My Devil Emperor

My Devil Emperor
Menjelaskan



Hari sudah gelap ketika Yuan sedang duduk di meja riasnya.


"Saudari Jingli, Yunniang, kalian boleh pergi sekarang. Aku ingin istirahat," katanya terdengar lemah. Dia menatap kedua pelayannya dari pantulan di cermin.


"Permaisuri, apakah terjadi sesuatu?" tanya Jingli khawatir.


Yuan tersenyum dan menggeleng. "Tidak ada. Hanya saja, hari ini aku merasa sangat lelah."


"Kalau begitu, kami akan cepat membantu Permaisuri mengganti baju dan melepas perhiasan."


Lagi-lagi, gadis itu menggeleng. "Ini tidak perlu. Aku akan melakukannya sendiri. Kalian pergilah."


Jingli dan Yunniang saling memandang, tetapi tidak tau apa yang harus dilakukan. Pada akhirnya kedua pelayan itu membungkukkan badan sambil berkata, "Jika Permaisuri membutuhkan sesuatu, dapat segera memanggil kami," kata Yunniang mewakili.


"Mn. Dimengerti."


Kemudian, Jingli dan Yunniang pun pergi meninggalkan Yuan sendiri.


Yuan menghela napas panjang. Dia mengangkat tangannya dan mulai melepaskan perhiasan yang bertengker di kepalanya.


Dia meringis pelan dengan kerutan di dahinya saat sedang menarik antingnya. Tidak, bukan karena telinganya yang sakit. Tetapi adalah telapak tangannya yang terasa sakit. Ini mungkin karena dia sudah sangat memaksakan tangannya yang masih dalam pemulihan untuk melakukan pekerjaan yang berlebihan.


Anting-anting itu terjatuh karena Yuan tidak dapat menggenggamnya dengan kuat. Dia mendesah ringan dan menunduk untuk meraihnya.


Ketika menarik kembali tubuhnya untuk duduk tegak, betapa terkejutnya dia melihat pantulan wajah seseorang yang berdiri di belakangnya melalu cermin itu.


Yuan sontak berdiri dan berbalik. Dia membungkukkan badannya sambil berkata, "Yang Mulia."


ZiXuan memandang rumit gadis itu dengan mata tajamnya. Kemudian beralih menatap anting-anting yang baru saja diambil Yuan.


"Duduklah," ujar pria itu masih dengan wajah yang tenang. Itu bahkan terlalu tenang.


Walaupun Yuan sedikit gugup, dia menurutinya untuk kembali duduk menghadap cermin.


"Aku akan membantu," ujar ZiXuan seraya mengulurkan tangannya ke arah Yuan, tetapi gadis itu refleks menghindar.


ZiXuan menaikkan alisnya bingung. "Ada apa?"


Yuan menatapnya dari cermin dan menggeleng pelan. "Tidak ada. Yang Mulia, saya—saya bisa melakukannya sendiri," jawabnya pelan.


Walaupun sudah ditolak gadis di depannya, ZiXuan tetap mengulurkan tangan ke arah telinga Yuan dan melepaskan anting yang tersisa. "Jangan bergerak. Juga kamu tidak perlu takut seperti itu. Aku tidak akan membunuhmu saat ini." Entah ucapan itu disengaja atau tidak, Yuan merasa sepertinya pria ini sedang menyindirnya.


Jari-jari besar yang terlihat lentik itu dengan cepat melepaskan perhiasan yang ada pada bagian kepala Yuan.


Pria itu kini meletakkan kedua tangannya pada bahu Yuan dan menariknya perlahan agar gadis itu duduk menghadap dirinya.


Yuan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ekor matanya melihat jemari indah itu merapikan anak rambut kemudian turun di dagunya memberikan dorongan yang membuat Yuan akhirnya mendongak.


Kedua pasang mata yang sama-sama indah itu saling memandang. Yang satu menatapnya dengan dalam, dan yang satunya menatap bingung juga terlihat ketakutan.


