
Situasi dan kondisi yang ramai pada pagi menjelang siang itu terdengar menyambut kedatangan sang Kaisar dan Permaisuri. Ya, jika mau, ZiXuan dan Yuan bisa saja sampai pada hari yang sama saat mereka berangkat, tetapi Yuan memilih untuk beristirahat dan mencari penginapan saat matahari sudah terbenam.
Raja Huang beserta Ratu Yin dan beberapa selir menyambutnya di depan aula. Persiapan pernikahan itu sudah rampung. Sepertinya memang sudah siap menggelar upacara pernikahan, hanya tinggal menunggu kehadirannya saja.
"Salam pada Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri."
ZiXuan mengangguk menerima salam itu sedangkan Yuan berjalan cepat mendekati ibunya.
"Ibu, saya merindukanmu," ucapnya seraya memeluk Ratu Yin.
Ratu Yin membalas pelukan putri pertamanya itu dengan hangat. Dia mengusap rambut hitam legam Yuan dengan penuh kasih sayang.
"Ibu juga sangat merindukanmu."
Zi Xuan berjalan mendekat dan berhenti di belakang Yuan yang masih memeluk ibunya.
"Apakah Ibu baik-baik saja?" tanya Yuan melepas pelukannya.
"Ibu akan baik-baik saja setelah melihat anak-anaknya dalam keadaan baik."
"Baiklah, baiklah. Sejak kapan putri kami menjadi sangat manja seperti ini? Apakah Yang Mulia Kaisar kerepotan menjaganya?"
Yuan menolehkan kepala dan melihat Raja Huang yang tengah menggodanya. "Ayah!" seru Yuan memeluk ayahnya.
"Terima kasih Kaisar dan Putri—Ah, maksud saya Permaisuri Xuan sudah menyempatkan datang ke pernikahan Ji'er dan Pangeran Liu." Ucapan itu membuat Yuan mengangkat wajahnya. Dia melihat Selir Agung Zhuang yang berdiri di belakang ayahnya.
Yuan melepaskan pelukannya pada Raja Huang. "Ji'er adalah adikku, tentu saja aku datang," jawab Yuan tersenyum pada Selir Zhuang. "Ibu Selir Zhuang, bagaimana kabarmu?" lanjutnya seraya langsung memeluk wanita cantik itu.
Mendapat pelukan yang terlalu tiba-tiba itu, wajah Selir Agung Zhuang mengeras. Ini adalah pertama kalinya dia mendapatkan sebuah pelukan seorang anak. Walaupun Ji'er adalah anak kandungnya, tetapi gadis itu bahkan tidak berani untuk menatap matanya. Ji'er lebih dekat dengan Ratu Yin, tapi dia juga tidak terlalu jauh dari ibu kandungnya.
Jika didefinisikan, Ratu Yin adalah tipe seorang ibu yang hangat dan penyayang sedangkan Selir Agung Zhuang adalah ketebalikannya.
Jika Ratu Yin menyayangi semua anaknya termasuk anak dari selir Zhuang, maka Selih Zhuang hanya mencintai putrinya saja walaupun itu tidak dinampakkannya secara langsung.
Tetapi walaupun dekat dengan Ratu Yin, FengJi memiliki sifat yang hampir mirip dengan Selir Agung Zhuang. Like mother like daughter.
Jika anaknya saja tidak terlalu dekat dengannya, bagaimana YanLi bisa? Tentu saja tidak. YanLi kecil tidak pernah berani bahkan untuk berpapasan saja, gadis kecil itu selalu menghindar. Lalu saat YanLi tumbuh dewasa, dia menjadi gadis yang bijaksana dan rendah hati seperti ibunya. Dia tetap menghormati Selir Agung Zhuang tetapi mereka tidak sampai sedekat saat ini!
Yuan melepaskan pelukannya dan menatap heran Selir Zhuang yang masih mematung. "Ada ap— Kalian semua mengapa menatapku seperti itu?" tanyanya bingung.
Pasalnya, selain ZiXuan, semua orang yang ada di sana seperti menjadi patung. Mereka semua tercengang, bahkan itu juga termasuk Raja Huang dan Ratu Yin.
