My Devil Emperor

My Devil Emperor
Maafkan Aku



Semilir angin malam yang menusuk membuat ZiXuan semakin merapatkan jubah panjangnya. Dia baru saja keluar dari ruang baca dan berjalan kembali menuju ke kediamannya.


Tap..


Setetes air jatuh mengenai punggung tangan. ZiXuan mendoangak melihat langit malam yang gelap. Ternyata mendung. Hujan akan segera turun jika dia tidak bergegas sekarang.


Langkah kaki yang cepat itu segera membawanya ke Istana Qin. Dia segera membuka pintu dan menutupnya.


"Kamu?" ZiXuan tersentak kaget saat membalikkan badannya.


"Mengapa kamu di sini?" tanyanya sedikit linglung.


Orang yang sudah berdiri di belakangnya itu hanya tersenyum dan berkata, "Jadi Xiao Li tidak boleh datang?"


ZiXuan segera menggeleng cepat. "tidak. Bukan begitu."


Yuan berjalan mendekati ZiXuan. "Bajumu basah. Kemarilah." Dia menarik tangan ZiXuan, membawanya masuk.


"Mengapa tuanku kembali sangat larut?" Yuan melingkarkan tangannya di pinggang ZiXuan, melepaskan kaitan ikat pinggang yang digunakan suaminya itu.


Tidak mendapatkan respon, dia pun mendongak menatap wajah tampan di bawah cahaya lilin. "Mengapa kamu menatapku seperti itu?" tanyanya sambil menundukkan kepalanya.


"Ini benar-benar kamu?" tanya ZiXuan tersesat.


Rasanya seperti ditusuk seribu pisau tepat di jantungnya.


Yuan membuang napas berat, kemudian kembali menatap ZiXuan. Dia menjatuhkan ikat pinggang itu ke bawah dan melingkarkan tangannya pada leher ZiXuan.


"Jika bukan aku lalu siapa lagi, hmm?"


ZiXuan tidak menjawab, tetapi dia langsung membawa Yuan ke dalam pelukannya.


"Maaf membuatmu khawatir," ujar Yuan seraya membalas pelukan ZiXuan.


"Ini memang salahku. Aku pantas mendapatkannya."


Yuan melepaskan pelukannya dan menyipitkan mata menatap ZiXuan.


"Siapa yang mengatakannya? Siapa juga yang tau apa yang akan terjadi kemudian hari? Berhenti menyalahkan dirimu sendiri."


"Aku—" Kata-katanya seperti tersangkut ditenggorokan.


Yuan tertegun. Dengan ibu jarinya, ia menyentuh ujung mata ZiXuan, mengusap setitik air yang menggenang di sudut mata prianya.


Pada akhirnya dia tidak bisa lagi menahan diri. Yuan menarik leher ZiXuan agar menunduk kemudian mengecup bibir merah itu.


Tingginya yang berbeda jauh dari ZiXuan membuat Yuan terlihat kesulitan. Dia mendorong tubuh tegap itu hingga terjatuh di tempat tidur.


Ciuman yang lembut berubah menjadi lebih menuntut. ZiXuan yang masih mencerna apa yang sedang terjadi seketika tersadar. Dia mendorong pelan tubuh Yuan yang menindihnya.


Dia sudah akan mendorong Yuan lagi sebelum wanita itu berkata, "Jangan menolakku."


ZiXuan pun terdiam, membiarkan wanitanya yang mulai melucuti pakaian.


Sentuhan ringan yang diberikan Yuan membuat napasnya semakin memberat.


"Jangan lakukan itu," ucap ZiXuan penuh peringatan.


Tapi Yuan seakan tidak mendengarnya. Dia kembali mencium bibir ZiXuan dengan mata terpejam.


Melihat respon wanita itu, ZiXuan dengan cepat membalik posisi mereka. Sepersekian detik, Yuan sudah berada di bawahnya.


Dia menatap wajah cantik yang sangat dirindukan itu terlihat memerah, matanya setengah terbuka yang membuat ZiXuan semakin panas.


"Ini... Kamu yang memulainya."


Yuan tertawa pelan, bulu matanya bergerak naik dan menampakkan sepasang mata indah yang sayu. "Tidak menyesal, tuanku bisa mencobanya."


Tanpa banyak kata, ZiXuan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Yuan. Meninggalkan jejak kemerahan di leher putih Yuan.


"Suamiku, lebih lembut... "


Malam itu dihabiskan dengan penuh cinta. Mengakhiri penantian seorang pria yang sangat amat merindukan wanitanya.


***


Matahari pagi bersinar. Cahayanya masuk melalui celah-celah jendela sebuah ruangan besar.


Sepasang bulu mata bergerak tak nyaman karena sinar itu menyapu wajahnya. Dia mengerjapkan mata yang perlahan terbuka sempurna.


"Apakah tidurmu nyenyak?" Suara yang tak asing itu menyapa telinganya. Tiba-tiba saja, dia menegakkan tubuhnya.


