
Matahari sudah naik saat ruang persidangan itu diisi oleh para menteri dan petinggi kerajaan. Di bawah singgasana Kaisar itu, terlihat seorang wanita yang duduk berlutut dengan tangan terikat. Di sebelah kanan dan kirinya ada seorang pria paruh baya dan seorang wanita paruh baya.
Sekilas, suasana persidangan terasa sangat menegangkan.
Sang kaisar duduk bersandar dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Yang Mulia, apakah anda menghukumnya hanya karena dia sedikit menghambat waktumu?" tanya pria paruh baya itu.
"Hanya? Jadi nyawa permaisuriku itu tidak penting?" ZiXuan tertawa pelan sambil mengetuk-ngetuk meja di depannya.
"Tidak, Yang Mulia. Bukan seperti itu. Maksud hamba adalah Yang Mulia sudah mengenal Ying'er sejak lama. Dia hanya terlalu manja dan mengkhawatirkan anda yang sudah dianggapnya sebagai saudara. Kemarin, gadis ini hanya terlalu khawatir karena anda dan permaisuri menghilang satu hari penuh. Dia melakukan kesalahan," ujar pria paruh baya itu berusaha menjelaskan.
"Sebenarnya bukan itu saja. Nona Ying, akankah kamu ingin mengakuinya sendiri atau aku membantumu?" ZiXuan menatap gadis yang sedari tadi menundukkan kepala dengan bahu yang bergetar itu.
"Putriku, apa yang sudah kamu lakukan?"
Qiu Ying mengangkat wajahnya yang berurai air mata seraya meraih tangan ayahnya. "Ayah—ayah, Ying'er tidak melakukan apapun. Apa yang Ying'er lakukan sebelumnya murni karena Ying'er terlalu mengkhawatirkan Saudara Xuan. Ying'er tidak pernah berniat menyakiti Permaisuri Xuan. Ying'er juga tidak menyangka Saudara Xuan akan semarah ini," katanya menjelaskan.
"Oh? Lalu anda katakan padaku, saat Permaisuri Xuan disandera, mengapa anda tidak melakukan apapun? Jika itu karena anda tidak dapat melawan, lalu mengapa tidak segera memberitahuku atau prajurit kami?" tanya ZiXuan menyudutkannya.
"Saudara—"
"Panggil aku Yang Mulia!" potongnya penuh penekanan.
"Yang—Yang Mulia, Ying'er benar-benar tidak berniat jahat pada Permaisuri Xuan. Saat itu, Ying'er merasa takut sehingga tidak dapat melakukan upaya apapun untuk mencegah bandit itu membawa Permaisuri Xuan."
Nyonya keluarga Qiu, Leiya, segera memeluk putrinya yang terlihat sangat terguncang. "Yang Mulia, maaf jika saya memotong pembicaraan anda, tetapi adalah suatu hal yang wajar saat dalam kondisi bingung dan tertekan, seseorang baik itu pria atau wanita pasti tidak dapat melakukan gerak cepat, bahkan sekedar berbicara saja rasanya akan sulit. Ying'erku dibesarkan dalam keluarga yang terlalu menyayanginya. Apapun yang dia inginkan, kami memberikannya. Itu kesalahan kami selaku orang tua sehingga menjadikannya tumbuh sebagai seorang gadis yang terlalu manja."
"Nyonya Qiu, saya mengerti maksudmu, tetapi alasan itu tidak dapat anda gunakan pada setiap orang. Juga anda sendiri yang mengatakan, ini adalah kelalaian dari orang tuanya, tetapi putrimu pun tidak lagi anak-anak. Seharusnya dia sudah dapat membedakan yang baik dan buruk. Dia bisa menentukan jalannya sendiri. Orang tua yang selalu menutupi kesalahan anaknya, juga tidak baik. Itu akan membuat anak tidak memiliki rasa tanggungjawab dan menjadi beban untuk orang lain. Anda juga harus menyadari dengan siapa anda berbicara saat ini."
"Yang Mulia, mohon maafkan perkataan istri hamba dan tolong maafkan putriku kali ini saja. Aku akan lebih mendisiplinkannya, hal ini tidak akan terjadi lagi di masa depan," ujar Qiu Lang memohon. Dia berlutut dan menunduk di samping putrinya.
"Aku ingin melepaskannya, tetapi dari awal putrimu tidak mengatakan kejujuran sama sekali. Aku memberinya kesempatan, tetapi dia menyia-nyiakannya. Benar-benar membuatku kecewa." ZiXuan menghela napas panjang. Dia membuka sebuah kotak dan melemparkan isinya pada Qiu Lang. Benda itu jatuh tepat di depan lutut pria paruh baya itu. "Kalau begitu, coba katakan apa itu?" lanjutnya dengan eskpresi datar.
Dengan tangan bergetar, Qiu Lang mengambilnya. "Ini—apa maksudnya ini, Yang Mulia? Apa hubungannya dengan benda ini?"
