
Tidak ada yang berubah. Keadaan di depan mata semua orang masih sama. Penuh darah dan tangisan.
Yuan membiarkan Ibu Suri Lian Chun memeluknya. Dia bahkan tidak mengeluarkan suaranya lagi. Hanya air mata dan tatapan tak berdayanya yang semakin dalam.
Dia melihat YanZhi tersenyum padanya dan menggeleng. Yuan mengerti. Adik laki-lakinya itu tidak membolehkannya ke sana dan memberitahunya bahwa mereka akan baik-baik saja.
Siapa Zhou YanLi? Siapa Han Yuan? Siapa dirinya ini? Mengapa dia harus menanggung semua ini? Apa dosanya pada kehidupan yang lalu? Mengapa semua ini harus terjadi padanya? Mengapa dia merasa sakit di hatinya? Mengapa?! Mengapa dia tidak bisa melakukan apapun?
Hatinya terasa hancur. Sangat hancur sampai Yuan tidak lagi merasakan sakit. Dia tertawa pelan yang membuat Ibu Suri melepaskan pelukannya dan menatap wajah cantik yang terlihat sangat pucat itu.
"Ibu, mengapa hati saya terasa sakit? Mengapa seperti ini?" tanyanya pelan.
Lian Chun menatap menantu yang sudah dianggap putrinya itu dengan sedih. Mereka semua memang menderita, tapi setelah dipikirkan sepertinya orang yang paling menderita adalah menantu kecilnya ini.
"Tidak ada. Putriku sangat baik, tidak melakukan kesalahan apapun." Dia kembali memeluk menantunya itu, berharap bisa sedikit menenangkan perasaannya. Ini sedikit lucu, disaat dia sendiri masih tenggelam dalam kesedihannya, bagaimana bisa dia berpikir menenangkan orang lain?
Yuan terdiam. Dia sangat lelah. Dalam hati bertanya-tanya, kapan semua ini akan berakhir? Untuk sampai ke titik ini, dia tidak menyangka akan berakhir seperti ini lagi. Jadi untuk apa dia selama ini bertahan?
Yuan mendorong Lian Chun pelan. Ia tersenyum tipis dan berkata. "Ibu, jangan khawatirkan aku."
"Kakak ipar, jangan!"
Pergerakannya sangat cepat. Setelah mengucapkan kalimat itu, Yuan segera mendorong Lian Chun ke arah Youhua dan berlari menerobos orang-orang. Tidak peduli mungkin saja dia akan mati terinjak-injak atau para pemberontak itu menyerangnya, tujuannya hanya ingin melihat ibunya. Mungkin juga ini ikatan perasaan pemilik tubuh asli yang tertinggal. Selain suaminya, orang tuanya juga sangat berarti.
Yuan tidak tau di mana ZiXuan berada sekarang. Dia juga tidak tau kapan hidupnya akan berakhir. Pastinya, Yuan akan sangat sedih karena tidak bisa lagi melihat suaminya, tapi dia tidak bisa menunggu sampai ZiXuan kembali! Sekarang, dia hanya akan menemui orang tuanya. Itu saja.
Seorang pria berbaju hitam berlari mendekatinya dari arah belakang. Dengan pedang yang sudah berwarna merah, dia mengarahkannya pada Yuan.
"Xiao Li!"
"Kakak!"
"Permaisuri!"
Teriakan itu terdengar hampir bersamaan. Tetapi tidak ada satupun dari mereka yang bisa mengambil tindakan pencegahan.
Suara berdentang itu menggema hingga membuat setiap orang sulit bernapas.
Yuan berhenti dan membalikkan badannya dan melihat dua buah bilah pedang saling beradu.
"Ayah," gumamnya tanpa sadar.
Pria paruh baya yang berada tepat di depannya menoleh dan tersenyum. "Anak nakal! Pergilah, temui ibumu," ujarnya lembut.
Raja Huang kembali melihat ke depan mencoba yang terbaik untuk menahan orang yang ingin menyakiti putrinya.
Tapi belum sempat dia berbalik pergi, mereka sudah di blokir oleh beberapa orang berpakaian hitam itu.
"Permaisuri kekaisaran memang cantik. Ikutlah bersama kami, maka kami akan mundur sekarang juga," ujar salah satu pria itu. Yuan tidak dapat melihat wajahnya karena mereka menutupi wajah mereka dengan sapu tangan yang hanya menampakan sepasang mata saja.
"Raja Huang, apakah kamu pikir kamu bisa menahan kami? Jika bukan karena kecantikannya, kami sangat enggan untuk menunda kematianmu. Tidakkah kamu ingin menyusul istri tercintamu?"
