
Tidak terasa, hari berganti sangat cepat. Belakangan ini suasana di halaman istana semakin ramai. Para pelayan sibuk mempersiapkan perayaan ulang tahun Permaisuri yang semakin dekat. Keluarga dari YanLi juga sudah tiba sejak tiga hari yang lalu.
"Jingli, bagaimana keadaan Yunniang akhir-akhir ini? Aku masih belum sempat untuk melihatnya."
Jingli tersenyum dan berkata, "Permaisuri tidak perlu khawatir. Saudari Niang baik-baik saja. Yang Mulia benar-benar memegang ucapannya. Tapi tetap tidak bisa mengobrol lama dengannya."
Yuan mengangguk paham. "Kenapa? Masih tidak cukup bertemunya? Bukankah selama ini kalian melewati hari-hari yang menyenangkan tanpa aku. Diskriminasi macam apa itu?"
"Mohon maaf, Permaisuri. Hamba bersalah, hamba pantas dihukum." Jingli hendak berlutut di depan Yuan, tetapi wanita itu menahannya.
Dia menggeleng dan berkata, "Tidak. Tidak perlu begini kan? Sudah berapa lama kita kenal? Mengapa kamu masih sangat serius? Aku tau kamu juga sibuk di saat seperti ini. Biarkan saja. Biarkan Yunniang beristirahat. Kamu juga jangan terlalu bekerja keras."
"Permaisuriku memang sangat bijaksana dan baik hati! Jingli sangat menyayangimu!" ujar Jingli seraya menggenggam tangan Yuan.
Yuan tersenyum. "Dalam aspek apapun, tidak ada yang bisa mengalahkan pemeran utama ini."
***
"Apa ini? Aku tidak mau!"
Jingli mengernyit bingung. "Permaisuri, ini Sup Akar Teratai kesukaanmu. Kamu... Kamu tidak mau?"
Yuan menggeleng. "Tidak! Bawa pergi. Aku mau makan Ikan Asam Manis aja!"
Walaupun bingung, Jingli tetap membawa mangkuk sup itu dari sana.
"Bawakan aku manisan dari ibu juga!"
"Baik." Jingli berbalik pergi sambil membawa mangkuk sup yang masih hangat itu.
"Yang Mulia Ratu," kata Jingli saat di persimpangan jalan tak sengaja berpapasan dengan Ratu Yin.
"Jingli, apakah Xiao Li ada di dalam?" tanya Ratu Yin setelah mengangguk sebelumnya.
"Iya, permaisuri ada di dalam."
Mata Ratu Yin jatuh pada nampan yang di bawa Jingli dengan sebuah mangkuk yang tertutup. "Apa yang kamu bawa?"
"Ini Sup Akar Teratai, permaisuri menyuruh hamba membawanya pergi. Tidak ingin memakannya."
Sama seperti Jingli, Ratu Yin mengernyit bingung. "Bukankah itu kesukaannya?"
Jingli meringis pelan dan berkata, "Hamba juga tidak mengerti. Belakangan ini permaisuri sedikit berbeda."
"Baiklah, kamu boleh pergi. Aku ingin menemuinya sendiri."
"Baik, Yang Mulia Ratu."
Ratu Yin berjalan pelan dan mengetuk pintu di depannya. "Anakku, ini ibu."
Tidak sampai lima detik, pintu itu terbuka dan seorang perempuan cantik tersenyum menyambutnya. Dia melemparkan dirinya ke dalam pelukan Ratu Yin. "Ibu! Xiao Li merindukanmu!" ucapnya manja.
Ratu Yin pun tersenyum geli. "Xiao Li, berapa usiamu? Kenapa semakin manja?"
"Memangnya kenapa? Xiao Li sudah lama tidak bertemu Ibunda. Walaupun Ibu Ratu juga baik, tetapi rasanya berbeda. Ibu juga, sejak datang kemari sulit sekali dicari!" ujarnya merajuk.
"Benarkah? Maafkan ibu. Ibu mertuamu mengajak ibu untuk berkeliling istana, bagaimana bisa ibu menolaknya?"
"Ibu, mari masuk dulu. Kita bicara di dalam. Ibu, Xiao Li sangaaat bosan! Kaisar sibuk dengan pekerjaannya, kami hanya bisa bertemu saat malam hari. Dia jarang menemani Xiao Li main di luar juga tidak boleh membiarkan Xiao Li main di luar!"
Melihat anaknya masih seceria ini, hati seorang ibu mana yang tidak bahagia? Beberapa bulan yang lalu saat Yuan keguguran, Ratu Yin tidak sempat untuk menghiburnya. Dia dapat merasakan kesedihannya juga walaupun mereka tidak bertemu. Ikatan ibu dan anak memang begitu kan?
"Keputusan Yang Mulia Kaisar memang tepat. Membiarkanmu main di luar istana memang berbahaya!"
