
Sinar matahari masuk melalu celah-celah jendela. Suara nyanyian burung dan aktivitas dari luar ruangan membuat seorang gadis cantik yang masih terlelap mengerutkan keningnya tanpa sadar. Dia hendak menarik selimutnya untuk kembali tidur, tetapi suara ketukan pintu membuatnya dengan berat hati membuka mata.
"Permaisuri, ini saya."
"Saudari Jingli?" gumam Yuan tanpa sadar. Dia menurunkan kakinya, berjalan pelan dan membuka pintu.
Orang yang berada di depan pintu itu tersenyum. "Permaisuri, Kaisar mengajak anda untuk berjalan-jalan ke luar istana," kata Jingli menyampaikan pesan.
Yuan yang masih terlihat malas-malasan itu seketika menegakkan tubuhnya. Dia menatap Jingli dengan mata yang berbinar-binar. "Jalan-jalan ke luar istana?" tanyanya memastikan.
Jingli ikut tersenyum dan mengangguk, lalu berkata, "Juga, Kaisar berpesan agar Permaisuri memakai baju yang tidak mencolok."
"Baiklah, aku mengerti. Itu seperti saat kita pergi ke pasar dulu, bukan?"
"Benar, Permaisuri."
"Baiklah, aku akan ke sana sebentar lagi!" Yuan dengan semangat kembali masuk ke kamarnya dan mencari baju yang cocok untuk dulia pakai.
Di sisi lain, ZiXuan sudah menunggu di depan gerbang utama ditemani Jenderal Li Wei. Sesekali mereka terlihat membicarakan sesuatu dengan serius, kemudian terhenti saat kaisar muda itu melihat Yuan dan Jingli berjalan ke arahnya.
Zi Xuan menatap penampilan Yuan dari atas hingga bawah. Penampilannya terlihat sangat sederhana tetapi tidak sekalipun mengurangi kecantikannya.
"Mendekatlah," ujar ZiXuan masih dengan menatap Yuan. Gadis itu berjalan mendekatinya.
"Jangan dilepas," katanya sambil memakaikan cadar berwarna hitam menutupi sebagian wajah cantik Yuan.
"Saya mengerti. Saudara tenang saja, saya tidak akan melepasnya."
"Yang Mulia."
Yuan memutar tubuhnya ke belakang dan melihat Putri Rong dengan pelayan pribadinya serta Ying'er berdiri di sana. Gadis itu menatap ZiXuan meminta penjelasan.
"Putri Rong dan Nona Ying akan ikut bersama kita," ujar ZiXuan yang paham akan tatapan Yuan.
"Mengapa dia di sini? Kamu sudah selesai mengerjakan menghukuman yang saya berikan?" tanya Yuan menatap tak suka pada gadis bermuka dua di samping Liang Rong itu.
Qiu Ying mencebikkan bibirnya dan berkata, "Kakak ipar sepertinya sangat tidak menyukaiku. Aku sudah selesai dengan hukumannya. Kakak ipar bisa memeriksanya!"
"Kamu sudah selesai? Cepat sekali!" ujar Yuan sangsi.
"Aku—"
"Sudahlah. Yang Mulia, sepertinya saya tidak bisa ikut. Kalian pergi saja," ujar Yuan beralasan. Dia hendak berbalik pergi, tetapi sebuah tangan yang hangat menggenggamnya.
"Bagaimana aku bisa pergi tanpa istriku?"
Liang Rong tersenyum masam dan berkata, "Permaisuri, tolong ikut bersama kami.
Yuan membuang napas pelan dan mengangguk pasrah.
ZiXuan bersama dengan Yuan berjalan paling depan sedangkan Putri Rong, Ying'er, An Hui, Xiao Tao -pelayan pribadi Putri Rong dan Ying'er - , Jingli dan Li Wei berada di paling belakang.
"Kakak Rong, bukankah Permaisuri Xuan sangat menjengkelkan?" Qiu Ying berbisik pada Liang Rong.
"Bagaimana kamu berani mengatakan hal seperti itu tentang Permaisuri Xuan?" tanyanya agak terkejut.
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya saja. Dan sejujujurnya menurutku, Kakak Rong lebih pantas menjadi Permaisuri Xuan."
"Oh, benarkah?"
Qiu Ying mengangguk semangat. "Apakah aku pernah berbohong padamu, Kak?"
"Aiyoo~ Qiu Yingku semakin pintar untuk membuat seseorang bahagia."
"Nona, mengapa kamu terlihat tidak senang?" tanyanya dengan suara pelan sehingga hanya gadis di sebelahnya saja yang dapat mendengar.
Jingli melirik tajam pria di sebelahnya dan mendengus kesal. "Bagaimana tidak? Kupikir, permaisuri kami akan menghabiskan waktu berdua saja dengan kaisar. Tidak menyangkan kaisar juga mengajak dua wanita itu! Tidakkah kamu melihat kesedihan di wajah Permaisuri Xuan? Jika dia tidak bahagia, aku juga tidak akan bahagia!"
