
Suara bisik-bisik terdengar di ruangan. Seluruh pasang mata menatap seorang pelayan yang berlutut di tengah ruangan tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Masih menolak bicara?" tanya Yuan. Matanya berkilat marah karena tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan.
Yuan berdiri dan melangkah turun mendekati wanita itu. Baju keemasannya menyapu anak tangga yang dia pijak. Yuan berhenti, berdiri tepat di depan pelayan itu.
"Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. Di mana kamu ditugaskan?" tanya Yuan kali ini dengan wajah yang lebih tenang.
"Halaman utama."
"Siapa namamu?"
"Nama hamba, Cai Li."
"Kamu yang menyuruh Jingli untuk menemui Putri Luo Li?"
Setelah terdiam selama beberapa detik, pelayan bernama Cai Li itu mengangguk dan menjawab, "Iya."
"Kamu juga yang datang ke Istana Qin menemui Yang Mulia, kan?"
Lagi-lagi Cai Li menangguk. Gerakannya lambat dengan wajah tertunduk yang bahkan orang lain tidak bisa meliat wajahnya dengan jelas.
"Siapa yang menyuruhmu? Atau... Kamu melakukannya sendiri?"
Perlahan wajah pelayan itu terangkat. Matanya polos tak terbaca kemudian ia menyeringai. "Siapa yang menyuruhku? Yang Mulia Permaisuri apakah anda lupa? Itu adalah anda yang menyuruhku melakukannya?" ujarnya ringan.
Pernyataannya itu tentu saja membuat suasana semakin menegang.
"Aku? Omong kosong! Bagaimana mungkin aku yang melakukannya? " bantah Yuan marah.
Dia mengepalkan tangannya menahan emosi. Apa yang terjadi?
Pelayan itu tertawa lepas dan semakin berbicara ngawur. "Itu kamu, Permaisuri! Kamu yang menyuruhku melakukannya! Semua orang tau bahwa kamu bukanlah Permaisuri Xuan yang sesungguhnya. Kamu dipaksa menikah dengan Yang Mulia. Kamu berpisah dari orang yang kamu cintai. Bukankah ini masuk akal? Mengapa kamu terus mengelak Permaisuri? Bukankah kamu berjanji padaku jika ini tidak berjalan sesuai rencana, kamu tidak akan menyulitkanku lagi? Ampunilah aku, " ujarnya dengan mata berkaca-kaca yang semakin nyata bahwa dialah yang dianiaya.
Yuan menggeleng pelan. Matanya menyipit dengan pandangan khawatir. Kepalanya terasa mendidih dan berat.
Suara bisik-bisik itu terdengar jelas, tentu saja mempertanyakan kebenaran tentang apa yang baru saja dikatakan Cai Li
"Kamu!"
Yuan berbalik menatap wajah ZiXuan dari bawah sana. Wajah pria tampan itu dingin seperti biasa. Sulit ditebak apa yang ia pikirkan sekarang.
"Jika Yang Mulia ingin menghukum seseorang, selain hamba, anda juga harus menghukum Permaisuri Xuan," ujar Cai Li melanjutkan.
ZiXuan menatap Cai Li yang sedang memandangnya dengan berani. Ia pun tersenyum miring dan berkata, "Oh, benarkah? Siapa yang akan mempercayai ucapanmu itu? Aku tidak tau apakah ini rencanamu untuk menghancurkanku atau apapun itu, yang pasti kamu sudah gagal. Kamu bisa mengatakan apapun sesukamu. Tapi jika kamu berpikir aku tidak bisa membuatmu berkata dengan jujur, maaf membuatmu kecewa. Kupikir sekarang aku tidak akan bermain-main lagi."
Cai Li kembali tertawa meremehkan. "Tentu saja Yang Mulia menolak untuk mempercayainya. Kamu sudah jatuh ke dalam pesona permaisurimu. Sekarang kamu ingin menyeretku ke dalam ruang investigasi itu? Kemudian membunuhku? Haha Kaisar penakluk wanita kini ditaklukan wanita?" ujarnya merendahkan.
Tubuhnya tersentak saat merasakan sebuah akar dengan bunga teratai yang entah muncul dari mana melilit badannya. Ia bahkan tidak bisa mengeluarkan suara lagi, seperti ada sesuatu yang menahan suaranya.
"Senjata keramat ratusan ribu tahun, LínghúnGēn!"
