
Cahaya matahari terbit dan masuk melalui celah-celah ruangan yang masih gelap itu.
Sinar itu membuat seseorang yang berada di atas ranjang menggeliat pelan dan hendak menarik selimut, tetapi tarikan di sisi lain selimutnya membuat ia mendengus pelan.
Bulu mata lentiknya bergerak naik perlahan dan sepasang mata yang indah itu terbelalak.
Dia bergerak mundur, tetapi mendesis kemudian. Tulangnya seperti patah semua.
"Apa ada masalah?" Suara berat itu menyadarkannya.
Sang wanita melirik pria itu dan menjawab, "Menurutmu?"
Pria itu tersenyum menggoda dan mendekatinya. "Ingin melakukannya lagi?"
"Tuanku, kamu ingin membunuhku, ya?"
"Mana mungkin? Gadis—mnn, wanita secantik ini aku rela membunuhnya."
Yuan membuang mukanya yang memerah.
Kemudian dia teringat sesuatu dan menatap ke sekeliling kamar itu.
ZiXuan menaikkan alisnya dan bertanya, "Apa yang kamu cari?"
"Di mana pintu rahasianya?"
"Pintu rahasia apa?"
"Pintu yang terhubung dengan kamarku!"
"Ah, di sana." ZiXuan menunjuk sebuah arah di mana rak buku berada.
"Kamu mengubahnya?"
ZiXuan menggeleng. "Tidak, itu memang di sana, saya hanya mengubahnya sedikit."
"Saya ingin kembali ke kamar saya."
"Mengapa? Bukankah sama saja? Ini juga kamarmu."
"Tidak mau! Saya ingin kembali," ujar Yuan merengek.
"Ya sudah, kembali saja."
Yuan mencebikkan bibirnya. Dia mengulurkan kedua tangannya. "Saya tidak bisa berjalan. Siapa yang membuat saya begini? Setidaknya kamu bertanggungjawab antar saya kembali!" ujarnya menutupi malu.
ZiXuan terseyum miring. Pria itu tidak banyak bicara dan berjalan mendekat.
"Tunggu dulu! Baju saya." Yuan menunjuk bajunya yang tergeletak di lantai kayu itu.
Pria itu menurut, mengambil bajunya dan memberikannya pada wanita kecil yang memerah itu.
"Balikkan badan!"
"Mengapa? Saya sudah melihat semuanya, pakai saja sekarang," tolak ZiXuan dengan mata menantang.
"Kamu—" Yuan mendengus kesal. Ya, tidak apa-apa. Dia masih menggunakan baju dalam. Lakukan saja apa yang kamu inginkan.
Yuan memakai bajunya dengan bibir yang tidak berhenti bergerak menyumpah serapahi pria di sampingnya dengan pelan.
Tarikan lembut di kerah bajunya bersamaan dengan sesuatu yang hangat menyentuh bibirnya membuat wanita itu seketika membeku.
ZiXuan menjauhkan wajahnya, meletakkan satu tangan di bawah lutut Yuan dan tangan lain di punggungnya dengan mudah membawa wanita itu ke dalam gendongannya.
"Ke mana kamu pergi! Pintunya di sana!!" Yuan panik saat pria itu membawanya ke pintu utama. Itu terlalu memalukan!
Pria itu tidak menghiraukan panggilan Yuan. Dia terus berjalan dan pintu di depannya tiba-tiba terbuka.
"Yang Mu— Yang Mulia," sapa suara lembut itu yang terdengar sedikit kecewa (?)
ZiXuan Tampak tidak memperdulikannya, bahkan tidak merespon sapaannya.
Pria itu melajutkan langkah dengan Yuan yang menyembunyikan wajah cantiknya di dada bidang pria itu.
"Tadi itu Putri Liang?" bisiknya pelan sata mereka sudah lumayan jauh.
ZiXuan hanya berdeham pelan.
"Apakah dia sering menemuimu?"
"Ya, tapi tidak juga"
"Dia pasti menyukaimu!"
"Lalu? Kamu ingin dia menjadi saudarimu?"
"Mana mungkin! Saya ini wanita yang lemah, jika dia menjadi selirmu, tidakkah saya akan disiksa?"
ZiXuan tertawa mengejek. "Wanita lemah? Kamu? Saya pikir kamu adalah salah satu yang harus dia waspadai," ujarnya sarkas.
Yuan memukul dadanya pelan. "Kamu katakan lagi!"
"Tidak. Lagipula mengapa kamu takut padanya? Kamu adalah Permaisurinya."
"Intinya saya tidak bersaing. Jika bisa, hapuskan saja hareemmu."
ZiXuan tersenyum. "Boleh saja, tetapi kamu harus tinggal dikamarku, dan selalu berada di sisiku."
