My Devil Emperor

My Devil Emperor
Princess of Liang



"Yunniang, kelak kamu akan bekerja di Istana Teratai Putih. Jingli, kamu ajari Yunniang untuk mengerjakan tugasnya, ya," ujar Yuan sambil berjalan kembali menuju kediamannya.


"Mengerti, Permaisuri."


"Eh, Putri Kerajaan Liang sudah datang! Dia sangat cantik, mari kita lihat dari jauh!"


Yuan mengernyit saat mendengar pelayan yang berjarak beberapa meter di depannya sedang berbincang.


"Putri Liang?" gumamnya.


"Itu pasti adalah Putri Liang Rong," ucap Yunniang pelan.


Yuan melirik menatapnya. "Kamu mengenalnya?"


Yunniang menggeleng dan berkata, "Hamba hanya pernah mendengar pelayan di istana Selir Zhu bergosip tentang Putri Liang Rong."


Yuan menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Yunniang penuh tanya. "Oh? Gosip seperti apa?"


"Umm, itu sepertinya tidak pantas diucapkan di depan Permaisuri," katanya ragu.


Yuan tersenyum dan menepuk pundak Yunniang . "Tidak apa. Katakan saja. Aku yang menyuruhmu memberitahuku, kan?"


Yunniang menelan salivanya dan melirik ke arah Jingli dan mendapati gadis itu mengangguk padanya.


Sambil menarik napas, dia berkata, "Katanya, Tuan Putri Liang sudah lama menaruh hati pada Yang Mulia Kaisar. Kedatangannya mungkin ingin menarik perhatian Yang Mulia Kaisar Xuan, terlebih lagi kerajaan Liang dan Kekaisaran memiliki hubungan yang sangat baik. Selain putri kerajaan Wei, putri kerajaan Liang adalah kandidat yang kuat untuk menjadi Permaisuri Kekaisaran."


"Oh begitu. Apakah dia sangat cantik?"


"Itu hamba tidak tau. Tapi mungkin Yang Mulia Permaisuri masih lebih cantik. Walaupun kerajaan Zhou tidak begitu menonjol dalam militer, hamba pernah mendengar bahwa wanita-wanita di sana adalah yang tercantik di seluruh kerajaan. Setelah melihat Yang Mulia Permaisuri, sepertinya itu memang benar. Bahkan Senior Jingli juga terlihat cantik."


Yuan tertawa pelan sedangkan Jingli menunduk malu. "Yunniang, mulutmu benar-benar sangat manis. Aku tidak mengerti mengapa kamu sering dihukum Ibu Selir Zhu. Kamu cukup pintar mengambil hati."


Mendengar pujian yang dilontarkan Yuan, Yunniang menunduk malu. "Terima kasih atas pujiannya Yang Mulia Permaisuri, tetapi apa yang hamba katakan adalah fakta," ujarnya pelan.


"Saudari Yun, jangan mengatakan apapun lagi. Juga jangan memanggilku senior. Kami sama-sama baru di sini, juga sepertinya kamu lebih tua dariku!"


"Baiklah, sudah cukup. Aku sangat penasaran dengan Putri Liang itu, jadi mari kita melihatnya dan membuktikan apakah ucapan Yunniang benar?"


Di tempat lain, Putri kerajaan Liang ditemani satu orang pelayan berjalan anggun memasuki istana. Sudah menjadi rahasia umum tentang Putri Liang yang tergila-gila dengan Kaisar Xuan itu.


"Di mana adik Ying'er?" gumamnya pelan.


"Putri, bagaimana jika kita menemui Kaisar terlebih dahulu?" usul pelayan pribadinya.


"Hmm, baiklah."


"Selamat datang, Putri Liang Rong." Langkah Putri Liang terhenti saat suara yang lembut nan indah di telinga itu menginterupsinya.


Dia berbalik dan melihat seorang wanita bangsawan dengan dua pelayan berdiri tegak di belakangnya. Liang Rong mengernyitkan keningnya bingung. "Anda—"


Pelayan di sebelahnya berjinjit dan membisikkan sesuatu, tak sampai sepuluh detik, mata gadis itu terbelalak menatap tidak percaya pada wanita di depannya.


"Anda adalah Yang Mulia Permaisuri Xuan? Putri dari kerajaan Zhou?" tanyanya dengan pandangan yang sulit diartikan.


Yuan hanya tersenyum tipis tanpa berniat menjawabnya.


Liang Rong menatap wanita itu skeptis. Matanya memperhatikan Yuan dari ujung kaki sampai kepala. Wanita di depannya itu sangat amat cantik! Kulitnya seputih susu dan selembut sutra, jari tangannya terlihat lentik sangat indah, bibirnya merah yang sedang tersenyum itu bagaikan kelopak bunga mawar, hidungnya kecil tetapi mancung, matanya indah berseri seperti bunga persik di musim semi, juga jangan lupakan bulu mata tebal dan lentik miliknya. Ini adalah keindahan musim semi tercantik yang pernah dia lihat. Itu membuatnya sangat iri!


