
Hari ini, seperti biasanya Yuan mengantarkan makan siang untuk ZiXuan.
Tapi ketika dia sudah dekat dengan ruang baca kaisar, Yuan berpapasan dengan sosok yang dia kenal baru saja keluar dari ruangan ZiXuan. Entah mengapa melihatnya sekarang membuat Yuan tidak merasa tidak nyaman.
Dia tersenyum pada Yuan saat sudah benar-benar di sampingnya, tapi tidak mengatakan apapun. Senyuman itu, Yuan tidak bisa menebak apa artinya tetapi dengan alasan kesopanan, Yuan tetap membalas senyum perempuan itu.
Tidak bisa menunggu lama, Yuan mempercepat langkahnya dan masuk ke ruang baca.
Di sana terlihat ZiXuan yang baru saja meletakkan sebuah buku dan dia segera mengangkat wajahnya ketika seseorang masuk ke ruangannya.
Laki-laki itu tersenyum tipis dan berkata, "Kamu sudah datang."
Yuan berjalan mendekatinya setelah meletakkan makanan yang dia bawa. "Suami, tadi aku melihat Putri Rong keluar dari ruanganmu. Apa yang kalian bicarakan?" tanya Yuan yang tidak bisa menahan keingintahuannya itu.
ZiXuan tertawa kecil. "Oh, Permaisuri sudah melihatnya." dia berdeham pelan dan melanjutkan, "Bukan hal yang penting. Nanti kamu akan segera mengetahuinya."
Melihat ekspresi suaminya yang bahagia itu membuat Yuan berdebar. Bagaimana cara membujuk laki-laki agar mau memberitahu rahasianya?
"Kakak Xuan..." Yuan memutuskan untuk melangkah lebih jauh. Dia menarik buku yang baru saja diambil ZiXuan dan melemparnya secara asal.
ZiXuan menatap wanita cantik itu sambil menahan senyuman, membiarkan Yuan duduk di pangkuannya. Tangan yang semula di udara kini sudah berada di pinggang ramping wanitanya. Meninggalkan sentuhan ringan di sana. "Permaisuriku, apa yang sedang kamu lakukan?" tanyanya dengan wajah polos.
Yuan menatapnya tidak senang, dia lebih menempelkan dirinya dan bersandar pada dada bidang itu dengan nyaman. "Apa yang aku lakukan, apakah kamu tidak mengerti, Yang Mulia?" katanya lembut. Jemari lentik Yuan berada di dada bidang ZiXuan, membentuk pola-pola asal di atas pakaian sutra yang dikenakan laki-laki itu.
"Membujukku? Takutnya kamu harus melakukan lebih lagi."
Yuan mengangkat wajahnya dan menatap serius ZiXuan. "Oh iya? Kalau begitu, apa yang tuanku inginkan?"
ZiXuan tertawa kecil dan berkata, "Xiao Li, apakah kamu benar-benar penasaran?"
"Jika kamu sudah tahu, berhentilah mengulur waktu. Beritahu aku sekarang dan aku akan menuruti semua keinginanmu. Bagaimana?" tanya Yuan bernegosiasi.
"Sungguh? Apapun yang aku inginkan?" ZiXuan tersenyum misterius menatap wanita di depannya ini. Mata tajam itu memperhatikan wajah cantik di depannya, dari rambut, mata, hidung dan berhenti di bibir kecil nan merah itu. Tanpa sadar, dia menelan salivanya. Mengapa semakin hari YanLi-nya semakin menarik?
Merasa panas dengan tatapan ZiXuan, dia segera menarik diri dan membuat jarak. "Suamiku, kamu terlihat menakutkan! Apakah perlu perhitungan denganku sekarang?!" kata Yuan tak senang.
"Aku tidak. Bukankah Xiao Li yang menawarkan diri untuk mengetahuinya dengan cepat? Aku sudah memberitahumu, nanti kamu akan mengetahuinya sendiri. Jika kamu tidak ingin menunggu, maka aku juga akan menerima tawaranmu tadi. Bagaimana?"
"Ini tidak menguntungkanku. Kapan kamu akan memberitahukannya?" tanya Yuan tak sabar.
"Saat hari ulang tahunmu," jawab ZiXuan. Dia memperhatikan ekspresi bingung Yuan.
"Ulang tahunku ya?" gumam Yuan lebih pada diri sendiri.
ZiXuan sepertinya mengerti. Dia pernah mendengar bahwa sebelum mereka menikah, ada sesuatu yang terjadi pada YanLi yang menyebabkannya hilang ingatan. Walaupun agak ragu, sepertinya itu benar.
