My Devil Emperor

My Devil Emperor
Perasaan Yang Berbeda



Kejadiannya sudah lewat seminggu, tetapi topik pembicaran mengenai Permaisuri Xuan yang ikut andil dalam memberikan hukuman untuk Putri Kerajaan Wei masih banyak dibicarakan. Bahkan kabar itu sudah sampai ke luar istana menimbulkan pro dan kontra di berbagai kalangan.


Di salam istana, permaisuri yang sedang ramai diperbincangkan itu memijat pelipisnya dengan mata terpejam.


"Apa-apaan mereka itu? Mengapa aku yang terlihat disalahkan? Padahal sudah jelas mereka yang hadir mendengar langsung Yang Mulia melimpahkan tanggung jawab itu kepadaku?" ujar Yuan kesal.


"Tenanglah, Permaisuri. Jangan terlalu dipikirkan. Mereka akan segera berhenti. Tidak apa-apa."


"Saudari, kamu tidak akan tahu apa yang aku rasakan. Lihatlah beberapa menteri itu ketika berpapasan denganku, menatapku seperti musuh yang dapat menghancurkan dunia. Aku sebagai Permaisuri ini merasa tidak dihargai."


"Sebenarnya ini juga reaksi yang alami," ucap Jingli dengan suara pelan.


"Apa yang salah? Itu hanya sebuah hukuman. Ketika aku di rumahku, tidak ada yang mencegahku menghukum pelayan di sana. Mengapa di sini tidak bisa? Juga Yang Mulia sendiri yang memintaku untuk ikut campur."


"Yang Mulia Permaisuriku, tentu saja itu berbeda. Kasusnya juga berbeda. Jika permaisuri atau putri bangsawan yang menghukum pelayannya, itu tidak masalah. Tetap kamu? Permaisuri, saya sendiri merasa terkejut dengan apa yang terjadi hari itu. Apa yang kalian sepakati sehingga membuat Kaisar Xuan memberikanmu kepercayaan sebesar ini?"


Yuan menatap aneh pada Jingli. "Apa yang kamu katakan? Reaksimu tidak beda jauh dengan mereka."


"Permaisuri, tugas utama seorang Permaisuri seperti anda hanyalah melayani Yang Mulia Kaisar. Dengan kamu ikut andil dalam masalah kemarin saja sudah sangat jauh. Tentu saja semua orang akan terkejut. Bahkan Ratu Yin yang sangat dicintai Raja Huang juga tidak pernah terlibat langsung dalam urusan politik atau sosial kerajaan."


"Aku tahu. Tapi tetap saja ini bukan salahku. Aku hanya menuruti perintah Yang Mulia."


"Saya juga tidak mengatakan ini kesalahan anda. Mereka saja yang sudah cukup berani pada Permaisuri. Mungkin mereka menganggap anda bisa membawa ketidakstabilan pada kekaisaran karena Yang Mulia terlihat memberimu kuasa."


Yuan mengibaskan tangannya. "Aku lelah."


Baru saja ingin mendaratkan bokongnya pada tempat tidur, seseorang di luar mengetuk pintu.


Jingli membungkukkan badannya sebelum pergi melihat siapa orang yang berada di luar kediaman permaisuri.


Tak butuh waktu lama, Jingli kembali masuk bersama seseorang di sampingnya.


"Hamba memberikan salam kepada Yang Mulia Permaisuri."


"Kamu?"


"Saya pelayan istana luar membawakan pesan kepada Permaisuri Xuan untuk menemui Yang Mulia Kaisar di kediamannya."


"Baik. Saya mengerti, kamu boleh kembali," ujar Yuan.


Pelayan itu kembali membungkukkan badannya dan keluar.


"Anda ingin ditemani?"


Sambil merapikan bajunya, Yuan melambaikan tangan dan berkata, "Tidak perlu. Saudari, kamu boleh kembali dan beristirahat."


"Baik."


Yuan berjalan lebih dulu diikuti Jingli di belakangnya. Sampai di depan pintu kamar Yuan, mereka berpisah.


Siang ini matahari memang bersinar sangat terik, tetapi karena banyaknya pohon rindang dibeberapa sudut istana kekaisaran membuat Yuan tidak begitu kepanasan.


Beberapa pelayan dan pengawal yang dijumpainya di jalan membungkukkan badan dengan hormat.


"Saya tidak tau kapan kekaisaran ini akan hancur karena penyihir itu. Entah apa yang dia berikan pada Yang Mulia." Suara yang samar-samar itu memasuki telinga Yuan membuatnya mendengus entah untuk yang keberapa kali.


"Apa maksud anda? Saya pikir inovasi itu perlu. Juga keputusan yang dibuat Permaisuri tidak begitu buruk."


"Aku yang lebih senior di sini. Kalian tau apa? Tugas perempuan itu seharusnya hanya di dapur, melayani suami dan mertua, serta menjaga anak. Untuk apa ikut campur urusan kenegaraan? Merusak tradisi yang sudah ada sejak berabad-abad," ujar seorang pria yang memang terlihat lebih tua dari beberapa rekannya. Mereka sepertinya baru saja keluar dari aula kekaisaran.


Kehadiran Yuan yang tiba-tiba itu tentu saja membuat para pejabat negara itu kompak membalikkan badan mereka dan membungkuk hormat. "Kami memberi salam kepada Permaisuri Xuan," ujar mereka. Di antaranya terlihat setengah hati.


