My Devil Emperor

My Devil Emperor
Pendekatan



"Berhentilah menatapku, Yang Mulia." Teguran itu membuat seorang pria yang sedari tadi bersandar di kepala ranjang tertawa pelan.


"Aku punya mata. Mengapa tidak boleh melihat? Lagipula yang kulihat adalah istri sahku."


Yuan menatap wajah suaminya yang terpantul dari cermin dan berkata, "Jujur saja. Jika Yang Mulia terus menatapku seperti itu, Permaisuri ini tidak akan bisa menyisir rambut dengan benar. Itu membuatku gugup."


"Oh? Biar aku membantumu," ujar ZiXuan turun dari ranjang dan berjalan mendekat.


Yuan menatapnya waspada. "Tunggu. Tidak perlu, saya bisa melakukannya sendiri," ujarnya cepat.


ZiXuan tertawa pelan. "Mengapa Permaisuri terlihat takut? Aku tidak akan memakanmu."


"Aku tidak. Aku sudah selesai, Yang Mulia, Permaisuri ini izin kembali ke kediamanku. Sampai jumpa!" Yuan segera pergi tetapi langkahnya berhenti saat mendengar ZiXuan berkata, "Ah? Bukankah kita sudah berada di kediamanmu?"


Yuan melihat ruangan itu dan memejamkan mata. "Bodoh," batinnya kesal.


"Tidak jadi pergi?" Suara berat itu tepat berada di telinganya. Tak lama sepasang tangan memeluknya.


"Yang Mulia, Kamu—kamu harus pergi. Ini sudah sore."


"Aku ingin tidur bersamamu. Kenapa? Ingin menolak?"


"Itu—aku lupa, aku harus mengerjakan sesuatu. Tidak bisa menemani Yang Mulia, Permaisuri izin pergi." Setelah mengatakannya, Yuan berjalan lambat meninggalkan ZiXuan di kamarnya. Kalau bukan karena perbuatan suaminya itu, dia pasti sudah berlari sekarang. Untung saja ZiXuan melepaskannya kali ini.


"Permaisuri, mengapa anda terlihat pucat?"


Yuan hampir saja terjatuh melihat Jingli yang entah dari mana itu sudah berada di sampingnya.


"Permaisuri baik-baik saja?" tanya Jingli cemas seraya menahan tangan Yuan yang beberapa saat lalu terlihat tidak seimbang.


"Kamu mengejutkanku! Darimana kamu datang?" tanyanya kesal sambil menarik napas dalam-dalam agar keinginannya untuk menampol Jingli itu bisa ditahan.


"Oh, hamba dari dapur, berniat untuk menanyakan permaisuri, ingin makan malam apa hari ini?"


"Jingli, biarkan aku menginap di tempatmu hari ini ya!" Bukannya menjawab pertanyaan Jingli, Yuan malah mengatakan hal yang lain.


Jingli mengerutkan keningnya dan menjawab, "Dengan senang hati, tapi Yang Mulia, tempat hamba tidak layak untuk Yang Mulia Permaisuri, itu akan membuat permaisuri tidak nyaman."


"Tidak masalah!"


"Tetapi permaisuri, boleh aku mengajukan pertanyaan?"


"Katakan."


"Mengapa Permaisuri ingin tidur di kamar hamba? Apakah ada masalah di Istana Teratai Putih?"


"Tidak ada, aku hanya... merasa sedikit kesepian. Aku ingin bercerita padamu, temani aku bercerita saja malam ini ya!" jawab Yuan sedikit gugup. Tetapi Jingli yang polos itu terlihat mempercayainya.


"Baiklah, Permaisuri. Permaisuri ingin makan malam apa hari ini?"


"Terserah. Buatkan saja makanan yang menurutmu enak."


"Baiklah."


***


Di dunia yang besar ini, setiap orang memiliki pemikirannya tentang apa yang terjadi esok hari, tentang apa yang akan dilakukan esok hari, dan tentang bagaimana masa depannya nanti.


Semakin dewasa seseorang, semakin banyak masalah yang akan dia tanggung, begitu juga Yuan.


Entah sudah berapa kali dalam kehidupan 'kedua' ini dia duduk termenung. Tidak ada yang tau apa isi pikirannya. Dia hanya terus menatap air kolam teratai yang sedikit bergelombang karena tiupan angin malam. Kolam teratai ini terletak di luar kediamannya, pertengahan antara bangunan istana bagian depan dan istana bagian dalam. Saat malam hari, terlihat sunyi dan tenang itulah mengapa Yuan suka sekali berada di sini. Nama istana yang ditinggalinya mungkin terinspirasi dari kolam ini.


"Mengapa seperti ini?" gumamnya pelan.


Yuan menghembuskan napas pelan. Dia sedikit memiringkan kepalanya ke kiri.


"Permaisuri, mengapa anda masih di sini?" Pertanyaan itu membuatnya tersadar.


Dia menoleh untuk melihat Jingli yang sudah berdiri di belakangnya.


"Apakah ada masalah? Wajah Permaisuri terlihat sedikit pucat."


Yuan menggeleng pelan. "Tidak ada. Hanya sedikit lelah. Jingli, aku ingin pulang," ujarnya lirih.


"Tidak, aku ingin pulang ke kamarku. Kamu beristirahatlah."