Yuan menatap ZiXuan dengan pandangan bertanya, tetapi pria itu malah mengedikkan bahu tanda dia juga tidak tahu.
"Ayah, Ibu." Kali ini Yuan memanggil orang tuanya, membuat Raja Huang dan Ratu Yin kembali tersadar.
"Ah, tidak ada. Mari kita masuk dulu, pernikahannya akan segera dimulai. Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri silakan," ujar Raja Huang menyambut.
Yuan kembali menghampiri ZiXuan dan berdiri di sampingnya. Mereka pun memasuki istana kerajaan Wei.
Di tempat lain, FengJi duduk di depan cermin dengan beberapa pelayan yang membantunya merias wajah.
Semua orang di ruangan itu terlalu sibuk dengan pekejaan mereka masing-masing sehingga tak menyadari kehadiran Yuan yang bersender di pintu kamar ditemani Jingli yang berada di belakangnya.
Salah satu pelayan yang bertugas memasangkan aksesoris kepala itu terlihat kesulitan.
Yuan berjalan menghampiri mereka. "Berikan padaku."
Para pelayan itu seketika menoleh dan terkejut. "Putri Yanli!"
FengJi yang sedari tadi menunduk pun mengangkat kepalanya. Ia menaikan alisnya. "Apa yang kalian katakan? Kakak pertama sudah menjadi Permaisuri Kekaisaran, mengapa masih memanggilnya Putri?" Feng Ji berdiri dan memutar badannya menghadap Yuan.
"Salam, Permaisuri Xuan," ucapnya seraya membungkukkan badan. Kemudian para pelayan pun mengikutinya.
Yuan mengangguk dan mendorong Feng Ji untuk duduk kembali. "Berikan padaku," ujar Yuan mengulurkan tangannya. Ia pun mulai memakaikan aksesoris itu pada kepala Feng Ji.
"Kalian boleh pergi. Saudari, aku ingin mengobrol sebentar dengan adikku," ujar Yuan tanpa menatap orang-orang di belakangnya.
"Baik."
Yuan merapikan beberapa helai rambut adiknya itu. Matanya sesekali melirik pantulan wajah cantik FengJi di cermin. "Aku mengerti mengapa kamu sangat membenciku," katanya membuka obrolan.
FengJi tersenyum sinis. "Apa yang kamu mengerti? Bisakah seorang putri yang sangat dicintai itu mengerti perasaan orang lain yang tidak bisa merasakannya?"
"Itu hanya dari sudut pandangmu saja. Kamu sendiri yang memberikan sugesti bahwa orang-orang tidak berlaku adil padamu. Memang benar, ada beberapa orang yang seperti itu tetapi tidak semuanya begitu."
"Jika Kakak hanya ingin mengatakan itu padaku, maka simpan saja. Aku tidak memerlukannya," ujar FengJi acuh tak acuh.
"Baiklah, baiklah. Aku tidak bicara lagi."
Yuan menaikkan alisnya dan berkata, "Siapa yang ingin kamu memberikannya padaku? Seorang wanita hanya boleh memiliki satu orang suami. Kamu ambil saja, aku tidak menginginkannya."
"Kamu—"
"Apa? Apa kamu mau aku berselingkuh dengan calon suamimu?"
***
Upacara berlangsung dengan lancar. Kini FengJi sudah resmi menjadi istri dari Pangeran Liu.
"Terima kasih atas kedatangan Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri Xuan," ujaf FengJi dan Pangeran Liu bersamaan.
Yuan tersenyum sedangkan Zi Xuan mengangguk membalas ucapan kedua pasangan baru itu.
"Semoga kalian hidup bahagia."
Yuan menatap Jingli yang berada di belakangnya. Jingli mengangguk paham dan membawa sebuah kotak kayu kemudian memberikannya kepada Feng Ji.
"Ini—"
"Hadiah dari kami untuk kalian," ujar Yuan yang mengerti kebingungan Feng Ji.
Jingli membuka kotak itu.
"Ini sangat indah!" Tangannya terulur menyentuh sepasang baju yang berada di dalam kotak itu.
Decakkan kekaguman juga didengar Yuan dari orang-orang yang melihatnya.
