My Devil Emperor

My Devil Emperor
Flirting



Matahari tenggelam, menghilang di ufuk barat dan hanya meninggalkan bulan bersama bintang sebagai penerang.


Yuan meluruskan tangan ke atas melemaskan ototnya. Acara minum teh itu berjalan sangat baik. Dia baru saja kembali ke istananya saat matahari benar-benar sudah tenggelam. Selesai membersihkan diri, Yuan hendak melepaskan lapisan luar bajunya tetapi berhenti saat dia mendengar pintu yang didorong terbuka.


Matanya micing saat melihat orang itu sudah berjalan mendekatinya. Sontak saja Yuan semakin merapatkan bajunya yang hampir dia lepas. "Yang Mulia, mengapa kamu di sini?" tanyanya sambil melangkah mundur.


"Kudengar, kamu sudah bertemu dengan ibu dan nenek?" Tanpa mempedulikan raut kewaspadaan di wajah gadis itu, dia tidak menghentikan langkahnya.


"Ah, i—itu benar. Apa—apa ada yang salah?"


"Tidak. Hanya basa-basi saja untuk berbicara denganmu."


Yuan sudah akan kembali berbicara, tetapi tangan besar pria itu menariknya membuat setengah lapisan terluar baju Yuan jatuh.


Tentu saja Yuan terkejut. Dia mencoba menarik tangannya yang dicekal ZiXuan, sedangkan tangan lainnya menarik kembali bajunya yang hampir terjatuh menutupi bagian yang bisa dia tutupi. Walaupun dia masih memiliki pakaian dalam yang tertutup di badannya, tapi bahan pakaian dalam dibuat sangat tipis. Itu biasa digunakan untuk tidur. Di hapadan pria itu, bagaimana Yuan bisa tidak peduli?


"Yang—Yang Mulia, kamu bisa lepaskan aku? Aku akan membenarkan pakaianku dulu," katanya memelas.


ZiXuan tersenyum tipis. "Mengapa memakainya lagi? Bukankah kamu akan pergi tidur?"


"Itu, kamu tidak akan tidur bersamaku kan?" tanya Yuan pelan. Jantung dan wajahnya sudah tidak tahu lagi seperti apa.


"Bagaimana menurutmu?"


"Kamu tidak boleh sembarangan menyentuhku! Bukankah kamu bilang bahwa kamu akan memenuhi apapun yang aku inginkan?"


ZiXuan tertawa ringan. "Baiklah. Hari ini aku akan melepaskanmu. Tapi tidak lain kali. Aku bukan orang yang suka menepati janji." Selelah berkata, dia melepaskan cekalannya dan pergi begitu saja.


"Kamu! Laki-laki macam apa kamu!"


***


Qin Zi Xuan duduk sambil membaca beberapa laporan tentang perkembangan wilayahnya di ruang baca.


Dia terlalu fokus sampai tidak sadar permaisurinya sudah berada di depannya. Yuan tetap memaksa masuk walaupun Jenderal Li Wei mengatakan bahwa kaisar tidak ingin diganggu. Gadis itu menggunakan kedudukannya sebagai permaisuri agar bisa masuk ke sana.


"Maaf, Yang Mulia. Permaisuri memaksa untuk bertemu dengan Anda," ujar Jenderal Li Wei menundukkan kepala.


Mendengar suara Li Wei, Zi Xuan mengangkat wajah dan menatap kedua manusia itu secara bergantian.


"Aku mengetahuinya, kamu boleh pergi," jawab Zi Xuan pada Li Wei.


"Baik, Yang Mulia." Setelah itu, sang Jenderal pun meninggalkan ruang baca kekaisaran.


Zi Xuan kembali membaca laporan-laporan itu tanpa melihat Yuan.


Merasa diabaikan, Yuan mendekati Zi Xuan dan dengan sengaja menutup buku laporan yang sedang dibaca Kaisar Qin itu.


ZiXuan mengangkat wajahnya menatap perempuan itu. "Apa yang membuatmu menjadi seberani ini dalam satu malam?" tanyanya berpura-pura terkejut.


Yuan tersenyum paksa. Dia mengeluarkan sesuatu dari lengan bajunya dan meletakkan benda itu di atas meja ZiXuan.


Walaupun bingung, ZiXuan tetap mengambil dan membukanya. Itu adalah sebuah batu giok dengan ukiran halus berwarna keemasan. Tanpa sadar, dia tersenyum. "Apakah ini tanda cintamu?"