Yuan mendelik kesal dan melepaskan tangannya yang tadi memeluk lengan Ratu Yin. "Ibu! Mengapa kamu mendukungnya?!"
"Mengapa ibu tidak boleh mendukungku?" Suara itu menginterupsi pembicaraan Yuan dan Ratu Yin. Sontak membuat kedua wanita berbeda generasi itu menoleh.
"Suami! Kapan suami datang?" Yuan segera berdiri dan memeluk pinggang lelaki itu.
"Ibu," sapa ZiXuan menunduk kepada Ratu Yin.
"Ibu, jika Ibu iri datang saja kepada ayah!" ujar Yuan sambil menjulurkan lidahnya.
"Lihat! Anak ini semakin tidak sopan. Ibu akan pergi. Tidak mengganggu kalian."
"Tidak perlu Ibu. Saya ke sini hanya untuk mengantarkan sesuatu," cegah ZiXuan sopan.
Yuan melonggarkan pelukannya dan mendongak menatap wajah ZiXuan. "Untukku?"
"Siapa lagi? Bisakah permaisuri melepaskanku dulu?"
Dengan tidak rela, Yuan melepaskan tangannya dari pinggang ZiXuan. Ia melihat lelaki itu mengeluarkan sebuah kotak dari dalam bajunya dan menyerahkan kotak itu pada Yuan.
"Pakailah untuk acara besok."
Yuan menerimanya dengan kening berkerut. Dia membukanya dan terkejut. "Bagaimana ini bisa ada bersamamu? Aku pikir aku menghilangkannya, aku bahkan ragu untuk memberitahukannya pada suami, tidak menyangka ini ada padamu," kata Yuan bersemangat. Dia merasa ini adalah hadiah terbaik yang ZiXuan berikan. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca.
ZiXuan terdiam. Dia bingung bagaimana menjelaskankannya. Terlebih sekarang ada ibu mertuanya. "Itu, kamu tidak sengaja menjatuhkannya."
"Kapan?"
"Saat kamu dan Putri Rong mengantarkan makanan bersama," jawabnya cepat tapi masih bisa di dengar jelas oleh Yuan.
Pikirannya kembali pada saat dia dan ZiXuan bertengkar hebat kemudian dia pingsan, melihat ilusi yang menyakitkan dan kemudian bangun dengan ZiXuan di sampingnya. Saat itu sebenarnya dia tidak begitu yakin kapan benda itu jatuh. Yuan menyadarinya dua hari setelah kejadian, saat dia sedang berhias diri.
"Baik, tidak perlu di jelaskan. Aku mengerti," katanya pelan. Mengingat kejadian itu, hatinya masih terasa sakit. Lebih baik dilupakan saja!
ZiXuan tersenyum tipis kemudian berkata. "Kalau begitu, aku akan pergi. Bicaralah pada Ibu." Dia beralih menatap ibu mertuanya seraya menunduk sopan. "Ibu, saya pergi dulu. Mungkin ibu ratu juga akan ke sini, tidak akan mengganggu obrolan para wanita."
Ratu Yin mengangguk dan menjawab, "Terima kasih, Yang Mulia."
"Tidak perlu sungkan." Seteleh urusannya selesai, ZiXuan meninggalkan kedua wanita itu, menghilang di balik pintu.
Di tempat lain dalam lorong yang gelap, sesosok siluet tersenyum tipis.
"Semuanya sudah siap?"
"Sudah."
Dia mengangguk dan kembali berkata, "Jangan lakukan apapun tanpa perintahku! Jika sampai gagal, aku akan pastikan kalian tidak bisa melihat matahari keesokan harinya!"
"Baik, Yang Mulia."
"Akhirnya hari itu akan tiba. Pergilah."
***
Matahari tergelincir sangat cepat, malam hari datang dan pagi pun menyusul tak lama kemudian.
Suasana istana sangat ramai saat itu, padahal acaranya baru akan dimulai menjelang malam hari, tak terkecuali di kediaman Permaisuri Xuan.
"Yang Mulia, baju yang akan anda kenakan, kami sudah mengantarnya ke Istana Qin."
Wanita itu mengernyit heran. "Mengapa kamu meletakkannya di sana?"
Kepala pelayan senior itu menunduk dan menjawab, "Saya melakukannya sesuai perintah Yang Mulia. Beliau berpesan agar Permaisuri segera datang ke kediamannya."
Sambil mengangguk pelan, Yuan berkata, "Baiklah, saya mengerti. Anda boleh pergi."
Kepala pelayan itu menunduk dan memberikan salam sebelum meninggalkan Yuan.
"Permaisuri akan pergi ke kediaman Yang Mulia sekarang?"
Yuan menoleh pada Jingli. "Iya. Saudari Jingli, saya akan pergi sendiri."
"Baik, Yang Mulia Permaisuri."
...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...