ZiXuan membungkukkan badannya, sehingga mereka hampir sejajar. Dia memiringkan wajahnya dan mendekat. Memberikan ciuman pada pipi kemerahan gadis itu.


Tubuh Yuan menegang saat merasakan bibir yang dingin dan lembut itu menempel pada pipinya.


Tak lama, dia mendengar bisikan di telinganya.


"Pagi ini, untuk apa kamu mencariku?"


"Itu, aku tidak mencarimu. Hanya kebetulan lewat, juga tidak melihat apapun di sana," jawab Yuan cepat.


ZiXuan tertawa pelan di telinganya. Napas hangat itu bahkan membuat leher Yuan terasa meremang.


"Sungguh? Tapi pengawalku bilang, hari ini kamu mencariku."


Yuan terdiam. Di otaknya sedang mengutuk diri sendiri karena melupakan hal itu.


"Juga, memang kenapa jika kamu melihatnya?"


"Saudara, aku—lelah. Bisakah kita membicarakannya besok?"


ZiXuan menarik dirinya, kembali menatap gadis di depannya itu. "Kamu lelah atau kamu takut denganku?" tanyanya pelan. Pandangannya turun pada bibir merah gadis itu.


"Aku tidak."


ZiXuan menarik gadis itu agar berdiri dan menukar posisi. Kini pria itu yang duduk di sana dan Yuan yang duduk di pangkuannya.


"Lalu kamu bisa menanyakan apapun yang ingin kamu ketahui sekarang. Biasanya aku tidak akan memberikan kesempatan ini pada siapapun. Tanyalah sebelum aku berubah pikiran."


Yuan ingin berdiri, tetapi tangan pria itu memeluk pinggangnya dengan erat. Satu tangannya yang lain mulai merayap naik, mengusap lembut punggung gadis itu.


Sentuhan ringan ini benar-benar membuat Yuan merinding. Dia bahkan menggigit bibir bawahnya menahan suara yang mungkin saja tanpa sadar akan keluar dari mulutnya.


"Kamu tanyakan," ujar ZiXuan mengulangi.


"Kamu—mengapa kamu membunuhnya?"


"Yang kamu maksud adalah pelayan itu?"


Yuan mengangguk.


"Dia tidak melakukan apa yang aku katakan dengan baik. Singkatnya dia mencoba mengkhianatiku."


"Kamu menyuruhnya untuk datang ke kamarku malam itu?"


"Iya."


"Kamu ingin membunuhku." Kali ini bukan lagi pertanyaan melainkan pernyataan.


"Tidak pernah."


"Berapa banyak yang kamu rencanakan?"


"Hanya apa yang dilakukan pelayan itu."


Yuan menoleh dan sedikit mendongak menatap wajah tampan itu.


"Apakah keluarga Qin sudah dieksekusi?"


ZiXuan mengangguk. "Sudah."


"Apakah tidak apa-apa jika kamu menjebaknya seperti ini? Bagaimana jika seseorang mengetahuinya?"


"Salah satunya adalah dirimu?" ZiXuan terdiam beberapa saat sebelum kembali berkata, "Kamu tidak akan melakukannya. Semua ini, selain karena aku sudah muak berurusan dengan keluarga itu, juga untuk melindungimu. Kamu seharusnya tahu sedari awal, Qiu Ying sangat tidak menyukaimu. Yang aku lakukan hanya membongkar semua yang dia lakukan. Itu benar bahwa pelayan bermarga Xiao itu adalah pengaturanku. Dalam hal ini, Qiu Ying memang tidak melakukannya, tetapi apa yang dia lakukan di hutan pemburuan itu memang benar. Hanya saja Qiu Lang terus melindunginya. Dalam kata lain, Qiu Ying itu cepat atau lambat juga akan tetap dihukum mati."


"Dia..."