Yuan memutar bola matanya. Dia kesal dan merasa itu memalukan. Tadi, pagi-pagi sekali Jingli membawakan kiriman padanya. Dia berkata kiriman itu dari seorang utusan kerajaan Zhou. Tidak menyangkan itu adalah sepasang batu giok turun temurun keluarganya. Juga Yuan menemukan secarik kertas tulisan ibunya yang berpesan agar bagian lain dari giok itu HARUS diberikan pada suaminya. Ibunya berkata batu giok ini akan mengikat cinta sepasang kekasih.


Tadinya dia berencana untuk mengabaikan saja pesan ibunya, tetapi itu adalah salahnya yang membaca surat itu bersama Jingli. Pelayan pribadinya itu orang yang sangat ketat dan mematuhi aturan.


"Yang Mulia bisa menganggapnya begitu."


"Dari mana kamu mendapatkannya?"


"Itu benda turun-temurun keluargaku. Ibuku yang mengirimkannya."


ZiXuan melebarkan senyumnya dan kata, "Ibu mertua sangat baik. Apa hadiah yang pantas aku berikan kepadanya? Seorang cucu?"


Yuan menatap horor pria di depannya. Walaupun dia tersenyum sangat indah, ekspresi terlalu menakutkan.


Dia tersenyum canggung dan bergumam, "Ini masih terlalu pagi untuk bermimpi."


*****


"Permaisuri, apa terjadi sesuatu?" Jingli mengekor di belakang Yuan yang terlihat sedang emosi.


"Saudari, aku lapar. Bawakan aku makanan!"


"Ah?" Walaupun masih penasaran, Jingli tetap pergi untuk mengambil beberapa camilan.


"Permaisuri, jangan makan terburu-buru." Jingli sedikit meringis saat melihat gadis di depannya itu makan terlalu cepat.


"Siapa yang membuat kamu sampai kesal seperti ini?"


Yuan mendelikkan matanya. "Siapa lagi?"


Jingli hendak berbicara lagi, tetapi matanya menangkap sesuatu yang lain. Dia ragu ingin bertanya atau tidak.


Yuan menyadari tatapan itu dan menoleh. "Mengapa kamu melihatku seperti itu?"


"Itu, ada apa dengan lehermu?" tanyanya pelan.


"Leherku? Ada ap—" Yuan tiba-tiba berhenti bicara. Ekspresinya berubah menjadi lebih menakutkan.


Jingli menelan salivanya susah payah. "Itu—saya lupa ada yang tertinggal di dapur," tanpa menunggu persetujuan Yuan, dia bergegas meninggalkan gadis itu sendirian.


"Qin—Zi—Xuan!" pekiknya yang tampak sangat marah.


Apa yang kalian pikirkan? Apa itu Kissmark? Tentu saja, bukan! Mengingat apa yang pria itu lakukan tadi, membuatnya merasa emosi.


***


"Kita bisa membuatnya menjadi kenyataan."


Tangannya tiba-tiba saja menarik Yuan dengan keras ke samping, membuat gadis itu terjatuh di pangkuannya.


"Yang Mulia! Kamu—kamu tidak boleh seperti ini. Kamu sudah berjanji padaku!" ujar Yuan memberontak.


"Kapan aku berjanji?  Aku hanya mengatakan untuk melepaskanmu kemarin."  Pria itu tersenyum miring menatap gadis di pangkuannya. Perlawanan Yuan sungguh tidak ada artinya.


Dia memeluk pinggang ramping itu sambil mengusapnya dengan ibu jari.


Tubuh Yuan sedikit menegang. Matanya berkaca-kaca bahkan tubuhnya sudah berhenti untuk mencoba melepaskan diri.


"Saudaraku, kuhomon lepaskan aku, oke? Aku—aku takut."


Mendengar suara lembut yang hampir menangis itu membuat senyumnya kaku. "Kamu—memanggilku apa tadi?"


"Saudaraku, tolong lepaskan aku."


Tanpa Yuan sadari, iris mata pria di belakangnya itu menjadi lebih gelap. Napasnya juga terdengar memburu.


"Aku benar-benar tidak bisa menahannya jika kamu terus bergerak."


Yuan menjadi kaku. "Ah!" Dia terkejut saat merasakan cubitan di lehernya. Tangannya tentu saja refleks mengusap bagian itu.


ZiXuan berdiri membuat gadis yang berada di pangkuannya otomatis berdiri juga.


"Kamu! Kamu! Apa yang kamu lakukan!"


ZiXuan memandangnya polos. "Apa? Kamu berharap bibirku yang membuat tanda di sana?"


"Kamu! Dasar tidak tahu malu!" umpat Yuan berbalik meninggalkan ruang baca kekaisaran.


***


Yuan menutup wajahnya dengan bantal. Dalam hati berkata "Aku akan membalasnya lain kali!"


......▪︎▪︎▪︎▪︎......