiri dekat dengan barisan pelayan itu.


Wajah pelayan itu sedikit pucat, tetapi tetap terlihat tenang.


Dua pengawal yang menyeretnya menendang lutut pelayan itu hingga ia jatuh berlutut.


"Apakah kamu ingin mengatakan sesuatu?" tanya Yuan.


Pelayan itu menunduk. Tanpa melihat wajah Yuan, ia menjawab, "Tidak ada."


"Siapa yang menyuruhmu?"


Pelayan itu terdiam. Ia menolak memberi jawaban.


Yuan menggeram kesal. "Apa kamu tidak punya mulut?" sarkasnya.


ZiXuan melirik Yuan yang tampak berbeda. Wanita itu seperti sedang menahan marah. Ia tersenyum samar dan berkata, "Permaisuriku, jangan marah."


Yuan berdesis. Bisa-bisanya ZiXuan menuangkan minyak ke dalam api!


"Yang Mulia, kamu tau betul apa yang dia lakukan! Tidak masalah jika aku yang terkena efeknya. Tapi bagaimana jika itu kamu? Bagaimana jika aku tidak ada di sana? Bagaimana jika rencananya berhasil?" tanyanya mencerca.


Melihat Yuan yang tidak bisa menahan kemarahannya itu membuat orang bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Permaisuri Xuan memang terkadang bersikap aneh, tetapi dia jarang sekali memperlihatkan kemarahannya di depan umum. Walaupun tidak menakutkan karena wajah Yuan memang terlihat seperti wanita anggun yang lembut dan berpendidikan, tetap saja berbeda jika seorang permaisuri dinasti yang melakukannya.


ZiXuan menatap Li Wei dan pria itu segera mengerti maksudnya.


Li Wei mengeluarkan sebuah kotak persegi panjang dan menyerahkannya pada ZiXuan.


ZiXuan membuka kotak yang ternyata berisi sebatang dupa dan meletakkannya di atas meja.


"Itu adalah Dupa Sepasang Malam, salah satu dari jenis dupa afrodisiak," ujarnya tenang.


Semua orang yang mendengar lantas terkejut.


Sebatang dupa afrodisiak yang memiliki efek meningkatkan gairah di letakan di sebuah ruangan yang tertutup rapat. Kemudian di dalam ruangan itu ada dua orang yang terjebak di dalamnya. Dan yang terjadi setelah sudah pasti dapat diperkirakan.


[Afrodisiak adalah zat yang mampu meningkatkan gairah seksual. Istilah ini diturunkan dari bahasa Yunani, ἀφροδισιακόν, aphrodisiakon, dari aphrodisios, i.e. "berkaitan dengan Aphrodite"]


"Apa! Benar-benar keterlaluan!"


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...