
"Saudariku, kurasa kita sudah cukup jauh, kamu bisa bersembunyi di sini dulu," ujar seorang wanita. Wajahnya terlihat tenang.
"Kakak, apa maksudmu?"
Tanpa menjawab, wanita itu menuntun seorang gadis yang lebih muda darinya untuk masuk ke dalam gua yang gelap.
Ternyata di dalam gua itu tidaklah segelap yang di bayangkan. Gua itu memiliki lubang berukuran sedang di atasnya yang membuat cahaya bulan bisa masuk ke dalam.
Setelah merasa bahwa di dalam gua itu 'aman', dia pun menyuruh si gadis untuk duduk di sebuah undakan batu.
"Youhua, aku tidak bisa meninggalkan suamiku sendirian. Aku tau sikapku ini mungkin akan menyusahkannya, tetapi aku tidak bisa jauh darinya. Aku harus tau keadaannya, dengan begitu aku akan tenang. Aku hanya akan memperhatikannya dari jauh, tidak akan mendekatinya, tetapi jika sesuatu terjadi padanya aku bisa menemaninya. Jika dia mati, maka aku juga akan ikut bersamanya."
Youhua menatap kakak iparnya dalam diam.
"Youhua— "
Youhua menutup matanya dan menghela napas pelan. "Aku mengerti, Kakak. Kalaupun aku tidak setuju, kamu tetap akan memaksa pergi, kan?"
"Aku—"
"Aku tau. Kakak tidak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja. Tapi berjanjilah kalian berdua akan baik-baik saja, oke? Kakak, kamu tau? Aku merasa semua ini seperti mimpi. Nenek telah pergi, aku tidak berharap akan kehilangan banyak hal lagi," katanya lirih.
Yuan memeluk adik iparnya itu dan mengangguk semangat. "Aku akan baik-baik saja. Saudaramu dan ibu juga akan baik-baik saja. Semuanya akan baik-baik saja!" Setelahnya, dia melepaskan sebuah besi berwarna perak dari pinggangnya. Ini adalah pemberian ZiXuan padanya dan Yuan baru saja menyadari bahwa benda ini adalah sebuah pedang dengan bilah yang lentur tetap sangat tajam. Pedang itu ringan dan panjang jika bentuknya lebih tipis mungkin akan terlihat seperti cambuk daripada pedang.
Yuan menyerahkannya pada Youhua yang masih terpana.
"Ini adalah yang saudara kaisar berikan pada Kakak ipar?" tanyanya.
Yuan mengangguk. "Aku akan pergi, kamu bisa melindungi dirimu dengan ini."
"Tidak, Kakak. Kamu lebih membutuhkan ini daripada diriku. Kamu akan pergi keluar, sedangkan aku bisa tetap bersembunyi di sini. Peluangku untuk ditemukan lebih kecil daripada dirimu. Jadi, kamu membawanya."
Yuan menatap adiknya ragu, tetapi Youhua kembali meyakinkannya. Dan dengan berat hati, dia pun pergi meninggalkan Youhua sendirian. Apapun yang terjadi, keinginan terakhir Yuan hanya agar bisa bersama dengan ZiXuan. Maka hidupnya benar-benar tanpa penyesalan apapun.
"Suami, kami akan selalu bersama," gumamnya penuh keyakinan.
Yuan berjalan dengan hati-hati saat sudah mendekati pemukiman warga yang sudah terlihat rusak parah. Api berkobar di beberapa titik, para sandera di giring entah ke mana oleh beberapa oknum yang tidak dia kenali. Yuan tidak bisa melalukan banyak hal, jika dia keluar untuk membantu itu malah akan menjadi bencana. Tujuan utamanya adalah menemukan ZiXuan. Dengan berat hati, Yuan hanya bisa bersembunyi dan menatap para pria wanita baik itu tua atau muda yang digiring paksa untuk berkumpul. Jika mereka menolak, maka orang-orang jahat itu tidak akan segan untuk mengambil nyawanya. Benar-benar kejam.
Melihat orang-orang dari pemberontak itu sedang sibuk dengan para tahanan, Yuan menggunakan kesempatan itu untuk menghindarinya. Dia bersembunyi di sebuah kendi besar dengan tumpukan jerami di dalamnya.
"Semuanya berjalan sesuai dengan rencana, Yang Mulia."
Yuan menajamkan pendengarannya. Mungkinkah dalang itu ada di sini?
"Itu baik. Bunuh semuanya yang menolak untuk menurut."
Yuan tertegun. Suara itu mengapa sangat familiar? Dia memberanikan diri untuk sedikit membuka tumpukan jerami yang menimbun tubuhnya dan terbelalak.
Seorang wanita dengan postur tubuh yang proposional. Dia berdiri membelakangi Yuan.
"Bagaimana dengan kaisar itu?"
Wanita itu tertawa dingin. "Dia memang lawan yang kuat. Aku sendiri tidak yakin apakah bisa menghadapinya. Tapi dia hanya sendirian. Apa yang bisa dia lakukan?"
"Tapi dia tetap berbahaya, Yang Mulia. Kami tidak boleh melepaskan kewaspadaan terhadapnya."
"Siapa yang menyuruhmu melepaskan kewaspadaan?" sarkas wanita itu sambil memutar tubuhnya menyamping.
Itu dia!
Yuan tersenyum miris. Ini sangat konyol. Dia tidak menyangka bahwa itu adalah dia. Sebenarnya saat melihat punggung wanita itu Yuan sudah dapat menebak tetapi dia menolak untuk percaya dan kali ini dia benar-benar ditampar kenyataan.
Wanita itu seperti merasakan sesuatu. Dia berbalik dan memperhatikan sekitar.
"Ada apa, Yang Mulia?" tanya salah satu orangnya.
Yunniang menggeleng pelan. "Tidak ada. Aku hanya merasa ada seseorang yang memanggilku. Lanjutkan rencana!"
"Apa yang harus kami lakukan selanjutnya?"
"Biarkan orangku ada di sini untuk menjaga orang-orang ini dan kalian ikut bersamaku untuk menjatuhkan kaisar!"
"Ini tidak bisa. Sejak kami menerima kerjasama ini, orang-orang kami tidaklah aman karena melakukan pemberontak secara terang-terangan kepada kekaisaran. Lagipula kami sudah banyak terekspos!" tolak seorang pria berbadan kekar. Sepertinya dia ketua dari tentara bayaran itu.
Yuan merasa orang ini tidak asing. Di mana dia pernah bertemu?
"Aku membayarmu seratus ribu tael emas, bagaimana? Lagipula tidakkah kalian ingin membalas dendam untuk pendahulu kalian. Itu ayahmu kan?" tanya Yunniang menatap pria yang tadi menolak sarannya.
Pria itu mengepalkan tangannya dan mendengus kasar. "Oke!" jawabnya penuh tekad.
Yunniang tersenyum dan menganggukkan puas.
"Bagaimana dengan permaisuri yang berhasil melarikan diri?" tanya orang lain lagi. Kali ini berasal dari kubunya.
"Biarkan dia pergi. Aku berhutang padanya. Jika kalian menemukannya, jangan sakiti dia."
"Aku menginginkan wanita itu!" Tiba-tiba ketua dari tentara bayaran itu menyela.
Yunniang mengangkat alisnya. "Aku melarang siapapun untuk membunuhnya, itu termasuk orang-orang anda, Tuan muda Xu."
"Siapa yang ingin membunuhnya? Aku hanya ingin dia menjadi pelayan di kediamanku. Bukankah karena wanita itu juga ayahku kehilangan sebelah tangannya dan teracuni? Sebagai anak yang berbakti, aku akan memberikan wanita ****** itu pada ayahku sebagai kompensasi. Setidaknya dia akan bahagia diakhir hidupnya," jelas Tuan muda Xu itu dengan senyum jahatnya.
"Kalau begitu serahkan masalah itu pada orangku. Kamu tidak harus turun langsung hanya untuk membereskan satu wanita bukan?"
"Oke!" ujar Tuan muda Xu bersepakat.
"Bagaimana caranya untuk membunuh kaisar? Bukankah kamu sendiri ragu?"
Yunniang tersenyum misterius. Tangannya terangkat dan sebuah sinar muncul selama beberapa detik. Di tangannya ada satu bagian dari anting-anting yang tampak cantik.
"Apa maksudnya?" tanya Tuan muda Xu bingung.
Yuan menegang. Tanpa sadar, dia meraba telinganya. "Aku benar-benar menjatuhkannya?" tanya Yuan dalam hati.
Itu adalah anting-antingnya! Dia saja baru menyadari bahwa sebelah antingnya ternyata hilang.
"Ini anting-anting."
Tuan muda Xu memutar bola matanya. "Aku tau, tapi untuk apa?"
"Tuan muda Xu, menurutmu seberapa dalam cinta kaisar pada permaisurinya?"
Pria itu akhirnya mengerti. "Apakah dia akan percaya?"
"Kalaupun tidak percaya, dia pasti merasa waspada. Itu akan mempengaruhi kekuatannya. Tidak menyangka, Tuhan benar berpihak padaku yang dengan tidak sengaja menemukan ini. Tapi kurasa kamu sedikit benar." Yunniang melangkah mendekati orang-orang yang sedang berlutut dan menunduk ketakutan.
Matanya jatuh pada seorang perempuan. Dia cukup cantik dengan kulit putih. Senyuman jahat terbit di bibirnya. "Ini saja!" ucapnya gembira.
...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...