~Flashback~


"Karena dia sangat menginginkan kematian Permaisuri Xuan, mengapa anda tidak membantunya saja?"


Xiao Tao menatapnya terkejut. "Yang Mulia, maksudmu adalah—"


ZiXuan mengangguk.


Sebuah senyuman muncul di bibir pelayan itu. Dia merasa tidak segugup pertama kali datang ke sini. "Yang Mulia jangan khawatir. Hamba akan melakukannya dengan baik untuk anda."


"Bukan untukku. Lakukan ini atas nama nona mudamu, Qiu Ying."


Xiao Tao mengangguk semangat. "Hamba mengerti. Yang Mulia, jika nona muda tau anda di pihaknya dia akan sangat bahagia," ujarnya terharu.


"Kalau begitu, hamba akan segera melaksanakannya, Yang Mulia." Xiao Tao hendak berbalik, tetapi suara Kaisar Xuan menghentikannya.


"Tidak perlu terburu-buru. Saya bahkan belum mengatakan peraturannya."


Gadis pelayan itu mengernyit, bingung. "Peraturan?" beonya.


"Apapun yang akan anda lakukan ini adalah atas perintah Qiu Ying, bukan saya. Saat tertangkap nanti, jangan pernah menyebutkan namaku," ujar ZiXuan mulai menjelaskan.


"Hamba mengerti. Yang Mulia jangan khawatir. Hamba akan berusaha untuk tidak tertangkap. Jika ternyata gagal, hamba tidak akan menyebutkan nama Yang Mulia ataupun Nona muda," katanya optimis.


ZiXuan tersenyum samar. "Sepertinya anda salah paham. Maksudku adalah, anda memang harus tertangkap."


Xiao Tao membelalakkan matanya. Tiba-tiba saja lidahnya terasa kelu dan badannya terasa kaku. "Yang—Yang Mulia—ini sepertinya hamba tidak dapat melakukannya."


ZiXuan menaikkan alisnya dan bertanya, "Mengapa?"


"Nona Ying'er adalah tuanku. Bagaimana bisa saya mengkhianatinya?"


"Benar juga. Kalau begitu lupakan saja. Oh iya, kudengar kamu memiliki seorang adik perempuan di luar istana juga ayah dan ibu yang sudah cukup tua. Bagaimana kabarnya?"


Tubuh gadis itu menegang. Matanya bahkan mulai berkaca-kaca. "Yang Mulia, tolong jangan melibatkan keluarga hamba. Mereka—mereka tidak mengetahui apapun," katanya sambil berlutut dan menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


ZiXuan tertawa kecil. "Apa yang saya lakukan? Saya hanya bertanya tentang keluargamu, mengapa anda bereaksi seperti ini?" 


"Saudara Li, kamu kalah." ZiXuan mengambil catur putih terakhir dari lawannya.


Li Wei tersenyum. "Kapan anda pernah kalah, Yang Mulia?"


Setelah menyelesaikan permainan catur weiqi itu, ZiXuan menoleh pada Xiao Tao yang masih berdiri mematung di sana.


Dia memiringkan wajahnya dan berkata, "Mengapa anda masih di sana? Pergilah."


Xiao Tao menelan salivanya, membasahi kerongkongan yang terasa kering. "Yang Mulia, apa perintah anda?" tanyanya lemah.


"Tidak. Saya tidak ingin memaksamu."


"Hamba melakukannya dengan sukarela. Yang Mulia, tolong beri perintah," ujar  Xiao Tao pelan.


ZiXuan melirik Li Wei di depannya dan tersenyum tipis.


Jenderal muda itu hanya menghela napas panjang dan menggeleng pelan.


