
"Yang Mulia! Tidak baik!" Sebuah suara menggema di aula yang hening.
Dua orang pria berperawakan tinggi dan berbadan besar masuk ke dalam aula tergopoh-gopoh.
Tentu saja kedatangan kedua orang itu membuat suasana yang tadinya hening menjadi ricuh. Semua orang mengenal siapa kedua orang itu.
Ada tiga jenderal di Dinasti Qin. Li Wei adalah jenderan tingkat pertama dan kedua orang yang baru saja masuk adalah jenderal tingkat kedua dan ketiga. Yang Xue dan Zi Di.
Kedatangan keduanya yang tiba-tiba dan melihat raut kekhawatiran kedua jenderal tersebut membuat semua orang mungkin sudah bisa menebak apa yang terjadi.
"Pasukan pemberontak telah menguasai perkampungan penduduk," ucap Zi Di.
Mendengar kata yang dikeluarkan oleh jenderal ke tiga itu membuat perasaan semua orang menjadi kacau.
"Keluargaku! Bagaimana keadaan keluargaku. Aku ingin pergi!"
"Mengapa mereka melakukannya? Siapa mereka?"
"Bukankah semuanya baik-baik saja?"
"Tuan, biarkan kami keluar! Aku harus melihat keluargaku!"
Semua orang sudah sibuk dengan perasaannya masing-masing. Beberapa sudah turun dari kursinya dan bergegas keluar aula tetapi di tahan oleh penjaga.
ZiXuan beralih menatap wajah pucat Yuan. Mengambil tangannya yang entah sejak kapan memegang kuat lengan bajunya.
"Kamu tunggu—"
"Nenek!"
"Ibu!"
"Janda Permaisuri!"
Suara udara yang dipotong dan jeritan beberapa orang itu membuat ZiXuan dan Yuan merasa jantung mereka berhenti.
Keduanya menoleh ke sisi kanan dari posisi Yuan berdiri.
"Nenek," gumam Yuan. Napasnya tercekat melihat pandangan di depan matanya. Tubuhnya nyaris roboh jika saja ZiXuan tidak menariknya ke dalam pelukan. Tanpa melihat pun, pria itu bisa menebak apa yang terjadi di belakangnya.
Suasana aula kekaisaran benar-benar tidak terkendali sekarang. Jeritan ketakutan terdengar di setiap sudut.
"Yang Mulia, aula sudah dikepung."
"Tidak masuk akal! Sekalipun kami di serang, mustahil prajurit yang sudah dilatih bisa dengan mudah dikalahkan!"
"Ini... Prajurit itu nampak dikendalikan. Kami juga ragu bagaimana cara musuh membuat prajurit kami berbalik arah. Mungkin selama ini mereka sudah dibeli."
"Kendali?" gumam ZiXuan tanpa sadar. Matanya menjadi kusam.
"Xiao Li, Dengarkan aku. Tetap di sini, jangan pergi ke manapun! Li Wei, lindungi semua orang di sini!" Tanpa menunggu jawaban oleh kedua orang yang dituju, ZiXuan segera keluar dari aula diikuti Yang Xue dan Zi Di.
"Suami!" seru Yuan saat melihat suaminya sudah berada diambang pintu.
"Kembalilah tanpa terluka. Aku menunggumu!"
ZiXuan mengangguk dan tersenyum. "Tunggu aku." Setelah mengatakan dua kata terakhir itu, seberkas cahaya emas turun menyelimuti aula kekaisaran.
Yuan bergegas mendekat pada Ibu Suri dan putri Youhua yang tengah menangis dengan memeluk Janda Permaisuri.
"Ibu," panggil Yuan lembut. Dia berlutut di samping Lian Chun yang masih menangis.
Walaupun Janda Permaisuri adalah ibu mertuanya, tapi dia selalu menganggap wanita yang sudah rentan itu sebagai ibunya. Terlebih lagi, Janda Permaisuri adalah sosok ibu yang adil dan bijaksana. Dialah yang mengajarinya semua hal di istana ini saat pertama kali memasuki istana kekaisaran.
Yuan juga merasakan kesedihannya. Janda permaisuri adalah nenek yang baik. Sebuah kehormatan bisa merasakan kehangatan dan kasih sayang seorang nenek di dunia ini. Di dunianya, dia tidak memilikinya karena nenek dari sebelah ayah ataupun ibunya sudah tiada.
"Mengapa kalian semua menangis?Xiao Chun, kamu seharusnya menenangkan kedua anak itu." Janda permaisuri berujar dengan lemah dan terdengar lirih.
"Ibu, ini salahku yang tidak bisa melindungimu," kata Lian Chun penuh penyesalan.
"Bodoh. Siapa yang menyalahkanmu? Ini sudah takdir. Aku sudah hidup terlalu lama, biarkan aku menyusul ayah mertuamu dan suamimu."
"Nenek," ujar Yuan lirih.
Yuan beringsut mendekati Janda Permaisuri dan menggenggam tangannya.
"Xiao Li-ku, kamu ditakdirkan untuk menciptakan perubahan. Aku bisa melihatnya. Hanya kamu saja yang bisa mengubah hidup cucuku. Bersama denganmu, dia menjadi lebih manusiawi."
