My Devil Emperor

My Devil Emperor
Otoritas



Sinar matahari terasa cukup terik saat ini tetapi tidak sampai menyengat kulit. Sangat berbanding terbalik dengan udara di malam hari yang sangat dingin.


Terlihat sorang gadis cantik yang sedang duduk ditepian danau. Dia mengayun-ayunkan kakinya yang berada di bawah air menciptakan riak air yang semula tenang. Bunga teratai yang mengapung di atasnya pun ikut bergerak karena riakan air itu.


Sudah tiga hari sejak ZiXuan pergi ke perbatasan dengan beberapa pasukan dan yang bisa Yuan lakukan untuk membunuh kebosanannya adalah bermain, menyulam dan menulis puisi. Tentu setelah dia belajar dan membantu Ibu Suri menyelesaikan beberapa tugas kekaisaran.


Itu cukup sulit dan membuatnya sedikit pusing.


"Permaisuri, sudah saatnya makan siang," ujar seseorang yang membuat Yuan menoleh ke belakang.


Jingli sudah berdiri menunduk di belakangnya.


Yuan pun berdiri dibantu Jingli yang mengulurkan tangannya.


"Kamu siapkan, aku akan segera kembali," katanya pada Jingli.


"Baik, Permaisuri."


Yuan mengambil jalan yang berbeda dari Jingli. Gadis itu hendak ke perpustakaan istana mencari buku baru yang ingin dibaca. Letaknya tak jauh dari halaman istana dan dapur istana.


Dia melangkah dengan tenang dan anggun. Beberapa pelayan, kasim dan pengawal yang dilewati memberinya salam dan Yuan hanya mengangguk dan sesekali tersenyum meresponnya.


"Kalian tau? Kudengar permaisuri belum tersentuh." Langkah Yuan terhenti ketika mendengar suara seseorang yang sedang membicarakannya. Suara itu berasal dari dapur istana.


Apa lagi kali ini?!


Dari pintu yang sedikit terbuka, Yuan melihat beberapa pelayan yang sedang menyiapkan makan siang sambil berbincang.


"Sudah kubilang, Kaisar Xuan terpaksa menerima Putri Yanli. Kita semua tau tempramen Yang Mulia Kaisar itu bagaimana."


"Tetapi semua orang tahu saat Raja Yinluo datang waktu itu, Kaisar Xuan memberikan Putri YanLi kuasa untuk menentukan hukumannya."


"Itu mungkin hanya sandiwara saja. Lagipula kudengar Putri Yanli adalah putri yang lembut dan sabar. Kaisar mungkin tidak tega untuk langsung menyakitinya. Bagaimanapun juga Kaisar adalah seorang manusia, dia pasti memiliki hati."


Yuan memejamkan matanya seraya memijat pelipisnya yang terasa sakit. Orang-orang ini benar-benar sedang mengujinya.


"Percuma saja cantik tetapi masih gadis di malam pernikahannya."


"Kurasa Yang Mulia masih mencintai Putri Luo Li."


"Putri Luo Li?"


"Putri dari kerajaan Luo. Tetapi Ibu Suri tidak merestuinya."


"Oh aku pernah mendengarnya!"


"Hei kalian! Jangan menyebarkan berita burung!" ucap salah seorang di antara mereka yang sedari tadi sibuk sendiri menyiapkan makanan.


"Bibi, jika kamu tidak suka mendengarnya pergi saja!" jawab pelayan yang pertama tadi.


"Membicarakan Permaisuri Kaisar adalah kesalahan besar. Jangan membuat masalah untuk dirimu sendiri."


Yuan melihat seorang wanita yang terlihat paling senior itu angkat bicara. Dia memperingatkan rekannya untuk menjaga lisan.


"Dia permaisurimu, bukan permaisuri kami! Dia akan tetap menjadi putri kerajaan Zhou. Bukan Permaisuri Xuan!"


"Benar. Apa yang perlu ditakutkan? Dia hanya putri dari kerajaan kecil. Hanya pengantin pengganti. Tidak bisa disebut seorang Permaisuri Kekaisaran. Bahkan Yang Mulia Kaisar sendiri juga enggan untuk menyentuhnya. Dia hanya wanita pajangan yang terjebak dalan neraka ini," celetuk salah seorang lagi kemudian disusul suara tawa teman-temannya yang lain.


"Oh? Begitu ya?" Tubuh semua orang di sana menegang saat suara yang lembut tapi terdengar seperti panggilan dari neraka itu menginterupsi.


"Pe—Permaisuri?"


