My Devil Emperor

My Devil Emperor
Tidak Bisakah Kamu Memahamiku?



"Kamu sudah datang." ZiXuan menatap wanita yang baru saja masuk.


"Apakah saya datang di saat yang tidak tepat?"


"Bagaimana mungkin! Kemarilah."


Yuan tersenyum lembut dan berjalan mendekat.


ZiXuan yang berada di depannya menatap wanita itu penuh cinta, dia segera mengambil alih keranjang yang dibawa Yuan. Sudah dapat dipastikan isinya juga makan siang yang dibuat untuknya. Tanpa memperhatikan Liang Rong yang masih membatu, ZiXuan menarik Yuan untuk duduk di sampingnya, dia bahkan langsung membuka penutup keranjang yang terbuat dari rotan itu dengan antusias.


"Sup akar teratai?" gumamnya pelan.


Bau harum langsung merebak ketika penutup itu diangkat.


"Kenapa? Kamu tidak menyukainya?"


"Bukan, bukan. Aku suka, hanya saja aku sudah lama tidak memakannya." ZiXuan langsung menyendok kuah sup dan menyeruputnya dengan pelan.


"Bagaimana?" tanya Yuan dengan alis terangkat.


ZiXuan menangguk, matanya berbinar dan dia berkata, "Ini sangat enak! Sup akar teratai terenak yang pernah aku makan."


Yuan menyipitkan matanya tak percaya. "Suamiku, kata-katamu manis sekali," ujarnya tak percaya.


"Xiao Li, aku paling jujur soal rasa makanan!"


"Baiklah, baiklah. Jika suami menyukainya saya akan lebih sering membuatkan Sup akar teratai di masa depan, bagaimana?"


"Setuju!" Setelah itu ZiXuan sudah tidak menghiraukan Yuan lagi.


"Sepertinya Sup Akar Teratai itu lebih menarik dari kita. Kamu setuju kan?" tanya Yuan, mata indahnya menatap Liang Rong yang sedari tadi terdiam di sana.


Wajah gadis itu masih terlihat memerah. Entah masih karena sebab yang sama atau hal lainnya. Liang Rong hanya tertawa canggung menanggapi Yuan.


"Mengapa anda di sini?" kata Yuan mengubah pertanyaannya.


"Saya— "


Mata Yuan menyapu seluruh ruangan dan berhenti di atas meja yang sudah ada beberapa jenis makanan di sana.


"Oh, ternyata mengantarkan makan siang juga."


Karena Yuan sudah menebaknya, Liang Rong kembali diam.


"Suamiku," panggil Yuan kembali menatap ZiXuan.


"Hmm?" gumam ZiXuan yang baru menyelesaikan suapan terakhirnya.


Dia mengambil sapu tangan dari sakunya, dan mengusap bibir yang terlihat penuh itu dengan sekali gerakan. Kepalanya terangkat untuk menatap Yuan.


"Aku tidak tau bahwa Putri Rong juga membawakan Yang Mulia makan siang, mengapa tidak mencobanya?" tanya Yuan lembut.


"Aku—"


Belum selesai ZiXuan menjawab, Yuan segera memotongnya. "Putri Rong sudah memasaknya, bagaimana bisa Yang Mulia tidak menghargainya, kan?" Yuan berdiri dan mengambil salah satu hidangan di atas meja dan kembali lagi ke sisi ZiXuan.


"Cobalah," ujarnya sambil menyodorkan makanan itu di depan wajah ZiXuan.


Karena tidak bisa menolak permintaan Yuan, dengan enggan ZiXuan mengambil sedikit makanan dari piring itu dan menyuapkannya ke mulut. Sedetik kemudian wajahnya berubah masam. "Aku tidak menyukainya."


Liang Rong menatap cemas ekspresi ZiXuan saat memakan makanan buatannya terlebih lagi dia mendengar apa yang baru saja pria yang disukainya itu bicara. 'Tidak menyukainya' terdengar seperti penolakan akan dua hal. Makanan itu dan dirinya sendiri. Bagaimana bisa pria itu bertindak tanpa perasaan seperti ini.


Seulas senyum tipis terbingkai di bibir merahnya. "Setidaknya kamu jangan terlalu jujur begini," gumamnya pelan.


"Mohon maaf, Yang Mulia. Ini pertama kalinya saya memasak. Jadi tidak tau rasanya akan seburuk itu," ujar Liang Rong sambil berlutut. Melihat ekspresi ZiXuan membuatnya merasa tertekan. Pria itu, seberapa benci dia padanya?


Yuan menoleh menatapnya. Dan berjalan turun dari samping ZiXuan. Tangan selembut sutra itu menarik bahu Liang Rong, membantunya untuk berdiri. "Mengapa kamu sangat formal? Tidak apa, ini bukan masalah besar. Tidak perlu melakukan tindakan seolah kamu melakukan sebuah kejahatan besar. Itu wajar jika ini adalah pengalaman pertamamu, dulu aku juga seperti itu. Lain kali aku bisa mengajarimu memasak untuk Yang Mulia."


"Mengapa kamu mengajarinya? Biarkan saja itu menjadi tugasmu! Aku tidak ingin orang lain yang melakukannya," kata ZiXuan tidak senang.


