
"Saudari, saya tidak mau berbicara pada siapapun sekarang. Kamu usir saja dia."
Selepas pembicaraan di kedai makan itu berakhir, Yuan tidak lagi mengatakan apapun. Dia berjalan paling depan dengan wajah kesal memasuki istana dan langsung menuju kediamannya.
Jingli memandang khawatir pada gadis itu. Sejujurnya dia tidak tau apa yang terjadi karena saat dia kembali ke meja bersama Li Wei, keadaan di sana sudah sangat aneh.
"Baik." Walaupun dia ingin bertanya lebih jauh tetapi Jingli sadar, sekarang bukan waktu yang tepat.
Dia keluar dari kamar Yuan dan berjalan menuju tempat YanZhi menunggu, tepatnya di luar wilayah harem. "Maaf, Yang Mulia Putra Mahkota, Permaisuri menolak untuk bertemu."
YanZhi mengernyit bingung. "Dia marah padaku sungguhan? Jingli, mengapa saya berpikir kepribadiannya berbeda sangat jauh? Atau itu karena dia terlalu mencintai Kaisar Xuan? Tapi ini benar-benar berbeda dari dirinya," ujarnya mengeluh. "Baiklah. Aku akan menemuinya lagi nanti. Terima kasih!"
Melihat kepergiannya, Jingli menghela napas pelan.
"Sepertinya hari Nona sangat berat."
Suara bariton itu membuatnya terkejut dan membalikkan badannya.
"Ah, ternyata itu anda jenderal Li."
Jenderal Li tersenyum ramah dan berkata, "Maaf membuat Nona terkejut."
Jingli menggeleng pelan. "Tidak masalah," jawabnya kemudian.
"Sepertinya Nona memiliki banyak pikiran."
"Itu tentang Permaisuri Xuan. Jendera Li, kamu ingat, saat kita kembali ke meja itu, suasananya sudah agak aneh. Setelah itu kami semua kembali dan Yang Mulia Permaisuri tidak mengatakan apapun. Walaupun sebelumnya suasana hati Permaisuri sudah tidak baik, tapi setelah pulan dari kedai makan itu menjadi lebih tidak baik. Aku tidak mengerti harus bagaimana," ujarnya berkeluh kesah.
Li Wei mengangguk dan mengulum senyumnya. "Aku sudah melihatnya. Sepertinya Permaisuri sedang minum cuka. Ikut bersamaku, aku akan menceritakannya." Tanpa menunggu jawaban gadis itu, dia langsung menarik tangannya. Membawa Jingli ke dermaga yang berada di halaman belakang istana.
"Mengapa kamu membawaku ke sini?" tanya Jingli bingung. Dia juga menatap tangannya yang masih digenggam pria itu.
"Ah, maaf. Aku terlalu bersemangat." Li Wei dengan segera melepaskan tangan yang terasa hangat itu dari genggamannya.
Jingli mengerjapkan matanya dan kembali bertanya, "Apa yang kamu maksud dengan Permaisuri meminum cuka, tadi?"
"Itu, saya mendengar Yang Mulia Kaisar Xuan bercerita. Beliau awalnya juga merasa bingung dengan perubahan drastis sikap Permaisuri Xuan..."
Dan mengalirlah cerita di antara kedua orang berbeda jenis itu.
Jingli mengangguk-angguk sambil memandang danau yang dipenuhi bunga teratai. "Tapi ini masalah kecil kan? Apa yang salah dengan kata 'para wanitanya' itu?" tanyanya bingung.
Li Wei menatap gadis di depannya itu, takjub. "Nona, perasaan wanita terkadang bisa sangat sensitif. Menurut pengamatan saya, Permaisuri Xuan sudah tidak merasa nyaman saat kami keluar bersama, ditambah kesialan lainnya yang membuat perasaan beliau menjadi sangat buruk. Lalu tiba-tiba saudara yang tidak bisa dia ingat datang dan mengatakan Putri Liang dan Nona Ying sebagai wanitanya kaisar, dalam hal ini mungkin saja Permaisuri Xuan cemburu. Baik suka atau tidak, selama itu milikmu, jika seseorang tiba-tiba mengklaimnya atau orang lain yang memberikan klaim itu seseorang yang bukan dirimu, tentu saja kamu sebagai pemilik akan kesal kan? Kemarahannya memuncak pada saat itu. Omong-omong, Nona, kamu sangat luar biasa. Hal seperti ini saja kamu tidak bisa memikirkannya?"
Jingli menatap pria itu, meremehkan. "Tuan, kalaupun saya tidak paham itu berarti saya masih terlalu pemula untuk percintaan. Tidak sepertimu yang tampaknya ahli sekali membaca pikiran wanita. Apakah kamu memiliki pekerjaan sampingan selain menjadi jenderal kekaisaran?"
Li Wei tertawa pelan dan menggeleng. "Nona salah paham. Saya memiliki tiga adik perempuan dan dua saudari perempuan, tentu saja secara alami saya sedikit mengerti kode-kode mereka."
"Baiklah. Baiklah. Tapi tuan saya tahu anda dan Yang Mulia tumbuh bersama, tetapi tidak menyangka hubungan anda sangat dekat sampai Yang Mulia Kaisar Xuan menceritakan hal semacam ini padamu?" tanya Jingli penasaran.
