My Devil Emperor

My Devil Emperor
Sweet Dish



Sudah hampir dua puluh menit dia duduk di sana. Di depan cermin dengan kepala yang di miringkan ke arah kiri. Menatap benda yang menjuntai di kepalanya.


"Permaisuri, apa yang kamu lakukan? Tidak jadi mengantar camilannya? Itu akan segera dingin."


"Ah benar! Mengapa aku bisa lupa?" Yuan berdiri dan mengambil keranjang makanan yang tadi sudah dia siapkan.


"Ada apa, Saudari?" tanya Yuan bingung saat melihat Jingli menatapnya tanpa kedip.


"Apa sedari tadi kamu menatap itu?" ujar Jingli saat baru menyadari ada sebuah jepit rambut yang terlihat mencolok di kepala Yuan.


Yuan mengangguk semangat, membuat rumbai emas itu bergoyang mengikuti gerakannya. "Apakah terlihat indah?" tanyanya lagi seraya meletakkan tangannya di jepitan itu.


"Indah. Itu sangat indah. Pasti itu pemberian dari Yang Mulia, kan?"


Lagi-lagi Yuan mengangguk.


"Kalian seperti pasangan sungguhan sekarang. Anda memberikannya batu giok dan Yang Mulia memberikanmu jepit rambut. Lalu tinggal menunggu kehadiran pangeran atau putri kecil nanti!" ujar Jingli semangat.


"Apa yang kamu bicarakan? Kami hanya berteman!"


"Lebih juga tidak apa-apa. Yang Mulia dan anda adalah pasangan suami istri, itu akan baik jika hubunganmu bisa berkembang lebih jauh."


"Aiya, Saudari, kamu berpikir terlalu jauh. Jika berkembang pun, juga tidak secepat itu!"


Jingli tertawa kecil. "Baiklah, asalkan Permaisuri bahagia, saya juga akan bahagia."


"Hmm, aku pergi dulu." Setelah selesai berbicara, Yuan berjalan pergi menuju Istana Qin.


Tadi pagi, selesai pria itu memberikannya jepit rambut dia membiarkan Yuan pergi.


Untuk membalas kebaikkan hatinya, gadis itu berniat membuatkan beberapa kue juga ini akan baik untuk hubungan mereka. Setidaknya Yuan harus benar-benar membuat ZiXuan mempercayai ketulusan hatinya.


Yuan mengetuk pintu yang sudah terbuka di depannya dengan pelan sebelum melangkah masuk.


Dia mengerjapkan matanya saat melihat ada orang lain di sana. Pantas saja pintunya terbuka.


Gadis itu membungkukkan badannya dan berkata, "Saudara, maaf mengganggu waktumu. Saya akan kembali lagi nanti."


"Pfft."


"Apa yang kamu tertawakan?!" ujar ZiXuan marah.


"Tidak ada. Yang Mulia, saya pergi dulu." Orang itu berbalik. Saat berpapasan dengan Yuan, dia menunduk sopan sebelum akhirnya menghilang di balik pintu tertutup.


"Ada apa?" Mungkin karena suasana hatinya sedang buruk, pria ini bersikap dingin padanya.


"Umm, itu—aku membawakan kue untuk Saudara," ujar Yuan sambil meletakkan keranjangnya pada meja di depan ZiXuan


Merasa gadis di depannya masih berdiri di sana, ZiXuan menatapnya. "Apa lagi?"


"Itu—Yang Mulia, kamu tidak akan mencobanya?"


Tanpa menjawab Yuan, tangan pria itu terulur mengambil sepotong kue berbentuk bunga di depan dan menggigit ujungnya.


"Bagaimana rasanya? Apakah itu enak?" tanyanya gugup. Dia bahkan tanpa sadar menggigit bibir bawahnya.


Zi Xuan kembali menatap Yuan dengan ekspresi dinginnya. Sorot mata pria itu kemudian turun melihat Yuan yang menggigit bibir bawahnya.


"Tidak enak," jawabnya jujur.


"Ah?" Kamu tau rasanya seperti apa? Yuan bahkan tidak bisa berkata-kata. Pria di depannya ini terlalu jujur atau apa?


"Ini terlalu manis untukku," jelas Zi Xuan.


"Oh? Kalau begitu aku akan membuatnya lagi." Belum sempat Zi Xuan menjawabnya, gadis itu sudah berlari keluar dari ruangan.


"Bagaimana?"


"Masih terlalu manis."


"Sekarang bagaimana?"


"Tidak ada rasa."


"Sekarang?"


"Masih kurang?" tanya Yuan yang sudah membuat ulang kuenya sebanyak lima kali. Napasnya memburu karena terlalu lelah.


Zi Xuan menatap Yuan sebentar dan menjawab, "Ini sudah lumayan"


Yuan menghembuskan napas lega. "Syukurlah."