"Tidak perlu berpura-pura di depanku. Itu sangat menjijikan. Ayo, kenapa kalian tidak menemui Yang Mulia lagi sekarang? Kebetulan aku juga akan menemuinya. Kami selesaikan saja di hadapan Kaisar Xuan," kata Yuan sinis.


"Maafkan hamba telah menyinggung Permaisuri. Hamba tidak bermaksud seperti itu."


Yuan menggeleng dan melambaikan tangannya. "Jangan berbicara padaku! Beraninya hanya membicarakanku di belakang saja. Kalian ini memangnya siapa?" Setelah itu, dia melenggang pergi tanpa mendengarkan apapun lagi.


"Permaisuri." Kedua penjaga Istana Qin menunduk hormat saat melihat kedatangan Yuan.


Yuan mengangguk samar. "Yang Mulia sudah kembali?"


"Yang Mulia baru saja kembali. Permaisuri silakan masuk." Salah satu pengawal itu membukakan pintu untuk Yuan dan menutupnya setelah wanita itu masuk.


Aroma kayu cendana dan mint menyapa hidungnya ketika sudah berada di dalam.


"Kemarilah." Suara yang sudah sangat dikenalnya itu terdengar. Yuan melangkah lebih jauh sampai matanya menangkap siluet tubuh tegap yang sedang duduk di kursi kayu dengan meja di tengahnya. Jika kalian ingat, di kamar tidur ZiXuan ada sebuah kursi dan meja yang diletakkan ditengah ruangan. Letaknya masih sama saat pertama kali Yuan ke sana, yaitu pada malam pernikahan.


Yuan membungkukkan badannya sambil berkata, "Permaisuri menemui Yang Mulia Kaisar."


ZiXuan mengangguk dan dengan matanya memberikan kode pada Yuan untuk duduk.


"Apa ada sesuatu yang ingin Saudara katakan?" Sejak masalah Putri Bingyan diselesaikan baik-baik, hubungan sepasang suami dan istri itu sudah cukup membaik. Itu terlihat dari panggilan Yuan saat mereka berdua terlihat lebih akrab.


"Minggu depan aku harus pergi ke perbatasan. Karena kamu masih beradaptasi dengan posisimu, jadi beberapa tugas akan sementara waktu diselesaikan Ibu Suri. Kamu belajarlah dengannya agar di masa depan kamu dapat benar-benar mengambil alih semua tugasmu."


Yuan menuangkan teh pada dua cangkir kosong. Memberikan salah satunya pada ZiXuan dan yang lainnya untuk dia sendiri. "Tapi bukankah seorang permaisuri dilarang untuk mencampuri urusan kenegaraan? Bukankah tugas seorang peramisuri hanya melayani kaisar?"


ZiXuan menaikkan alisnya. "Apakah kamu sudah melayaniku dengan baik?"


Wajahnya memerah mendengarkan apa yang baru saja dikatakan pria tampan di depannya itu. "Saudara, bisakah anda tidak menggoda saya sehari saja? Bukankah kamu akan keperbatasan, jangan terlalu memikirkanku."


"Aneh sekali, bukankah kamu yang memulainya, lalu mengapa aku yang disalahkan? Permaisuri bisa melakukan banyak hal, bukan hanya di atas ranjang. Walaupun tidak terlihat langsung, tetapi dia terlibat di belakang layar. Kamu pasti merasa panas menjadi perbincangan, kan?"


"Kamu sengaja melakukannya, kan? Saudara, kamu ini ada dendam apa padaku?!"


"Kamu hanya melihatnya di satu sisi. Sebenarnya ini baik untuk mentalmu. Permaisuriku tidak harus pandai bertarung, tetapi permaisuriku haruslah perempuan yang bisa mengendalikan orang lain."


Yuan mengerutkan keningnya kemudian dia menggeleng. "Aku tidak mengerti. Mari bicarakan hal yang lain. Ada urusan apa saudara ke perbatasan? Apakah untuk berperang?"


"Tidak. Hanya masalah kecil, dijelaskanpun kamu tidak akan mengerti. Sudah, kamu boleh kembali."


"Saudara, sifatmu itu, apakah tidak bisa sedikit lebih ramah padaku? Bagaimanapun kami adalah teman," ujar Yuan mengeluh.


ZiXuan tertawa pelan. "Kurasa aku sudah sedikit lebih ramah padamu."


Yuan terpana. Apa yang sedang terjadi? Pria di depannya ini sedang tertawa! Catat! Tolong catat itu! Wajah yang biasa terlihat angkuh itu sedang tertawa dengan sangat indah. Yuan sepertinya baru saja menyadari betapa tampan dan mempesonanya ZiXuan saat tertawa. Coba saja sifatnya ramah dan hangat, sudah dipastikan pria itu akan menjadi yang tertampan di seluruh dunia.


Tanpa sadar, dia menelan salivanya sendiri. Matanya fokus memperhatikan bibir merah yang sedang melengkung ke bawah itu. Jantungnya tiba-tiba saja berdetak cepat, dan darahnya seperti terbakar. Rona merah itu muncul di pipi putihnya. Yuan buru-buru menundukkan kepalanya. Mengantur napas dengan tangan yang meremas bajunya.


ZiXuan baru tersadar saat melihat tingkah aneh gadis di depan. "Kamu—baik-baik saja?" Dia mengernyitkan keningnya saat tiba-tiba Yuan berdiri.


"Aku—aku akan pergi. Yang Mulia, anda—berhati-hatilah. Aku menunggu kembali."


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...