Li Wei meringis pelan. "Itu sepertinya saya tidak melihat raut kesedihan di wajah Yang Mulia Permaisuri, hanya ada ketidakpuasan saja. Lagipula Nona salah paham. Sebenarnya bukan Yang Mulia Kaisar yang mengajak Tuan Putri Liang dan Nona Ying'er, tetapi Tuan Putri Lianglah yang meminta Yang Mulia untuk menemaninya berjalan-jalan di pasar rakyat. Yang Mulia sudah menolak dan menyuruhku untuk mengawalnya saja, tetapi Putri Liang merasa tidak yakin dengan saya. Dia juga membawa nama ayahnya sebagai alasan agar Yang Mulia mau menemaninya. Kamu tau? Kerajaan Liang cukup berjasa atas perdamaian yang terjadi di wilayah selatan, juga Raja dari Liang dan Yang Mulia pernah berjuang bersama di medan perang. Raja Liang sangat mengagumi keberanian dan kecerdasan Yang Mulia dan Yang Mulia sendiri sangat berterima kasih atas kontribusinya untuk kekaisaran, karena itulah Yang Mulia tidak bisa lagi menolak permintaan Putri Liang. Jadi dia mengatakan pada Putri Liang, dia akan menemani hanya jika Permaisuri Xuan ikut serta," jelasnya mendetail.
"Benarkah? Kamu sedang tidak mengarang cerita hanya untuk memperbaiki nama tuanmu, kan?"
Li Wei tertawa pelan sambil menggeleng. "Tidak. Tidak. Aku berkata jujur. Nona Jingli, kamu gadis yang menarik."
Jingli membuang mukanya yang merona. Mana ada pria yang mengatakan hal seperti itu di depan orangnya langsung?
"Aku curiga semua pria di Ibukota adalah perayu ulung wanita!"
***
"Permaisuri, lihat ini! Jika anda yang memakainya pasti terlihat sangat cantik!" Suara itu terdengar bersemangat di antara keramaian pasar.
"Saudari Jingli, jika kamu menyukainya, kamu bisa memilikinya."
Jingli menggeleng cepat dan berkata, "Tidak. Tidak berani. Ini—ini terlalu mahal."
"Tuan, berapa harga jepit rambut ini?" Kali ini, suara yang lebih berat menginterupsi keduanya.
"Jenderal Li—"
"Nona Jingli, ambillah. Hitung-hitung sebagai tanda perkenalan kami," sela Li Wei tersenyum ramah.
"Ini tidak perlu."
"Saudari, kamu tidak bisa menolak hadiah perkenalan dari seseorang. Terima saja!" bujuk Yuan sambil menahan tawanya.
"Kalau begitu, terima kasih, Tuan Li."
"Yang Mulia, bisakah kamu memilihkan satu untukku?" Suara lembut itu membuat senyuman di wajah Yuan luntur. Dia menatap gadis di sebelah ZiXuan dengan alis terangkat.
Mendapat tatapan seperti itu, Liang Rong tersenyum canggung. "Itu, Permaisuri jangan salah paham. Aku tidak memiliki selera yang bagus, tetapi aku menyukai selera Yang Mulia. I—itu bukan tanpa alasan. Beberapa tahun yang lalu, Saat Yang Mulia bertamu di kerajaanku, Yang Mulia pernah memberikanku gelang yang dia beli saat melewati pasar di saja. Perpaduan warnanya sangat indah. Jadi aku berpikir Yang Mulia memiliki selera yang bagus."
"Wah! Kakak Xuan pernah memberikan Kakak Rong sebuah gelang? apakah aku bisa melihat gelangnya, Kak?" tanya Qiu Ying menimbrung.
"Tuan Putri sepertinya salah paham. Maaf, tapi itu bukan milikku. Juga bukan pilihanku. Itu milik Saudara Li yang sebenarnya akan di berikan untuk adik sepupunya, tetapi kamu terlalu bersemangat sehingga mengira itu milikku. Ya sudah, aku berikan saja berhubung kamu memintanya di depan ayahmu," ujar ZiXuan menjelaskan.
Mendengar kebenaran itu, Yuan dan Jingli menahan tawa yang hampir meledak.
Sementara Li Wei yang mengingatnya kembali menunjukkan wajah muram. Tentu saja dia sangat ingat. Karena kejadian itu hampir saja membuatnya dipukul habis-habisan oleh adik sepupunya. Gelang itu adalah titipan adik sepupunya. Untung saja ZiXuan adalah orang kaya. Dia menggantinya dengan yang lebih mahal.
Yuan tertawa kecil dan berkata, "Pasti karena dulu, Tuan Putri Liang masih muda, jadi pemikirannya sangat polos. Siapa yang tidak pernah salah paham ketika masih kecil? Adik perempuanku juga pernah melakukannya." Dia menarik napas pelan dan melanjutkan, "Tetapi untuk selera, Saudara Xuan memang memiliki selera yang bagus." Matanya menatap penuh arti pada pria di sampingnya itu.
Liang Rong mengepalkan tangannya. Dia benar-benar seperti badut sekarang. "Ah, Yang Mulia, sepertinya makanan di kedai itu sangat enak! Harumnya tercium sampai ke sini. Bagaimana kalau kita mengisi perut dulu?"
"Kalian makan duluan saja, Saudari Jingli mari kita lihat berkeliling dulu!" Tanpa menunggu persetujuan, Yuan menarik tangan Jingli dan membawanya pergi.
"Saudara Li, temani Putri Liang dan Nona Ying makan, aku akan menyusul setelah membawa Xiao Li kembali."
"Tapi Yang Mulia—"
"Kenapa? Kamu khawatir Li Wei tidak bisa menjagamu? Dia adalah orang kepercayaanku, seni beladirinya tidak jauh berbeda dariku. Tuan Putri Liang, saya harap anda tidak mengembangkan perasaan apapun padaku."
...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...