My Devil Emperor

My Devil Emperor
Sweet Night



"Bagaimana? Bagus, kan?" Yuan memutar tubuhnya 360 derajat di depan Jingli dan Yunniang yang baru saya membantunya berdandan.


"Sangat cantik!" puji keduanya bersemangat.


Yuan yang sedari tadi tersenyum, tiba-tiba memanyunkan bibirnya. "Tapi ini berat," katanya mendesah ringan.


Cantik itu menyakitkan! Memang benar adanya. Baju yang dia pakai memang indah dan mewah, tetapi ternyata cukup berat pada aksesorisnya.


Hanfu berwarna merah dengan sulaman bunga emas. Memiliki jubah yang panjang sampai menyapu jalan. Di bagian pinggang, terdapat liontin emas yang menggantung panjang sampai ke betis. Dan bagian paling berat adalah mahkota emas dengan rumbai-rumbai di kedua sisinya.


Yuan menghela napas berat. "Kemari, tuntun aku berjalan." Katanya.


Jingli bergerak maju ke sisi Yuan dan memegang telapak tangannya dengan lembut, sedangkan Yunniang berjalan mengikuti di belakang.


Saat mereka berjalan dan hampir di persimpangan, sosok yang tinggi dan sangat tampan sudah muncul lebih dulu.


Entah itu Yuan atau kedua pelayannya, merek bertiga menunduk melihat kedatangan pria itu.


"YanLi, telah melihat Yang Mulia Kaisar," ucapnya saat menunduk.


Di bawah, sepasang sepatu berwarna coklat keemasan muncul di pandangannya.


Yuan mentap sepasang sepatu itu, kemudian pandangannya naik ke baju berwarna coklat, emas dan merah. Matanya berhenti pada wajah tampan itu, selama beberapa detik, dia tidak berkedip membuat orang di depannya tertawa kecil.


"Ada apa? Apakah suamimu sudah sangat tampan?"


Gadis itu seketika menundukkan kepalanya dan berkata, "Kamu—"


Jingli berinisiatif memundurkan langkahnya sejajar dengan Yunniang.


ZiXuan mengangguk pelan dan menggantikan posisi Jingli yang sedari tadi memegang tangan Yuan.


"Xiao Li sangat cantik," pujinya berbisik di telinga gadis itu.


"Yang Mulia, jangan menggodaku sekarang."


"Siapa yang menggoda? Saya sedang memuji istri saya."


Yuan hanya menggeleng samar, dan menahan diri untuk tidak mendorong pria di sampingnya ini karena melontarkan godaan tanpa henti.


Mereka tiba di ruang pertemuan. Ya, ini adalah reuni keluarga. Setiap festival musim semi atau malam pergantian tahun, selain pertunjukkan barongsai, ada juga acara reuni keluarga.


Orang-orang yang melihat kedatangan Kaisar dan Permaisuri, berdiri dan memberi hormat.


ZiXuan menyuruh mereka untuk duduk kembali, dan membantu Yuan duduk di sampingnya.


"Tidak perlu sungkan, silakan menikmati perjamuannya."


"Terima kasih, Yang Mulia Kaisar. Omong-omong ini adalah pertama kali kami datang ke sini dan merayakan festival Chuxi bersama keluarga kekaisaran, tidak menyangka suasananya lebih hangat dari yang kami kira. Gelas pertama untuk menghormati Yang Mulia Kaisar Qin, semiga selalu berjaya!" ujar Raja Liang sambil meminum arak dari gelasnya.


Acara berjalam dengan lancar sampai matahari benar-benar tenggelam.


Yuan bahkan hampir menangis karena merasa badan dan kepalanya terasa sakit. Beberapa kali dia melirik ZiXuan yang selalu menatap ke depan dan berbicang dengan para tamu.


Reuni keluarga apa? Ini lebih cocok disebut perjamuan tamu daripada reuni keluarga.


Karena merasa sudah tidak tahan, Yuan menarik pelan lengan baju ZiXuan.


Pria itu menoleh dengan pandangan bertanya.


Yuan menggeser duduknya lebih merapat dan memberi kode ZiXuan untuk menunduk.


"Suami, aku sangat lelah. Bisakah aku mundur lebih awal?"


ZiXuan menatapnya sebentar dan memanggil pelayang yang tidak jauh darinya. "Bantu permaisuri untuk kembali," ujarnya pada pelayan itu.


Yuan menunduk pada para tamu dan berucap, "Saya mohon maaf karena harus mundur lebih awal."


"Apakah Xiao Li-ku baik-baik saja?"


Yuan tersenyum dan menunduk sopan, "Tidak masalah, Ibu Suri. Xiao Li hanya merasa sedikit lelah hari ini."


"Ini tidak baik, kalau begitu beristirahatlah lebih awal, Nak." Kali ini Janda Permaisuri atau Nenek Kekaisaran yang berbicara.


