
"Permaisuri, Anda baik-baik saja?" Jingli menatap gadis yang sedang duduk santai itu dengan wajah khawatir.
Setelah Yuan memberinya izin untuk masuk kamar, tanpa basa-basi lagi dia segera masuk dan mengecek keadaan gadis itu.
"Kamu benar baik-baik saja? Apakah saya perlu memanggil tabib kekaisaran?" tanyanya untuk yang kesekian kali.
"Tidak perlu, Saudariku. Saya baik-baik saja," ujar Yuan meyakinkan.
"Lalu mengapa anda berlari dan mengurung diri tadi? Itu membuat saya sangat khawatir!"
"Ah itu, aku— saudari, aku lapar." Yuan memeluk manja lengan Jingli, sebenarnya itu hanya cara untuk mengalihkan pembicaraan saja.
"Kamu ingin makan apa?"
"Umm, ikan asam manis dan sup akar teratai sepertinya enak!"
"Kalau begitu tunggulah. Saya akan membuatkannya."
Yuan menghembuskan napas lega setelah Jingli keluar dari kamarnya. Kalau tidak, apa yang akan dia jawab untuk setiap pertanyaan yang dilontarkan Jingli padanya?
***
Keesokan paginya, Yuan hendak pergi ke perpustakaan untuk mencari beberapa buku. Dia berjalan dengan santai sambil menikmati pemandangan di sekitar istana kekaisaran. Semilir angin menyapu lembut wajahnya.
Beberapa pengawal yang berada di dekat perpustakaan menunduk hormat saat wanita itu melewatinya.
Dia dengan semangat memasuki ruangan luas yang berisi buku-buku kuno. Tangannya mengambil beberapa buah buku dan membukanya. Itu diulangi sampai mendapatkan buku yang dia inginkan.
Yuan begitu larut hingga tidak sadar ada seseorang yang memperhatikannya sedari tadi. Orang itu mendekati Yuan dan berhenti tepat di belakang gadis itu.
"Ah!" pekik Yuan saat berbalik. Dia hampir saja menubruknya.
Orang itu tersenyum semringah menatap Yuan.
"Siapa Anda?" tanya Yuan melihat lelaki asing berdiri di depannya.
"Saya tamu Yang Mulia Kaisar, tetapi sepertinya saya tersesat sampai kemudia saya melihat seorang wanita cantik di perpustakaan," jawabnya masih menatap Yuan penuh minat.
"Oh? Kalau begitu saya permisi." Yuan hendak melangkah pergi, tapi suara pria itu kembali terdengar.
"Bisakah Anda menunjukkan jalannya?"
Yuan mengernyit bingung. "Apakah saya terlihat seperti penunjuk jalan? Mengapa anda harus mempersulit hidupmu? Ada banyak pelayan dan pengawal di sini, tanyakan saja pada mereka."
"Tidak. Kamu lebih terlihat seperti calon masa depanku," ujar pria itu dengan omong kosongnya.
Gadis itu menarik napas dalam-dalam. Berusaha meredam amarahnya yang hampir meledak. "Pelayan!"
"Ya, Yang Mulia." Beberapa pelayan datang menghampirinya.
Sedangkan pria itu menaikkan alisnya. Dia berpikir sepertinya gadis di depan dia itu adalah salah satu anggota keluarga kekaisaran.
"Antarkan tamu ini ke tempat Yang Mulia Kaisar."
"Baik. Tuan, mari ikuti kami." Pelayan itu memecahkan lamunannya.
Sebelum pergi, dia kembali menoleh pada Yuan dan berkata, "Semoga saya bisa bertemu lagi dengan Yang Mulia."
Pria itu berjalan mengikuti pelayan yang menunjukkan jalan dalam diam. Matanya memicing saat melihat ke salah satu sudut bangunan istana tetapi setelahnya kembali menatap pelayan di sampingnya.
"Boleh saya bertanya?"
"Silakan, Tuan."
"Itu, bangunan apa?"
Pelayan itu mengikuti arah pandang yang dimaksud si pria, dan menjawab, "Itu pintu masuk sekaligus bagian wilayah hareem."
"Maaf, Tuan. Anda tidak boleh bersikap seperti itu, juga tidak boleh menatap Selir Zhu dengan tidak sopan, jika Yang Mulia tau, kamu akan dihukum," ujar pelayan itu sedikit tegas saat tahu mata pria tampan di sampingnya menatap Selir Zhu bersama dengan dayang-dayangnya yang kebetulan lewat.