"Kamu memasak, apakah tidak dicicipi dulu?" tanya ZiXuan heran. Bagaimanapun dia tidak bermaksud mengerjai gadis cantik di depannya itu. Walaupun kejujuran kadang menyakitkan, tapi akan lebih baik jika diungkapkan.


Yuan menggeleng pelan. "Aku menakarnya dengan perasaan," jawabnya jujur.


ZiXuan menahan kedutan di bibirnya. Apa tadi kata gadis itu? Menakar dengan perasaan dan dia tidak mencicipinya dulu? Koki istana pasti menangis mendengarkannya.


"Kemarilah. Kamu coba sendiri."


"Ah, ini tidak perlu, saudara. Jika aku ingin memakannya aku akan buat lagi nanti."


"Kemarilah!" perintah ZiXuan yang akhirnya dituruti Yuan.


ZiXuan mengangkat pinggan kue itu di depan Yuan. "Ambil," katanya.


Yuan menatap wajah Zi Xuan ragu. Tetapi tidak sengaja matanya melihat bibir merah pria itu. Dia tanpa sadar menelan salivanya mengambil pinggan itu dan meletakkannya kembali.


Dia tidak memperhatikan wajah cantik itu mendekatinya dan tidak dapat menghentikan Yuan tepat waktu.


"Manis," ujar Yuan sambil menarik kembali wajahnya.


Sedetik setelah itu dia membelalakkan matanya. Apa yang baru saja dia lakukan?! "Itu—Saudara, saya—saya pergi dulu." Yuan buru-buru melangkah mundur. Dia berbalik dan berjalan cepat untuk segera keluar dari ruangan yang sekarang terasa pengap itu.


Tangannya mendorong pintu, tetapi seseorang kembali menutupnya dengan cepat membuat gadis itu menahan napasnya. Hembusan napas hangat itu terasa menyapu kulitnya. Yuan memejamkan mata dan memberanikan diri untuk membalikkan badannya.


"Mengapa kamu lari?" Suara rendah itu masuk gendang telinganya.


"Aku—aku tidak lari. Itu, Saudari Jingli sedang menungguku." Yuan hanya menatap dada bidang pria itu, tidak berani mendongakkan kepalanya untuk sekedar melihat wajah tampan ZiXuan yang sering dia kagumi.


"Lalu kamu lihat aku."


Yuan menggeleng cepat. "Tidak. Tidak bisa!" tolaknya.


"Mengapa tidak bisa? Kamu menyesal dengan apa yang kamu lakukan tadi?"


"Bukan seperti itu, aku—" Ucapannya terhenti saat Zi Xuan tiba-tiba menarik dagunya untuk mendongak. Dia menunduk dan mereka bertemu lagi.


Itu seperti ekstasi berjangka panjang. Membuat seseorang tidak bisa melepaskan diri.


Yuan mendorong dada bidang itu, tapi semakin dia melawan semakin dalam ciuman pria itu padanya.


ZiXuan terus menggoda gadis dalam pelukannya itu sampai pada akhirnya Yuan benar-benar menyerah. "Apakah kamu menyukainya?" tanyanya setelah melepaskan tautan bibir mereka.


Gadis itu tidak menjawab. Wajahnya merah padam dengan napas yang tersengal-sengal. Setelah mendapatkan kekuatannya kembali, Yuan mendorong ZiXuan menjauh. Dia membuka pintu dan berlari sambil menutupi bibirnya.


"Permaisuri, kamu—" Jingli yang berpapasan dengan Yuan menghentikan kalimat yang akan diucapkannya.


Dia menatap bingung Yuan yang langsung berlari masuk ke kamarnya dan menutup pintu.


"Permaisuri, kamu baik-baik saja? Ada apa? Apakah semuanya baik?" tanya Jingli beruntun. Tangannya mengetuk pintu kamar yang dikunci dari dalam. Dia jelas khawatir melihat keadaan tuannya yang tampak berbeda.


"Permaisuri?"


"Aku—aku baik-baik saja. Saudari jangan kawatir. Bisakan kamu membiarkanku sendiri dulu?"


Walaupun tidak puas dengan jawaban Yuan, Jingli hanya bisa menghela napas dan berkata, "Baiklah. Panggil saya jika kamu membutuhkan sesuatu."


"Hmm, saya tahu."


Dan di dalam kamar itu, Yuan sudah membaringkan dirinya, menutupi seluruh wajahnya dengan bantal. Dia akan membukanya saat sudah tidak bisa menahan napasnya.


Wajah secantik kelopak persik itu merona. Bibirnya semerah mawar, dan matanya berbinar menatap langit-langit kamar.


Dia tanpa sadar menekan dadanya. Merasakan detak jantung yang masih bekerja keras. Kepalanya menggeleng kencang, menepis bayangan samar yang membuatnya seperti ingin meledak dan menghilang.


"Apa yang terjadi padaku?"