"Kalau begitu, langsung saja. Sama seperti yang saya katakan sebelumnya. Malam ini, anda bisa menyelinap ke Istana Teratai Putih. Lakukan apapun yang dapat menarik atau membangunkan Permaisuri Xuan tanpa menyakitinya. Setelah itu anda bisa langsung pergi. Biarkan mereka menangkap anda dan katakan bahwa anda melakukannya atas perintah Qiu Ying. Sisanya serahkan padaku. Mengerti?"


Xiao Tao mengangguk pelan. "Yang Mulia, sebelumnya bisakah anda menjamin keamanan saya dan keluarga saya?"


"Jangan khawatir. Jika anda dapat melakukannya dengan baik, saya akan membiarkanmu meninggalkan ibukota bersama kekuargamu. Juga memberikan tempat tinggal dan uang yang cukup untuk memulai kehidupan."


Xiao Tao menatap Kaisar Xuan dengan penuh harapan. "Ini—apakah anda benar-benar akan memberikannya pada hamba?"


"Lakukan saja misimu dengan baik. Ingat jangan mencoba untuk melukainya dan jangan mencoba untuk mengkhianatiku. Kalau tidak—" Pria itu sengaja menggantung kalimatnya.


"Hamba mengerti."


~Flashback off~


Yuan terdiam mendengarkan cerita itu hingga selesai.


"Jadi, Yang Mulia juga akan menghukum keluarganya?"


ZiXuan menggeleng. "Tidak. Apa menurutmu aku bukan orang yang menepati janji? Jika bukan karena dia mencoba untuk benar-benar membunuhmu, aku pasti akan menepati ucapanku. Sebenarnya, tindakan dia itu, aku juga sudah memperhitungkannya."


"Kamu tahu dia benar-benar akan menyakitiku?"


"Tidak. Tetapi aku sudah memperkirakannya, hanya saja tidak yakin jalan apa yang akan dia ambil. Ternyata dia memilih jalan yang itu."


"Mengapa?"


"Mungkin dia berpikir, jika kamu mati maka akan lebih adil untuk tuannya. Tidak ada dari kalian yang memilikiku pada akhirnya. Dengan begitu, dia juga tidak akan terlalu merasa bersalah. Sayangnya, dia ternyata gagal seperti yang sudah aku perkirakan. Dia gagal membunuhmu dan dia juga tidak memiliki jalan kembali. Maka dia membuka semua rahasia Qiu Ying yang lain dengan harapan itu bisa membuatku puas dan memaafkannya yang sudah melanggar kesepakatan," jelas ZiXuan memberikan analisanya.


"Yang Mulia, anda sangat hebat. Dapat menggunakan semua orang sebagai pionmu dan berjudi dengan nyawaku."


Pria itu terlihat menarik napas panjang. "Ini memang salahku. Maaf."


Entah Yuan salah lihat atau tidak, tetapi dia seperti melihat penyesalan di mata berwarna biru langit itu.


"Sudahlah. Ini sudah berlalu. Juga saya merasa lebih baik bisa menjadi berguna untuk Yang Mulia."


"Xiao Li, aku benar-benar tidak bermaksud untuk melukaimu," ujar ZiXuan seraya menarik pelan telapak tangan Yuan yang terbalut perban.


Yuan mengangguk pelan. "Aku tahu. Tidak masalah. Kamu bisa menggunakanku jika kamu mau."


"Xiao Li—"


Yuan tersenyum tulus dan memotong ucapan pria itu. "Jangan katakan lagi. Aku benar-benar mengerti. Yang Mulia, hari ini aku sangat lelah. Bisakah kamu membiarkanku istirahat?"


ZiXuan terdiam sesaat sebelum akhirnya berdiri yang membuat gadis di pangkuannya otomatis ikut berdiri. Pria itu dengan mudah segera menggendong Yuan dan berjalan mendekati ranjang.


ZiXuan meletakkan tubuh wanitanya dengan hati-hati, kemudian menarik selimut untuk menutupi sebagian badannya. "Kamu beristirahatlah. Aku akan pergi. Selamat malam."


"Selamat malam."


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...