Yuan menggeleng, air matanya mulai jatuh. Dia tidak bisa lagi menahannya. "Nenek, kamu akan baik-baik saja. Saudara Xuan akan segera kembali. Tunggulah dia."
"Aku sangat lelah, Nak. Tidak apa, anak itu pasti sedang sibuk. Jangan mengganggunya. Yang aku sesali adalah aku tidak bisa melihat anak kalian."
"Nenek! Jangan bicara lagi! Saudari benar. Kamu pasti akan baik-baik saja! Hua'er... Hua'er akan mencari tabib!" Youhua akhirnya membuka suara. Dia hendak berdiri tetapi di tahan oleh Janda Permaisuri.
"Kamu selalu impulsif! Kemana kamu akan mencari tabib pada saat ini? Tidakkah kamu mendengar apa yang saudaramu katakan? Jangan melangkah keluar aula. Lagipula kamu tidak bisa keluar, aula ini sudah dilindungi. Selama kamu di sini, semua akan baik-baik saja. Aku tidak tau mengapa saudaramu sampai harus menggunakan bakat kultivasinya saat ini, tapi sepertinya ini bukan hal baik, jadi jangan lakukan apapun tanpa perintahnya." Suaranya kian melemah, dan darah yang mengalir dari dadanya terus mengalir.
Tidak ada lagi yang bisa dilakukan untuk saat ini. Ketiga wanita itu hanya menangis tanpa daya.
"Ibu!"
"A-Yin!"
Bersamaan dengan seruan tajam itu, tabir emas yang menyelimuti aula istana tiba-tiba bergetar dan hancur.
Yuan memutar badannya dan melihat sebuah cahaya hitam yang baru saja menembus jantung Ratu Yin. Di belakangannya, Feng Ji berdiri mematung dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Ibu," ujar Yuan lirih. Badannya bergetar.
Tubuh itu terjatuh dengan sebuah panah bercahaya hitam yang menusuknya.
"Ibuu!!" Feng Ji bergerak maju dan memeluk tubuh Ratu Yin yang terjatuh.
"Bu! Ibuu!!" Yuan yang mendapatkan kembali kekuatannya segera bangkit. Dia hendak berlari mendekati ibunya.
"Kakak, jangan!" Youhua ikut berdiri dan memeluknya dari belakang. Mencegah kakak iparnya untuk mendekati Ratu Yin.
"Cegah... Cegah Xiao Li mendekati ibunya. Keadaan ini sudah diluar kendali Xiao Chun," ucap janda permaisuri terbata-bata. Dia menepuk pelan tangan Lian Chun menyadarkannya.
Lian Chun mengangguk patuh, dia perlahan meletakkan kepala Janda Permaisuri dengan lembut dan berdiri menghampiri putri dan menantunya.
"Ibu—Ibuku dia— Ibu tolong jangan menghentikanku," ujar Yuan memohon.
"Tidak. Aku tidak bisa. Anakku, kamu tidak bisa ke sana sekarang."
Tak lama setelah Ibu Suri berbicara, sebuah suara yang entah dari mana menggema dengan sebuah perintah, "Habisi semuanya!"
Aula yang sudah tidak terlindungi lagi itu segera diserang oleh orang-orang berbaju hitam dan sebagian prajurit istana.
Darah mulai menodai lantai. Suara jeritan kesakitan dan tangisan perempuan memenuhi aula. Ini bagaikan mimpi paling buruk dan berdarah bagi orang yang melihatnya.
Di sisi lain, Raja Huang dan anak laki-lakinya, Putra mahkota Zhou YanZhi berdiri di garis terdepan. Bajunya sudah dipenuhi noda darah dari musuh.
Raja Huang sesekali menatap nanar ke arah tubuh Ratu Yin yang sudah tak bernyawa di pelukan Feng Ji. Dia bahkan tidak sempat untuk sekedar menatap wajah wanita yang sangat dia cintai itu.
Matanya segera dipenuhi semangat juang yang tinggi. Dia menoleh ke arah putra satu-satunya dan berkata, "Zhi'er, pergilah. Lindungi Ibu Selir Zhuang dan saudarimu."
YanZhi menatap mata ayahnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. "Bagaimana dengan ayah?"
"Aku lebih berpengalaman dari dirimu. Hanya orang-orang kecil ini? Bukan masalah yang sulit. Pergilah lindungi keluarga kami."
Tanpa banyak bertanya lagi, YanZhi dengan enggan meninggalkan ayahnya dan menghampiri Feng Ji yang masih memeluk tubuh Ratu Yin dan Selir Zhuang yang berdiri di belakangnya.
"Saudara YanZhi, Ibu ratu... "
YanZhi menghela napas berat. Matanya memerah tapi dia tidak menangis. "Tidak apa. Setidaknya ibu tidak menderita lagi." Dia beralih menatap ke seberang di mana Yuan, saudari kembarnya masih menangis di pelukan Ibu Suri dengan mata yang tanpa berkedip menatap Ratu Yin.
Kedua pasang mata itu bertemu. YanZhi tersenyum dan menggeleng pelan pada saudari kembarnya.
"Jangan."
...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...
[Selamat Berkeluh Kesah Readerku :) Silakan marahi saja aku]