"Terima kasih Ibu, Nenek."


Lian Chun melirik pelayan pribadinya dan memberi kode untuk bersama-sama membantu Yuan kembali.


Pelayan istana dan pelayan pribadi Ibu Suri membantu Yuan untuk berjalan pergi meninggalkan ruangan.


"Permaisuri ingin dibuatkan sesuatu yang hangat?" tanya pelayan pribadi Ibu Suri.


Yuan berhenti dan menatap pelayan itu. Dia memegang lengannya dan berkata, "Saya akan meminta pelayan pribadi saya yang membuatkannya. Yaoyao, beristirahatlah sebentar, kemudian kembalilah ke sisi Ibu."


"Ah? Terima kasih atas kebaikkanmu, Permaisuri. Yaoyao tidak perlu."


Yuan tertawa pelan dan dengan lembut berucap, "Kamu sangat pekerja keras, tetapi kamu juga harus memperhatikan diri sendiri. Wajahmu terlihat pucat. Saya akan menyuruh pelayan pribadi saya meminta izin pada Ibu Suri. Jangan khawatir."


Yaoyao membungkuk hormat. "Terima kasih atas kebaikan Yang Mulia," katanya.


Yuan mengangguk dan menepuk pelan pundaknya. "Kamu pergilah beristirahat." Setelahnya, gadis itu kembali melanjutkan langkah ke kediaman.


"Xiao Li!" Panggilan itu membuat Yuan berhenti.


Dia berbalik dan menatap seseorang yang mendekatinya.


"Bukankah kamu ingin bermain?"


Yuan menyipitkan matanya. "Bagaimana dengan tamumu?"


"Apa lagi? Ini sudah malam, aku juga harus beristirahat."


"Kamu pergi meninggalkan perjamuan?"


"Tidak, saya bilang, saya akan menemani istri saya. Mereka tidak akan berani mengatakan aku tidak sopan pada tamu, sebaliknya mereka pasti berpikir aku adalah suami yang sangat menyayangi istrinya."


Yuan mendengus dan berbalik. Ia berjalan lagi dibantu dengan pelayan yang tadi ZiXuan panggil.


"Kamu tidak ingin bermain?"


"Kamu akan mengajakku keluar istana?"


"Tidak bisa! Terlalu ramai diluar. Tidak aman untukmu."


"Kalau begitu jangan katakan lagi!"


"Menonton kembang api?"


Yuan berhenti dan kembali berbalik. "Apakah ada?" tanyanya skeptis.


ZiXuan tersenyum. "Tentu saja selama kamu menginginkannya."


"Sungguh?" Matanya membulat dan bersemangat.


"Kamu—kamu tunggu aku! Aku akan kembali. Tunggu aku!! Jangan berbohong! Aku akan segera kembali!" Yuan yang sedari tadi melangkah lambat, sekarang berjalan dengan cepat dan penuh semangat, itu bahkan terlihat setengah berlari.


ZiXuan menggeleng pelan melihat gadisnya itu yang langsung bersemangat, padahal belum ada satu jam dia tadi mengeluh lelah dan ingin beristirahat.


Yuan benar-benar kembali tidak lama. Bajunya sudah berganti dengan yang lebih terlihat segar.


Dahinya berkerut dengan wajah bingung. "Kamu... mengganti baju juga?"


"Kenapa? Apa hanya kamu yang boleh mengganti baju?"


"Tidak, tidak. Bukan begitu. Hanya saja, kamu terlihat berbeda."


"Oh? Adakah? Yang mana yang kamu suka?"


"Keduanya saya suka. Ayo!" Yuan menarik tangan ZiXuan.


"Eh? Saya tidak tahu jalan. Kemana kita akan pergi?"


"Halaman bela—"


Belum sempat ZiXuan menyelesaikan kalimat, gadis itu dengan semangat menarik tangannya menuju halaman belakang istana. "Baik, saya mengerti!"


"Pelan-pelan. Kita akan jatuh jika kamu terlalu bersemangat."


"Jatuh ya tinggal jatuh saja," jawabnya asal.


ZiXuan menggeleng pasrah tetapi tidak melepaskan genggaman tangan yang lebih kecil darinya itu.


Keduanya sudah sampai di halaman belakang yang luas dan sunyi. Ada kolam teratai, beberapa jenis bunga dan paviliun di sana.


ZiXuan kini berganti menarik pelan tangan gadisnya, membawa dia ke dalam paviliun.


Mata seindah bunga persik itu berbinar menatap meja yang penuh camilan dan minuman.


"Wah, apakah semua ini kamu yang menyiapkan?"


"Kalau tidak, siapa lagi?"


Yuan tersenyum lebar. "Aku tau, suamiku memang yang paling manis dan baik hati!" ujarnya bersemangat. Dia bergeser ke sisi minuman dan menuangkannya ke dalam dua cangkir gelas.