ZiXuan tersenyum miring dan berkata, "Coba tanyakan pada putrimu, di mana dia berada saat insiden awal bermula. Kurasa kalian sudah mendengarnya. Selain insiden disandera, sebelum itu ada seseorang yang berniat melukainya—oh bukan melukai, tetapi membunuhnya. Anak panah yang anda pegang itu dilapisi racun. Itu juga anak panah yang sama yang melukai Permaisuri Xuan. Kamu mengenalnya kan?"
Mendengar itu, orang-orang yang berada di persidangan mulai mencuri pandang pada anak panah yang sedang dipegang Perdana Menteri Qiu Lang, tetapi tidak menemukan sesuatu yang aneh di sana.
"Itu milik putrimu. Ada ukiran namanya di sana. Anda tidak mungkin tidak mengenalinya, kan?"
Kalimat berikutnya yang diucapkan ZiXuan membuat para menteri yang ada, mulai berbisik-bisik.
Melihat anak panah itu, wajah Qiu Ying mendadak pias. "Yang Mulia, itu—itu memang milikku, tetapi aku kehilangan anak panah itu seminggu yang lalu."
"Yang Mulia, ini pasti salah paham. Pasti ada yang sengaja ingin menjatuhkan keluarga kami."
"Perdana Menteri Qiu Ying, bukti ini sudah sangat jelas. Putrimu telah melakukan kejahatan tak termaafkan, mencoba membunuh Permaisuri Xuan. Yang Mulia Kaisar, kami semua tahu keluarga Perdana Menteri Qiu memiliki banyak kontribusi, juga kesetiaan para generasi sebelumnya. Tetapi jika generasi setelahnya mencoba menyakiti keluarga kekaisaran, tidak ada alasan untuk melepaskannya! Mohon tegakkan keadilan untuk Permaisuri Xuan!" Suara itu berasal dari seorang pria yang tampak lebih senior dari semua orang di sana.
Qiu Lang menoleh, menatap pria yang tampak lebih tua darinya itu dengan pandangan tak suka.
Sebagian besar orang menyetujui apa yang dikatakan pria tua itu. Mereka berbisik-bisik menebak konspirasi apa yang sedang terjadi. Sedangkan bagian kecilnya memilih untuk netral.
"Tuan Du, tidak perlu khawatir. Saya tahu apa yang akan saya lakukan. Tentu saja seseorang yang bersalah akan tetap mendapat hukuman."
"Yang Mulia, hamba memohon belas kasihanmu pada keluargaku. Ying'er adalah putriku satu-satunya. Menggunakan kesetiaan keluarga kami selama ini, mohon Yang Mulia maafkanlah Qiu Ying sekali ini saja," ujar Qiu Lang berlutut memohon.
Suasana persidangan beberapa saat menjadi hening sampai seorang pelayan, tanpa disadari mendekat ke arah Li Wei. Dia membisikkan sesuatu setelah itu menunduk dan pergi dari sana.
Li Wei yang berdiri di sudut ruangan segera mendekat ke singgasana tempat Kaisar Xuan duduk.
ZiXuan menaikkan alisnya seakan bertanya 'Ada apa?' pada pengawal pribadinya itu.
Li Wei menunduk dan membisikan sesuatu yang membuat ZiXuan meliriknya. Pria itu segera bangkit dan berjalan meninggalkan ruang persidangan tanpa mengatakan apapun.
Semua orang terkejut, tetapi tentu saja tidak ada yang berani menghentikannya.
"Persidangan ditunda. Silakan para menteri kembali dulu," ujar Li Wei. Setelahnya dia juga pergi dari saja.
Melihat ZiXuan yang sudah menghilang dari balik pintu, Qiu Lang berinisiatif mengejarnya. Bagaimanapun, nasib Qiu Ying masih belum bisa dibilang aman.
"Yang Mulia," panggilnya yang telah berada di belakang ZiXuan.
"Bukankah persidangan ditunda? Untuk apa anda mengejarku?"
"Yang Mulia, hamba memohon dengan amat sangat untuk melepaskan Qiu Ying kali ini saja. Hamba dapat menjamin di masa depan, anak itu tidak akan melakukan kesalahan seperti ini lagi. Dia adalah keturunanku satu-satunya. Bagaimana aku akan menjelaskan pada leluhurku di atas sana jika aku gagal melindunginya? Bagaimanapun, sebelum Qiu BingDing meninggal dalam pengorbanannya, Qiu Ying adalah cucu tercinta. Untuk ayahku, Qiu BingDing, tidak bisakah anda melepaskannya kali ini?"
ZiXuan mendengus pelan. Orang tua di belakangnya itu sangat mengerti bagaimana cara menggunakan kartu hole terakhirnya. "Awasi saja putrimu. Jangan biarkan dia melakukan kesalahan lagi."
Qiu Lang mengangguk semangat dan berkata, "Baiklah. Hamba akan melakukannya. Yang Mulia jangan khawatir, hal seperti ini tidak akan terjadi lagi. Untuk anak panah yang ditemukan itu, hamba akan mencari pelaku sebenarnya yang telah mencelakai Yang Mulia Permaisuri Xuan."
"Jika tidak ada lagi, anda pergilah. Jangan mengikutiku!"
...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...