Suara familiar itu membuat Yuan mengangkat wajahnya.
"Kamu turunkan aku, biarkan Jingli dan Yunniang membantuku," kata Yuan berbisik, tetapi pria itu meneruskan langkahnya sampai ke kamar.
"Beristirahatlah untuk beberapa hari ini."
Yuan mengangguk menurut. "Dimengerti."
ZiXuan berbalik dan menatap kedua pelayan pribadi istrinya itu bergantian, entah mengapa tatapannya pada sedikit berbeda. Kemudian, diapun pergi tanpa mengatakan apapun lagi.
Jingli segera mendekati dan menatap Yuan penasaran.
Yuan memutar bola matanya malas. "Kalian berdua jangan menggangguku. Aku masih ingin beristirahat. Pergilah," usirnya.
"Tidak masalah, kami akan menunggu sampai anda selesai beristirahat. Kami tidak akan mengganggu. Ayo, Jie!"
Kali ini Jingli sangat penurut. Dia bahkan berinisiatif menarik Yunniang meninggalkan Yuan sendiri.
Yuan menggeleng pelan dan berbaring di atas ranjang.
Entah sudah berapa lama ia tertidur, tetapi ketika membuka mata, langit sudah gelap.
"Permaisuri sudah bangun?"
"Aku tidur selama itu?" tanyanya tanpa sadar.
Yunniang tersenyum. "Ya." Dia meletakkan semangkuk sup ikan yang masih mengepul. "Permaisuri, makanlah dulu. Anda sudah melewatkan waktu makan siang. Sepertinya terlalu lelah," ucapnya menahan senyum.
Yuan meliriknya sinis. "Sudah janjian dengan Jingli, ya?"
Yunniang menunduk dan berkata, "Tidak berani."
"Di mana Jingli?"
"Dia—"
"Permaisuri! Permaisuri!" Seruan itu membuat Yuan dan Yunniang menoleh dan melihat Jingli yang berlari ke arah mereka.
"Kamu kenapa?"
Bukannya menjawab, Jingli justru melontarkan sebuah pertanyaan. "Apakah kamu sudah dengar?"
Yuan mengangkat alisnya bingung. "Dengar apa?"
"Saya dengar Raja Liang bertemu dengan Yang Mulia Kaisar secara pribadi untuk melamar Yang Mulia Kaisar menjadi menantu laki-lakinya!" ujar Jingli berapi-api.
"Lalu?"
"Oh Tuhan, apakah Permaisuri tidak mengerti?"
"Tentu saja mengerti, Raja Liang berencana menikahkan putrinya dengan Yang Mulia Kaisar, kan?"
"Lalu?"
"Lalu?"
"Permaisurikuu, apakah anda akan diam saja?" tanya Jingli merasa frustrasi.
"Lalu saya harus apa?"
"Dia akan menjadi selir Yang Mulia!"
"Dia tidak akan!"
Jingli mengerutkan dahinya. "Mengapa?"
Yuan mengangkat bahunya dan berkata acuh tak acuh. "Hanya tidak akan saja." Sambil berbicara, dia mengangkat sendok sup dan menyeruputnya.
"Anda tidak akan menemui Yang Mulia?" Kali ini Yunniang yang membuka suara.
"Mengapa saya harus menemuinya? Saya belum makan."
Jingli ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi dia ragu. Pada akhirnya kedua pelayan itu pergi meninggalkan Yuan.
Mendengar suara pintu yang ditutup, Yuan meletakkan sendoknya dan berjalan ke arah pintu. Dia menguncinya tanpa menimbukan siara dan berjalan ke arah lain kamarnya. Pintu rahasia.
Mendorong perlahan, Yuan pun menghilang dari sana. Dia keluar dari dalam kamar ZiXuan yang selalu rapi tetapi agak gelap dan berjalan kearah pintu keliar utama.
Penjaga sedikit terkejut melihat kemunculan Yuan yang tiba-tiba dari dalam kamar. Mereka tentu saja ingin bertanya bagaimana dia ada di sana, tetapi tidak berani mengeluarkan suara dan hanya menuduk dan menyapanya dengan sopan.
"Di mana Yang Mulia?"
"Yang Mulia berada di Ruang Pertemuan."
Yuan mengangguk dan segera menuju tempat yang disebutkan.
Pintu ruangan itu terbuka.
Melihat penjaga yang hendak menyapanya, Yuan meletakkan jari telunjuk di bibir, memberinya isyarat. Penjaga Itu mengangguk dan kembali menghadap ke depan.
Sudah sampai di sini, dia tidak berniat masuk. Hanya bersandar dan sesekali mendengar suara dari dalam sana.
"Terima kasih atas pujiannya."
......■■■■■......