"Mengapa kamu tidak membangunkanku? Ini sudah siang!" ucapnya sedikit panik.


Dia baru akan melangkah turun dari ranjang sebelum sebuah tangan yang hangat menariknya kembali berbaring.


"Mengapa terburu-buru? Tidurlah sebentar lagi."


"Tapi aku belum menyiapkanmu makan siang."


"Aku bisa makan sedikit lebih siang."


Yuan menghembuskan napas kesal. "Berhenti bersikap manja, dan lepaskan aku!"


"Berhenti memberontak dan menurutlah saja, Sayang. Tidak tahuka kamu, jika aku sangat merindukanmu?"


Ini percuma saja. Yuan tetap tidak bisa melepaskan diri dari ZiXuan, maka dari itu dia membiarkan ZiXuan menahannya.


Keduanya terdiam beberapa saat sebelum ZiXuan kembali berbicara, "Maafkan aku."


"Bukankah sudah aku katakan, itu bukan kesalahanmu? Mengapa masih meminta maaf? Aku tidak mau menerimanya!" jawab Yuan ketus.


"Mn. Baiklah."


"Sekarang, bisakah tuanku melepaskanku? Ini sudah sangat siang. Bukankah kamu juga memiliki pekerjaan lain?"


"Apakah kamu akan menemuiku lagi nanti?"


Pertanyaan yang terdengar sangat polos itu membuat hati Yuan terasa sakit. Bukankah seharusnya dia yang meminta maaf?


Yuan tersenyum memaksa dan menjawab, "Tentu saja."


Dengan setengah hati ZiXuan melepaskan pelukannya, membiarkan Yuan bangun dari tempat tidur.


"Yang Mulia harus sudah mandi ketika aku kembali. Mengerti?"


"Aku mengerti, istriku."


Panggilan asing itu membuat pipi Yuan terbakar. "Jangan memanggilku seperti itu," ujarnya seraya menunduk.


ZiXuan mengulum senyum. "Mengapa? Bukankah kamu istriku?"


"Pokoknya jangan memanggilku seperti itu!"


"Baiklah, Permaisuri."


Yuan mengibaskan lengan bajunya dan berbalik keluar. Sepertinya cukup lelah menghadapi ZiXuan yang sedang menggodanya.


Dia kembali ke istananya, membersihkan diri sebelum membuat makan siang untuk suaminya.


"Permaisuri, apakah anda membutuhkan bantuan?" tanya salah satu pelayan dapur istana.


"Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri."


Yuan memasak 3 hidangan panas, 2 hidangan dingin dan berapa makanan penutup kemudian memasukannya ke dalam keranjang untuk dibawa.


Langkah kakinya kembali membawa ia ke Istana Qin, tetapi tidak ada siapapun di sana.


"Ke mana Yang Mulia pergi?" tanyanya pada penjaga pintu.


"Yang Mulia baru saja pergi ke ruang baca, Permaisuri," jawab salah satunya.


Yuan mengangguk singkat dan pergi menuju tempat yang disebutkan penjaga itu. Dia baru saja akan membuka pintu saat mendengar percakapan dari dalam ruangan.


"Beberapa pasukan asing dan pemberontak dalam negeri sudah berencana akan meruntuhkan dinasti kita. Para menteri menyampaikan sarannya kepada hamba."


"Apa yang mereka katakan?"


"Walaupun wilayah kekuasaan kita luas dan memiliki prajurit perang yang terlatih tetap saja masih membutuhkan banyak dukungan dari kerajaan-kerajaan yang kuat. Para tetua menekankan diadakannya pernikahan untuk memperkuat posisi dinasti Qin. Dan pilihan terbaik diantara kerajaan yang berada di wilayah kita adalah Kerajaan Liang."


"Aku tidak bisa melakukannya."


"Hamba mengerti, Yang Mulia tidak harus melakukannya."


"Aku tidak akan pernah bisa melukainya lagi. Itu akan sangat menyakitinya. Dia sudah sangat menderita karenaku. Jika saja aku melepaskannya dari awal, dia tidak perlu mengalami semua ini."


"Kalian sama menderitanya. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri."


"Saudara, kamu tidak mengerti."


"Aku memang tidak mengerti. Yang aku tau, kalian sama menderitanya dan ini bukanlah kesalahanmu. Bukankah Permaisuri sendiri yang mengatakan untuk tidak menghakimi dirimu sendiri?"


Yuan yang masih berdiri di luar kini mengerti. Selama ini yang selalu menderita tanpa diketahui adalah ZiXuan. Pria itu menyalahkan diri sendiri atas semua yang terjadi padanya, dan perasaan bersalah itu semakin menjadi saat Yuan yang tanpa perasaan mengabaikannya beberapa bulan. ZiXuan pasti mengira Yuan menyalahkannya atas kematian anak mereka. Maka dari itu, dia selalu menemui Yuan saat wanita itu sudah tertidur.


"Mengapa aku bisa sebodoh ini?" batinnya tersiksa.


"Suamiku, maafkan aku."