"Yang Mulia, bagaimanapun cepat atau lambat, Putri Rong akan menjadi selirmu. Itu berarti dia akan menjadi saudaraku, jadi dia juga akan membantuku melayanimu." Yuan berkata dengan tenang. Mata persiknya menatap lembut pada laki-laki di belakangnya itu, tetapi dia seperti melihat hal yang lain di mata gelap ZiXuan. Itu membuat dadanya sesak.


ZiXuan menatap mata wanita itu dengan tajam, beberapa saat kemudian dia tertawa pelan. Suara tawanya terdengar seperti sedang meremehkan seseorang.


"Permaisur, anda mulai lagi. Jadi selama ini, Permaisuri merasa keberatan melayaniku? Aku mengerti." katanya sambil mengangguk pelan.


"Bukan! Bukan seperti itu maksudnya. Yang Mulia, Aku—"


ZiXuan mengangkat tangannya. Ia kemudian menatap Liang Rong dan berkata, "Putri, Jika anda tidak memiliki hal lain, silakan pergi dari sini." Setelahnya, dia kembali tenang. Menyingkirkan semua makanan yang ada di depannya termasuk makanan yang dibuat Yuan.


Pria itu dengan tenang kembali membaca dokumen yang tadi dia tinggalkan. Seperti tidak menyadari kehadiran dua orang lainnya di ruangan itu.


Suasananya terlalu dingin, Liang Rong tanpa mengucapkan sepatah katapun menunduk ke arah ZiXuan dan Yuan kemudian bergegas keluar dari sana. Lebih baik dia menghindari peran dingin antara Kaisar dan Permaisuri yang sepertinya akan dimulai ini.


Setelah itu, hanya terdengar hembusan napas dan suara kertas di antara keduanya.


Yuan menatap ZiXuan yang sepertinya tidak menganggap dia ada sekarang. Hatinya cemas. Tapi Yuan menyadari ini terjadi karenanya.


Setelah memantapkan hati, Yuan berjalan pelan mendekati ZiXuan.


"Suamiku," ucap Yuan pelan seperti gadis kecil yang sedang dihukum ayahnya.


"Aku tidak bermaksud begitu. Sungguh! Aku tidak pernah merasa keberatan melayani tuanku," jelasnya sambil menarik ujung lengan baju ZiXuan.


"Lalu apa maksudmu?" tanya ZiXuan yang akhirnya menanggapi Yuan. Dia tetap membaca dokumen tanpa memperhatikan wajah cantik Yuan yang berada dekat di sampingnya.


"Aku benar-benar tidak ingin Yang Mulia merasa terbebani. Aku tau bagaimana kondisi dinasti kita saat ini, Aku tidak ingin menjadi alasan kelemahanmu. Sungguh, tidak apa jika Yang Mulia memiliki beberapa selir. Selama kamy mencintaiku, itu sudah cukup. Putri Liang Rong, dia juga terlihat baik, terlebih aku bisa melihat cintanya untukmu. Kami bisa melayanimu bersama. Juga, bagaimana nasib ribuan rakyat jika seandainya pemberontakan benar-benar terjadi? Selama mendapatkan dukungan kerajaan Liang, itu bisa sedikit tertangani," jelas Yuan hati-hati.


ZiXuan mengangkat wajahnya menatap Yuan. "Benar-benar tidak apa jika aku memiliki beberapa selir lagi?"


Yuan menangguk. "Tidak apa. Ini untuk kebaikan semua orang juga tugasku sebagai permaisuri dinasti."


"Zhou YanLi memang permaisuri yang baik. Dia bahkan rela membagi suaminya dengan beberapa wanita. Benar-benar sangat bijaksana," ujar ZiXuan tenang.


"Yang Mulia, tidak begitu—"


"Kenapa? Bukankah aku benar? Pertama istriku sendiri yang membawa wanita lain itu ke kediaman kami, kemudian dia mengatakan tidak apa-apa jika aku memiliki beberapa selir lagi, itu menguntungkan kekaisaran kami."


Tidak benar! Yuan merasa ZiXuan salah memahaminya.


"Tidak! Bukan seperti itu!" sanggah Yuan sambil menggelengkan kepalanya. Melihat mata ZiXuan yang terlihat kecewa padanya, membuat Yuan merasakan takut. Matanya bahkan mulai berkaca-kaca.


"Xiao Li, apapun yang kamu inginkan aku bisa memberikannya. Bahkan jika kamu meminta nyawaku, aku akan memerikannya. Aku bisa memberikan apapun untukmu kecuali menyakitimu. Sungguh. Tapi, menikah dengan wanita lain aku tidak bisa. Aku benar-benar tidak bisa. Sejak aku mencintaimu, aku sudah berjanji untuk hanya memilikimu dalam hidupku. Xiao Li, tidak bisakan kamu memahamiku? Apakah itu sulit?"


Mendengar suara tenang tetapi penuh luka itu membuat Yuan sudah tidak bisa lagi menahan air matanya untuk tidak jatuh.


Tanpa disadari keduanya, seseorang tidak benar-benar pergi dari sana. Sedari tadi dia mendengarkan percakapan pasangan suami istri itu.


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...