"Terima kasih, Kakak dan Kakak Ipar," ucap FengJi menundukkan kepalanya.
Semua orang juga tersenyum melihatnya. Tidak disangka, putri pertama Raja Huang dapat menerima pernikahan mantan tunangannya.
Setelah acara selesai, Yuan pergi bersama Jingli ke danau teratai di belakang istana. Sedangkan ZiXuan berbincang dengan ayahnya dan beberapa tamu yang datang.
"Ini masih sama seperti beberapa bulan yang lalu," kata Yuan mengenang.
Jingli tersenyum hangat. "Benar, Permaisuri. Walaupun istana kekaisaran sangat luas dan lebih indah, aku tetap merindukan istana ini."
"Saudari, bisakah kamu atau seseorang mengambilkan teratai itu untukku? Sepertinya makan sup akar teratai akan terasa enak malam ini," ujar Yuan yang diangguki dengan semangat oleh Jingli.
Yuan menatap air yang tenang dan jernih itu dengan bunga-bunga teratai yang tumbuh mengapung di sebagian permukaannya.
Suara langkah kaki terdengar dari belakang. Sambil berbalik, Yuan tersenyum dan berkata, "Saudari Jingli, kamu kembali sangat cepat."
Senyumnya sirna ketika melihat orang lain yang berdiri di depannya.
"Mengapa anda di sini?"
Orang itu melangkah lebih dekat. "Bagaimana kabarmu?" tanyanya sambil tersenyum.
"Apa yang Pangeran Liu lakukan di sini?" Bukannya menjawab, Yuan kembali mengulang pertanyaannya.
"Tidak akan baik jika anda berada di sini, saya akan pergi." Yuan berjalan melewati Pangeran Liu, tetapi langkahnya terhenti saat Pangeran Liu menahan pergelangan tangannya.
"Lepaskan tanganmu!" ujar Yuan menatap sengit pada pria itu.
"Xiao Li, aku masih mencintaimu dan aku yakin kamu juga sama. Beri aku kesempatan setidaknya membantumu mengingat hubungan kita lagi, aku tidak ingin kamu menyesal dan bersedih."
"Pangeran Liu, jaga batasanmu! Jika itu yang kamu khawatirkan, maka itu tidak perlu. Aku tidak akan menyesali keputusan yang pernah aku buat, daripada menyesalinya lebih baik aku menjalaninya. Tindakanmu ini, sudah terlalu jauh. Kamu bahkan berani menyentuhku?"
"Mengapa kamu seperti ini? Aku tidak pernah menyukai Ji'er. Aku tidak bisa bersamanya dan aku tidak bisa melupakanmu."
Yuan menepis tangan Pangeran Liu dengan kasar dan itu membuahkan hasil. "Ji'er adalah istrimu sekarang."
"Aku tidak peduli!" Pangeran Liu kembali menarik tangan Yuan, hendak membawa tubuh mungil gadis itu ke dalam pelukannya, akan tetapi Yuan mengelak dengan menghenghempaskan tangan Pangeran Liu yang mencengkeram tangannya, keadaan itu membuat Yuan hampir terjatuh jika Jingli tidak datang dan menahan tubuhnya dengan cepat.
"Permaisuri, Kau baik-baik saja?"
Suara tamparan berbunyi nyaring sesaat setelah Yuan kembali berdiri tegak di depan pria itu.
"Tidak tahu diri! Kamu bilang apa tadi?tidak peduli? Tapi aku peduli! Jika kamu menyakiti saudariku, maka aku tidak akan pernah memaafkanmu! Di masa depan, jangan pernah tunjukkan wajahmu lagi!" Yuan menunjuk wajah Pangeran Liu dengan jari telunjuknya.
Kilatan kekecewaan terlihat jelas di mata indahnya yang selama ini tampak tenang. Sejujurnya, Yuan juga tidak tau mengapa dia bisa merasakan hal ini, tetapi ada sedikit rasa sakit dan marah di hatinya.
"Pangeran Liu, hubungan kami adalah masa lalu. Kuharap kamu bisa melupakannya. Kini, saya dan anda tidak saling berhutang apapun lagi."
......▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎......