
"Kolam sebagai batasan, air sebagai lambang diri seseorang, bunga adalah harta dan apapun yang jatuh di atas permukaan air itu tindakan. Sebagai manusia, tentu kita tidak bisa terus diam saja kan?" kata Yuan memandang dalam air permukaan yang bergelombang karena dia sentuh.
"Dan setiap tindakan pasti menghasilkan gelombang?" tanya Yunniang menebak isi pikiran Yuan.
Yuan menoleh menatap Yunniang dan mengangguk. "Tepat."
"Saudari Niang, kamu sangat pintar," puji Jingli dengan mata berbinar.
Yunniang tersenyum malu dan berkata, "Aku hanya menebaknya. Itu tidak sulit terlihat dari tindakan permaisuri."
"Ketelitian dan analisismu sangat mengagumkan. Jika tidak mengingat siapa dirimu, aku hampir mengira kamu adalah seorang keluarga bangsawan bergelar."
"Permaisuri berlebihan, hamba tidak mungkin setara dengan permaisuri. Tetapi, terima kasih untuk pujiannya," ujar Yunniang rendah hati.
"Tampaknya kamu harus belajar dari Saudari Niang-mu, Jingli."
"Permaisuri, mengapa Anda terus saja merundungku? Daripada terus merundungku, mengapa tidak melanjutkan yang tadi saja?"
Yuan menyipitkan matanya dan berkata, "Apa ini? Apakah kamu sedang memberiku perintah?"
Jingli membelalakan matanya. "Tidak, tidak. Hamba tidak bermaksud begitu," sanggahnya seraya menggelengkan kepala dengan cepat.
Yuan tertawa kecil dan berkata, "Baiklah, baiklah. Aku hanya bercanda. Mengapa akhir-akhir ini kamu menjadi sangat serius?"
"Anda adalah permaisuriku, jadi bagaimana mungkin aku berani bermain-main denganmu?"
"Ah, kalimat itu agak ambigu, kan? Lagipula bukankah sudah kukatakan dari awal jangan terlalu formal? Lupakan, sampai di mana tadi?" tanya Yuan mengalihkan pandangannya kembali.
"Setiap tindakan pasti menghasilkan gelombang," jawab Yunniang mengingatkan.
"Ah benar. Intinya selama gelombang tidak menyebabkan bunganya rusak, maka itu adalah hal yang wajar terjadi dan juga harus terjadi. Dengan adanya gelombang baik besar atau kecil maka kita akan tau seberapa kuat akarnya dapat menahan. Kalian mengerti maksudku?"
"Ah! Aku mengerti. Apapun yang jatuh adalah tindakan atau sebab, sedangkan gelombang adalah akibat yang muncul karena tindakan yang diambil. Benar kan?" ucap Jingli bersemangat.
"Benar. Setiap manusia pasti pernah mengambil tindakan, baik untuk hal yang kecil ataupun besar. Karena manusia itu bersifat dinamis. Dan tindakan juga harus ada untuk menciptakan perubahan yang diharapkan bersifat positif."
"Lalu bagaimana dengan bunganya?" tanya Yunniang.
"Bunga itu adalah hal yang harus dijaga dan dilindungi. Karena dia berharga, maka setiap tindakan yang akan kita ambil tentu harus mempertimbangkan si bunga agar tidak terdampak."
Yunniang dan Jingli sama-sama mengangguk paham.
"Aku sudah tau. Kalian beristirahat saja. Ada hal lain yang harus kuurus," ujar Yuan sambil berdiri. Dia menepuk debu yang tertinggal di bajunya dan melangkah pergi. Suhu udara yang semakin rendah membuatnya semakin merapatkan mantel yang dipakaikan Jingli.
Keputusan ini mungkin akan membuatnya menyesal nanti, tapi dia juga tidak punya pilihan lain. Selama dia memiliki ZiXuan dan bisa selalu berada di sisinya, itu sudah lebih dari cukup.
***
Matahari bersinar lembut di balik awan, tampak malu-malu menunjukkan sinarnya. Suara kicauan burung terdengar Indah. Walaupun cuaca terlihat terang tetapi sangat berbanding terbalik dengan suhu udara yang terasa semakin dingin. Sebagian orang mulai mencari persediaan makanan untuk musim dingin yang mungkin akan datang sebentar lagi, dan sebagian lainnya beraktivitas seperti biasa.
Sudah dari sebelum matahari terbit, sang pria duduk di kursinya dengan dokumen yang menumpuk di meja. Matanya fokus membaca setiap kalimat dalam dokumen, sedangkan jemarinya yang sedang mengapit kuas, menari-nari indah di atas kertas.
Kegiatannya terinterupsi saat mendengar ketukan pintu. "Masuk," jawabnya pada seseorang yang berada di luar.
Seorang pria dewasa masuk ke dalam dan memberi salam kepadanya.
"Ada apa?"
"Putri Liang Rong berada di depan gerbang istana dan permaisuri menyambutnya."
"Permaisuri mengambil alih masalah. Beliau mengirimkan surat lamaran pada kerajaan Liang untukmu."
Setelah mendengarkan penjelasan orang itu, ZiXuan melepaskan kuasnya. Dia tidak tampak terkejut tetapi langsung berjalan melewati orang itu.
"Apa yang akan Yang Mulia lakukan?" tanya orang itu yang membuat ZiXuan menghentikan langkahnya.
"Sejak dia memutuskan untuk menikahkan Putri Liang Rong padaku, maka biarkan saja itu berjalan sesuai keinginannya. Tentang dupa afrodisiak, apakah ada kelanjutan?" ZiXuan menjawab dengan tenang dan mengalihkan ke pembicaraan yang lain.
"Sejak kejadian itu, tidak ada siapapun yang keluar istana. Mungkin pelakunya juga belum keluar."
"Dia, kamu selalu mengawasinya bukan?"
"Orang itu tidak melakukan pergerakan apapun. Mungkin kita salah sangka."
"Jangan turunkan kewaspadaan. Jika dia tidak menunjukkan kesalahan, maka kamu yang harus membuatnya melakukan kesalahan."
"Hamba mengerti."
"Pergilah cari sesuatu yang dapat menariknya keluar." ZiXuan hendak berjalan lagi tetapi orang itu kembali menghentikannya.
"Ke mana Yang Mulia akan pergi?"
"Jenderal Li, apakah aku harus melapor padamu dulu jika ingin pergi ke suatu tempat?"
"Ah tidak perlu, silakan Yang Mulia."
Kali ini, Li Wei tidak lagi menghentikannya. Sebenarnya tanpa bertanyapun dia sudah bisa menebak ke mana ZiXuam akan pergi.
Di tempat lain, Yuan tersenyum menyambut kedatangan Putri Liang Rong dan beberapa orangnya.
"Salam pada Permaisuri Xuan. Harus merepotkan Anda datang menyambutku," kata Putri Rong sambil membungkuk hormat.
"Tidak masalah, kamu juga akan menjadi keluarga kami nanti," jawab Yuan yang terlihat tenang.
"Apakah Permaisuri sudah mengetahui kedatangan hamba ke mari?"
Yuan tertawa kecil dan menjawab, "Aku adalah permaisuri Qin, apa yang tidak bisa tidak aku ketahui, Selir Rong?"
Liang Rong ikut tertawa pelan dan berkata dengan nada yang sedikit angkuh, "Yang Mulia Permaisuri terlalu menyanjungku. Aku belum memiliki gelar itu."
"Salam, Yang Mulia." ucap para pelayan yang ada di sana membuat Yuan yang tadinya ingin membalas Liang Rong terdiam.
Baik Yuan dan Liang Rong, keduanya langsung menoleh menatap orang yang sudah berdiri tak jauh di belakang Yuan.
"Salam, Yang Mulia Kaisar Xuan," ucap Liang Rong dengan nada yang lembut dan anggun.
ZiXuan tidak mengatakan apapun, tetapi matanya menatap tajam pada Yuan yang menunduk menatap tanah di bawahnya.
"Permaisuri Xuan, bisa kamu ikut denganku sebentar?" tanya ZiXuan. Suaranya terdengar tenang namun terasa dalam.
Yuan ingin menolak, tapi dia tau apa yang akan terjadi jika dia menolaknya. Tanpa mengangkat wajahnya, dia menjawab, "Tentu, Yang Mulia."
Setelah itu ZiXuan pergi diikuti Yuan di belakangnya tanpa memperdulikan salam dari Putri Rong.
Putri Rong menghentakkan kakinya kesal karena merasa diacuhkan. Bagaimana bisa orang yang dia tahu melamarnya itu bersikap dingin padanya? Dan Permaisuri Xuan, apa bagusnya dia?
"Suatu hari, aku yang akan menggantikan posisimu itu. Aku yang akan menjadi satu-satunya di dalam hati saudara ZiXuan!"