Senggolan pelan dari sampingnya membuat Liang Rong mengerjapkan matanya. Dia membungkuk dengan sedikit tidak rela di wajahnya. "Liang Rong telah melihat Yang Mulia Permaisuri."


Yuan mengangguk pelan. "Tidak perlu sungkan."


"Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan Permaisuri hari ini," kata Putri Liang dengan senyum manisnya.


Putri Liang memiliki wajah yang cantik, sifat yang lembut dan anggun. Benar-benar menunjukkan darah kebangsawanan yang mengalir padanya.


"Saudari Rong!" panggil seseorang di belakang Yuan.


"Aku sangat merindukanmu!" Orang itu berlari pelan menghampiri Putri Liang kemudian memeluknya.


"Aku juga merindukanmu, Adik Ying'er."


"Mari, Aku antar untuk beristirahat." Ying'er menarik tangan Putri Liang dengan semangat.


"Permaisuri—"


"Pergilah." Yuan memberikan izinnya pada Putri Liang yang tampak tidak enak karena Ying'er yang menariknya.


"Aiya, Saudari tidak perlu meminta izin pada Permaisuri. Lagipula dia tidak memiliki waktu untuk memberimu jamuan," ujarnya tanpa merasa takut.


"Berhenti!" Yuan mengepalkan tangannya dan berbalik menatap Qiu Ying tajam.


"Ada apa?" tanya Qiu Ying sambil memutar bola matanya malas.


Yuan tertawa sinis dan berkata, "Qiu Ying, kamu benar-benar menantang saya ya? Apakah karena kamu masih memiliki hubungan darah dengan keluarga kekaisaran menjadikanmu angkuh seperti ini?"


"Ah, Yang Mulia Permaisuri, tolong jangan marah. Tempramen adik Ying'er memang kurang baik."


"Walaupun kamu memiliki tempramen yang buruk, itu tidak bisa dijadikan alasan untukmu bersikap tidak sopan dengan seseorang yang posisinya lebih tinggi darimu. Aku bukan seseorang yang gila hormat, tetapi sikapmu yang seperti ini sangat merendahkanku, kamu tau?"


Melihat kilatan kemarahan di mata Permaisuri Xuan itu membuat nyali Qiu Ying menciut.


"Ka—kakak ipar, Ying'er tidak bermaksud seperti itu," ujarnya terbata. Dia bersembunyi dibalik tubuh Liang Rong.


Yuan membuang napas kasar dan menunjuk lurus Qiu Ying. "Nona Ying, kembalilah ke kediamanmu. Salin buku 9 kebajikan dan tata krama tiga ratus kali!"


"A—apa?"


"Putri Liang Rong, maaf membuatmu harus melihat ini, tetapi teman baikmu sudah sangat keterlaluan, saya harap anda tidak keberatan. Saudari Jingli, antar Tuan Putri Liang untuk beristirahat di kamarnya. Yunniang, mari kira kembali."


***


"Yang Mulia, tentang kesepakatan yang tiba-tiba gagal dan terjadi penyerangan beberapa bulan yang lalu hamba sudah mendapatkan data juga orang yang menyerangmu, tapi sayang sekali saat kami akan membawanya, dia bunuh diri," ujar Li Wei melapor seraya menyodorkan sebuah lipatan kertas dan botol porselin kecil.


"Aku sudah menduga akan terjadi masalah, tapi aku tidak menyangkan akan serumit ini. Diawal mereka jelas sudah menyetujui untuk tunduk di bawah kekuasaan kami, tapi bisa berubah dalam waktu sekejap itu seperti ada yang sedang memperhatikan langkah kita."


"Anda benar. Sepertinya mata-mata yang sebenarnya itu masih berada di antara kami."


"Dia bersembunyi sangat rapi. Saudaraku, menurutmu apakah ini ada hubungannya dengan kerajaan Ling? Beberapa waktu lalu dia juga datang kemari seperti ingin memastikan sesuatu, bukan?"


Li Wei tertegun sejenak dan berkata, "Sulit untuk memastikannya, tapi yang pasti dia benar-benar tertarik pada Permaisuri Xuan."


ZiXuan tersenyum samar dan bergumam, "Gadis itu memang menarik."


"Omong-omong tentang Permaisuri Xuan, siang ini hamba mendengar beliau menghukum Nona Ying. Juga kedatangan Putri Liang Rong."


"Menghukumnya?"


Li Wei tertawa kecil. "Nona Ying menyinggung Permaisuri Xuan, jadi Permaisuri menghukumnya untuk menyalin buku sebanyak tiga ratus kali."


ZiXuan mendesah kecewa. "Dia masih terlalu baik. Hukuman macam apa itu?"


"Permaisuri Xuan yang terlalu baik atau Kaisar Xuan yang terlalu kejam."


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...