"Kurang ajar!" Tanpa basa-basi lagi, Raja Huang langsung menyerang orang itu.
Pertempuran tak terhindarkan pun terjadi. Yuan hanya bisa menghindari beberapa serangan tanpa bisa melawan. Apa lagi yang bisa dia lakukan sekarang?
Di seberang sana, Putra mahkota YanZhi dan Pangeran Liu hendak membantu, tetapi diblokir oleh prajurit istana yang tampak hilang kendali. Menghalangi mereka untuk menolong Raja Huang.
"Apa-apaan ini. Ada apa dengan prajurit bodoh ini? Apakah mereka benar-benar mengkhianati kekaisaran secara terang-terangan?" ucap Pangerang Liu kesal.
YanZhi meliriknya dan berkata acuh tak acuh, "Jika kamu tidak bisa melawannya kamu kembali saja. Lindungi istri dan ibu mertuamu."
Pangeran Liu mendengus kesal dan memilih tidak menanggapi perkataan YanZhi. Di antara tiga bersaudara itu, hanya YanLi yang memiliki kepribadian lembut dan anggun. Itulah sebabnya Pangeran Liu sangat mencintai mantan kekasihnya itu. YanLi selalu bisa membuat orang-orang disekitarnya merasakan kehangatan dalam sebuah hubungan. Benar-benar bisa membuat orang lain nyaman, sayang sekali dia ditinggal saat sedang sayang-sayangnya oleh wanita itu.
Raja Huang terlihat sudah mulai kewalahan menghadapi para musuh yang semakin banyak mengelilinginya. Beberapa bagian tubuhnya terluka dan darah mulai menodai baju angungnya.
"Ayah. Tidak lagi. Jangan seperti ini. Jangan melawannya lagi. Kami sudah kalah. Aku sudah kehilangan ibu, kamu—kamu tidak boleh pergi juga!" ujar Yuan lirih. Air matanya mengalir tidak bisa berhenti.
Yuan menahan tubuh ayahnya yang beberapa saat lalu terlempar. Kepalanya menggeleng pelan dan menangis. "Jangan pergi."
"Jangan menangis, Putri kecilku. Baiklah, ayah—ayah akan menemanimu." Seteguk darah dimuntahkan saat Raja Huang selesai berbicara.
Melihat pemandangan yang mengharukan dan menyedihkan ini tidak serta merta membuat orang-orang berhati hitam itu merasa iba. Mereka semua menyunggingkan senyum jahat. Berdiri melingkari targetnya.
"Sudah kubilang, hanya anda saja tidak bisa melawan kami. Terlebih lagi anda sudah cukup tua, seharusnya beristirahat saja di kamar."
"Permaisuri, aku kecewa padamu. Mengapa harus menjual mahal? Selain kami, siapa yang akan melindungimu sekarang? Suamimu? Kuberitahu saja, dia sudah mati terpotong-potong di luar sana. Jika kamu tidak mau menurut, maka mati saja bersama mereka semua!"
Mendengar penuturannya, bukan hanya Yuan yang terkejut tapi juga semua orang yang mendengarnya saat itu.
"Kamu berbohong! Suamiku tidak mungkin mati semudah itu! Siapa yang akan mempercayainya?" ujar Yuan berapi-api. Walaupun dalam hatinya mulai timbul ketakutan yang sangat dalam, dia tidak akan pernah percaya jika tidak melihatnya dengan mata kepala sendiri.
"Kalau begitu, kenapa tidak mati saja dan lihat apakah kamu menemukannya di neraka sana?!" orang itu tiba-tiba mengayunkan pedangnya tanpa peringatan. Tetapi belum sampai pedang itu memotong bahkan sehelai rambut Yuan, sebuah cahaya biru melintas di depannya dan pecikan darah menyembur keluar. Orang yang beberapa saat lalu berdiri dengan gagah dan kejam kini tergeletak bersimbah darah tepat di kaki Yuan.
Cahaya biru itu tidak hanya membunuh satu orang saja, tapi mengincar setiap orang yang memblokir Yuan seperti bumerang tetapi anehnya tidak melukai orang di dalam lingkaran itu.
Tidak lebih dari dua detik, mereka semua merenggang nyawa. Benar-benar membalikkan keadaan.
Itu adalah Fengjian!
"Apakah aku terlambat?" Sebuah suara datang bersamaan dengan cahaya keemasan yang muncul tepat di depan Yuan dan Raja Huang yang sudah mulai kehilangan kesadarannya.
"Suami!" panggil Yuan dengan suara yang bergetar. Dia merasa rindu sekaligus lega ketika seorang yang sudah sangat dikenalnya muncul.
"Tidak apa. Aku di sini."
...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...