Aroma manis dan lembut itu ternyata memang dari sini! Yuan sudah menyiumnya saat mereka baru saja memasuki pintu.


"Sangat harum! Arak jenis apa ini?"


"Indera penciumanmu sangat bagus. Ini adalah Arak buah persik yang sudah kami simpan selama tiga puluh dua tahun."


Yuan mengangkat gelasnya dan langsung meminum cairan bening itu dalam satu tegukkan.


ZiXuan sedikit terkejut. Alisnya terangkat dan memperhatikan wajah cantik itu.


"Bukankah kamu tidak bisa minum? Kamu meminumnya terlalu banyak. Kamu akan mabuk," katanya prihatin.


"Arak ini sudah disimpan bertahun-tahun, kadar alkoholnya sangat tinggi."


Wajah cantik itu mulai memerah. Dia membuka kelopak matanya dan langsung menatap ZiXuan. "Itu salahmu yang meletakkan ini di sini. Kamu tau aku tidak bisa minum, tetapi menggodaku dengan minuman beraroma manis itu," ujarnya pelan.


"Kamu baik-baik saja? Atau haruskan kita kembali?"


Yuan menggeleng keras. "Kamu sudah menjanjikan untuk melihat kembang api bersamaku! Bagaimana aku bisa pergi tanpa melihatnya? Saya baik-baik saja. Saya hanya minum segelas kecil."


ZiXuan tertawa pelan. "Baiklah, ayo kita melihat kembang api." Dia berjalan menghampiri Yuan, dan menggenggam telapak tangan yang terasa dingin itu.


Dia membawanya ke depan pintu dan menghitung mundur dari angkat tiga, dua, satu.


Kembang api bermekaran dengan indah di langit malam yang berbintang. Suara gemuruhnya terdengar menyenangkan.


Yuan menatapnya penuh kekaguman. "Hěn piàoliang," gumamnya.


(很漂亮 \= Hěn piàoliang \= Sangat Cantik)


Sementara Yuan menatap langit yang dipenuhi kembang api, ZiXuan hanya menatap wajah cantik di sampingnya.


Hembusan angin yang dingin, membuat gadis itu mendekatkan diri pada pria di sebelahnya. Kemudian, karena merasa di perhatikan, dia menoleh. Mata sayunya menatap mata tajam ZiXuan.


"Ada kembang api di matamu," ucap Yuan.


ZiXuan tersenyum dan berkata, "Tetapi saya ingin menutupnya."


"Ah?"


Kebingungan Yuan terjawab saat tangan hangat ZiXuan memegang dagunya. Pria itu menutup matanya dan mencium bibir lembut Yuan.


Yuan terkejut sebentar, sebelum akhirnya ikut memejamkan matanya.


Entah karena udara yang dingin atau tubuhnya yang panas, Yuan mengalungkan lengannya dan menarik ZiXuan untuk mengikutinya tanpa melepaskan pangutan bibir mereka.


Dia mendorong dada ZiXuan membuat pangutan bibir mereka terlepas dan pria itu jatuh di atas meja kayu yang kosong. Yuan naik ke atasnya dan berkata, "Suami, kamu sangat tampan. Aku sangat menyukaimu."


*Ilustrasi*



Yuan kembali menunduk dan mencium bibir tipis pria itu. Tangan gadis seindah porselin itu masuk ke dalam kerah baju, mencoba melepaskannya dari sana tetapi dihentikan oelh ZiXuan yang menahan tangannya untuk bergerak.


"Kamu tidak menginginkanku?"


"Kamu mabuk."


"Aku tidak! Kamu yang tidak mengingingkanku." Suaranya terdengar sangat lembut dan manja. ZiXuan berpikir, mungkin gadisnya ini akan dengan mudah menggoda laki-laki hanya dengan suaranya yang indah.


"Aku menginginkanmu. Kuharap, kamu tidak menyesalinya." Suara ZiXuan sudah serak saat mengatakannya. Dia berdiri dengan Yuan dalam pelukannya. Dengan teknik Qinggong, mereka kembali dengan cepat ke Istana Qin.


ZiXuan meletakkan gadis itu di atas dipannya dengan hati-hati.


Mereka kembali berciuman.


Tangan ZiXuan tidak hanya diam, dia mukai membuka sumpul baju terluar Yuan dan membuangnya sembarang. Dia juga melepaskan baju luarnya sendiri dan menjatuhkannya.


Yuan mendesah ringan saat bibir tipis pria itu menyentuh kulit lehernya.


*Ilustrasi*



"Suami~"


ZiXuan mengibaskan tangannya membuat pencahayaan di kamar padam, dan tirai tempat tidur jatuh menutupi mereka berdua.


Malam itu sangat indah dan panjang. Malam yang pertama untuk kedua pasangan ini.


...■■■■■...