"Kami bukan hanya tumbuh bersama, tetapi juga seperti saudara. Yang Mulia Kaisar Xuan cerdas dalam hal apapun kecuali menebak perasaan perempuan."
Jingli mengangguk-angguk, paham. "Saya sudah melihatnya. Lalu apa yang harus saya lakukan untuk menghiburnya?"
"Tidak perlu melakukan apapun. Berikan ruang dan waktu untuk permaisuri menyendiri."
***
Seorang gadis terlihat berbaring di atas ranjang dengan kaki yang masih menapak di lantai. Dia hampir saja memasuki alam mimpi jika saja suara ketukan pintu itu tidak menghentikannya. Gadis itu berdecak kesal dengan kelopak mata yang perlahan terbuka.
Suara ketukan pintu menghilang digantikan dengan suara pintu yang didorong terbuka. "Bukankah aku sudah bilang untuk tidak meng—" Ucapannya terhenti saat melihat seorang pria yang berdiri tepat di depan tempat tidurnya.
Dia buru-buru duduk dan menegakkan badannya. "Saudara, mengapa kamu di sini?" tanyanya.
Pria itu tidak menjawab, tetapi berjalan mendekat. Dia meletakkan kedua lengannya, membungkuk membuat Yuan memundurkan badannya.
"Mengapa kamu terlihat tegang begitu? Apa yang kamu pikirkan?"
Mendengar itu, Yuan sontak membuka matanya. Dia bernapas lega saat menyadari ZiXuan sudah menarik dirinya kembali. "Siapa yang tidak terkejut saat kamu tiba-tiba bersikap seperti itu?"
ZiXuan tertawa kecil dan berkata, "Aku hanya memastikan sesuatu."
Yuan mengernyit, heran. "Apa itu?"
"Kamu cemburu, kan?"
"Omong kosong! Siapa yang cemburu? Mengapa aku cemburu?" Bantah Yuan cepat.
Bukannya menjawab, ZiXuan malah menatap langit-langit dengan kening berkerut. "Jika diperhatikan memang begitu. Xiao Li, kamu jatuh cinta padaku, ya?"
"Aku tidak! Yang Mulia, kamu terlalu percaya diri. Kamu—kamu keluar saja jika hanya ingin membicarakan hal seperti itu." Yuan berdiri dan menarik tangan pria itu, membawanya ke depan pintu.
"Permaisuriku, kamu tidak boleh bersikap seperti ini."
ZiXuan dengan mudah melepaskan genggaman gadis itu membuat Yuan yang berdiri beberapa langkah di depannya terhuyung dan menabrak dada bidang pria itu.
Gadis itu hendak berbalik, tetapi sepasang lengan kekar sudah mengunci tubuhnya. Memeluknya dari belakang.
"Saudara, kamu—apa yang sebenarnya kamu inginkan?" tanyanya waspada.
"Xiao Li, kamu sangat wangi. Apa yang kamu gunakan?"
Yuan merasa geli pada leher bagian belakangnya. Alarm berbunyi keras dalam otaknya. Orang ini, bagaimana bisa seperti ini?
"Saudara—"
Suara ketukan pintu membuat Yuan menghentikan kalimat yang akan diucapkannya. Diam-diam dia bernapas lega.
"Permasuri, ini saya," ujar seseorang di luar pintu.
******* kecewa terdengar dari belakang tubuh Yuan. Pria itu melepaskan pelukannya dan berjalan mendahului gadis itu.
Tangannya memegang gagang pintu. Sebelum membuka pintu itu, dia menoleh dan berkata, "Datanglah ke kamarku malam ini."
ZiXuan keluar bersamaan dengan Yunniang yang datang. Wanita itu membungkukkan badan saat Kaisar Xuan melewatinya.
"Permaisuri, hamba membuatkan anda teh hitam. Mungkin bisa menenangkan suasana hati Yang Mulia," ujarnya sambil tersenyum.
"Masuklah."
Yunniang mengikuti langkah Yuan yang berjalan di depannya menuju meja kecil di sudut ruangan dekat dengan sekat yang memisahkan meja itu dengan kamar tidurnya.
"Yunniang, kamu benar-benar datang di waktu yang tepat! Terima kasih," kata Yuan dengan senyum yang merekah di wajah cantiknya.
"Ah? Maksud Yang Mulia Permaisuri adalah?"
Yuan tertawa pelan dan menggeleng. "Tidak ada. Maksudku kamu membawakan tehnya di waktu yang tepat. Pikiranku hari memang sedikit kacau."
Yunniang menuangkan teh itu ke dalam cangkir dan memberikannya pada Yuan.
"Bagaimana rasanya bisa seperti ini?!" ujarnya dengan mata yang berbinar-binar. "Yunniang kamu sangat pandai membuatnya! Ini teh terlezat yang pernah kuminum di dunia ini!" pujinya.
Yunniang tersenyum dan menunduk malu. "Terima kasih atas pujian Yang Mulia. Jika Permaisuri ingin, hamba bisa mengajarinya."
"Itu bagus! Lain kali, saya akan belajar darimu. Yunniang, terima kasih banyak."
...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...