Pria itu tertawa kecil. "Ya, ya. Anda salah paham, saya tidak menatapnya kok. Lagipula anda terlihat lebih cantik daripada Selir Zhu itu."
Wajah pelayan itu memerah.
"Oh iya, saya baru mendengar bahwa kaisar memiliki selir?"
"Tidak. Bukan selir Kaisar Xuan. Itu Ibu Selir Agung Zhu, istri kaisar terdahulu."
"Ah begitu. Kalau nona yang tadi itu siapa? Tebakanku, dia pasti anggota keluarga kekaisaran. Jika tidak, kalian tidak mungkin memanggilnya 'Yang Mulia' kan?"
"Benar, beliau adalah—"
"Apa yang membawa anda ke sini, Putra Mahkota Ling?"
"Salam kepada Yang Mulia Kaisar," ucap pelayan itu membungkukkan badannya.
"Saya telah melihat Yang Mulia Kaisar Xuan. Lama tidak bertemu." Kali ini Putra Mahkota Ling yang menyapanya.
"Kamu boleh kembali," katanya pada pelayan itu.
"Baik, Yang Mulia."
ZiXuan kembali menatap pria di depannya itu yang merupakan Putra Mahkota Kerajaan Ling.
"Kedatangan saya ke sini dengan membawa beberapa hadiah penikahan kepada Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri sebagai ucapan selamat atas pernikahan anda. Tetapi saya dengar, ada sedikit masalah?"
ZiXuan tersenyum tipis. "Saya rasa itu bukan urusan anda."
"Maaf, Yang Mulia. Saya tidak bermaksud begitu. Hanya saja, kerajaan Wei ini sangat berlebihan. Bagaimana bisa mereka mempermainkan keluarga kekaisaran seperti ini."
"Itu sudah berlalu. Tidak perlu membahasnya."
"Baik, baik. Saya dengar penggantinya juga tidak buruk. Wanita dari kerajaan Zhou terkenal akan kecantikannya, apalagi wanita dari keluarga kerajaannya."
ZiXuan hanya mengangguk pelan tanpa menanggapinya. Dia mulai berjalan dengan Putra Mahkota Ling di belakangnya. Sudah menjadi rahasia umum kalau hubungan antara Kekaisaran dan Kerajaan Ling kurang baik. Mereka selalu berada di jalur yang berbeda, tetapi kerajaan Ling entah dengan alasan apa tidak pernah melakukan gerakan pemberontakkan dan selalu terkendali dengan baik, maka dari itu Kekaisaran Qin juga tidak pernah melakukan penyerangan kepafa mereka walaupun keduanya sering kali berbeda pendapat.
"Tetapi para wanita di dalam istana kekaisaran juga tidak kalah cantik. Saya tidak sengaja bertemu seorang nona muda yang sangat menarik, entah Yang Mulia bisa mengizinkan saya untuk bertemu dia lagi atau tidak," ujar Putra Mahkota Ling secara terbuka.
"Oh, adakah orang saya yang berhasil mencuri perhatian Putra Mahkota? Begitu banyak wanita di sini, bagaimana saya tau yang mana yang anda maksud?"
"Ah itu dia! Saya menyesal tidak menanyakan namanya. Tetapi nona itu memakai sesuatu yang indah di kepalanya, itu seperti jepit rambut phoenix dengan sembilan permata."
ZiXuan tertegun mendengarnya. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu, tak lama kemudian dia tersenyum samar.
"Omong-omong saya sangat penasaran dengan Yang Mulia Permaisuri, apakah putri pertama kerajaan Zhou seperti yang dibicarakan orang-orang?"
"Bagaimana menurutmu?"
Putra Mahkota Ling tertawa. "Yang Mulia bercanda, bagaimana saya tau tanpa melihatnya?"
"Anda sudah bertemu dengannya."
Putra Mahkota Ling terdiam sesaat dan menatap ZiXuan dengan kening yang berkerut. "Aku sudah bertemu?"
"Saya tidak tahu di mana anda bertemu dengannya, tetapi wanita yang memakai jepit rambut phoenix bertahtakan sembilan permata, hanya ada satu wanita yang memakainya di sini."
"Ah?" Pangeran Ling tertegun. Matanya menyipit menatap pria di depannya.
"Dia adalah permaisuriku, Permaisuri Xuan yang juga merupakan putri pertama kerajaan Zhou, Zhou YanLi."
...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...