
"Sebenarnya dari awal aku sudah tau bahwa kamu terpaksa untuk tetap tinggal bersamaku, karena selain itu kamu tidak punya pilihan lain. Dengan perubahan sikapmu, aku meyakinkan diriku sendiri bahwa kamu mungkin mencintaiku. Dan hari ini akhirnya aku menyadari bahwa kamu dan hatimu adalah satu-satunya hal yang tidak pernah bisa aku pahami."
Yuan memejamkan matanya. Dia tidak berharap keadaan akan menjadi seperti ini. Air mata semakin deras mengalir.
"Aku—"
"Xiao Li, kamu sangat egois. Kamu permaisuri yang baik dan bijaksana, memikirkan nasib rakyatmu tetapi kamu melukai diri sendiri bahkan melukai perasaanku.
Aku selalu menjaga perasaanmu tapi kamu ingin membuatku terlihat kejam padamu.
Kamu mungkin berpikir ini baik untuk semuanya, tapi pernahkah kamu berpikir tentang perasaanmu sendiri? Pernahkah kamu berpikir tentang perasaanku?"
"Suamiku," ucap Yuan dengan suara gemetar.
"Xiao Li, apakah pernyataan cintamu padaku adalah sebuah kebohongan juga? Apakah kamu pernah mencintaiku?" Semuanya sudah berakhir. ZiXuan merasa dia benar-benar tidak mengenal wanita di depannya itu.
"Pada hari kamu kehilangan anakmu, kamu merasa bahwa hanya kamu yang paling merasa sedih, bukan?
Tapi taukah kamu, aku juga merasa kehilangan. Bukan hanya anakku tetapi juga dirimu. Aku telah kehilangan kalian berdua," lanjut ZiXuan kembali berbicara.
"Kamu pasti menyalahkanku, bukan? Jika saat itu aku yang meminumnya, kamu pasti akan baik-baik saja dan anakmu juga akan baik-baik saja."
"Yang Mulia, aku tidak—" Yuan tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Dadanya merasa sangat sesak.
"Mungkin orang lain melihatmu baik-baik saja sekarang, tetapi aku tau kamu hanya berpura-pura saja.
Dari awal kamu mengirim surat lamaran, aku sudah merasakannya. Aku terlalu buruk untukmu, ya?"
Yuan menggeleng lemah. Pertanyaan-pertanyaan itu terlalu menyakitkan, bagaimana bisa ZiXuan berpikir begitu? Yuan tidak menyangka dia sudah benar-benar menyakiti hati prianya. "Tidak. Tuankku sangat sempurna sebagai apapun. Entah itu suami, ayah ataupun pemimpin negeri," katanya lirih.
"Kamu mengatakan kebohongan lagi. Jika aku sempurna, lalu mengapa kamu terus mendorongku mendekat pada Putri Rong? Bukankah saat itu kamu mengatakan tidak akan memaksaku lagi? Bukankah kamu menatakan bahwa kamu mempercayaiku dan bisa memutuskan hubungan pertunangan ini? Bukankah kamu juga mengatakan akan menunggu keberhasilanku? Lalu mengapa itu berbanding terbalik dengan apa yang kamu lalukan hari ini? Xiao Li, kamu sudah sangat melukaiku tetapi aku tidak pernah bisa membencimu, apalagi melukaimu," katanya putus asa.
Tiba-tiba, ZiXuan memegang kedua pundak Yuan, menatap lama wajah cantik yang terlihat berantakan itu seperti sedang menyimpan dalam-dalam bagaimana rupanya. Tangannya terulur untuk mengusap air mata yang masih mengalir di pipinya dengan lembut. Kemudian dia tersenyum tulus.
Yuan tidak suka melihat senyumnya saat ini. Walaupun itu Indah, tapi menyimpan luka yang tak terlihat.
"Aku selalu berharap agar kamu bisa selalu bahagia di manapun kamu berada. Seharusnya aku mengatakannya dari awal, Xiao Li, jika bersama denganku selalu membuatmu menderita, maka—aku akan melepaskanmu," katanya dengan berat. Suaranya bahkan terdengar sedikit bergetar.
Yuan menegang, menatap mata yang terlihat kosong itu dengan tidak percaya. "Mengapa kamu mengatakan itu?" ucapnya terbata. Air mata yang baru saja diusap ZiXuan kembali mengalir.
"Pasti sangat sulit menjadi permaisuriku 'kan? Aku yang gagal untuk memberimu rasa aman. Kamu juga tidak pernah memberiku kesempatan untuk menjadi pelindungmu. Maka tidak ada yang bisa aku lakukan ketika wanita yang sangat aku cintai melepaskanku untuk wanita lain. Tapi Xiao Li, tolong jangan memaksaku untuk menerimanya. Aku tidak akan pernah bisa."
"Suami, mengapa kamu begitu kejam padaku? Mengapa kamu bisa mengatakan semua itu padaku? Mengapa kamu melepaskanku?" Yuan menepis tangan ZiXuan yang berada di bahunya, dan sebagai ganti dia mulai menarik baju ZiXuan dan mengguncangnya dengan keras.
"Su—sumi, jangan— jangan mengatakannya lagi. Aku bersalah. Ma—maaf." Yuan merasa pandangannya semakin buram, entah karena air mata atau karena efek dari kepalanya yang terasa sakit. Yang jelas dia tidak bisa lagi merasakan berat tubuhnya. Semuanya hitam.