(靈魂根 /Línghún gēn : Akar Jiwa)
Dunia kultivasi sudah mulai menghilang puluhan ribu tahun yang lalu, hanya ada berapa orang saja yang tersisa. Kultivasi salah satu jalur untuk mendapatkan kekuatan tetapi sulit dilakukan. Sejak mengenal ilmu beladiri yang memungkinkan semua kalangan untuk menguasainya, kultivasi pun mulai ditinggalkan.
Tidak semua orang dapat berkultivasi. Seseorang yang terlahir tanpa inti spiritual sering kali menjadi yang terlemah dan tidak berguna. Berbeda dengan ilmu beladiri yang semua orang bisa berlatih, dengan atau tanpa inti spiritual.
ZiXuan memiliki darah keturunan seorang kultivator, tetapi mereka hanya sekadar mendengarnya saja. Tidak ada yang tau apakah itu benar, juga tidak ada yang tau apakah ZiXuan memiliki ilmu kultivasi. Tetapi hari ini mereka melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana kekuatan spiritual ZiXuan yang selama ini tersembunyi.
Mereka hanya tau ZiXuan memiliki tingkat beladiri yang luar biasa. Memenangkan medan perang dengan ayunan pedang dan baju zirahnya.
LinghunGen terus melilit tubuh lemah Cai Li.
ZiXuan berdiri dan menatap tajam objek yang sedang terlilit senjata keramatnya itu.
"Tidak apa jika kamu tidak bisa mengatakannya dengan suka rela, dia akan membuatmu berkata jujur."
Atmosfer ruangan kembali menegang antara ingin mengetahui kebenarannya dan ingin mengetahui seberapa kuat senjata legendaris yang hanya bisa dibaca lewat buku itu.
Wajah Cai Li seketika memucat. Bola matanya bergerak ke kiri dan kanan tidak tenang. Jika saja akar teratai itu tidak melilit pada tubuhnya, mungkin ia akan jatuh tersungkur sekarang.
ZiXuan hendak melayangkan pertanyaan pertama tetapi sebuah jarum perak melesat dan menusuk jantung pelayan itu.
Ia terlambat menyadarinya, bahkan bayangan hitam itu menghilang secepat kilat.
Cai Li merintih kesakitan. Tak lama ia memuntahkan darah dari mulutnya.
Darah berwarna merah gelap itu terciprat mewarnai baju yang dia kenakan. Berapa menetes ke bawah mengotori lantai. Ringkikan kesakitan masih terdengar di setiap napasnya yang mulai memberat.
Aula persidangan menjadi kacau. Pekikan ketakutan para perempuan memenuhi ruangan.
Luo Li yang berdiri tak jauh di samping Cai Li itu membalikkan badannya, memeluk erat tubuh tegap BaiSan yang juga mengusap punggungnya menenangkan.
"Tidak baik! Dia diracuni!" ujar Li Wei yang pertama kali menyadarinya.
ZiXuan melepaskan akar teratai itu dari tubuh Cai Li.
Cai Li ambruk di depan kaki Yuan yang menutup mulutnya.
Badan mungil wanita itu gemetar melihat pemandangan mengerikan yang terjadi di depan matanya. Dia melangkah melangkah mundur.
Tangan Cai Li yang terkena darah itu menggapai ujung baju Yuan. Menariknya dengan lemah seperti meminta pertolongan sebelum kemudian menghembuskan napas terakhirnya.
ZiXuan berjalan cepat menuruni anak tangga dan menggapai tubuh mungil itu, menariknya ke dalam pelukan hangat. Melepaskan genggaman tangan Cai Li dari baju Yuan.
"Jenderal Li, tangkap pembunuh itu! Tutup semua gerbang istana. Aku menginginkan nyawanya!" ucap ZiXuan dalam.
"Baik!" Li Wei segera berlari keluar aula persidangan diikuti beberapa prajurit.
ZiXuan menunduk menatap wajah Yuan yang seputih kertas. Manik matanya yang selalu bersinar kini meredup ketakutan. Bibir ranum semerah merah mawarnya mengatup rapat dan bergetar. Bahkan jika ZiXuan melepaskan tangannya dari pingang ramping Yuan, ia bisa memastikan wanitanya itu akan langung jatuh terduduk.
"Tidak apa-apa. Aku di sini."
...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...