"Salam kepada Permaisuri Xuan," ucap mereka sambil menundukkan kepala dalam-dalam.


Semua pelayan berlutut sambil menundukkan kepalanya. "Mohon ampuni kami, Yang Mulia Permaisuri," ujarnya mereka.


"Mohon ampun untuk kesalahan yang mana?"


"Kami bersalah, kami tidak tahu diri. Mohon Permaisuri memaafkan kami."


Yuan menghela napas pelan. "Bagaimana ya? Takutnya aku tidak bisa melakukan itu. Memangnya apa yang bisa dilakukan seorang putri dari kerajaan kecil yang secara tidak sengaja menjadi pengantin pengganti kekaisaran?"


"Permaisuri, Kami—"


"Ssttt! Aku belum selesai," ujar Yuan memotong sambil meletakkan telunjuknya di bibir.


"Apa tadi kamu bilang? Coba ulangin lagi, bantu aku mengingatnya." Yuan menatap pelayan itu satu persatu. Nada bicaranya terdengar biasa, tetapi sangat berbahaya. "Mengapa tidak menjawabku? Sudahlah, aku akan mengingatnya sendiri," lanjut Yuan mulai berjalan memutari para pelayan itu.


"Hanya pajangan di kamar? Putri dari kerajaan kecil? Kaisar tidak menyentuhku karena jijik? Kalian ini mengapa sangat kasar padaku? Memangnya apa yang sudah aku lakukan padamu? Karena kalian sangat membenciku, maka mari kita tidak bertemu lagi. Penjaga!" Panggilan terakhir yang melengking itu membuat penjaga yang memang sedang bertugas segera masuk ke dapur istana bahkan beberapa pelayan juga mengintip untuk melihat apa yang sedang terjadi di sana.


"Menyingkir, beri jalan!" Seorang pria tua dengan tubuh kurus membelah kerumunan.


"Yang Mulia Permaisuri. Mohon maaf atas keterlambatan hamba. Hamba adalah Kasim Gui dari Istana Qin, sudah mendengar apa yang terjadi di sini. Jika Permaisuri mengizinkan, biarkan hamba yang mengurusnya," ujar pria tua itu dengan sopan.


Yuan tidak menjawab, tapi melangkah mundur memberikan jalan untuk Kasim Gui.


Pria tua itu menatap tajam para pelayan yang sudah menangis ketakutan.


"Kasim Gui, kami bersalah. Tolong beri kami kesempatan."


"Para pelayan tidak tahu diri! Tidak memiliki etika dan sopan santun, apa yang baru saja kalian katakan? Kata-kata seperti itu, bisakah dimaafkan? Apa yang membuat kalian menjadi seberani ini?! Ini juga pelajaran untuk semuanya! Urusan Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri, kalian tidak perlu ikut campur! Penjaga, seret mereka dan eksekusi mati!"


"Tunggu! Kasim Gui, tidak bisakah jangan membunuh mereka?" cegah Yuan.


Kasim Gui menunduk sopan dan berkata, "Yang Mulia Permaisuri, tingkat kejahatan mereka ada di peringkat pertama. Menurut peraturan yang berlaku, hukumannya adalah eksekusi mati."


Yuan menelan ludahnya. "Ini terlalu kejam. Tidak bisakah kamu mengasingkannya ke negara lain saja?"


Kasim Gui terkejut. Bahkan semua yang menyaksikan juga terkejut.


"Permaisuri benar-benar menghukumnya begini?"


"Yang penting tidak membunuh."


Kasim Gui tersenyum dan berbalik. "Dengarkan perintah Permaisuri Xuan. Bawa mereka pergi!"


"Tunggu dulu!" seru Yuan kembali mencegah.


"Ada yang lain, Permaisuri?" tanya Kasim Gui kembali berbalik menatap Yuan.


"Itu, bibi yang itu jangan dibawa. Dia tidak terlibat."


Kasim Gui mengangguk paham. "Kecuali yang itu, semuanya bawa pergi!"


"Yang Mulia Permaisuri, tolong ampuni kami." Teriakan yang bersahutan itu mulai menghilang dan menghilang.


"Yang Mulia, hamba mohon izin pergi," kata Kasim Gui membungkukkan badannya.


"Ah? Iya, anda boleh kembali."


"Apa yang kalian lihat? bubar!" perintah Kasim Gui pada para pelayan yang sedari tadi menonton.


Keadaan kembali seperti semula hanya dalam hitungan detik. Seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya. Satu hal yang pasti, perlakuan semua orang yang berada di bawah Yuan juga mulai berubah.


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...