***
Sepasang kelopak mata itu bergerak gelisah sebelum akhirnya terbuka. Mata persik itu memandang kosong ke langit-langit kamar yang sepertinya tak asing.
Dia mendudukan dirinya dan bersandar di ranjang. Tangan selembut sutra itu memijat pelipisnya pelan. Setelah merasa lebih baik, dia segera mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Sepi.
"Jingli?" Ketika menyebutkan nama orang yang ada di depannya itu, Yuan baru menyadari bahwa suasana istana lebih ramai dari biasanya.
"Ini ada apa?"
Jingli mengerutkan keningnya bingung. Tetapi dia tetap menjawab pertanyaan dari tuannya itu. "Hari ini pernikahan Yang Mulia Kaisar dan Putri Rong, juga di hari ini Yang Mulia akan langsung memberikan gelar Selir Agung XiaoChu."
"Tidak mungkin! Apakah aku bermimpi? Bukankah pernikahannya bahkan belum di putuskan?" kata Yuan menolak percaya. Tapi mimpi ini mengapa terlihat sangat nyata, tanpa bisa dikendalikan tubuhnya hampir saja terjatuh jika Jingli tidak segera menahannya.
"Permaisuri! Anda baik-baik saja? Haruskan hamba memanggil tabib istana?" tanya Jingli khawatir.
"Tidak. Ini tidak mungkin. Jingli jangan bercanda lagi!"
Meskipun menjelaskan ini akan menyakitkan tuannya, tetapi Jingli dengan enggan mengatakannya. "Permaisuri, sejak kamu keluar dari ruang baca kaisar, Yang Mulia terlihat berbeda. Anda sudah tidak sadarkan diri selama empat hari, dan sudah banyak hal terjadi. Hamba juga melihat Putri Rong lebih sering mendatangi Yang Mulia selama empat hari ini dan kemudian kemarin Yang Mulia mengumumkan akan menikahi Putri Rong dan mengangkatnya menjadi selir utama."
Mendengar hal tersebut, Yuan segera melepaskan diri dan berlari seperti orang gila. Dia segera menuju ke Istana Qin, Yuan bahkan lupa untuk mengenakan alas kaki dan membiarkan batu-batu kecil menusuk telapak kakinya.
Dia sudah akan membuka pintu istana Qin, tetapi pengawal yang menjaga segera menghentikannya.
"Apa yang sedang kalian lakukan! Jangan halangi aku!" ucap Yuan tegas.
Kedua pengawal itu menunduk takut tetapi berkata, "Yang Mulia Permaisuri, ini sudah malam. Yang Mulia Kaisar berkata tidak boleh ada yang mengganggunya malam ini bersama Selir Agung."
Air matanya sekarang benar-benar sudah jatuh. Yuan menatap nanar pintu yang tertutup rapat itu. Entah mendapatkan keberanian dari mana, dia berteriak, "YANG MULIA KAISAR, MOHON TEMUI PERMAISURI INI."
Panggilan itu terus dia lakukan sampai pintu di depannya mulai terbuka.
Seorang pria tampan dengan baju yang sedikit berantakan keluar dari dalam. Dia menatap kesal ke arah Yuan. "Apa yang sedang Permaisuri lakukan di kediamanku?"
Tak lama setelah itu, seorang wanita muncul di belakang punggungnya. Wajah wanita itu terlihat cantik dan memerah. Penampilannya tak kalah berantakan dari ZiXuan yang ada di depannya.
"Tenyata itu Kakak Permaisuri," ujarnya menunduk hormat.
"Mengapa kamu keluar? Tunggu aku di dalam." ZiXuan berkata dengan lembut seraya merapikan rambut wanita itu dengan penuh kasih sayang. Setelah selesai, tangannya diletakkan pada pinggang Liang Rong.
Tidak ada satupun yang lepas dari pandangan Yuan, dadanya terasa sesak melihat pemandangan yang menyakitkan ini. "Suamiku, kamu—"
"Permaisuri, jika ada hal yang ingin dibicarakan, mari bicarakan itu besok. Tidakkah tindakanmu ini terlihat buruk? Anda adalah Permaisuri Qin, mohon perhatikan tingkah lakumu," potong ZiXuan tanpa melihat wanita itu.
"Yang Mulia, anda sangat kejam! Saya membencimu," ujar Yuan lemah. Dia tidak lagi punya kekuatan untuk menghadapi ini semua.
"Aku? Permaisuri bercanda, itu adalah kamu. Bukankah kamu menginginkan semua ini terjadi? Aku setuju denganmu, Rong-Rongku memang gadis yang baik. Kedepannya biarkan Rong-Rong saja yang melayaniku, aku tau kamu sudah sangat lelah, jadi bersantailah sedikit."
"Kamu dendam padaku, ya?"
ZiXuan tersenyum dan menggeleng. "Tidak. Bagaimana bisa aku dendam padamu? Permaisuri melakukan ini semua untukku. Jangan khawatir, kamu akan tetap menjadi Permaisuri Dinasti Qin, hanya saja kamu tetap harus memperhatikan tingkah lakumu. Rong-Rong, ayo kita masuk!" Dia segera menarik wanita yang sedari tadi berada di belakangnya.
"Yang Mulia, ini memang salahku. Dalam hidup ini, aku yang gagal menjadi istri yang baik untukmu. Kamu boleh menghukumku, tapi tolong jangan melupakanku, kalau tidak aku tidak akan memiliki tujuan hidupku lagi. Jika seperti itu, lebih baik kamu bunuh aku saja."
...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...