"Itu akhir bulan ini. Jadi bersabarlah."
"Sudahlah. Tapi setidaknya kamu tidak boleh menemuinya sendiri. Bagaimana jika akhirnya kamu tergoda oleh dia?" tanya Yuan yang pada akhir kalimat diucapkan dengan sangat pelan hingga hampir menyerupai bisikan.
ZiXuan mengangkat alisnya dan tersenyum tipis. "Jadi inilah masalahnya? Permaisuriku sedang cemburu?"
"Memangnya kenapa? Apa tidak boleh aku cemburu? Jika aku bersama pria lain, apakah kamu tidak akan cemburu?" katanya marah.
"Tidak. Tidak. Apapun Xiao Li boleh melakukannya. Aku tidak berani melarang. Tapi aku sungguh tidak sendirian bertemu dengan Putri Rong," ujar ZiXuan menahan tawanya. Dia pun menoleh ke kanan untuk melihat seseorang yang sepertinya tidak disadari Yuan.
"Yang Mulia ini adalah laki-laki yang setia. Xiao Li tenang saja, semuanya adalah milikmu," lanjutnya yang kali ini terlihat serius.
Yuan mengikuti arah pandang ZiXuan dan menatap canggung orang itu. "Ah, ada Jenderal Li. Maaf aku tidak melihatmu."
Li Wei menatap kedua pasangan suami-istri itu dan menunduk sopan. "Tidak masalah, Permaisuri. Anda juga bisa menganggap dunia ini milik kalian berdua," katanya.
"Ah?"
Permaisuri ini benar-benar cerdas membalikan keadaan. Li Wei tergagap, itu seperti dia tertangkap basah sedang berselingkuh.
"Hamba tidak mengganggu lagi. Hamba mohon menarik diri," ujarnya cepat agar bisa menghindari pernyataan-pernyataan yang mungkin akan dilontarkan Yuan padanya lagi.
"Jingli sedang berada di taman bunga peony, jangan salah jalan ya, Jenderal!"
Yuan tertawa puas melihat pria itu berjalan cepat. Dia bahkan hampir berpikur untuk berguling-guling di lantai karena pertama kali melihat Li Wei yang biasanya serius itu menjadi salah tingkah.
"Dia terlihat sangat manis, kan?" tanya Yuan masih melihat ke arah pintu yang baru saja tertutup kembali.
"Apanya yang manis? Aku lebih manis! Xiao Li, di masa depan kamu tidak boleh tersenyum apalagi tertawa di depan laki-laki lain!" kata ZiXuan merengut kesal.
Yuan menoleh lagi pada wajah tampan itu. "Suamiku, kamu sangat posesif. Tapi aku menyukaimu. Jangan khawatir, aku hanya akan memberikan senyum terbaikku padamu," ujarnya tertawa. "Mari kita makan dulu," lanjut Yuan ketika mengingat tujuan awalnya datang kemari.
"Istriku, aku ingin makan yang lain saja hari ini."
"Tidak ada! Makan saja apa yang aku bawa."
"Galak sekali."
"Siapa yang memulainya?"
"Tidak romantis!"
"Aku masih ingin berjalan."
"Tapi kamu juga menikmatinya."
"Yang Mulia, berhentilah bicara sekarang atau aku akan benar-benar tidak membiarkanmu tidur denganku!"
"Aku akan makan! Kamu sudah berjanji!"
***
Yuan berjalan riang menuju kediaman, tetapi langkahnya terhenti saat melihat siluet yang familiar.
Dengan senyum tipis, Yuan bertanya, "Putri Rong, sedang menungguku?"
Orang itu membalikkan badannya sedikit terkejut. "Ah Permaisuri ternyata sudah kembali, Hamba memberikan salam kepada Permaisuri Xuan," ujarnya menunduk.
Yuan mengangguk samar. "Tidak perlu terlalu sopan. Apa yang membawamu kemari?"
"Hamba hanya ingin meminjam sedikit waktu Permaisuri. Apakah Permaisuri memiliki waktu luang?"
Yuan terlihat ragu sebelum akhirnya mengangguk. "Silakan masuk," ucapnya melangkah lebih dulu.
Putri Rong dan pelayan pribadinya mengekor di belakang Yuan.
"Putri, apakah kamu yakin?" bisik Xiao Ling
Liang Rong tersenyum masam, "Aku tidak pernah seyakin ini."
"Hamba mengerti."
...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...