Jingli mengernyit bingung. Dia tidak menghentikan Yuan yang berjalan berlawanan arah darinya.


"Tampak sangat aneh. Ada apa dengannya?"


"Siapa?"


Mendengar suara berat di belakangnya, Jingli segera berbalik. "Ah, Tuan Li! Sejak kapan kamu di sana?" tanyanya terkejut.


"Mn, sejak kamu bergumam aneh pada seseorang. Ada masalah?"


Jingli menghela napas pasrah. Dia berjalan mendekati Li Wei dan berkata, "Itu permaisuri. Kurasa dia mengalami hari-hari yang berat belakangan ini. Aku tidak tau apa yang terjadi padanya. Beberapa jam yang lalu permaisuri bilang ingin tidur di kamarku dan mengatakan ingin bercerita tentang sesuatu, tetapi sekarang permaisuri malah kembali ke kamarnya. Aku ingin menanyainya tetapi kurasa ini bukan waktu yang tepat, lagi pula kamarku tidak terlalu baik untuk ditinggali Permaisuri."


"Mungkin masalah di hareem. Tidak apa, adalah hal yang wajar bagi seseorang memiliki masalah kan? Permaisuri pasti bisa menanganinya," jawab Li Wei yang sedikit berhasil menenangkan Jingli.


"Bagaimana dengan Yang Mulia Kaisar? Apakah ada kaitan?"


"Nona, kamu sedang tidak mencurigai Yang Mulia sebagai penyebab suasana hati Permaisuri memburukkan?" Li Wei menyipitkan matanya menatap curiga pada perempuan di depannya.


"Itu tidak menutup kemungkinan."


"Gadis yang pemberani! Tapi itu tidak mungkin. Sore ini aku baru saja bertemu dengan Yang Mulia, dan suasana hatinya kebalikan dari Permaisuri, kudengar Yang Mulia juga baru saja kembali dari Istana Teratai Putih."


"Tuan, sebenarnya andalah yang lebih pemberani. Bagaimana bisa anda membicarakan tuanmu sendiri?"


"Tidak apa, aku percaya pada Jingli-ku."


Mendengar kalimat yang baru saja Li Wei ucapkan, rona merah perlahan muncul di pipinya. "Si—siapa Jingli-mu!!" tukas Jingli sambil memalingkan wajahnya.


"Eh, mengapa wajahmu memerah?" tanya Li Wei memasang wajah polos.


"Kamu- terserah padamu! Kamu menang, aku tidak akan bicara padamu lagi!" Setelah berkata demikian, Jingli langsung pergi meninggalkan Li Wei.


"Nona, jangan berjalan terlalu cepat, kamu bisa terjatuh!"


"Jangan mengikutiku!"


***


"Yang Mulia, Putri Rong meminta izin menemui anda."


Zi Xuan mengangkat kepala menatap seorang pengawal yang berdiri di depannya.


"Biarkan dia masuk," ujarnya kembali menunduk untuk membaca beberapa dokumen kerajaan yang harus segera di selesaikan. Dari sejak matahari terbit, ZiXuan sudah duduk di ruang bacanya. Dia bahkan belum sempat menemui YanLi-nya hari ini.


Pengawal itu mengangguk dan kembali berjalan keluar.


Beberapa saat kemudian, terdengar langkah kaki yang mendekat. Tanpa mengangkat wajahnya pun ZiXuan sudah bisa menebak siapa orangnya.


"Putri Rong memberikan salam kepada Yang Mulia Kaisar." Suara lembut itu memecah kesunyian di ruang baca.


ZiXuan menangguk samar dan berkata, "Ada urusan apa Putri datang kemari?"


Melihat ZiXuan yang bahkan tidak mengangkat wajahnya itu, Liang Rong merasa sedikit canggung. "Saya membawakan makan siang untuk Yang Mulia," ucapnya tetap dengan suara yang lembut.


ZiXuan mengangkat wajahnya dan menatap Liang Rong yang berdiri sedikit menunduk di depannya.


Perempuan itu terlihat cantik. Rambutnya hitam lurus, badannya terpahat sempurna. Sangat cocok dengan baju yang digunakan sekarang. Dan samar-samar, ZiXuan dapat mencium aroma mawar darinya. Tapi tentu saja jika dibandingkan dengan YanLi-nya, Liang Rong bukan apa-apa, bahkan Cinta pertamanya, Luo Li yang saat sebelum bertemu dengan YanLi dia anggap sebagai perempuan tercantik yang pernah dilihat masih kalah dengan YanLi ketika pertama kali ZiXuan melihatnya dalam kamar pengantin. Entah karena dia terlalu mencintai YanLi atau memang karena YanLi sangat cantik, yang jelas putri pertama kerajaan Zhou, Zhou YanLi memang layak mendapatkan predikat Kecantikan Phoenix Surgawi.


Merasa diperhatikan, Liang Rong mengangkat wajahnya. Mata mereka bertemu selama beberapa detik sebelum ZiXuan kembali menunduk untuk membaca dokumen yang ada di tangannya.


"Letakkan di sana," ujar ZiXuan sambil memangkat dagu menunjuk meja yang tidak jauh darinya.


"Baik." Liang Rong yang wajahnya terlihat memerah itu berjalan pelan ke arah meja yang ditunjuk ZiXuan.


"Sepertinya aku sedikit terlambat."


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...